
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja.
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Satoru dan murid-murid lainnya menjalani hari dengan tenang tanpa banyak gejolak. Sekarang, sudah tiga hari sebelum liburan Golden Week.
Sekarang ini, banyak siswa-siswi yang bersiap untuk liburan. Melihat rekan-rekannya tampak sibuk, Satoru dan Ono hanya bisa saling memandang lalu menggelengkan kepala mereka.
Di asrama, Ono melihat ke arah Manabu dan Takeo dengan ekspresi penasaran.
“Apakah kalian akan pergi liburan?” tanya Ono dengan ekspresi penasaran.
“Mana ada yang seperti itu.” Takeo langsung menggelengkan kepalanya. “Daripada pulang, sebenarnya aku ingin tinggal di sekolah.”
“Lalu kenapa tidak tinggal saja di sekolah?”
“Mana bisa! Orang tuaku menunggu di rumah. Ketika kembali, aku harus membantu mengurus ladang. Ugh! Itu pasti akan melelahkan.”
“Sama seperti Takeo, aku juga harus kembali untuk membantu mengurus ladang,” ucap Manabu sebelum Ono bertanya.
“Apakah kamu tidak pulang?” tanya Takeo.
“Itu ...” Ono langsung memalingkan wajahnya. Pemuda itu bergumam pelan dengan ekspresi tertekan. “Aku akan tinggal di sekolah.”
“Bagaimana denganmu, Satoru-san?”
“Aku?”
Berbaring di ranjang atas, Satoru menatap langit-langit dengan ekspresi kosong di wajahnya. Setelah beberapa saat menunggu, dia akhirnya bicara.
“Aku tidak bisa pulang.”
Mendengar itu, ketiga temannya tampak bingung. Manabu langsung mengangkat tangannya dan bertanya, “Jadi kamu tidak akan kembali ke Tokyo? Namun, bukankah kamu masih memiliki kerabat?”
Mendengar pertanyaan Manabu, Satoru baru ingat kalau identitasnya dirahasiakan. Sekarang, dia adalah pemuda dari kota yang pergi ke Hokkaido karena mengikuti kerabatnya.
“Aku merasa tidak nyaman. Jadi lebih baik tinggal di tempat ini.”
Perkataan Satoru membuat Takeo dan Manabu menghela napas panjang. Merasa kasihan pada pemuda itu karena ‘musibah’ yang telah menimpanya. Sementara itu, Ono juga diam-diam menghela napas panjang. Dia merasa lebih tenang, bahkan agak nyaman karena merasa kalau tidak hanya dirinya sendiri yang mendapatkan masalah.
__ADS_1
“Omong-omong, aku melihat kalian berdua mempelajari ayam petelur. Bukan hanya ketika pertama kali tiba, tetapi juga beberapa kali ketika senggang. Apakah kalian memiliki peternakan ayam di rumah?”
“Tidak.” Manabu menggelengkan kepalanya. “Kami berdua mempelajarinya karena aku ingin mencoba beternak ayam petelur. Tidak seperti Takeo yang ingin menjadi mekanik hebat, pergi ke kota, dan bertemu dengan gadis kota lalu tinggal di sana, aku ingin membuka peternakan kecil sehingga memiliki penghasilan cukup.”
“MANABU! KENAPA KAMU MEMBICARAKAN HAL MEMALUKAN SEMACAM ITU!” teriak Takeo dengan ekspresi tertekan di wajahnya.
“Bukankah tidak apa-apa? Maksudku, tidak ada orang luar di sini.” Manabu berkata dengan senyum ramah.
Ono yang duduk di kursinya menatap Takeo dengan ekspresi heran. Sama sekali tidak menyangka kalau temannya itu memiliki impian yang begitu menarik.
Sementara itu, Satoru yang baru saja mendengarkan ucapan Manabu langsung duduk di atas ranjangnya. Melihat ke arah pemuda gemuk tapi ramah itu, dia tidak bisa tidak melontarkan beberapa pertanyaan karena penasaran.
“Bukankah kamu memilih ikut jurusan pengolahan bahan makanan. Kenapa tidak mencoba dari sana?” tanya Satoru.
“Ini hanya hobi. Selain itu, alasan kenapa aku datang ke sekolah hanya untuk mengenyam pendidikan dan mendapatkan ijazah, tidak lebih dari itu. Bahkan, faktanya hampir semua orang di akademi ini akan kembali ke kampung halaman mereka setelah lulus.
Mereka akan meneruskan usaha keluarga masing-masing. Entah menjadi petani, menjadi peternak sapi perah, peternak ayam, dan sebagainya. Hanya sedikit yang berniat melanjutkan ke universitas.”
Jawaban lembut Manabu membuat Satoru terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada hal semacam itu. Ingin mencoba menghibur, pemuda itu membuka mulutnya.
“Memang tidak begitu buruk, tetapi aku merasa agak kurang. Hidup keluargaku sendiri biasa-biasa saja, bisa dianggap menengah ke bawah. Kami memiliki lahan tidak terlalu luas, jadi keuntungannya pun juga tidak terlalu banyak.
Membeli bibit, pupuk, pestisida, dan menyewa orang membutuhkan uang. Tidak hanya itu, ada banyak masalah seperti serangan hama, jamur, bahkan cuaca yang terkadang cukup ekstrem. Bisa dibilang, penghasilannya terlalu minim. Itulah kenapa aku ingin mencoba membuat usaha lain.
Setidaknya ... membuat hidup keluargaku menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.”
Perkataan Manabu membuat Satoru dan Ono tidak bisa berkata-kata. Meski mereka tahu kalau tidak semua hidup nyaman, tetapi tidak menyangka kalau ada yang seperti itu.
Saat itu, suara Takeo terdengar di ruangan.
“Berbeda dengan Manabu, lahan keluargaku sebenarnya lebih luas. Namun, aku tetap kurang puas dengan kehidupanku sekarang. Aku sendiri adalah anak tertua, memiliki empat adik, dua perempuan dan dua laki-laki.
Aku ingin pergi ke kota, bekerja dan mendapatkan cukup banyak uang di sana. Selain uang, aku akan mencari teman dan mendapatkan lebih banyak pengalaman ketika hidup di kota. Dengan uang dan pengalaman itu, aku ingin adik-adikku bisa bersekolah lebih tinggi.
Berhenti jadi petani dan hidup seperti apa yang mereka inginkan.”
Satoru dan Ono menatap Takeo dengan ekspresi terkejut di wajah mereka. Saat ini, pemuda itu sama sekali tidak terlihat ceroboh dan konyol. Sebaliknya, dia tampak begitu keren dan dewasa, terlihat sebagai kakak luar biasa yang bisa diandalkan adik-adiknya.
__ADS_1
Saat mendengar cerita kedua rekannya, Satoru yang sebelumnya menutupi segalanya akhirnya membuka mulutnya.
“Aku tidak memiliki ayah atau ibu, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya. Hanya saja, jika itu membahagiakan keluarga, aku masih cukup mengerti karena masih memiliki seorang kakek. Kakekku sendiri memiliki bisnis yang ya ... tidak bisa banyak aku jelaskan.
Intinya, setelah dewasa, mungkin aku akan disuruh meneruskan bisnis itu. Namun aku kurang dewasa dan suka membuat masalah, jadi dikirim ke sini. Biarkan aku belajar lebih dewasa dan menjadi orang lebih berguna.
Entah akan mewarisi bisnis itu atau tidak, tetapi sekarang aku sadar kalau banyak hal yang memang perlu kupelajari.”
Ketiga teman sekamar Satoru tampak terkejut ketika mendengarkan ucapan pemuda itu. Meski pernah menduga, tetapi mereka sama sekali tidak menyangka kalau Satoru ternyata benar-benar tidak memiliki orang tua.
Saat itu, Ono bangkit lalu berjalan ke ranjangnya. Pemuda itu menjatuhkan diri ke atas ranjang sambil bergumam pelan.
“Kenapa rasanya orang yang tidak memiliki tujuan sepertiku menjadi orang yang tidak berguna.”
Satoru yang mendengar itu langsung tersenyum.
“Bukankah itu berarti kamu memiliki lebih banyak pilihan?”
Mendengar itu, Ono pun tertegun di tempatnya.
***
Siang di hari berikutnya.
Ketika menyelesaikan makan siangnya, Satoru yang menyeret Jiro bertemu Pak Aikawa di lorong.
“Satoru-kun, ikuti aku. Kepala sekolah ingin berbicara denganmu.”
Mendengar ucapan Pak Aikawa, para murid langsung menatap ke arah Satoru dengan ekspresi curiga. Mereka langsung penasaran apa yang kali ini pemuda itu lakukan. Lagipula, dia memang sangat terkenal. Bukan hanya di kalangan murid kelas 1, tetapi juga kelas 2.
“Ada telepon penting dari keluargamu.”
Ketika mendengar ucapan Pak Aikawa, pupil Satoru langsung menyusut. Ekspresi penuh kejutan dan rasa tidak percaya tampak di wajahnya.
Pemuda itu jelas tidak menyangka sang kakek akan menghubunginya!
>> Bersambung.
__ADS_1