Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
178


__ADS_3

Saat itu, dua remaja yang berbincang di kursi sambil tertawa menoleh ke arah Satoru.


Merasakan tatapan mereka berdua, pemuda itu langsung memasang senyum minta maaf. Dia sedikit membungkuk lalu berkata, “Maaf. Aku kira belum ada datang.”


“Oh! Santai saja, Sobat!”


Remaja dengan penampilan seperti preman tersenyum ramah, sama sekali tidak marah. Dia kemudian melirik ke arah rekannya, remaja gemuk bermata sipit yang tampak bingung bingung.


“Kenapa kamu diam saja, Manabu?” tanya pemuda itu.


“Menurut analisisku, teman kita ini akan menjadi orang yang populer karena ketampanannya. Aku hanya heran kenapa bisa ditempatkan di asrama yang sama denganku.” Pemuda gemuk bernama Manabu membuat gerakan menyeka dahi lalu menatap rekannya. “Untung saja kamu juga biasa-biasa saja Takeo. Jika tidak, aku pasti merasa tidak nyaman!”


“Apanya yang biasa?! Terlebih lagi, jangan menusukku dengan kata-kata sambil tersenyum lega seperti itu!” teriak Takeo dengan ekspresi marah.


“Hahaha! Tampaknya debut SMA-mu itu sia-sia, Takeo. Bahkan jika kamu merubah penampilan, perasaan yang dibawa masih sama. Benar-benar tidak keren!” ucap Manabu dengan senyum ramah.


Satoru melihat ke arah Takeo dan Manabu yang tampak akrab. Saat itu, dia tidak bisa tidak bertanya, “Apakah kalian saling kenal sebelumnya?”


“Kami berdua berasal dari desa yang sama. Omong-omong, namaku Manabu dan orang yang mencoba berpenampilan keren tetapi gagal itu Takeo,” balas Manabu.


“O-Oh!”


Satoru mengangguk. Dia pikir kalau keduanya belum lama bertemu tetapi langsung bisa akrab. Itu membuatnya terkejut dengan kemampuan beradaptasi mereka. Menyadari sesuatu, dia berkata, “Namaku Satoru. Senang berkenalan dengan kalian.”


“Yo! Salam kenal juga, Sob!” ucap Takeo sambil mengangkat tangan. “Pilih saja sendiri ranjangnya. Aku dan Manabu memilih yang ada di sebelah kiri, dia di bawah dan aku di atas. Kamu pilih saja dimana.”


“Apakah perlu bantuan untuk merapikan pakaianmu? Tampaknya kamu membawa cukup banyak barang bawaan,” ucap Manabu dengan senyum ramah.


“Tidak perlu. Hanya beberapa pakaian, tidak perlu bantuan kalian.”


“Baiklah.” Manabu mengangguk.


Satoru memilih lemari kecilnya sendiri lalu segera memasukkan barang bawaannya dengan rapi. Beberapa saat kemudian, dia berdiri di depan ranjang susun dengan ekspresi serius di wajahnya.

__ADS_1


Selain betapa ramahnya mereka, Satoru tidak terbiasa dengan cara orang-orang di sini memanggil.


Di Akademi Greenfield, sekolah mengadaptasi pandangan dimana orang-orang itu adalah sesama manusia dan memiliki derajat yang sama. Sekolah juga meminta murid-muridnya memanggil langsung dengan nama depan karena tidak terlalu mempedulikan keluarga yang merupakan latar belakang mereka.


Jelas sesuatu yang unik dan cukup baru karena agak melenceng dari kebiasaan orang-orang Jepang pada umumnya. Meski begitu, sekolah juga mengajarkan sopan-santun dan banyak hal positif lainnya.


Bisa dibilang, Akademi Greenfield ini agak unik.


“Ada masalah, Sobat?” tanya Takeo.


“Ranjang susun. Agak tidak menyenangkan karena aku tidak suka tidur di atas. Namun lebih menyebalkan jika tidur di bawah karena ketika yang berada di atas membuat gerakan, itu agak berisik dan bergoyang.”


“Hahaha! Ternyata itu yang kamu pikirkan!” ucap Takeo dengan seringai di wajahnya.


“Ternyata kamu adalah tipe orang yang sangat serius dan memikirkan detail-detail kecil, Satoru-kun. Omong-omong, kamu berasal dari daerah mana?” tanya Manabu ramah.


“Tokyo,” jawab Satoru tanpa menoleh.


“TOKYO!!” seru Takeo dan Manabu dengan ekspresi terkejut.


“Tidak, tidak, tidak!” Takeo langsung melambai-lambaikan tangannya.


“Itu hanya terlalu jarang. Seperti yang kamu tahu, Akademi Greenfield berada di pelosok. Jangankan dari Tokyo, bahkan jarang ada murid yang datang dari Sapporo.” Manabu menggelengkan kepala.


“Begitukah?” tanya Satoru dengan ekspresi cukup terkejut.


“YA!” Takeo langsung menyela dengan ekspresi bersemangat. “Omong-omong, seperti apa Tokyo? Maksudku, bukankah gadis-gadis di sana cantik? Gal (gyaru), pakaian pelaut dengan rok di atas lutut, penampilan nakal yang-“


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Manabu langsung menutup mulut Takeo. Dia menatap Satoru dengan senyum minta maaf. Jelas merasa tidak nyaman karena tingkah konyol rekannya.


“Tidak ada yang spesial, hanya gadis kota biasa. Selain lebih cantik karena bisa berdandan, mereka sebenarnya tidak sebaik itu. Belum lagi, kebanyakan dari mereka pilih-pilih dalam banyak hal.”


Sambil mengatakan itu, Satoru mengambil kursi lalu duduk di atasnya dengan ekspresi malas. Seolah mengingat sesuatu, dia kembali membuka mulutnya.

__ADS_1


“Aku malah lebih tertarik dengan gadis setempat. Maksudku, aku tidak menyangka kalau gadis di tempat ini tampaknya ramah dan cukup kuat. Benar-benar membawaku ke UKS padahal jaraknya jauh.”


“Eh?”


Mendengar ucapan Satoru, Takeo dan Manabu saling memandang dengan ekspresi aneh di wajahnya.


Memang, dibandingkan gadis kota, gadis desa sedikit lebih kuat. Mereka bisa bekerja di ladang, membantu berkebun atau menggembalakan ternak. Namun, untuk mengangkat sosok tinggi seperti Satoru lalu membawanya ratusan meter jelas masih agak mustahil.


“Apakah kamu yakin tidak sedang bercanda, Sobat? Apakah kamu pikir gadis desa itu pahlawan super?” tanya Takeo dengan ekspresi penuh keraguan.


“Aku serius.”


Satoru mengangkat bahu. Melihat keduanya yang tampak tidak percaya, dia menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Namun, alih-alih menanggapinya dengan serius, Takeo dan Manabu malah menutup mulut sambil menahan tawa.


“Pfft! Pingsan karena lupa makan dan terlalu bersemangat. Kamu benar-benar lucu, Sobat!” ucap Takeo.


Manabu tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresi di wajahnya menjelaskan semuanya.


Melihat respon mereka, Satoru hanya bisa pura-pura canggung. Pemuda itu sendiri menjelaskan kalau dirinya lupa makan karena bersemangat pergi ke Hokkaido, tidak menjelaskan kalau dirinya dipaksa masuk ke sekolah yang sebenarnya tidak dia sukai ini.


Selain itu, Satoru juga menutupi identitas aslinya. Tidak ingin orang-orang memperlakukannya berbeda karena dia adalah cucu pemilik perusahaan terbesar di negara ini.


Alasan lain kenapa Satoru melakukannya adalah surat yang ditulis oleh kakeknya. Dalam surat tersebut, ada tantangan dari lelaki tua itu. Jika pemuda itu bisa lulus dengan nilai terbaik dari Akademi Greenfield tanpa bergantung pada sang kakek dan latar belakang sebelumnya, maka dia akan dibebaskan.


Bukan hanya dipanggil kembali ke Tokyo dan menjalani hidup nyaman seperti sebelumnya, sang kakek berkata kalau dirinya tidak akan lagi mencampuri urusan Satoru. Membiarkannya bahkan jika mencoba membuang Gang atau bahkan melakukan kejahatan.


Satoru jelas menyetujui tantangan itu. Meski agak menyebalkan, tetapi hadiahnya benar-benar apa yang dia inginkan.


Sedangkan apakah kakeknya berbohong atau tidak, Satoru percaya kalau lelaki tua itu tidak akan melakukannya. Lagipula, menurut ajaran kakeknya, orang-orang dari Keluarga Fujiwara harus menepati janjinya. Entah janji besar atau janji kecil.


Sementara mereka Satoru mulai mencoba mencari tahu tentang teman asramanya lewat percakapan mereka, pemuda itu juga memiliki pertanyaan dalam hatinya.


‘Jika gadis semacam itu tidak biasa. Jadi sebenarnya siapa dia?’

__ADS_1


‘Sungguh, aku bahkan belum sempat berterima kasih kepadanya.’


>> Bersambung.


__ADS_2