
Sekitar lima menit kemudian, koi putih langsung mundur. Dia kemudian berenang di udara dengan ekspresi mabuk dan kenyang. Makhluk kecil dan tampak imut itu langsung berenang ke arah Arthur, menggosok pipinya dengan bahagia.
“Sudah?” tanya Arthur dengan ekspresi tidak percaya.
‘Sudah, Tuan. Dengan begini, tanaman di dalam ruang juga bisa mendapatkan nutrisi lebih baik.’
“Sangat baik!” ucap Arthur sambil mengelus kepala koi putih dengan jari telunjuknya.
Pemuda itu juga tidak lupa untuk bermain dengan koi hitam dan menghiburkan. Setelah sekitar sepuluh menit, dia kemudian memeriksa kondisi ibu Kiba. Meski tampak pucat, tetapi sekarang kondisinya lebih baik. Ekspresi menahan sakit sudah tidak tampak di wajahnya. Wanita itu malah terlihat seperti kelelahan, kurang makan, dan kurang istirahat.
Jika diberi waktu untuk istirahat dan mengisi nutrisi tubuh yang kurang, Arthur yakin kalau dia pasti akan baik-baik saja. Hal tersebut juga membuat pemuda itu semakin kagum dengan kemampuan penyembuhan si koi putih. Dalam pikirannya, dia tidak lagi takut sakit atau keracunan makanan karena sekarang telah memiliki dokter pribadi.
Menyadari baru 15 menit berlalu, Arthur menjadi bingung tentang apa yang harus dia lakukan sekarang. Jika langsung keluar, pemuda itu pasti langsung dicurigai. Jika bukan memiliki item khusus, dia pasti dicurigai memiliki bakat khusus yang membuat orang-orang bisa menargetkan dirinya.
Jadi, pada akhirnya Arthur memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan Yin-Yang Koi karena mereka sangat jarang keluar. Rasanya seperti sedang menghibur anak kecil yang merindukannya, sama sekali bukan perasaan buruk. Bahkan diam-diam dia berencana untuk memberi waktu bagi Yin-Yang Koi untuk bebas karena agak kasihan kepada mereka.
Setengah jam kembali berlalu. Setelah cukup puas main-main, Arthur kemudian mengeluarkan sebuah pil pemurnian sekaligus pil gizi. Dia menghancurkannya, mencampurnya dalam air, lalu membuat wanita itu meminumnya.
Setelah itu, Arthur langsung meminta Yin-Yang Koi kembali ke bentuk anting. Dia kemudian membuka jendela dan pintu. Pemuda tersebut keluar dari rumah dengan tenang.
‘Empat puluh lima menit, seharusnya tidak begitu mencurigakan, bukan?’
Merasakan tatapan yang diarahkan kepada dirinya, Arthur langsung bertanya dalam hati. Dia hanya tidak menduga kalau orang-orang itu sedang mengamati pakaiannya. Apakah berantakan atau tidak.
Kiba langsung berjalan menghampiri Arthur lalu bertanya, “Bagaimana keadaan ibu saya?”
“Seharusnya baik-baik saja dan akan bangun dalam beberapa waktu.” Arthur mengangkat bahu. “Omong-omong, bisakah kamu menyuruh seseorang membersihkan dapur dan meminta mereka menyiapkan segala peralatan memasak?”
Paruh perkataan awal Arthur membuat semua orang terkejut, sementara paruh akhir membuah mereka kebingungan. Benar-benar tidak berpikir keduanya saling berhubungan satu sama lain.
“A-Ah! Iya!” ucap Kiba dengan penuh semangat.
Setelah meminta penjaga untuk pergi ke dapur untuk menyiapkan permintaan Arthur, dia langsung masuk ke dalam rumah kecil. Saat itu juga, pengawal dan para tabib langsung masuk dengan agak terburu-buru menyusul pemuda itu. Mereka benar-benar penasaran dengan apa yang bisa Arthur lakukan.
__ADS_1
Arthur sendiri kembali masuk ke dalam rumah dengan tenang. Sama sekali tidak terburu-buru masuk seperti orang lain.Namun saat dia masuk ke dalam, pemuda tersebut langsung disambut oleh ucapan-ucapan para tabib.
“Sungguh luar biasa! Penyakit aneh itu benar-benar hilang?”
“Bukan hanya hilang, tampaknya vitalitasnya juga pulih dengan baik.”
“Jika seperti ini, Nyonya pasti bisa bangun kurang dari satu hari.”
“…”
Semua orang tampak terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Arthur bisa melakukan hal semacam itu. Meski waktu untuk sadar tidak pasti, tetapi mereka jelas akan menunggu dengan sabar, khususnya bagi Kiba. Satu dua hari sama sekali tidak berpengaruh kepadanya karena dia sudah lama menunggu. Menambah sedikit sama sekali bukan masalah.
Setelah setengah jam mengawasi, mereka semua masih tidak percaya kalau ibu Kiba bisa menjadi lebih baik dengan begitu cepat. Mereka semua, khusunya para tabib menatap Arthur dengan mata panas.
Alih-alih mempedulikan mereka, Arthur malah memikirkan dapur. Dia menunggu cukup lama dan agak bosan. Pemuda itu benar-benar ingin makan sesuatu untuk mengubah suasana hatinya.
“Dapurnya sudah siap, Tuan Muda.”
Saat seorang pelayan datang ke rumah kecil untuk melapor, dia tampak bingung. Kiba melihat ke arah Arthur. Sementara itu, pemuda dengan mata berbeda warna itu langsung menghampiri si pelayan lalu berkata.
“Tolong bawa dia ke sana dan perlakukan tamu istimewa ini dengan baik!”
Kiba sama sekali tidak memiliki penglihatan buruk. Dia sangat mengerti alasan kenapa ibunya bisa membaik. Oleh karena itu, pemuda tersebut sama sekali tidak bernai ceroboh. Bahkan Kiba menjadi lebih hormat kepada Arthur karena telah bisa membuat ibunya membaik.
Tanpa basa-basi, Arthur langsung pergi menuju ke dapur dengan pelayan.
Tidak selang beberapa lama sejak Arthur pergi, suara rendah terdengar dari ranjang. Saat itu juga, bukan hanya Kiba, tetapi semua orang menatap ke arah wanita di atas ranjang dengan ekspresi tidak percaya.
“Ibunda!” ucap Kiba dengan nada terkejut. Dia bahkan sedikit terisak.
“Kiba? Apakah itu kamu, Nak?”
Mendengar suara pelan tersebut, Kiba langsung menghampiri ibunya. Dia duduk di samping ranjang lalu memegangi tangan ibunya dengan ekspresi terharu.
__ADS_1
“Ini saya, Ibunda.”
“Apakah aku masih hidup? Dimana ayahmu? Sudah berapa lama waktu berlalu?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Kiba mulai menjawab. Dia bahkan menjelaskan semuanya dengan detail tentang apa yang sebelumnya terjadi pada sang ibu, apa yang dilakukan ayahnya sekarang, sampai sosok Arthur yang telah menyelamatkan dirinya.
“Kamu harus segera menyuruh seseorang pergi untuk mecari ayahmu. Jangan biarkan dia pergi terlalu jauh karena itu sangat berbahaya. Sebaiknya-“
Ucapan wanita itu tiba-tiba terhenti saat aroma harum dan nikmat dari makanan memenuhi udara. Bukan hanya dia, tetapi semua orang juga dikejutkan oleh bau itu. Mereka benar-benar merasa bingung karena tidak tahu harus merespon bagaimana.
“Kiba, suruh orang untuk-“
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, wanita itu tiba-tiba terhenti karena aromanya tambah kuat. Hal tersebut membuat wanita itu menggertakkan gigi. Merasa kesal setelah bangun, wanita itu langsung berkata.
“Kiba-“
Aroma yang lebih kuat seperti ledakan langsung memenuhi rumah kecil. Mereka semua benar-benar tidak menyangka kalau ada aroma masakan sekuat itu. Bukan hanya kuat, tetapi juga membuat mereka merasa lapar.
Semua orang jatuh dalam keheningan seolah tudak bisa mengatakan apa-apa.
Hanya saja, dalam beberapa saat, aroma tersebur berangsur-angsur menghilang. Mereka akhirnya mulai tersadar kalau perhatian mereka langsung dialihkan oleh aroma makanan dan hal tersebut jelas meembuat mereka malu. Lagipula, sebagai orang-orang elit, mereka hampir kehilangan pikiran hanya karena aroma makanan.
Setelah beberapa saat, mereka semua akhirnya tenang. Mereka langsung menarik napas dalam-dalam. Orang-orang itu lalu mengingat kalau sosok yang berada di dapur adalah Arthur.
Mengingat sosok hebat yang bukan hanya meringankan suasana, tetapi juga menyembuhkan ibu Kaiba, entah kenapa …
Mereka tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Saat itu juga, suara santai dan ceroboh terdengar.
“Kenapa kalian diam saja? Apakah ada yang salah?”
Mendengar pertanyaan tersebut, mereka semua langsung menatap ke arah pemdua tampan yang baru saja masuk ke dalam rumah kecil sambil membawa sesuatu di kedua tangannya.
__ADS_1
>> Bersambung.