Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
208


__ADS_3

Malam harinya, di kantin sekolah.


Setelah makan malam, Satoru langsung kembali ke kamarnya. Sesampainya di sana, dia melihat ketiga temannya menatapnya dengan ekspresi penuh keraguan.


“Apa lagi?” tanya pemuda itu sambil mengangkat alisnya.


“Bukankah kamu pergi menemui kepala sekolah, Sobat? Apakah ada yang salah di rumah?”


Meski agak ragu, Takeo masih memberanikan dirinya untuk bertanya. Mendengar pertanyaannya, Satoru tertegun di tempatnya. Pemuda itu menatap ketiga temannya dengan ekspresi rumit.


Tampaknya sudah menduga kalau ketiga otak temannya mulai berfantasi terlalu tinggi!


“Siapa yang kalian kutuk? Apakah kalian berpikir kakekku sekarat atau semacamnya?”


Mendengar pertanyaan itu, ketiga temannya tanpa sadar mengangguk.


“Jika Pak Tua itu tahu apa yang kalian pikirkan, dia pasti sudah muntah darah karena marah!”


Selain sosok terhormat sebagai pemilik perusahaan besar, Satoru tahu kalau kakeknya benar-benar tahan. Lelaki tua itu mungkin memiliki pemikiran kurang normal, tetapi dia jelas masih kuat melompat dan menendang (sangat sehat).


Bahkan jika Satoru berkata kalau kakeknya satu langkah ke peti mati, tetapi lelaki tua itu masih lebih bugar daripada orang berusia awal lima puluhan.


“...”


Melihat ketiga temannya menundukkan kepala karena malu, Satoru hanya bisa menghela napas panjang. Dia memang mengunjungi kepala sekolah karena kakeknya. Bukan karena lelaki tua itu sekarat, tetapi karena pisau militer, air softgun, dan beberapa alat lain yang harus diamankan. Selain itu, meminta kepala sekolah untuk membantunya menyimpan sebagian uang.


Jika ditemukan membawa pakaian perlindungan, itu masih bukan masalah. Namun Satoru tahu kalau dirinya akan mendapatkan masalah jika mainannya, khususnya pisau militer itu ditemukan. Jadi dia pergi menemui kepala sekolah untuk melapor.


Mengingat bagaimana kepala sekolah menertawakannya, sudut bibir Satoru berkedut. Dia langsung menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menjaga emosi.


“Kalian tidak menyebarkan desas-desus berbahaya seperti sebelumnya kan?”


Mata Satoru menyempir. Pemuda itu benar-benar agak kewalahan jika sampai dituangi air kotor oleh ketiga teman sekamarnya yang membuat sakit kepala. Rumor buruk dari mulut mereka pasti membuatnya terlibat berbagai masalah merepotkan. Jadi lebih baik memastikan kalau semuanya aman-aman saja.


Satoru menghela napas lega ketika melihat ketiga temannya menggelengkan kepala mereka. Namun ekspresinya berubah ketika Ono tertegun lalu mengangkat tangannya dengan ekspresi ragu.


Takeo dan Manabu menatap Ono dengan ekspresi terkejut di wajah mereka. Keduanya jelas tidak menyangka kalau pemuda itu masih begitu berani setelah diberi pelajaran oleh Satoru. Mereka diam-diam memuji keberaniannya dan bersimpati kepadanya karena hal itu.


“Apa yang terjadi? Apakah kamu membuat masalah lain, Ono?” tanya Satoru.

__ADS_1


“B-Bukan!” Ono langsung menggelengkan kepalanya. “Bagaimana menjelaskannya. Aku merasa apa yang aku lakukan tidak salah, tetapi ragu apakah itu akan mempengaruhimu, Satoru-san.”


“Kalau begitu jelaskan detailnya.” Mata Satoru menyipit.


“Sebenarnya ini soal Natsumi-senpai. Dia sempat mencariku dan bertanya apakah kita sudah berbaikan. Aku menjawab sudah, tetapi dia malah tampak bingung.


Natsumi-senpai bertanya tentang apa yang aku ketahui, jadi aku berkata kalau mungkin kamu ada sedikit masalah keluarga.


Omong-omong, Natsumi-senpai berkata kalau kamu menghindarinya dengan sengaja. Apakah itu benar? Apakah kamu bertengkar dengannya, Satoru-san?”


Ketika ucapan Ono terselesaikan, Takeo dan Manabu tidak bisa tidak menatap ke arah Satoru dengan ekspresi penasaran. Bahkan Ono sendiri juga tampak sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Satoru mengeluh dalam hatinya. Dia tidak menyangka kalau ketiga temannya yang tidak bisa diandalkan masih memiliki jiwa gosip seperti ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki kesibukan!


Mengingat Natsumi, Satoru hanya bisa menghela napas panjang. Pemuda itu memilih untuk tidak berbicara secara asal!


***


Keesokan paginya.


Setelah bangun tidur, pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan kebutuhan sehari-hari, dan berganti pakaian, Satoru pergi ke kandang kuda lebih awal. Dia mendahului Ono dan pergi ke sana tanpa membangunkan teman sekamarnya.


“Persetan!”


Ketika dia baru saja masuk ke dalam kandang, wajah tampak mengerikan muncul di depannya, membuat pemuda itu terkejut sampai melompat mundur dan memasang posisi siap bertarung.


Setelah memperhatikannya baik-baik, Satoru akhirnya menyadari kalau sosok berwajah mengerikan itu adalah Natsumi.


Gadis itu berdiri di tengah jalan. Wajahnya tampak agak kuyu. Bagian bawah kelopak matanya hitam dan matanya agak merah. Ditambah ekspresi marah di wajahnya, penampilannya memang agak mengejutkan. Khususnya jika muncul begitu saja.


“A-Anu? Apakah kamu tidak apa-apa, Natsumi-senpai?”


“Kamu masih memiliki wajah untuk bertanya!”


Setelah berteriak, Natsumi langsung mengayunkan sapu di tangannya dengan ekspresi marah.


Swoosh!


Melihat sapu hendak mengenai wajahnya, Satoru langsung menangkapnya dengan dua tangan. Dia memaksakan diri untuk tersenyum lalu bertanya, “Apakah ada kesalahpahaman di antara kita, Natsumi-senpai?”

__ADS_1


“Tanyakan pada dirimu sendiri!”


Natsumi ingin menarik sapu lalu memukuli Satoru. Hanya saja, gadis itu menyerah ketika sadar kalau kekuatannya lebih rendah dibandingkan dengannya.


Entah kenapa, dia hampir tidak bisa tidur karena memikirkan pemuda di depannya. Namun orang itu mencoba menghindarinya, bahkan menyelinap untuk melakukan tugas lebih awal. Jika tidak memikirkan kemungkinan Satoru datang lebih awal untuk menghindarinya, Natsumi pasti tidak akan bertemu dengan pemuda itu karena terus dihindari.


“Damai! Damai! Bicarakan semuanya secara baik-baik, okay?”


Melihat Satoru yang membujuknya, kemarahan Natsumi berangsur-angsur mereda. Dia melepaskan sapu lalu melemparkan dirinya pada pemuda itu.


Sebagai tanggapan, Satoru langsung menangkap Natsumi dalam dekapannya. Saat itu juga, dia melihat gadis itu menyeka air mata sambil mengeluh pelan.


“Jika ada masalah, kamu harusnya bercerita dengan orang lain. Jangan memendam semuanya sendiri. Bagaimana kamu bisa memendamnya sendiri dan menghindari semua orang seperti wabah.


Bukankah hal semacam itu malah membuat orang-orang yang peduli padamu khawatir?”


Mendengar gumaman Natsumi, ekspresi Satoru menjadi lebih lembut. Dia mengusap kepala gadis itu sembari berkata, “Terima kasih.”


“Hmph! Jangan sentuh kepala senior ini seenaknya, Kouhai-kun!”


Natsumi mendengus dingin, tetapi masih tidak menghindari Satoru. Diam dalam pelukan hangat pemuda itu. Bahkan diam-diam merasa agak nyaman. Terlebih lagi, Satoru sama sekali tidak membuat gerakan lain yang memanfaatkan dirinya.


Saat itu, tiba-tiba Natsumi merasa Satoru mendorongnya sedikit menjauh lalu berkata dengan ekspresi agak malu di wajahnya.


“Sebenarnya kamu salah paham, Natsumi-senpai.”


Melihat pemuda lurus yang begitu tidak peka, Natsumi merasa amarahnya tiba-tiba kembali naik. Memelototi pemuda itu dengan ekspresi tidak puas, dia membuka mulutnya.


“Katakan!”


“Sebenarnya aku tidak memiliki masalah. Berbeda dengan dugaanmu, kakekku benar-benar sehat. Selain itu, aku menemui kepala sekolah karena alasan khusus. Sama sekali tidak ada masalah besar atau sesuatu yang mengkhawatirkan.”


Mendengar penjelasan Satoru, mata Natsumi berkedip. Ekspresi terkejut tampak begitu jelas di wajahnya. Beberapa saat setelah itu, ekspresi penuh keheranan berubah menjadi penuh kemarahan.


Menarik napas dalam-dalam, Natsumi memelototi Satoru lalu berseru kata demi kata.


“JANGAN HARAP KAMU BISA KABUR TANPA MEMBERIKU PENJELASAN ...”


“SA-TO-RU-KUN!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2