
Tanpa terasa, satu minggu berlalu begitu saja.
Di sebuah kota, tampak sosok Arthur yang sedang berjalan di pasar sambil menggandeng Lily. Keduanya tampak cukup mencolok. Bukan hanya karena pakaian mereka yang tampak bersih dan mahal, tetapi juga penampilan mereka yang menawan.
Pada saat itu, Lily tiba-tiba berhenti. Gadis itu mengendus dengan hidung kecilnya lalu menoleh ke sumber aroma.
“Arthur, itu apa?” tanya Lily dengan nada polos.
“En?” Arthur menoleh ke arah orang yang menjual kue labu. “Itu kue labu, salah satu makanan khas musim gugur tempat ini. Apakah kamu belum pernah memakannya?”
“...” Lily menggelengkan kepalanya.
“Apakah kamu mau mencobanya?” tanya Arthur.
“En.” Gadis kecil itu mengangguk.
Arthur langsung berjalan menuju ke kios penjual kue labu bersama Lily. Melihat pria paruh baya yang sibuk mengemas kue yang masih panas, dia berkata.
“Bungkuskan aku 10 kue labu terbaikmu, Pak.”
“Mohon tunggu sebentar!” ucap pria paruh baya itu dengan senyum di wajahnya.
Menunggu sebentar. Sepuluh kue labu ukuran kecil dimasukkan ke wadah lalu diberikan kepada Arthur. Pemuda itu membayarnya lalu memberikan kue itu kepada Lily.
“Jangan lupa menyisakan sendiri untuk Joe.”
“Um.”
Lily mengangguk ringan, tampak senang ketika membawa bungkusan berisi kue labu. Melihat wajah imut gadis itu, Arthur tersenyum.
“Anda memiliki adik yang manis, Tuan.”
Pemilik kedai tersenyum ke arah Arthur sambil mengacungkan jempol. Pemuda itu tersenyum sambil menggeleng ringan. Dia memberi salam lalu pergi bersama Lily.
Mereka berdua kemudian berbelanja bersama. Arthur memberi beras yang baru saja dipanen, jenis ikan khusus yang hanya muncul di musim gugur, dan juga berbagai bahan untuk membuat nabe. Dia berniat untuk memasak hidangan khas musim gugur selama tinggal di kota ini.
Sudah tiga hari Arthur, Jotaro, dan Lily tinggal di kota ini. Arthur menyewa sebuah rumah kecil di pinggir kota dengan halaman luas. Alasan pemuda itu tinggal di tempat ini adalah Lily. Dia ingin mengajari gadis itu cara hidup normal sebelum melanjutkan perjalanan.
Rencananya, mereka akan tinggal di sini selama satu bulan.
Sementara Arthur menghabiskan waktu untuk mengajar Lily dan bersantai, Jotaro berlatih lebih keras dibandingkan sebelumnya. Pria itu tampaknya merasa terpukul karena kejadian beberapa hari yang lalu.
“Arthur, apa itu? Warna-warni?”
Lily menunjuk ke sebuah bangunan dengan lentera warna-warni sebagai hiasannya. Melihat itu, sudut bibir Arthur berkedut. Dia tidak menyangka akan menemukan ‘toko’ semacam itu ketika memilih pulang melewati jalan pintas.
“Itu hanya toko yang tidak boleh kamu kunjungi, Lily. Bukankah itu mencolok? Itu dilakukan agar seseorang dengan mudah membedakan.”
__ADS_1
“En.”
Lily mengangguk dengan wajah polos. Dia terus menatap ke arah ‘toko’ itu dengan saksama, tampaknya berusaha mengingatnya. Memastikan untuk menjauhinya di masa depan.
Sampai di tempat mereka tinggal, Arthur dan Lily langsung disambut pemandangan Jotaro yang memukuli tiang besi tebal dengan tangan kosong.
“Arthur, Arthur ...”
Lily menarik pakaian Arthur.
“Ada apa, Lily?”
“Kenapa Joi memukuli besi itu setiap hari?” Gadis itu memiringkan kepalanya, tampak agak bingung.
‘Bukankah itu terjadi karena kamu memukulinya beberapa hari yang lalu?’
Arthur mengeluh dalam hati, tetapi masih memasang ekspresi santai. Pemuda itu kemudian menjelaskan dengan cara yang wajar.
“Joe sedang berolahraga. Dia melakukan itu untuk memperkuat fisiknya. Pria itu berusaha agar menjadi lebih kuat.”
“Apakah Joi tidak lelah?” tanya Lily.
“Tentu saja dia lelah, tetapi bukan berarti dia akan berhenti. Joe menanggung rasa lelah itu untuk berkembang, jadi kamu harus menghargai dan memperlakukannya dengan baik.”
“Ya.” Lily mengangguk ringan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Arthur segera memasak dan Lily menonton Jotaro latihan sambil memakan kue labu.
Malam harinya.
Setelah makan malam, tiga orang duduk di teras belakang rumah sambil minum teh. Saat itu, suara Jotaro terdengar.
“Bukankah kamu terlalu memanjakan Lily, Bos?”
“Maksudmu?”
“Menyuapi, memandikan, mengganti pakaian, menyisir rambut ... kamu hampir melakukan semuanya.”
“Itu karena Lily tidak bisa melakukannya.” Arthur mengangkat bahu.
“Tapi dia ...”
Jotaro menghela napas panjang. Pada awalnya, dia menganggap Lily sebagai gadis kecil biasa. Namun pikirannya berubah setelah melihat kekuatannya. Lagipula, Lily memiliki kekuatan yang seharusnya tidak dimiliki oleh gadis kecil biasa.
Jotaro menatap ke arah Arthur. Melihat bagaimana pemuda itu memperlakukan Lily. Terkadang dia berpikir kalau Arthur memperlakukan gadis itu seperti hewan peliharaan.
“Arthur, aku mengantuk.”
__ADS_1
“Kalau begitu ayo tidur.”
Arthur menggendong Lily di punggungnya lalu masuk ke rumah. Sekitar satu jam kemudian, dia kembali keluar rumah dan duduk di sebelah Jotaro. Saat itu, ekspresi santai dan malas di wajah pemuda itu menghilang.
“Orang-orang di markas menanyakan perkembangan tugas kita. Tadi aku melapor kalau tugas telah diselesaikan. Namun, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres.”
“Apakah kamu mencurigai orang-orang dari Garden of Death, Bos?”
“Bukannya aku curiga apakah mereka ada hubungannya dengan masalah ini. Hanya saja, aku merasa kalau kasus ini sama sekali tidak sederhana. Selain itu, kamu tahu payung yang aku simpan?”
“Payung merah itu?”
“Ya.” Arthur mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. “Itu adalah senjata sihir yang kuat. Daripada Lily, tampaknya orang-orang di markas memikirkan senjata ini.”
“Lalu kenapa mereka tidak melakukannya sendiri, Bos? Mereka semua lebih kuat dari kira berdua. Jangankan desa penuh roh jahat, mereka pasti bisa memusnahkan kota penuh roh jahat.”
“Kamu benar.” Arthur memijat keningnya. “Tampaknya aku terlalu banyak berpikir.”
“Omong-omong, kamu telah melaporkan kalau misi sukses kan, Bos?”
“Iya. Memangnya ada apa?”
“Bagaimana jika markas langsung mengirim misi lain?”
Mendengar itu, Arthur tertegun. Dia baru saja sadar kalau apa yang dikatakan Joe benar. Orang-orang itu jelas tidak akan membiarkan mereka berdua menganggur dan menikmati waktu santai. Pemuda itu merasa kalau dirinya menjadi buruh kerja paksa. Benar-benar tidak bisa beristirahat bahkan jika menginginkannya.
“Kalau begitu kita harus membuat Lily terbiasa dengan pekerjaan sehari-hari. Setelah itu, latih dia bertarung sambil menjalankan misi.”
“Kalau begitu kamu harus berhenti memperlakukannya seperti hewan peliharaan, Bos.”
“Siapa yang memperlakukannya dengan cara seperti hewan peliharaan?” Arthur mengerutkan kening.
“Memberi makan, memandikan, mengajaknya jalan-jalan ... bukankah begitu?”
Mendengar ucapan Jotaro, Arthur tertegun. Dia menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung. Pemuda itu jelas ingin memanjakan gadis kecil yang kesepian hampir tiga puluh tahun lamanya tersebut.
“Selain itu, bukankah lebih baik mengajarinya menjadi dewasa secara langung? Maksudku, usia Lily sudah 40 tahun, kan?”
“Itu sulit dilakukan. Lily jelas berbeda dengan Tsubaki, sulit memperlakukan mereka dengan cara yang sama. Kecerdasan emosional Lily dan pengalamannya dalam hidup terlalu dangkal.”
Arthur menghela napas panjang.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Jotaro.
“Kita akan pergi dari kota ini. Jika ingin Lily cepat dewasa, hanya ada satu cara.”
Arthur menatap ke arah Jotaro dengan wajah serius.
__ADS_1
“Biarkan Lily belajar langsung dari pengalaman hidup yang dia dapatkan.”
>> Bersambung.