Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
182


__ADS_3

Menyelesaikan makan siang, Satoru kembali ke kelas bersama dengan teman-temannya.


Belum sampai jam pelajaran dimulai, Jiro tiba-tiba menghampiri Satoru. Duduk di kursi depan meja pemuda itu, dia langsung menepuk tangan dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Satoru-san! Bantu aku mempelajari mata pelajaran utama!”


Mendengar itu, tanda tanya besar muncul di atas kepala Satoru. Meski mereka satu kelompok, tetapi dia dan Jiro jelas tidak saling mengenal. Melihat pemuda ceroboh yang sok akrab itu membuatnya merasa kurang nyaman.


“Maksudmu?”


“Aku benar-benar buruk dalam pelajaran. Jika gak memenuhi standar nilai. Bisa-bisa aku tidak naik kelas! Jadi tolong!”


‘Apa hubungannya denganku?’


Satoru mengerutkan kening. Meski begitu, dia tidak langsung menolak. Sebaliknya, pemuda itu mengangguk ringan sambil berkata, “Aku setuju, tapi tidak gratis.”


“Ugh! Kita teman satu kelompok kan? Bisakah kamu memberi diskon?”


Melihat seringai masam di wajah Jiro, Satoru sedikit mengangkat mulutnya.


Normalnya, orang yang mencoba memanfaatkannya akan marah jika dia meminta uang. Mereka akan berkata dia pelit, teman yang tidak mau membantu sesama, dan semacamnya. Namun mereka sendiri tidak sadar kalau telah merepotkan orang lain.


Jelas, orang-orang semacam itu sebenarnya tipe egois yang mementingkan kepentingan mereka sendiri.


Apakah itu salah? Tentu saja tidak karena sisi egois memang bagian sifat dari makhluk yang disebut manusia.


Meski begitu, beberapa orang bisa menekan sisi egois tersebut. Mencoba mencari untung, tetapi tidak secara berlebihan dan juga memberi balasan.


“Aku tidak membicarakan uang. Kita adalah teman satu kelas, jadi berbicara soal itu agak vulgar.”


“Eh? Lalu apa yang kamu inginkan?” Jiro tampak bingung.


“Aku mengajarimu mata pelajaran biasa, kamu membantuku dalam praktik. Seperti yang kamu tahu, aku datang dari Tokyo dan pengalamanku dalam bidang ini bisa dibilang nol besar. Dengan begitu, kita bisa mencapai simbiosis mutualisme.”


“Simbiosis? Trombosit? Apa itu?” Si kepala kuning merasa semakin bingung.


“Bukankah itu pelajaran SD?” gumam Satoru dengan wajah tertekan. “Intinya, kita saling membantu. Saling menguntungkan tanpa merugikan pihak lain.”


“Hahaha! Kalau begitu serahkan padaku, Satoru-san! Meski hanya mendapatkan nilai 2 di matematika, setidaknya aku masih cukup andal di bagian praktik! Khususnya soal ayam karena memiliki peternakan ayam di rumah.” Jiro menepuk dadanya dengan ekspresi bangga.

__ADS_1


“Dua? Dua dari sepuluh soal? Itu memang cukup parah,” gumam Satoru.


“Tentu saja nilai 2, dan soalnya adalah 50! Seperti tes biasa!” Jiro mengangkat kepalanya dengan bangga.


“Nilai 2 dari lima puluh soal? Benar 1 dan salah 49?”


Satoru tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau rekannya bisa begitu parah. Selain itu, pemuda itu merasa menjawab secara acak lebih baik daripada cara Jiro menjawab! Lagipula, nilai itu benar-benar terlalu parah.


Satoru bersandar pada kursinya. Mendengarkan tawa Jiro, dia menatap langit-langit lalu menghela napas panjang.


‘Sekolah macam apa ini? Benar-benar mengizinkan murid semacam ini masuk ke sekolah? Tidakkah setidaknya ada seleksi atau semacamnya?’


Saat melamun, suara Jiro kembali terdengar.


“Kalau begitu kita akan mulai besok, Satoru-san!”


Melihat Jiro kembali ke kursinya, Satoru hanya mengangkat tangan sambil memberi isyarat ‘ok’. Meski dalam hatinya sedikit enggan. Namun, dengan demikian setidaknya dia mendapatkan bantuan dalam praktik harian mulai sekarang.


Walau tidak bisa disebut situasi win-win, setidaknya ... itu bukan rugi total.


Setelah bel berbunyi, mereka mendengarkan pelajaran selama satu jam sebelum pergi penuju ke tempat praktik dengan kelompok masing-masing.


Memakai pakaian praktik lengan panjang berwarna hijau tua dengan garis putih, Satoru pergi menemui keempat orang lainnya.


“Untuk praktik minggu ini, kita akan mengurus kandang ayam kan?” tanya Satoru yang berjalan mendekat.


“Ya! Kita akan membantu di pagi dan sore hari.” Chiaki membalas dengan senyum di wajahnya.


“Ayo. Sensei telah menunggu.” Daiki berkata dengan ekspresi serius seperti biasa.


Ono sendiri hanya diam. Mengangguk ringan kepada Satoru sebagai sapaan.


Mereka berlima pun pergi ke kandang ayam petelur dimana guru telah menunggu mereka.


Sesampainya di sana, Satoru dan keempat temannya bertemu dengan Pak Torikawa. Pria paruh baya pendek, botak, dan berkumis tipis. Namun, alih-alih fokus pada penampilan, Satoru sedikit terkesan pada nama guru.


Dalam namanya, ada kata ‘tori’ yang berarti burung. Cocok dengan pekerjaannya yang berurusan dengan unggas, yaitu ‘niwatori’ atau ayam.


“Daiki, Ono, Chiaki ... kalian bertugas untuk membersihkan telur ayam.”

__ADS_1


“Jiro, Satoru, kalian bertugas mengambil telur ayam.”


Pak Torikawa langsung memberi mereka tugas setelah menunjukkan contoh. Dengan begitu, mereka pun tersebar untuk menyelesaikan tugas mereka.


‘BAU!’


Itu adalah kata yang muncul dalam benak Satoru saat masuk ke dalam ruangan. Melihat ratusan ayam dalam kandang sempit, alis pemuda itu terangkat. Baru pertama kali dia melihat peternakan ayam secara langsung.


Bahkan saat mengunjungi tempat sapi perah, Satoru hanya berada di luar. Jadi tidak tahu seperti apa di dalamnya.


Mengikuti Jiro, Satoru mengambil satu per satu telur lalu meletakkannya ke wadah dengan hati-hati. Berbeda dengan Jiro yang terbiasa, pemuda itu melakukannya dengan gerakan agak canggung. Bahkan sesekali hampir menjatuhkan telur, tetapi terselamatkan karena refleksnya yang cepat.


“Hati-hati! Itu adalah produk berharga dari sekolah kita! Jika sampai jatuh, jatah makanmu akan terpotong.”


Mendengar ucapan Pak Torikawa, sudut bibir Satoru berkedut. Jika dia masih tuan muda kaya seperti dulu, membeli telur untuk menenggelamkan pria itu jelas bukan masalah. Sedangkan sekarang, pemuda itu hanya bisa mengangguk dan menerima ketika dibentak keras oleh orang selain kakeknya.


“Ssst! Datang ke sini, Satoru-san! Kamu akan melihat bagaimana ‘telur segar’ dihasilkan.”


Mendengar ucapan Jiro, Satoru berjalan mendekat. Namun, bukannya bersemangat, ekspresi pemuda itu benar-benar tampak jelek ketika melihat proses bertelur untuk pertama kalinya.


‘Jadi ... apakah itu bagaimana telur dikeluarkan? Satu jalur dengan kotoran? Apakah itu benar-benar steril? Apakah selama ini aku memakan hal-hal kurang higienis semacam ini?’


Berbagai pertanyaan langsung muncul dalam benak pemuda itu. Rasanya dia melihat ‘sisi gelap’ dunia yang seharusnya tidak dia lihat.


“Satu telur fresh untukmu!”


Saat itu juga, Jiro mengambil telur yang baru saja dikeluarkan dan meletakkannya di atas telapak tangan Satoru.


Bau menyengat langsung menyerang indera penciuman. Zat agak lengket dan basah mengotori sarung tangannya. Merasakan kehangatan di tangannya, pemuda itu mengerutkan kening dengan sudut bibir berkedut.


Jika bukan karena Jiro memiliki senyum ramah, baik, dan antusias mengajarinya, Satoru pasti sudah berpikir kalau pemuda itu memiliki dendam kepadanya!


“Apakah kamu tidak apa-apa, Satoru-san?” tanya Jiro.


Tersadar dari lamunannya, Satoru memasang senyum sambil membalas.


“Tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak terbiasa.”


Meski mengatakan kalimat tersebut, pemuda itu tahu. Sejak merasakan ‘telur hangat’ di telapak tangannya ...

__ADS_1


Dia ditakdirkan untuk tidak bisa makan telur untuk beberapa hari ke depan!


>> Bersambung.


__ADS_2