
Menceritakan kisah itu, tetua mulai ketakutan.
“Gadis itu benar-benar tidak tampak seperti penyihir jahat. Dia tampak begitu mungil, lebih pendek dari cucuku. Dia memakai pakaian berwarna merah dengan gambar bunga-bunga putih. Kulitnya putih pucat seperti salju.
Sedangkan mata gadis itu, merah. Benar-benar merah seperti darah. Ekspresi di wajahnya sangat dingin. Daripada manusia atau hantu, dia lebih mirip dengan boneka.
Boneka terkutuk yang mengerikan!”
Tetua berkata dengan ekspresi ketakutan di wajahnya. Melihat itu, Arthur dan Jotaro yang bisa membedakan kebohongan langsung paham kalau lelaki tua tersebut memang pernah bertemu dengan gadis terkutuk itu.
Jika itu terjadi sebelum mereka bertemu dengan Tsubaki, Arthur dan Jotaro tidak akan percaya dengan gadis kecil yang bisa bertahan dengan penampilan seperti itu puluhan tahun. Namun setelah bertemu dengannya, mereka tahu kalau hal tersebut nyata.
“Apakah itu mungkin Tsubaki, Bos? Maksudku, penampilannya agak mirip dengan boneka, bukan? Warna rambut dan pakaian juga bisa diganti.
Mungkin saja, Arima menangkap Tsubaki di sana. Jadi, pada akhirnya roh-roh jahat yang sebelumnya dikendalikan oleh Tsubaki mulai lepas kembali.”
“Teori yang menarik, tetapi jelas salah.”
Arthur langsung berkata dengan nada tidak setuju. Melihat ke arah Jotaro, dia langsung menyatakan pendapatnya.
“Jika gadis terkutuk itu benar-benar Tsubaki, seharusnya Arima telah menghabisi roh jahat yang ada di sana. Itu berarti, hantu air yang muncul di Kota Danau Giok adalah ikan yang lepas dari jaring. Meski ada kemungkinan seperti itu, aku rasa itu tetap salah.
Lagipula, ketika kita melewati Desa Tanpa Nama itu, aku merasa sedang ditatap oleh banyak makhluk jahat. Itu berarti, Arima tidak datang ke sana dan tidak melakukan pembersihan. Selain itu, Tsubaki itu kultivator. Sedangkan gadis yang disebutkan dalam cerita kemungkinan roh jahat yang mengendalikan banyak bawahan, bukan?”
“Itu ... masuk akal,” ucap Jotaro sambil mengelus dagu.
“Benar, bukan?”
Arthur mengangkat bahu dengan ekspresi malas di wajahnya. Setelah itu, dia menatap ke arah Jotaro lalu berkata.
“Jika ingin tahu kebenarannya, masih ada satu cara.”
Arthur dan Jotaro saling memandang sebelum berkata serempak.
“Kita harus datang ke desa itu untuk memastikannya sendiri!”
Setelah itu, Arthur langsung berdiri. Dia kemudian mengeluarkan sepuluh keping koin perak dan meletakkannya di atas meja depan tetua.
“Terima kasih banyak atas informasinya, Tetua. Dengan begini, setidaknya kami memiliki sedikit informasi tentang musuh yang akan kami lawan.”
__ADS_1
“Kalian ... apakah kalian benar-benar akan pergi?”
Mendengar kalau dua pria muda ingin pergi ke tempat berbahaya itu setelah mendengar ceritanya, tetua menjadi lebih takut.
“Tidak apa-apa, Tetua. Jika dibandingkan kultivator yang anda temui sebelumnya, kami jelas lebih kuat.”
Jotaro berkata dengan nada penuh percaya diri.
“Terima kasih atas keramahan anda, Tetua. Tolong sampaikan terima kasih kami kepada kepala desa dan warga. Kalau begitu, kami pergi.”
Setelah memberi hormat, Arthur dan Jotaro langsung pergi meninggalkan rumah tetua desa. Tujuan mereka juga jelas, yaitu kembali ke desa tanpa nama untuk memeriksanya.
***
Sore hari, ketika matahari hendak terbenam.
“Tampaknya kita masih agak terlalu lambat, Joe.”
“Kamu benar, Bos.”
Pada awalnya, mereka berniat untuk sampai di desa tersebut di siang hari sehingga bisa memeriksa situasi. Namun mereka agak terlambat karena singgah di desa terlalu lama. Melihat langit jingga, keduanya saling memandang.
“Baik!”
Setelah itu, keduanya langsung berjalan melewati jembatan. Mereka sangat berhati-hati karena jembatan itu sudah cukup lapuk karena tidak terurus selama hampir tiga puluh tahun. Pada awalnya mereka ingin terbang, tetapi waspada jika ada jenis barrier (pelindung) di sekitar desa.
Selesai menyeberangi jembatan, Arthur dan Jotaro langsung menginjakkan kaki di tanah. Tepat ketika mereka menginjakkan kaki di desa itu pertama kali, keduanya merasakan perasaan yang tidak nyaman.
“Haruskah kita memakai masker dan minum pil anti racun? Ketika malam tiba, kabut beracun akan muncul, kan?”
“Ide yang sangat baik, Bos!”
Setelah minum pil anti racun lalu memakai masker, mereka berdua mulai menjelajahi area desa.
Pada awalnya, mereka menjelajahi area pinggir desa. Selain rumah-rumah kayu yang kosong dan sudah lapuk, sama sekali tidak ada hal lain. Bahkan anehnya, tidak ada satu pun serangga yang ada di desa tersebut.
Mereka berdua kemudian berhenti di depan sebuah pohon besar di pinggir desa. Pohon itu tampak sangat besar dan condong ke arah sungai, tampak rimbun dan agak mengerikan. Entah kenapa, keduanya langsung berpikir kalau itu adalah tempat tinggal hantu sungai sebelum melarikan diri.
“Bagaimana kalau pergi ke tengah desa?” tanya Ark.
__ADS_1
“Sama sekali tidak keberatan,” balas Jotaro.
Setelah itu, mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pada saat berjalanan di jalan utama desa, Arthur dan Jotaro merasa agak janggal. Tempat itu jelas terlalu sepi. Dibandingkan dengan hutan yang gelap dan suram, tempat ini lebih aneh. Tempatnya tidak terlalu kotor dan terbuka, tetapi juga terlalu sunyi.
Melihat rumah-rumah di sekitar, Arthur dan Jotaro hanya bisa melihat debu yang menumpuk dan rerumputan liar yang tumbuh sembarangan. Anehnya, mereka bahkan tidak mendengar suara nyamuk dan tidak melihat seekor laba-laba. Melihat rumah yang ditinggalkan tanpa sarang laba-laba saja sudah jelas sangat aneh.
Ketika suasana menjadi semakin ganjil, langit pun menjadi redup. Sang matahari pun pergi. Langit berubah menjadi tirai hitam tanpa hiasan bintang atau rembulan. Kemudian ...
Kabut tipis muncul entah dari mana. Lambat laun, mulai menutupi jarak pandang mereka.
“Bersiap untuk bertarung, Joe!”
“Tanpa diperintah pun aku sudah siap, Bos!”
Jotaro langsung memasang kuda-kuda, sementara Arthur langsung menarik pedangnya keluar.
Menunggu cukup lama, mereka berdua menjadi agak bingung. Sosok roh jahat atau makhluk semacamnya benar-benar tidak muncul. Selain itu, racun pada kabut itu sendiri tidak begitu kuat. Sama sekali tidak bisa digunakan untuk membunuh kultivator tingkat bronze, apalagi silver atau gold.
“Apakah itu benar-benar Tsubaki? Arima benar-benar telah membersihkan tempat ini? Itu berarti ... malam sebelumnya hanya perasaanku saja?”
Arthur bergumam pelan. Menyadari kalau tidak ada perubahan, entah kenapa dia merasa aneh. Namun keduanya masih cukup senang karena tidak harus menghadapi hal-hal berbahaya.
Pada saat mereka berdua berpikir semuanya akan aman-aman saja, bulu kuduk mereka tiba-tiba berdiri. Arthur dan Jotaro langsung melompat ke samping. Saat itu juga, sosok besar jatuh ke tempat mereka berdiri sebelumnya.
BRUK!
Menoleh ke sumber suara, Jotaro dan Arthur langsung melihat pemandangan yang begitu mencolok.
Di tempat mereka berdiri sebelumnya, tampak sosok dengan tinggi hampir tiga meter. Penampilannya mirip dengan wanita paruh baya gemuk dengan pakaian compang-caping. Sebagian tubuhnya busuk dan memancarkan aroma tidak sedap. Rambut hitam panjang agak keriting tampak berantakan, menutupi wajahnya yang busuk penuh dengan ulat menggeliat.
Di tangan makhluk itu, tampak sebuah pisau daging besar penuh dengan karat.
Saat itu juga, kedua orang itu langsung merasakan keberadaan makhluk-makhluk lain. Menyeka keringat di dahi sambil memaksakan senyum, Arthur berkata.
“Tampaknya kita terlalu cepat dalam menyimpulkan sesuatu, Joe.”
>> Bersambung.
__ADS_1