Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Pengejaran dan Pertarungan


__ADS_3

Setelah berpisah dengan Reyna, Arthur langsung bergegas ke desa. Dia mencari sebentar lalu menyerah.


Pemuda tersebut langsung kembali ke rumah. Dia mencari barang milik Aoi, yaitu boneka usang. Setelah itu Ark mengeluarkan jimat lalu menempelkannya ke boneka sambil merapal mantra.


Jimat yang Arthur gunakan adalah jimat pelacakan. Sebenarnya cukup mahal, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Bahkan jika orang-orang menganggap sia-sia membuang jimat untuk sesuatu yang tidak berarti, dia memiliki pemikirannya sendiri.


Bagi Arthur, keselamatan Aoi jelas lebih penting daripada jimat miliknya.


Setelah selesai merapal mantera, Arthur menunggu. Tidak lama kemudian, kertas jimat terbakar dan berubah menjadi kupu-kupu dengan sayap api biru.


Kupu-kupu tersebut langsung terbang menuju hutan. Tidak menunggu, Arthur segera mengikutinya.


Kurang-lebih setengah jam berlalu begitu saja, Arthur akhirnya sampai di lokasi hutan cukup dalam. Sekarang dia berada di area perbukitan tidak terlalu jauh dari desa. Tampaknya, di sini juga tempat orang-orang desa mencari sayur liar dan jamur.


Akan tetapi, Arthur sama sekali tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Dia terus mengikuti kupu-kupu sampai akhirnya mendengar suara Aoi.


"Apakah kita belum sampai, Kakek Kepala Desa?"


"Tenang saja, kita akan segera sampai di tempatnya."


"Hehehehe. Kak Murasaki pasti sangat senang ketika mendapatkan kejutan dariku."


"Ya, dia pasti senang."


Tanpa merubah ekspresinya, Arthur langsung melesat ke sumber suara lalu mendarat beberapa meter di depan kepala desa dan Aoi.


"Meski awalnya aku curiga, aku tidak menyangka kamu sengaja membawa Aoi menjauh, Kepala Desa.


Melihat ekspresimu seolah-olah memang sengaja menunggu aku atau Reyna datang, tampaknya kamu tidak memiliki hobi bengkok untuk menyakiti anak kecil."


Melihat pemuda tampan yang tiba-tiba muncul di depannya sambil tersenyum ramah, kepala desa menggeleng ringan.


"Sungguh luar biasa sampai-sampai bisa melacak keberadaan kami secepat ini, Tuan Muda Arthur."


"Apa yang coba kamu lakukan, Kepala Desa? Jelas, perilaku memisahkan kami berdua terlalu disengaja.


Apakah kamu tidak takut kami marah dan akhirnya membunuhmu?"


"Bahkan jika aku mati, gadis itu juga harus mati." Kepala desa berkata sebelum menggertakkan gigi.


Saat keduanya saling memandang dalam diam, suara gadis kecil yang polos terdengar.


"Kenapa kamu tampak marah, Kakek Kepala Desa? Apakah Kak Arthur membuatmu marah?


Kak Arthur itu baik. Mungkin dia berusaha bercanda, jadi Kakek Kepala Desa tidak perlu marah."


Aoi berkata dengan nada serius, tapi malah terdengar lucu.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak marah dengan Tuan Muda Arthur, Aoi."


Kepala desa mengelus rambut Aku dengan ekspresi lembut di wajahnya. Hanya dengan melihatnya, orang-orang yakin kalau dia bukanlah penjahat.


"Apakah kamu ingin mendengar cerita tidak berarti dari orang tua ini, Tuan Muda Arthur?"


"Jika itu ada hubungannya dengan alasan kamu memisahkan aku dan Reyna, kamu bisa bicara. Lagipula, aku juga suka mendengarkan cerita." Arthur tersenyum.


"Kalau begitu lebih baik lelaki tua ini menyampaikan keluh kesahnya. Kamu pasti ingat aku menyebutkan kalau cucuku telah meninggal, bukan?"


"Iya." Arthur mengangguk.


"Alasan kenapa dia meninggal adalah Momo. Gadis itu, dialah yang membunuh cucuku, garis terakhir dalam silsilah keluargaku!"


"Momo? Apakah dia benar-benar membunuh cucumu? Dari cerita yang aku dengar, tampaknya dia bukan gadis semacam itu."


"Momo dan Cherry adalah sahabat. Mereka semua sama-sama cantik, tetapi menurut mendapat banyak orang, Momo sedikit lebih cantik.


Dua tahun yang lalu, pada saat ritual pengorbanan, yang harusnya dikorbankan adalah Momo. Namun pada akhirnya, yang berkorban adalah cucuku, Cherry!"


"Mungkin saja Cherry lebih cantik daripada Momo?"


"Meski benci mengakuinya, Momo memang lebih baik daripada Cherry. Namun malah cucuku yang dikorbankan!


Aku tidak peduli apakah roh jahat itu dibasmi atau tidak. Namun saat ini, aku ingin gadis itu mati! Biarkan dia mati dan Momo merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang sangat dia sayangi!


Saat itu, kepala desa langsung mengeluarkan belati dan menyandera Aoi.


"Jangan bergerak atau Aoi akan terluka, Tuan Muda Arthur!"


"Kepala desa, kamu—"


"Tidak apa-apa, Kak Arthur! Kamu bisa pergi!"


Aoi tiba-tiba berbicara lantang. Gadis kecil itu berkata dengan senyum manis di wajahnya. Saat Arthur dan kepala desa bingung, dia kembali berkata.


"Kakek Kepala Desa tidak akan menyakiti Aoi. Lagipula, Kakek Kepala Desa itu baik!"


Mendengar ucapan Aoi, tangan kepala desa sedikit gemetar. Namun dia masih menggertakkan gigi, menatap ke arah Arthur. Mengancam kalau gadis di depannya akan dibunuh jika Arthur pergi.


"Kalau begitu, bolehkah aku bertanya? Apakah Cherry itu gadis baik?"


"Tentu saja Cherry gadis baik dan paling perhatian di desa! Dia sangat peduli dengan semua orang!"


"Kalau begitu, aku telah mendapatkan kesimpulan."


"Apa maksudmu? Jangan mencoba membingungkan aku, Tuan Muda Arthur!"

__ADS_1


"Aku tidak berusaha membingungkan kamu, Kepala Desa.


Hanya saja, menurutku Cherry memang sengaja mengorbankan dirinya sendiri."


"Kenapa? Tidak mungkin dia—"


"Karena dia baik! Selain itu, Cherry pasti meyakini sesuatu.


Menurutku, gadis itu pasti tidak memiliki bakat untuk menjadi kultivator. Namun dia tahu kalau Momo memiliki bakat tersebut. Oleh karena itu, Cherry memilih berkobar.


Biarkan Momo pergi, mengasah diri, lalu kembali untuk membersihkan desa dari bencana yang telah dialami begitu lama. Dia ...


Mengorbankan dirinya sendiri untuk kebaikan yang lebih besar."


Setelah mengatakan itu, Arthur menghela napas panjang. Dia kemudian kembali berkata.


"Cherry ... dia memang gadis yang baik."


Bruk!


Kepala desa jatuh berlutut di tanah. Dia membuang belati di tangannya. Mengingat terus sosok cucunya, lelaki tua tersebut menyeka sudut matanya.


Mengingat bagaimana Murasaki dan Reyna, ekspresinya tiba-tiba menjadi lebih pucat.


"Tuan Muda Arthur, aku—"


"Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Kamu hanya termakan dendam dan rasa frustrasi, jadi setelah kamu sadar ...


Semuanya akan baik-baik saja."


"Tapi Nona Reyna dan Murasaki—"


"Biarkan saja mereka sendiri terlebih dahulu. Lagipula, kita kedatangan tamu."


Arthur tersenyum ramah ketika melihat ke arah hutan, dimana bayangan hitam berjalan ke arah mereka dari lokasi yang tidak begitu jauh.


***


Sementara itu, di lokasi Reyna berada.


Di depan matanya, tampak sosok makhluk aneh. Bagian atas tubuhnya adalah humanoid wanita, dan bagian bawah tubuhnya memanjang seperti ular tetapi berlendir.


Hanya saja, bagian tubuh wanita itu sama sekali tidak terlihat cantik. Sebaliknya, tampak begitu mengerikan. Kulitnya putih pucat dan kurus. Tubuhnya memancarkan aroma amis dan busuk, membuat Reyna mengerutkan keningnya.


Gadis itu melirik ke arah Murasaki yang berada di belakangnya. Dia kemudian menghunus pedangnya sambil berkata.


"Tetap di belakang, tidak perlu telah dekat. Semua pasti akan baik-baik saja!"

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2