
Taiga menatap ke arah Arthur yang keluar ruangan dengan ekspresi menyesal.
“Kenapa kamu ingin mempekerjakan orang itu, Kak? Bukan hanya mahal, tetapi perilakunya agak buruk dan seenaknya.”
Pada saat mendengar pertanyaan itu, taiga menoleh ke arah adiknya. Lelaki itu memasang ekspresi serius, lalu berkata dengan lembut.
“Meski sikap yang ditunjukkan oleh Tuan Arthur itu agak buruk, tetapi dia sama sekali tidak berlebihan. Di dunia ini, orang-orang yang memiliki kekuatan mendapatkan perlakuan berbeda. Seperti rakyat biasa dan bangsawan yang juga mendapatkan perlakuan berbeda.
Selain itu, Tuan Arthur sendiri kuat. Aku yakin, dia juga bukan orang yang mudah berkhianat. Seperti yang kamu lihat, dugaanku memang benar. Tuan Arthur adalah orang yang bertanggung jawab, tidak memilih untuk membatalkan pekerjaannya hanya karena iming-iming yang lebih baik.
Kamu tidak bisa menilai isi buku hanya dari sampulnya, Kyoko. Bisa saja, cover baik atau buruk itu hanyalah tipuan. Kamu harus memeriksanya sebelum menilai semuanya.”
“Apakah begitu?” Kyoko bergumam pelan.
Gadis itu menjadi sedikit penasaran dengan Arthur. Bukan hanya karena ucapan kakaknya, tetapi juga dari rumor yang tersebar tentangnya. Berbeda dengan penampilannya, cukup banyak orang tahu kalau Arthur, murid Pilar of Dragon dari Sekte Pilar Surgawi telah membunuh siluman ular kuat yang telah dianggap sebagai penjaga hutan dan telah membunuh banyak gadis selama puluhan tahun.
Orang seperti itu, seharusnya sama sekali tidak jahat.
Hanya saja, penampilannya yang begitu sembrono membuat Kyoko merasa tertipu dengan cerita yang tersebar. Entah karena dia memang ingin bertemu dengan pemuda itu, atau mungkin terlalu menganggap baik sosok dalam cerita sehingga merasa kecewa.
Kyoko menghela napas panjang. Dia menopang dagu sambil menatap pintu dengan ekspresi rumit.
“Apakah adikku yang manis ini tertarik pada Tuan Arthur?” Taiga berkata dengan senyum di wajahnya.
“Hmph! Siapa yang tertarik pada pencatut seperti itu!”
Setelah mengatakan itu, Kyoko bangkit lalu pergi meninggalkan ruangan. Kembali ke kamarnya dengan ekspresi kesal.
Melihat ke arah adiknya pergi, senyum Taiga perlahan menghilang. Dia menghela napas panjang sebelum berkata.
“Semoga apa yang dikatakannya benar.”
“Kenapa, Sayang? Bukankah itu bagus. Maksudku, jika saja Tuan Arthur dan Kyoko bersama, posisi anda pasti juga lebih stabil.”
“Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan adikku hanya karena itu. Jika bisa, aku tidak ingin mereka bersama. Bukan karena aku menganggap Tuan Arthur lebih rendah, tetapi lebih tinggi.
Berbeda dengan manusia biasa, semakin tinggi level kultivator, bukan hanya semakin kuat, tetapi usia mereka juga semakin lama. Bahkan menurut legenda, mereka bisa berhenti menua setelah mencapai tingkat tertentu.
Tuan Arthur jelas bukan kultivator biasa. Jika sampai menikah dengan orang biasa yang bukan kultivator, akhirnya pasti tidak akan begitu baik. Memang, mereka bahagia di awal. Namun melihat pasangan menua lebih cepat dan akhirnya meninggalkanya sendiri ...
Itu bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah diterima.”
Wanita itu menatap ke arah Taiga lalu tersenyum lembut. Meski Taiga sendiri lemah dan pengecut, tetapi apa yang disukai Raja darinya adalah kebijaksanaan dan juga kepekaannya. Jelas jenis manusia yang dengan mudah memahami perasaan orang lain.
__ADS_1
“Kamu benar-benar baik, Sayang.”
***
Sore harinya.
Kyoko keluar dari ruangan sambil mengendus udara dengan heran. Aroma kuat daging yang dibakar menyebar hampir di seluruh kapal. Dia kemudian melihat kakak dan kakak iparnya. Tampaknya mereka juga keluar dari kamar karena bau tersebut.
Mengikuti aroma tersebut, mereka dan beberapa penumpang lain keluar dari ruangan lalu pergi menuju ke geladak kapal.
Di sana, mereka langsung dikejutkan dengan pemandangan luar biasa. Tampak sosok Arthur yang mendirikan sebuah stan kecil. Di sebelahnya, tampak beberapa alat pemanggang berjajar. Di atas alat panggang, banyak daging tusuk yang berbaris rapi.
Selain itu, ada juga dua buah panci besar yang mengepul di belakang Arthur. Meski membuat keributan sebesar itu, tetapi tidak ada petugas yang berani menegurnya. Sebaliknya, beberapa penjaga malah tampak tertarik dengan apa yang Arthur lakukan.
Pemandangan yang lebih mencolok adalah banyaknya anak kecil yang berkerumun di sekitar Arthur.
“Jangan dekat-dekat, Anak-anak! Ini panas!”
“Hey! Tidak perlu terburu-buru. Makan yang banyak dan cepat tumbuh besar.”
“Sup hangat, Pak Tua! Angin di malam hari terlalu dingin, lebih baik beristirahat di kamar dan jangan berkeliaran.”
“...”
“Jangan bemalas-malasan, Michael! Kamu juga, Sam!”
Teriakan Arthur kembali terdengar. Tidak jauh darinya, tampak Michael dan Sma yang sibuk memotong daging buaya. Ya, daging dari dua ekor buaya besar.
“Aku bahkan tidak dibayar untuk ini,” gumam Michael.
“Hey, Senior. Apakah Senior Arthur biasanya seperti ini? Maksud saya, sebelum datang ke sini, kalian saling kenal, kan?” bisik Sam.
Mendengar pertanyaan Sam, Michael tanpa sadar tersenyum. Dia kemudian berkata.
“Arthur memang seperti itu. Sejak dulu, dia suka memasak untuk anak-anak korban perang. Ya, meski itu merepotkan karena dia suka memeras rekan-rekan lain untuk membagikan secuil roti. Mencampur semuanya untuk dijadikan bubur saat direbus dengan air.
Mungkin tidak enak dan encer, tetapi bisa menyambung kehidupan anak-anak itu. Sedangkan apa yang dia lakukan saat berkeliling dunia, aku sendiri tidak mengetahuinya. Yang aku tahu ...
Arthur selalu memasak dengan ketulusan hatinya.”
Mendengar perkataan Michael, Sam bisa langsung membayangkan kondisi mereka sebelumnya. Dia kemudian melirik ke arah Arthur yang membagikan makanan kepada anak-anak dan orang tua. Melihat ke arah pemuda yang sedang mengelus kepala anak kecil dengan senyum sembrono, Sam tidak bisa tidak merasa kagum terhadapnya.
“Apa yang kalian sedang lamunkan, Bodoh?! Kembali potong daging itu!”
__ADS_1
Mendengar omelan Arthur, Michael dan Sam saling memandangan lalu tertawa.
“Baik!”
Mereka berdua menjawab serempak dengan senyum di wajah mereka.
***
Beberapa hari kemudian.
Kapal akhirnya tiba di pelabuhan tempat Arthur dan beberapa orang lainnya turun. Pada saat mereka sampai di palabuhan, Michael langsung menghampiri sahabatnya itu.
“Apakah kamu yakin tidak akan ikut dengan kami, Arthur?”
Bukannya menjawab, Arthur malah terus bergumam dengan ekspresi kesal.
“Berhari-hari tetapi aku bahkan tidak memancing seekor buaya punggung tembaga! Informasi itu jelas salah! Aku sampai bosan menarik buaya biasa! Ikan? Aku sedang tidak ingin memakannya! Aku tidak percaya kalau keberuntunganku begitu buruk!”
Michael berkedip. Melihat sahabatnya yang masih tidak bisa menerima kenyataan, dia tidak bisa tidak tersenyum.
“Kamu akan pergi ke mana setelah ini, Arthur?”
“Hah?!” Arthur menoleh. “Kamu masih di sini?”
Mendengar itu, ekspresi Michael langsung menjadi gelap.
“Setelah ini kamu mau pergi ke mana? Kamu benar-benar tidak ikut dengan kami?”
“Tentu saja tidak!” ucap Arthur tegas.
“Hey! Kamu bahkan tidak ingin mengucapkan selamat tinggal?”
Melihat ke arah Arthur yang pergi begitu saja, Michael merasa heran dan agak marah.
“Simpan kata-katamu untuk pertemuan berikutnya! Aku benar-benar tidak sedang dalam mood. Tenang saja, aku yakin, kita tidak akan mati semudah itu. Setidaknya, aku tidak akan mati begitu mudah!
Jika sampai kamu mati, aku akan mengirim banyak bunga! Tenang saja!”
Mendengar ucapan sembrono dari sahabatnya, Michael memasang senyum masam di wajahnya. Melihat sosok Arthur yang menghilang di kejauhan, pemuda itu hanya bisa berkata dalam hati.
‘Sampai jumpa di lain kesempatan, Kawan.’
>> Bersambung.
__ADS_1