
"Kenapa semuanya diam?"
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya. Dia menatap orang-orang di ruang tamu dengan ekspresi polos.
"Kamu sudah bangun, Aoi?" tanya Murasaki dengan senyum lembut.
Di depan mata terkejut orang-orang, Arthur menghampiri gadis kecil itu lalu berjongkok di depannya. Dia kemudian melambaikan tangannya dengan lembut sambil tersenyum.
"Halo, Aoi. Namaku Arthur, aku adalah teman Kak Momo. Salam kenal?"
Gadis kecil bernama Aoi tersebut tampak bingung. Menatap pemuda tampan di depannya, gadis kecil itu memiringkan kepalanya ke arah lain. Namun ekspresinya berubah ketika melihat sesuatu yang dia anggap unik dan aneh.
Aoi menggosok matanya. Dia sekali lagi menatap ke arah Arthur dan terkejut.
"Apakah mata kamu sakit, Kak? Apakah Aoi salah melihat?" gadis kecil itu tampak bingung.
"Tentu saja Aoi tidak salah melihat." Arthur tersenyum. "Ini kelainan yang terjadi sejak aku lahir. Warna mata berbeda, biasa juga disebut heterochromia."
"Hitero ... Hiterokormi?" Aoi memiringkan kepalanya.
Arthur hanya tersenyum dan mengelus kepala gadis kecil itu. Setelah beberapa saat, dia kembali mendengar suara Aoi.
"Apakah Kak Momo pulang? Aoi sangat merindukan Kak Momo."
"..."
Semua orang diam. Untuk gadis sekecil Aoi yang belum memahami banyak hal, mereka bingung harus mengatakan apa. Lagipula, Momo telah pergi hampir dua tahun. Pergi sejak Aoi masih sangat kecil.
"Kak Aoi belum bisa kembali karena sibuk belajar. Sebelum lulus, dia tidak bisa kembali. Jadi Aoi harus menunggu dengan sabar."
"Lalu kenapa Kak Arthur dan Nona itu datang?" Aoi tampak bingung.
"Kami datang untuk mengalahkan orang jahat. Ya ... lebih tepatnya kakak itu, namanya Kak Reyna.
Dia akan mengalahkan orang-orang jahat dan membuat desa ini menjadi lebih baik."
"Wow! Apakah Kakak itu pahlawan dalam cerita?" Aoi menatap Reyna dengan mata berbinar.
Reyna tampak canggung. Gadis dingin tersebut tampaknya tidak baik dalam berurusan dengan anak kecil. Dia memaksakan diri untuk tersenyum sambil menyapa.
"Halo, Aoi."
"Hey, senyum itu tampak mengerikan."
Arthur berkata dengan nada ceroboh. Hal tersebut langsung membuat Reyna menatapnya dengan ekspresi ganas. Jelas menyalahkan Arthur karena membuat perkenalan yang berlebihan.
Saat itu juga, suara perut keroncongan terdengar. Semua orang langsung menatap ke arah Aoi. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu sambil bergumam, "Aoi lapar."
"Kalau begitu biarkan aku yang memasak. Boleh aku pinjam dapurnya?" ucap Arthur santai.
"Eh? Menyuruh tamu untuk memasak itu ..." Murasaki tampak ragu.
"Apakah Kak Arthur bisa memasak?" tanya Aoi dengan ekspresi bingung.
"Tentu saja bisa." Arthur menyeringai. Dia kemudian melirik ke arah Midorima. "Midorima, kan? Boleh aku meminta jamur yang kamu dapatkan dari hutan. Rasanya pasti lebih baik daripada jamur yang dibudidayakan."
"Itu ... Baik!" ucap Midorima.
Midorima sebenarnya ingin menolak. Namun, entah kenapa dia merasa tidak berani menolak. Rasanya, ada sesuatu yang berbahaya di balik senyum santai dan agak sembrono tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Arthur. Dia kemudian menatap Aoi. "Bisa antar aku ke dapur, Aoi?"
"En! Tentu saja!" Aoi mengangguk, tampaknya sangat senang.
Keduanya kemudian pergi ke dapur.
Arthur kemudian menyiapkan berbagai peralatan memasak. Saking lengkapnya, alat-alat tersebut membingungkan Aoi dan Midorima yang datang membawa keranjang bambu.
Setelah menyalakan api di kompor, Arthur mulai merebus air.
Rebus daging sebentar, lalu buang air yang kotor. Ganti air rebusan dengan air baru, rebus kembali daging sampai setengah matang. Air rebusan daging yang kedua ini jangan dibuang karena akan dijadikan kuah kaldu.
Potong-potong semua bahan sayur.
Rebus kembali kuah kaldu.
Masukkan daging dan potongan wortel. Ketika wortel sudah setengah matang, masukkan jamur, buncis, dan kentang. Rebus sampai semua bahan sayur matang.
Masukkan kol, tomat, daun bawang, dan daun seledri. Tambahkan garam, kaldu jamur, dan lada bubuk. Koreksi rasa. Masak hingga semua bahan matang. Angkat dan sajikan
"Wild Crocodile x Mushroom Soup telah siap!" ucap Arthur dengan senyum di wajahnya.
Meski bukan hidangan yang sulit, gerakan yang dibuat ketika Arthur memasak tampak elegan. Dia memasak dengan tenang, seperti air yang mengalir. Benar-benar cukup profesional, tidak seperti penampilan cerobohnya!
Melihat Arthur yang sedang menghidangkan masakan dengan sedikit gaya, Aoi tertawa sambil bertepuk tangan. Tampaknya sangat menyukai penampilan Arthur.
Midorima sendiri juga terkejut. Dia tidak menyangka kalau pemuda tampan dan tampak seperti pendekar itu masih ahli dalam memasak.
"Ini hanya masakan sederhana," ucap Arthur dengan senyum lembut. "Apakah kamu mau mencobanya, Aoi?"
"Boleh???" tanya Aoi dengan mata berbinar.
Setelah menyuruh Aoi mencicipinya, Arthur segera meminta orang-orang untuk pergi ke ruang makan dan makan bersama.
Mereka semua makan bersama. Meski hanya sup, tampaknya saudara-saudari Momo itu sangat senang dan puas.
"Sudah lama sejak kita makan daging," gumam Midorima.
"Bentuknya cukup mirip daging sapi, tetapi rasanya mirip daging ayam. Daging apa ini, Kak Arthur?" tanya Murasaki.
"Daging buaya." Arthur berkata sambil mengelus dagu.
"BUAYA??!" ucap Murasaki dengan ekspresi terkejut.
"Ya. Sangat disayangkan itu hanya buaya biasa. Padahal aku harap bisa memancing buaya punggung tembaga." Setelah mengatakan itu, Arthur menghela napas panjang.
'Buaya? Memancing? Memancing monster?'
Murasaki tampak bingung. Saat itu Reyna menepuk pundaknya sambil mengingatkan.
"Jangan terlalu dipikirkan. Jika kamu terlalu memikirkannya, kamu akan dibuat bingung oleh orang itu. Abaikan saja!"
"Apakah buaya itu kuat, Kak Murasaki?" tanya Aoi dengan ekspresi bingung.
"Jika ukurannya besar, tim pemburu di desa kita mungkin sulit, bahkan tidak bisa menghadapinya." Murasaki memberi pendapat.
"Wow!" Aoi menatap Arthur dengan ekspresi kagum.
"Hmmm ..." Arthur mengelus dagu.
__ADS_1
Melihat ke arah Arthur yang tampak serius, Reyna tidak bisa tidak bertanya.
"Ada apa denganmu, Arthur?"
"Aku tahu kalau buaya itu bukan ikan, tetapi tetap makhluk semi aquatik. Jadi, daripada ayam, kenapa dagingnya tidak terasa seperti daging ikan?
Apakah benar-benar berbeda rasa hanya karena itu reptil?"
"Kamu ... terserah! Pikirkan saja sendiri!"
Reyna benar-benar marah. Dia berpikir kalau Arthur sedang mencoba membuat strategi untuk melawan musuh. Gadis itu langsung marah ketika mengetahui bahwa pemuda tersebut memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu!
"Kalau begitu lebih baik aku memikirkannya sambil jalan-jalan."
Setelah mengatakan itu, Arthur berdiri. Dia kemudian berjalan keluar dari rumah. Sebelum keluar, pemuda itu melirik ke belakang sambil berkata.
"Para gadis tinggal saja di rumah. Termasuk kamu, Aoi."
"..."
Mendengar ucapan Arthur, Aoi yang hendak turun dari kursi tampak tidak senang.
Sementara itu, Midorima yang sebelumnya agak ragu tiba-tiba berdiri. Dia langsung menyusul Arthur pergi.
Belasan meter dari rumah, Midorima langsung berteriak.
"Tunggu saya, Kak Arthur!"
"Hm?" Arthur menoleh. Melihat ke arah Midorima yang terburu-buru, dia tersenyum. "Ternyata kamu bisa bersikap sopan."
"Perempuan itu ... maksudku, Kak Momo ..."
Midorima menyusul Arthur dengan ekspresi cemas sekaligus penasaran. Setelah menstabilkan napasnya, dia melanjutkan.
"Apakah dia benar-benar akan kembali?"
"Seharusnya kamu bertanya pada Reyna."
"..."
Melihat ke arah Midorima yang terdiam, Arthur menggeleng ringan. Dia kemudian tertawa. Memiliki senyum di wajahnya, pemuda itu berkata.
"Menurut pendapatku sendiri. Dia pasti akan kembali."
"Kenapa?" tanya Midorima dengan ekspresi bingung.
"Karena kalian keluarganya dan ..."
Arthur berjalan menjauh sambil memunggungi Midorima.
"Momo, gadis itu berpisah dengan kalian hanya untuk bertemu kembali."
^^^>> Bersambung.^^^
---
Bantu Author Kei dengan vote, like, dan komentar. Kalian juga bisa memberikan gift agar author lebih semangat.
Terima kasih!
__ADS_1