Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
146 - Hanya Koki Kecil


__ADS_3

“Begitukah caramu memperlakukan tamu? Apakah kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi?”


Pada saat mendapatkan respon yang begitu tidak antusias dari Arthur, salah satu antek berkata dengan ekspresi tegas di wajahnya. Dia memelototi Arthur dan berusaha menakutinya. Namun, hal semacam itu jelas tidak berguna bagi pemuda tersebut.


“Arthur, Arthur ... mereka berisik. Kenapa kamu tidak mengusir mereka?”


Suara manis Lily terdengar di telinga keenam tamu itu. Meski suaranya manis, tetapi ucapannya jelas cukup tajam. Benar-benar membuat mereka kehilangan kata-kata.


Arthur mengelus kepala gadis kecil itu dengan senyum lembut.


“Tidak apa-apa. Mereka adalah tamu. Jika mereka ingin membeli, biarkan mereka tinggal. Jika tidak, biarkan mereka pergi.”


Setelah mengatakan itu, Arthur menatap ke arah keenam orang yang baru saja datang. Memiringkan kepalanya dengan wajah malas, pemuda itu kembali membuka mulutnya.


“Jadi, apakah kalian ingin membeli atau tidak?”


Mendengar pertanyaan tersebut, orang-orang itu saling memandang.


Saat itu, pemuda tampan yang merupakan pemimpin kelompok tersebut maju lalu menyatukan kedua tangannya sembari menyapa.


“Perkenalkan, nama saya Tetsuo, murid dalam dari Sekte Naga Perak.”


“Arthur, pemilik kedai kecil biasa.” Arthur langsung menjawab dengan datar.


“...”


Tetsuo kehilangan kata-kata. Pada saat mendengar ucapannya, biasanya orang-orang akan bersikap hormat. Bahkan kebanyakan orang biasa akan memiliki tatapan takut dan iri. Lagipula, dia adalah murid pintu dalam dari sekte terkenal.


Belum lagi, potensinya jelas tinggi dan tidak bisa diremehkan. Bahkan jika itu kultivator yang lebih kuat, mereka akan memperlakukannya dengan baik karena latar belakangnya.


Jika Arthur tahu betapa rumitnya pemikiran Tetsuo, dia mungkin sudah menertawakannya. Usia Tetsuo sedikit lebih muda dibandingkan Jotaro, dan kultivasinya berada di tingkat silver bintang satu. Bahkan jauh dari bakat Jotaro yang merasa tertekan di team mereka.


Jadi, bisa dibilang Arthur dan Lily sama sekali tidak begitu peduli dengan kekuatan atau latar belakang Tetsuo.


Sekte Naga Perak? Mereka berdua sama sekali tidak pernah mendengarnya!


Saat itu, gadis cantik berambut hitam itu maju lalu menyapa dengan hormat dan sopan.

__ADS_1


“Perkenalkan, nama saya Mei, murid dalam dari Sekter Naga Perak. Jika boleh tahu, dengan harga setinggi itu, apakah ada yang spesial dari masakan anda?”


“Tidak begitu spesial, tetapi bahan-bahan yang digunakan memang cukup langka.” Arthur mengelus dagu.


Mendengar jawaban Arthur, mata Mei sedikit menyempit. Meski pemuda tampan itu tampaknya seperti orang biasa, gadis itu cukup yakin kalau dia adalah seorang kultivator. Belum lagi, bukan kultivator lemah!


“Kalau begitu izinkan saya memesan dua mangkuk nasi goreng emas, Senior.”


“Usia kita tidak terlalu jauh, aku bahkan lebih muda. Jangan panggil aku Senior, selain itu ... bayar terlebih dahulu lalu pilih tempat duduk dan tunggu.”


Mendengar itu, Mei mengeluarkan uang lalu menyerahkannya kepada Arthur. Namun, saat itu gadis gemuk di dekatnya menarik pakaian gadis itu sambil berkata.


“Kamu tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli sesuatu di toko hitam ini, Saudari Mei. Bahkan jika kita punya uang, kita tidak boleh membelanjakannya secara acak seperti ini.”


“Tidak apa-apa, Gumi. Aku yakin bos toko ini tidak akan menipu kita.”


“Ugh! Kamu ...”


Melihat bagaimana sahabatnya keras kepala, Gumi hanya bisa menghela napas panjang. Tampaknya bos toko yang muda, santai, dan tidak memiliki banyak motivasi itu adalah tipe sahabatnya sehingga rela membuang-buang uangnya.


Gumi menggeleng ringan lalu mengikuti Mei ke tempat duduknya.


“Empat mangkuk nasi goreng.”


Setelah mengatakan itu, Tetsuo membayar lalu duduk di tempatnya. Memilih kursi dekat dengan Mei.


Meski menampilkan penampilan ramah di wajahnya, pemuda itu menyimpan dendam. Jika sampai masakan Arthur tidak seenak yang seharusnya dan harganya tidak wajar, dia akan membuat perhitungan dengan pemuda itu.


Arthur sama sekali tidak peduli dengan apa yang orang-orang itu pikirkan. Dia langsung pergi ke dapur untuk memasak.


Jadi, untuk beberapa saat kemudian, ruangan tersebut langsung menjadi agak sunyi. Hanya ada suara halus dari Lily yang sedang makan. Gadis itu menunduk, mengabaikan enam orang yang menatapnya dengan penasaran.


Pada saat Arthur mulai memasak, aroma harum langsung memenuhi udara. Mengendus aroma tersebut, Gumi langsung menyeka air liur di sudut bibirnya.


Beberapa saat kemudian, Arthur keluar dari dapur dengan nampan besar berisi enam mangkuk nasi goreng berwarna kuning keemasan. Bulir-bulir nasi berkilau dengan indah, ditambah warna sayur dan sosisnya membuat orang-orang merasa lapar.


Sembari menyajikan makanan, Arthur berkata, “Silahkan dinikmati.”

__ADS_1


“Kalau begitu, biarkan aku mencicipi keterampilanmu Bos!”


Gumi yang awalnya tampak pemarah langsung berkata dengan senyum ramah di wajahnya. Melihat itu, Mei hanya bisa menggeleng ringan.


Memasukkan satu sendok nasi panas ke mulutnya, Gumi langsung merasakan rasa sedikit asin dan gurih yang memanjakan lidahnya. Aroma rempah membuatnya semakin lapar. Pada akhirnya, membuat gadis itu makan semakin lahap.


Melihat bagaimana Gumi makan, Mei benar-benar tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sahabatnya makan begitu lahap. Bahkan terlihat tidak sopan dan tidak cocok dengan cara makan perempuan.


Merasa penasaran, Mei akhirnya ikut makan. Saat itu juga, tubuhnya menegang. Merasakan rasa nikmat dari nasi goreng yang tampak begitu sederhana, gadis itu langsung menemukan kuncinya.


Cara mencampur telur, menggoreng bumbu, takaran bumbu, mencampur nasi ketika digoreng, menjaga suhu, dan ketepatan waktu. Hal-hal yang tampak sepele itu dilakukan dengan sangat pas sehingga bisa meningkatkan kualitas masakan.


‘Benar-benar nikmat!’


Pada saat fokus pada rasanya, ekspresi Mei tiba-tiba berubah. Matanya terbelalak ketika dia memikirkan sesuatu yang dia anggap mengerikan.


Meski sedikit, Mei merasa energi dalam tubuhnya meningkat ketika makan makanan yang dimasak oleh pemuda tampan itu.


Kuncinya, peningkatannya tidak lebih buruk dibandingkan ramuan dengan harga sama. Walau sedikit, itu masih lebih baik. Belum lagi, rasanya jauh lebih enak daripada ramuan yang dibuat para alkemis.


‘Ini jelas bukan kerugian!’


Memiliki ekspresi terkejut di wajahnya, Mei menoleh ke arah Arthur yang duduk santai sambil menggoda Lily. Ekspresi penasaran sebelumnya langsung digantikan dengan ekspresi penuh dengan keraguan dan kejutan.


“Benar-benar makanan yang lezat!”


Mendengar ucapan salah satu antek, ekspresi Tetsuo tampak muram.


Awalnya dia berencana untuk mengambil kembali uangnya dan menuntut ganti rugi. Namun pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau masakan Arthur benar-benar nikmat sampai dia tidak bisa berbohong.


Walau tidak begitu memperhatikan peningkatan seperti Mei, Tetsuo merasa kalau pemuda tampan yang malas itu sama sekali bukan orang sembarangan.


“Sebenarnya kamu siapa Bos? Kenapa aku belum mendengar nama restoran ini?


Ini sama sekali tidak masuk akal. Dengan kemampuanmu, seharusnya toko ini terkenal meski tidak berada di jalan utama.”


Mendengar itu, Arthur hanya mengangkat sudut bibirnya. Mengangkat bahu sambil memasang ekspresi malas, pemuda itu membalas.

__ADS_1


“Aku hanya koki kecil biasa.”


>> Bersambung.


__ADS_2