
Tiga hari berlalu begitu saja.
Bersama dengan cerita yang disebarkan oleh Lulu ‘secara rahasia’, kisah pendekar pedang Ryuma benar-benar menyebar di antara semua orang dalam karavan. Bahkan sampai tentara bayaran dan penumpang lain juga mendengarnya. Lebih mengerikannya, semua orang benar-benar percaya dengan ‘rahasia’ yang diceritakan oleh Lulu.
“Apakah ini baik-baik saja, Ketua? Putriku menyebarkan rahasia Tuan Ryuma. Bagaimana jika dia marah?”
“Tenang saja. Tuan Ryuma jelas mengetahui niat baik putrimu, jadi dia tidak marah. Jika mau, pria sepertinya bisa saja membalas putrimu secara langsung. Namun apa yang membuatku kagum adalah tanggapannya yang begitu santai seolah-olah dia tidak pernah mendengarnya.
Sungguh pria yang baik.”
Morris melihat ke arah rekannya dengan senyum cerah. Sama sekali tidak merasa kalau ada yang salah. Sepertinya dia sangat mempercayai Arthur.
“Ya! Tuan Ryuma benar-benar pria yang baik.” Pria paruh baya itu menghela napas panjang.
Sementara itu, para tentara bayaran juga berbincang. Mereka tampaknya sangat senang karena tidak membuat tindakan sebelumnya. Meski mereka adalah kultivator, tetapi tingkat paling tinggi hanyalah bronze bintang 9, bahkan tidak memiliki kesempatan menembus silver. Mereka merasa senang tidak memprovokasi pria di usia awal dua puluhan yang memiliki tingkat tinggi yang tidak diketahui.
Ya. Saat menjadi Ryuma, Arthur membuat wajahnya menjadi lebih dewasa. Namun karena dasar wajahnya masih terlalu muda, dia tidak bisa membuat jaraknya menjadi terlalu jauh atau berakhir terlalu mencolok.
Turun dari kereta untuk mengambil sarapan, Arthur merasa agak bingung.
“Selamat pagi, Tuan Ryuma.”
“Selamat pagi,” ucap Arthur sopan.
Melihat banyak orang satu per satu menyapanya, tanda tanya besar muncul dalam kepala Arthur. Dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Entah sejak kapan, orang-orang itu bersikap semakin ramah kepada dirinya. Karena itu bukan sesuatu yang buruk, dia akhirnya menerimanya dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.
“Ini sarapan anda, Tuan Ryuma!” ucap Lulu.
Gadis itu menghampirinya sambil membawa sebuah nampan dengan semangkuk nasi, beberapa lauk, dan semangkuk sup miso di atasnya. Menerima sarapan yang tidak mewah tetapi juga tidak terlalu sederhana itu, Arthur mengangguk lembut lalu berkata.
“Terima kasih banyak, Lulu.”
“Sama-sama!” balas gadis kecil itu dengan senyum penuh di wajahnya.
Setelah sarapan bersama, mereka pun melanjutkan perjalanan. Pada hari ke empat, meraka sampai di wilayah hutan yang sangat sepi dan jauh dari kota atau desa lain. Selain bahaya binatang buas, tempat ini juga terkenal karena hal lain.
__ADS_1
“Semua orang berhenti! Bersiap untuk bertarung!”
Suara Morris terdengar dari depan. Mendengar itu, semua orang langsung bersiap untuk bertarung. Di depan karavan, tampak belasan orang yang menghadang jalan. Setelah itu, puluhan orang mulai keluar dari hutan, mengepung barisan kereta kuda dengan seringai di wajahnya.
Melihat lebih dari seratus orang yang keluar, ekspresi semua orang di karavan menjadi lebih serius. Meski kebanyakan dari mereka adalah orang biasa, tetapi ada beberapa orang kultivator di antara mereka.
“Mereka adalah kelompok bandit Black Storm!” ucap Morris dengan ekspresi pahit di wajahnya.
Pada awalnya, kebanyakan orang merasa takut. Namun setelah memikirkan siapa yang berada di belakang mereka, orang-orang itu langsung menunjukkan semangat juang.
“Jangan buat malu karavan Golden Rod! Buang rasa takut, kita tidak boleh menyerah hanya karena bandit belaka!” teriak Morris.
“YA!!!” jawab semua orang serempak.
Melihat ke arah orang-orang yang penuh dengan semangat juang, para bandit Black Storm memiliki banyak tanda tanya dalam kepala mereka. Jika dalam keadaan normal, orang-orang dari karavan pasti gemetar ketakutan dan memilih untuk bernegosiasi dengan mereka. Siapa sangka, ternyata orang-orang dari kelompok ini memilih untuk bertarung dengan mereka.
Mengikuti perintah pemimpin mereka, para bandit pun juga mulai menyerang. Pertempuran pun pecah!
Beberapa jam kemudian, pertempuran hampir selesai dengan pihak karavan yang mengalami kekalahan total. Sementara itu, sosok Arthur duduk bersandar dalam kereta. Bukan untuk bersikap sok keren, tetapi karena dia memang ketiduran.
Pada saat sadar, Arthur segera turun. Melihat adegan pertempuran besar, dia benar-benar tercengang. Selain itu, pemuda itu merasa kalau pihak karavan terlalu bodoh. Jumlah musuh jelas dua kali lipat, bahkan lebih banyak dibandingkan dengan mereka. Bukan hanya itu, tetapi mereka juga jelas lebih kuat dengan lebih banyak kultivator. Namun orang-orang ini masih melawan dengan sembrono.
Arthur merasa sangat heran sampai bertanya-tanya dalam hatinya.
“Tuan Ryuma!”
Teriakan Lulu terdengar. Saat itu juga, banyak orang dari karavan langsung melihat ke arah Arthur. Ada ekspresi malu di wajah mereka. Namun mereka juga menjadi sedikit bersemangat dan penuh harap.
Hal tersebut jelas membuat Arthur menjadi lebih bingung. Dia tidak tahu apa-apa, tetapi merasakan tatapan penuh kebencian dari para bandit. Pemuda itu jelas tertidur, tetapi entah bagaimana malah menjadi target para bandit itu.
“Jadi kamu adalah pendekar pedang Ryuma itu? Tidak tampak kuat!” ucap pemimpin bandit sambil mendengus marah.
Arthur tercengang. Dia jelas tidak tahu apa-apa, tetapi dihina begitu saja. Menahan diri untuk tidak balas mengutuk, pemuda itu langsung melontarkan bualannya.
“Saya hanyalah pria biasa yang datang dan pergi bersama angin. Mudah datang, mudah pergi ...”
__ADS_1
“Nama saya sana sekali tidak pantas kalian ingat.”
Mendengar itu, mata pemimpin bandit menyipit. Dia langsung memasang ekspresi muram di wajahnya.
“Sungguh tempramen mulia yang sangat bagus! Seharusnya mereka semua hanya perlu menyerahkan sebagian harta lalu pergi. Tidak perlu ada pertarungan seperti ini, tetapi kamu benar-benar membuat mereka melakukan hal-hal semacam ini!”
Arthur tercengang. Dia melihat ke arah pria paruh baya itu lalu mengeluh dalam hati.
‘Apa yang dikatakan pria paruh baya gila ini? Bagaimana dia bisa menyalahkanku? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di sini, Bung!’
Tampaknya pria itu mengabaikan Arthur yang tercengang. Dia langsung membawa tombaknya lalu menyerang dengan ganas.
“Teknik tombak Badai Hitam!”
Bersama dengan teriakannya, pusaran angin kuat muncul di ujung tombaknya. Dia bergegas untuk mengakhiri pertarungan melawan Arthur, tetapi ...
‘Bukankah itu terlalu lambat?’
Melihat gerakan yang seperti dalam slow motion, Arthur mengeluh. Dia langsung melesat ke depan, menghindari serangan pria itu ke sambil lalu menendang dadanya dengan sangat kuat.
BRUAKKK!!!
Pria paruh baya itu langsung terpental belasan meter dan memuntahkan beberapa suap darah. Berusaha bangkit dengan gaya dramatis sambil mengusap mulutnya, dia kembali berteriak.
“Kamu mungkin kuat, tetapi aku bukanlah orang terkuat dalam kelompok ini. Bersiaplah untuk menggigil ketakutan Pendekar Pedang Ryuma! Datanglah ... JOTARO!”
Bersama dengan ucapan pria itu, entah kenapa Arthur merasakan firasat buruk. Bayangan hitam jatuh dari atas beberapa meter jauhnya dari dirinya. Setelah asap mulai memudar, penampilan seorang pria muncul di depan Arthur.
Pemuda kekar dengan tubuh tegap, pakaian serba hitam dengan rantai, wajah serta tempramen sok cool, dan memiliki postur gaya agak aneh. Menatap ke arah Arthur dengan wajah ‘cool’, dia menujuk ke arahnya lalu berkata.
“Karena aku sudah ada di sini, itu berarti kekalahan telah menunggumu ... R-Y-U-M-A!”
“...”
Arthur tercengang. Dia jelas berpikir sedang melawan bandit kejam, tetapi apa yang sedang menyambutnya malah orang-orang bodoh. Bahkan sekarang pria aneh tiba-tiba muncul! Hal tersebut membuat Arthur tidak bisa tidak bertanya dalam hatinya.
__ADS_1
‘Apakah semua dunia kultivasi memang seperti ini? Atau akunya saja terseret ke dunia yang salah?’
>> Bersambung.