Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Memancing Di Musim Gugur


__ADS_3

Dari rumah tuan kota, Arthur dan Jotaro langsung diantar dengan kereta kuda menuju ke lokasi tempat orang yang pertama kali melihat penampakan itu tinggal.


Tempat orang itu tinggal berada di pinggir kota kecil. Dia adalah seorang lelaki tua tanpa keluarga. Tidak memiliki istri ataupun anak, tinggal sendirian dengan menjalani kehidupan sederhana dengan bekerja di perikanan milik orang.


Sampai di lokasi, Arthur dan Jotaro langsung melihat sebuah rumah kayu kecil dengan halaman cukup luas. Meski rumah dan pagarnya sederhana dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya, tetapi masih terawat dan bersih.


“Kalian boleh kembali.”


Arthur berkata dengan santai kepada kusir setelah turun dari kereta kuda. Namun kusir dan seorang ksatria yang duduk di sebelahnya langsung menggelengkan kepala mereka.


“Mohon maaf, Tuan. Tuan Kota meminta kami untuk menemani kalian sehingga tidak kerepotan dan kelelahan ketika bepergian.”


Melihat ke arah dua orang yang gugup dan takut, Arthur mengangkat bahu.


“Kalau begitu kalian tunggu di sini.”


“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak dengan ekspresi bahagia di wajah mereka.


Mengabaikan keduanya, Arthur langsung pergi mengetuk pintu bersama Jotaro. Setelah beberapa saat menunggu, pintu kayu terbuka. Sosok lelaki tua bungkuk dengan rambut penuh uban muncul di hadapan mereka berdua. Melihat Arthur dan Jotaro yang memakai pakaian indah, dia tampak kebingungan.


“Apakah ada yang bisa saya bantu?”


“Kami adalah kultivator yang disewa oleh Tuan Kota untuk menyelidiki masalah hantu air. Karena anda adalah orang yang pertama kali melihat penampilan makhluk itu, bisakah kami meminta waktu anda sebentar? Kami perlu mendapatkan penjelasan dari anda.”


“Ah! Kultivator,” ucap lelaki tua itu dengan ekspresi ketakutan. Dia langsung meminta maaf lalu buru-buru berkata. “Silahkan duduk, Tuan. Tidak ada sesuatu yang baik di rumah, saya harap air putih dan-“


“Tidak perlu repot-repot, Pak. Anda hanya perlu duduk lalu menceritakan apa yang anda lihat. Jika ada pertanyaan, kami akan bertanya.”


Arthur meminta lelaki tua itu duduk di kursi kayu di teras depan rumah. Karena hanya ada satu kursi, dia dan Jotaro berdiri sambil mendengarkan. Meski lelaki tua itu merasa tidak nyaman karena duduk sendiri, dia masih bercerita sesuai dengan permintaan mereka.


Sekitar setengah jam kemudian, cerita yang begitu detail diselesaikan oleh lelaki tua itu.


Mendengar penjelasan lelaki tua itu, Arthur langsung menirukan gerakan lelaki tua itu sambil berkata.

__ADS_1


“Apakah anda yakin kalau makhluk itu setinggi ini, Pak?”


“Eh?”


Melihat ukuran yang Arthur tunjukkan, lelaki tua itu mengangguk ringan dengan ekspresi bingung di wajahnya.


“Apakah ada yang salah, Bos?”


“Tentu saja ada yang salah, Joe. Menurut Pak Hotta, makhluk itu berukuran setinggi ini. Padahal menurut penjelasannya, hantu air berada di bagian tengah danau dan sangat jauh. Itu berarti, tinggi makhluk itu lebih dari tiga meter, mungkin hampir tiga setengah meter.


Hantu air yang normal tidak begitu kuat. Makhluk itu jelas bukan hantu air yang kita ketahui. Ukuran tubuh dan kekuatannya sama sekali tidak cocok.”


Arthur menggelengkan kepalanya. Menurut deskripsi dari lelaki tua itu, roh jahat tersebut termasuk tinggi dan panjang rambutnya sendiri mungkin lebih dari lima meter. Kemungkinan besar rambutnya digunakan untuk menjerat mangsa dan menyeretnya ke dalam air.


“Apakah ada sesuatu yang aneh, Bos?” tanya Jotaro sambil melirik ke arah lelaki tua itu.


“Tidak ada. Dia sama sekali tidak ada hubungannya.” Arthur menggelengkan kepalanya. “Namun jika boleh, kami ingin meminta bantuan anda, Pak Hotta? Apakah bisa?”


Pak Hotta sendiri bekerja pada shift malam. Dari gestur dan caranya bicara, Arthur merasa kalau lelaki tua tersebut sebenarnya enggan bekerja dan ketakutan. Namun terpaksa untuk melakukannya karena tidak akan mendapatkan uang jika tidak melakukannya. Bahkan bisa dipecat dari pekerjaannya.


“Eh? Apakah anda serius, Tuan?” tanya Pak Hotta dengan ekspresi terkejut.


“Tentu saja jika anda tidak keberatan,” ucap Arthur dengan senyum di wajahnya.


“Tentu saja saya tidak keberatan, Tuan! Saya dengan senang hati menerimanya!”


Melihat lelaki tua yang tampak bersemangat karena ada dua kultivator yang bisa menjaganya ketika sedang bekerja, Arthur menggelengkan kepalanya. Meski cukup yakin Pak Hotta tidak ada hubungannya dengan semua ini, dia masih ingin mengawasi beliau dari dekat untuk mendapatkan petunjuk. Lagipula, sebagai pekerja, lelaki tua itu seharusnya cukup akrab dengan area danau.


Itu pasti akan membantu mereka dalam pelacakan!


“Kamu dengar itu, Joe?”


Arthur menoleh ke arah Jotaro dengan senyum di wajahnya. Melihat senyum itu, Jotaro menjadi was-was. Benar saja, ucapan pemuda itu setelahnya membuat dia tersenyum masam.

__ADS_1


“Waktunya untuk memancing di musim gugur, Joe!”


***


Malam harinya.


Selesai makan malam di rumah tuan kota, Arthur dan Jotaro langsung pergi menuju ke pinggir kota tempat Pak Hotta telah menunggu mereka. Ketiga orang itu kemudian menuju ke arah danau. Mereka sama sekali tidak begitu terburu-buru.


Atas permintaan Arthur, dia dan Jotaro mengikuti Pak Hotta berjalan kaki. Selain untuk menikmati pemandangan, pemuda itu berpikir kalau mereka bisa mengawasi area sekitar dengan lebih jeli dengan berjalan kaki.


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di lokasi.


Pekerjaan Pak Hotta adalah melakukan jaga keliling di sekitar keramba ikan tempat budidaya. Ada puluhan keramba luas milik bosnya. Di sana, selain berjaga, dia juga bertugas untuk memberi makan ikan di malam hari. Lelaki tua tersebut juga bertugas untuk memeriksa apakah ada ikan mati, jaring rusak, dan semacamnya. Bisa dibilang, meski tidak rumit, pekerjaannya cukup banyak.


Arthur dan Jotaro berkeliling bersama dengan Pak Hotta. Sambil mengawasi danau, mereka berdua juga tahu bagaimana cara Pak Hotta bekerja. Meski bukan sesuatu yang hebat, tetapi keduanya masih mendapatkan tambahan wawasan.


“Dari sini saya pertama kali melihat makhluk itu, Tuan.”


Setelah mengatakan itu, Pak Hotta menunjuk ke tempat hantu air muncul pertama kali. Melihat ke arah lelaki tua itu menunjuk, Arthur dan Jotaro menggeleng ringan. Jelas mengawasi dari kejauhan sama sekali tidak berhasil.


Setelah berkeliling beberapa waktu tanpa hasil, akhirnya Arthur berpamitan pada Pak Hotta lalu pergi bersama dengan Jotaro.


Arthur meminjam sebuah kano (perahu kecil) yang cukup sempit. Dia kemudian naik bersama Jotaro. Sementara dirinya mengeluarkan joran, rekannya mulai mendayung menuju ke area tengah danau.


Perahu kecil mulai mengambang di atas air danau yang dingin dan gelap. Perahu kecil terus bergoyang diterpa angin malam, membuat keduanya merasa kurang nyaman. Berada di atas danau yang begitu luas dan gelap tentu membuat orang-orang tidak nyaman.


Jika itu penderita thalassophobia, mereka mungkin lebih memilih dibunuh daripada diminta untuk berlayar dengan perahu kecil di atas danau yang dalam dan gelap ini.


Memiliki ekspresi santai di wajahnya, Arthur mulai bersiul lalu melempar kail pancing ke danau. Pemuda itu tampaknya benar-benar penasaran ...


Apa yang akan dia tangkap di danau yang begitu sepi dan suram ini?


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2