
Melihat senyum lembut di wajah tampan pemuda itu, jantung Natsumi langsung berdegup kencang. Pipinya sedikit merah, tetapi tertutup oleh warna mentari pagi. Meski Satoru yang biasanya terlihat keren, gadis itu merasa kalau belum melihat sisi lembut semacam ini dari tersebut.
Ingin mengatakan sesuatu, Natsumi langsung menggelengkan kepalanya. Menarik napas dalam-dalam, ekspresinya menjadi semakin bertekad.
‘Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal semacam ini! Lagipula, aku hanya sedikit menggodanya! Tidak lebih dari itu!’
Pada saat Natsumi membulatkan tekadnya, suara lain yang tidak asing terdengar di telinga mereka.
“Tampaknya kalian benar-benar menikmati pagi yang indah, Murid-murid tercinta!”
Natsumi dan Satoru menoleh dengan kaku. Entah sejak kapan, Pak Sengoku sudah di belakang mereka berdua.
“Kapan-“
“Tentu saja sejak kalian mengeluarkan kuda secara sembunyi-sembunyi!” teriak Pak Sengoku dengan ekspresi marah.
Pria paruh baya itu langsung menunjuk ke wajah Natsumi dengan ekspresi kesal. Dengan wajah merah dan otot menonjol seperti Syura, dia berteriak dengan nada tidak puas dan penuh keluhan.
“Bagaimana kamu bisa mengajak Nak Satoru berkuda tanpa pengawasan? Bagaimana jika dia terjatuh lagi? Bagaimana kalau dia terluka parah dan tidak seberuntung sebelumnya?!”
Mendengar itu, ekspresi terkejut tampak di wajah Satoru. Dia merasa kalau pria yang tampak garang itu sama sekali tidak seburuk kelihatannya.
“Jika itu terjadi, gajiku pasti dipotong pak tua itu lagi! Bahkan aku bisa digantikan!”
“...”
Melihat wajah marah Pak Sengoku, Satoru akhirnya menarik kembali kata-katanya. Sama seperti yang dikatakan Natsumi ...
Pamannya itu benar-benar tidak bisa diandalkan!
***
“Ini salahmu!”
Mendengar itu, Satoru berkedip dengan ekspresi tak berdaya di wajahnya. Dia ingin menyangkal, tetapi merasa itu percuma. Jadi akhirnya hanya diam dan menerima saja. Lagipula, pemuda itu merasa berhutang kebaikan pada Natsumi.
“Aku tidak bisa makan sarapan karenamu, Kouhai-kun. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab?”
Dihukum oleh Pak Sengoku karena berkuda tanpa izin, Satoru dan Natsumi tidak bisa makan jatah sarapan mereka.
Tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu terima kasih, Satoru memilih diam. Meski Natsumi memang membuatnya dihukum, tetapi gadis itu juga telah membantunya melewati masalah dalam dirinya.
Bagi Satoru, pengalaman berkuda sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan hukuman ringan ini. Jadi pada akhirnya pemuda itu memilih diam saja.
“Kenapa kamu diam saja? Katakan sesuatu!”
“Lakukan sesukamu,” balas Satoru dengan ekspresi datar di wajahnya.
Mendengar jawaban yang dia inginkan, mata Natsumi langsung berbinar. Gadis itu melihat Satoru dengan ekspresi cukup bersemangat sebelum membuka mulutnya. Namun, akhirnya sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“...”
“Ada apa?” tanya Satoru.
“Tidak. Bukan apa-apa.”
Natsumi langsung menggelengkan kepala. Dia sebenarnya ingin mengajak Satoru pergi menonton balapan kuda pada saat liburan Golden Week. Namun ucapannya terhenti karena sadar jika mengatakannya ...
Itu berarti dia mengajak Satoru berkencan!
“Kalau begitu segera bereskan ini jika tidak ingin ketinggalan pelajaran dan dihukum.”
Melihat Satoru yang benar-benar tampak biasa saja membuat Natsumi merasa kesal. Meski tidak berpikir untuk dekat dengan pemuda itu atau semacamnya, dia masih merasa tidak puas dengan reaksi yang begitu ala kadarnya.
Gadis yang banyak dikagumi oleh para junior dan teman-teman di angkatan sama itu merasa sedikit rendah diri. Diam-diam bepikir apakah mulai kehilangan kharismanya ketika berada di sisi pemuda itu.
‘Pasti dia menyembunyikan rasa malunya dengan ekspresi tak acuh di wajahnya! Ya! Pasti begitu!’
Natsumi langsung mendengus sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya, merasa puas karena telah menemukan ‘trik’ yang dimainkan oleh Satoru.
Sementara itu, Satoru yang tidak tahu apa-apa hanya merasa agak jengkel. Jika bukan karena telah membantunya, dia pasti sudah memarahi Natsumi yang malah santai-santai, tidak melakukan pekerjaannya padahal dikejar waktu!
Pada akhirnya, sementara Natsumi sesekali melamun dan menggumamkan kalimat tidak jelas, Satoru mengerjakan hampir semuanya sendiri!
***
Siang harinya, di kantin.
Marah, iri, benci, dan sebagainya. Satoru bisa merasakan tatapan seperti itu dari mereka, khususnya dari para siswa.
Sampai di kursinya, Satoru melihat ketiga teman sekamarnya memandangnya dengan ekspresi kagum.
Takeo menggosok hidung dengan jari sambil berkata, “Seperti yang diharapkan darimu, Sobat!”
“Memang, ksatria akhirnya menjadi lengkap dengan kudanya.” Manabu menghela napas panjang.
“Sudah kubilang, Satoru-san dari Tokyo dan bisa menjadi teladan kita.” Ono mengangguk dengan ekspresi puas.
Mendengar berbagai ucapan tersebut, Satoru merasa bingung.
‘Ksatria berkuda? Teladan? Apa hubungannya denganku?’
Pada saat menghubungkan berbagai penjelasan itu lalu tatapan yang diarahkan orang-orang, dia akhirnya sadar kalau itu pasti ada hubungannya.
Satoru langsung menatap ketiga temannya dengan ekspresi curiga.
“Kali ini omong kosong apa yang kalian sebar?”
“Jahatnya! Bisa-bisanya kamu mengatakan itu padahal kami telah memuji kehebatanmu!” balas Takeo dengan ekspresi tidak puas.
__ADS_1
Satoru langsung menarik napas dalam-dalam. Dia mencoba menenangkan diri sambil memaksakan diri untuk memeras senyum di wajahnya.
“Lalu apa yang kalian katakan pada teman-teman sekelas?”
“Diam-diam mengeluarkan kuda dari kandang lalu berboncengan dengan kakak kelas cantik,” ucap Ono.
“Berkuda bersama melewati hamparan rumput dan bunga di pagi hari sampai lupa kembali,” tambah Manabu.
“Menaklukkan hati senior cantik yang disukai banyak orang di akademi,” ucap Takeo.
Ketiga orang itu menoleh serempak ke arah Satoru lalu mengacungkan jempol mereka sambil berseru serempak.
“GOOD JOB, BROTHER!”
‘GOOD JOB KEPALA BAPAK KAU!’
Satoru berteriak dalam hati. Pemuda itu kemudian bersandar pada kursi dengan ekspresi kosong di wajahnya. Benar-benar tampak lemah karena kehilangan seluruh kekuatannya.
“Tidak perlu berterima kasih, Sobat!” ucap Takeo sambil menggosok hidung.
“Itulah gunanya teman,” tambah Ono dengan senyum ramah.
“Tapi jangan lupakan kami! Kita harus saling membantu!” ucap Manabu dengan ekspresi serius sambil menepuk pundaknya.
Mendengar omong kosong tidak tahu malu itu, Satoru langsung memijat pelipisnya dengan ekspresi tertekan. Awalnya dia pikir dirinya bisa membaur dan beradaptasi, tapi ...
‘TIGA KAMPRET INI ...’
‘PULANGKAN AKU KE TOKYO! LEBIH BAIK AKU DIKEROYOK ANAK-ANAK SMA SOMBONG ITU DARIPADA HARUS BERHADAPAN DENGAN TRIO KAMPRET INI!’
Saat itu, Manabu dan Takeo terus menepuk pundak Satoru.
“Kamu benar-benar mudah terharu, Sobat. Kamu membuat kami merasa tidak enak.” Takeo menghela napas.
“Kamu harusnya tidak perlalu memikirkan bantuan kecil semacam ini, Satoru-san. Bukankah kita teman?” tambah Manabu dengan senyum ramah.
Satoru menghela napas panjang dengan ekspresi tertekan. Jika bukan karena mengetahui niat mereka baik dan mereka menganggapnya teman, pemuda itu pasti sudah menghajar ketiganya dengan keras.
Justru karena kebaikan mereka yang keterlaluan, Satoru menjadi sangat tertekan. Benar-benar merasa tidak ada harapan untuk memberi mereka pencerahan.
Rasanya seperti menyuruh babi terbang dan angsa bertelur emas! Tidak bisa diharapkan!
Saat itu, sosok Pak Aikawa muncul di kantin. Pria paruh baya itu melihat sekeliling, dan tatapannya terhenti ketika melihat Satoru.
“Satoru-kun, ikut aku ke kantor! Kamu pasti tahu masalah apa yang sudah kamu perbuat!”
Mendengar itu, Satoru tercengang. Setelah beberapa saat, pemuda itu sadar dan meraung dalam hati.
‘ITU BUKAN SALAHKU! JIKA INGIN MENYALAHKAN, SALAHKAN TRIO KAMPRET INI!’
__ADS_1
Melihat ekspresi tegas Pak Aikawa, pemda itu hanya bisa memasang senyum masam. Berjalan ke kantor mengikuti beliau dengan ekspresi lelah dan lesu, seperti tahanan yang siap dihukum mati!
>> Bersambung.