Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Treant


__ADS_3

Treant, itu adalah nama makhluk yang ada di depan mereka.


Treant sendiri memiliki penampilan mirip dengan pohon. Mungkin, lebih tepat jika menyebut mereka sebagai monster pohon. Jika dicari perbedaan yang paling jelas, tentu saja sepasang kaki yang mereka miliki. Selain itu, cabang-cabang juga membentuk sepasang tangan dengan lima cakar tajam. Bagian atas tubuhnya mirip dengan pohon normal, tetapi di bagian batang, tampak bentuk mirip wajah yang mengerikan.


Pada saat bergerak, Treant menunjukkan wujud asli mereka. Namun mereka memiliki sebuah keistimewaan, yaitu bisa menyamar menjadi pohon dan membaur dengan pepohonan di sekitarnya. Bahkan sulit ditemukan oleh pemburu profesional jika membaur di hutan.


“Arthur, Arthur ... kenapa pohon bisa berjalan? Kenapa mereka tampak jelek?”


Lily menarik pakaian Arthur, lalu menunjuk ke arah para Treant dengan ekspresi penasaran di wajahnya.


“Uhuk! Mereka disebut Treant, sejenis monster pohon. Alasan kenapa kulit mereka penuh keriput dan retakan agar bisa diubah sesuai dengan bentuk pohon yang mereka samarkan. Kamu tidak boleh menyebut mereka dengan cara seperti itu. Lagipula, cantik atau tidak itu tergantung siapa yang memandang.


Bagi sebagian monster, terkadang manusia diejek sebagai kera tanpa bulu dan dianggap memiliki penampilan buruk.”


“Ya.” Lily mengangguk. “Aku mengerti, Arthur.”


“Teman-teman ... aku rasa ini bukan waktunya untuk belajar dan menjelaskan hal semacam itu, kan?”


Jotaro langsung menyela Arthur dan Lily yang sedang berbicara. Lagipula, belasan meter dari mereka, tampak tujuh Treant yang mengelilingi mereka. Meski hanya ada satu yang berada di tingkat gold, tetapi Jotaro tidak berani menganggap remeh karena belum pernah bertarung dengan makhluk semacam itu.


Dari tujuh Treant, ada satu di tingkat gold bintang 1, ada dua di tingkat silver bintang 5, ada dua di tingkat silver bintang 3, dan ada dua di tingkat bronze bintang 8.


Berbeda dengan Jotaro yang tampak begitu serius, Arthur cukup santai karena api miliknya jelas mengekang Treant. Bahkan Lily juga memiliki elemen api yang bisa menekan mereka. Meski tampak garang, tetapi makhluk-makhluk itu jelas kurang berbahaya dibandingkan dengan roh jahat di Desa Tanpa Nama.


“Tenang saja, Joe. Seharusnya para Treant itu tidak begitu jahat. Mereka masih bisa diajak bicara. Khususnya bagi yang sudah berada di tingkat gold. Ini sangat aman.”


Arthur berjalan mendekati para Treant dengan ekspresi santai di wajahnya. Dia meletakkan tangannya di pinggang sambil tersenyum santai.


“Sudah kubilang, mereka itu-“


BRUAK!


Cambuk pohon setebal ember langsung memukul tepat di pinggang Arthur, membuat pemuda itu terpental puluhan meter ke hutan dan menghilang dari pandangan. Saat itu juga, Jotaro dan Lily tercengang. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ketua divisi 10 yang biasanya tampil kuat benar-benar diterbangkan dengan cara seperti itu.


“Kenapa kamu bercanda di saat seperti ini, Bos?”


Jotaro tidak bisa tidak meringis ketika mendengarkan melihat Arthur diterbangkan. Meski tahu kalau bosnya adalah orang yang sangat santai dalam menghadapi masalah. Kali ini orang itu terlalu santai.

__ADS_1


‘Dengan kekuatan cambukan seperti itu, setidaknya beberapa tulangnya retak, kan?’


Pikir Jotaro dengan ekspresi masam di wajahnya. Dia kemudian melirik ke arah Lily yang kaget dan linglung. Pada akhirnya, pria itu berkata.


“Tampaknya akhirnya aku harus melakukannya sendiri.”


Mengatakan itu, Jotaro langsung membuang bajunya, menunjukkan otot-otot tubuhnya. Pria itu kemudian memasang kuda-kuda. Aura berwarna kuning langsung menyelimuti tubuhnya. Melihat ke arah para Treant yang menyeringai ganas dengan wajah buruk pada batang pohon, dia mendengus dingin.


“MAJU!”


Melihat beberapa Treant maju dengan lambat, Jotaro memilih untuk menyerang. Hanya saja, dia tidak menyangka kalau itu pilihan yang salah.


Meski memiliki gerakan kaki lambat. Gerakan tangan mereka jelas sangat cepat. Ketika maju, Jotaro benar-benar lupa kalau beberapa makhluk itu memukul Arthur sampai menghilang ke hutan.


Melihat beberapa tangan Treant memanjang dan berayun seperti cambuk, Jotaro langsung menyilangkan kedua tangannya.


BANG!


Terkena pukulan keras dari beberapa Treant, sosok Jotaro terbang mundur. Dia memutar tubuhnya di udara lalu mendarat dengan terampil. Melihat tubuh besar Treant yang mendekat, pria itu langsung mengingat tiang besi di halaman yang selalu dia gunakan sebagai rekan latihan.


Membayangkan Treant sebagai tiang besi, Jotaro langsung mengepalkan kedua tinjunya lebih erat. Energi kuning yang menyelimuti tinjunya langsung berkobar dengan ganas. Kedua tinju pria itu kemudian tampak berkilauan seperti dilapisi oleh logam.


Melihat dua cambuk yang melesat ke arahnya, Jotaro langsung menghindarinya layaknya petinju profesional. Pria itu kemudian melihat celah lalu maju. Muncul di depan wajah Treant, Jotaro langsung memukul dengan sekuat tenaga dan secepat yang dia bisa.


Bang! Bang! Bang!


Suara dentuman logam yang memukul kayu menggema. Saking cepatnya, pukulan pria itu sampai tidak bisa dilihat oleh mata orang normal. Melihat banyak retakan di bagian wajah Treant, Jotaro langsung membuat pukulan keras.


BRUAK!


Satu treant tingkat silver bintang 3 langsung terhempas dan jatuh ke tanah dengan keras. Meski tidak mati, tetapi luka serius tampak di bagian wajah dan tubuh makhluk itu. Melihat ke arah beberapa Treant yang menatapnya dengan ekspresi penuh kemarahan, pria itu memasang kuda-kuda lalu mengangkat dagunya.


“SIAPA SELANJUTNYA?”


***


Sementara itu, di tempat Arthur berada.

__ADS_1


Sosok pemuda itu berbaring terlentang di atas rerumputan luas. Melihat langit, pemuda itu bergumam.


“Sepertinya organ dalamku sedikit bergeser dari tempatnya?”


Arthur sama sekali tidak panik karena dengan fisiknya, luka seperti itu bukanlah sesuatu yang berbahaya. Bisa sembuh dengan cepat. Dia juga tidak marah ketika dipukul oleh Treant secara tiba-tiba. Saat itu, pemuda tersebut tiba-tiba mengingat sesuatu.


“Lebih baik berbaring dan tidur sebentar di sini. Dengan kekuatan Joe dan Lily, seharusnya bukan hal sulit untuk melawan para Treant.”


Mengatakan itu, Arthur memejamkan mata. Berbaring di atas rumput, merasakan suasana menyegarkan hutan yang tenang, pemuda itu benar-benar merasa nyaman. Saat hendak tertidur, dia tiba-tiba mengendus aroma menyegarkan.


‘Ini ... kayu? Aroma dari Treant itu?’


Merasakan aroma nikmat, Arthur merasa lebih nyaman. Saat itu, kesadarannya mulai memudar. Benar-benar bisa tertidur, padahal teman-temannya sedang bertempur dengan sambil bertaruh nyawa di sana.


Pada saat terlelap dalam aroma menyegarkan itu, Arthur tiba-tiba mengingat saat dia sedang belajar memasak bersama dengan Vivia. Saat itu juga, mata pemuda tersebut langsung terbelalak.


“KAYU BAKAR!!!” teriaknya secara tiba-tiba.


Arthur langsung bangkit sambil menyeka mulutnya. Memiliki ekspresi ganas di wajahnya, pemuda itu bergumam.


“Daging panggang kualitas super. Cita rasa luar biasa ...”


“Aku menginginkannya!”


Menyadari sesuatu, Arthur langsung melihat simbol di punggung tangan kanannya.


‘Sudah lama kamu menginginkan ini, kan? Keluar untukku ... Gluttony!’


Bersama dengan panggilan Arthur, sebuah pedang hitam legam muncul di tangannya. Pemuda itu kemudian berkata dengan ekspresi tegas.


“KAPAK!”


Pedang hitam langsung menggeliat seperti makhluk hidup, mulai membentuk kembali tubuhnya menjadi sebuah kapak raksasa berwarna hitam legam. Memancarkan aura suram dan sangat jahat.


Melihat kapak yang lebih besar dari tubuhnya, Arthur tersenyum puas. Melirik ke arah dia sebelumnya terhempas, pemuda itu menyeringai ganas.


“WAKTUNYA MENEBANG POHON~”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2