
Pada siang hari, Arthur selesai mengajar Nanami.
“Dasar-dasar yang kamu miliki memang sudah bagus. Selama kamu bisa memperbaiki sedikit kesalahan yang aku tunjukkan sebelumnya, kemampuanmu akan meningkat. Tujuh ... tidak, lima hari seharusnya sudah cukup untuk menghilangkan beberapa kebiasaan salah itu.
Setelah kamu selesai dengan dasar-dasar pedang dan memiliki pondasi kokoh, aku baru akan memulai melatih teknik yang diberikan oleh ayahmu. Kamu seharusnya mengerti, semakin kokoh pondasi, semakin tinggi bangunan bisa berdiri.”
“Baik, Guru!”
Mendengar penjelasan Arthur, Nanami yang menyelesaikan latihannya mengangguk seperti ayam mematuk nasi. Sementara itu, Jotaro tertidur di bawah pohon. Selain melakukan latihan, pria itu sama sekali tidak tertarik dengan berbagai teori.
Arthur sendiri memakluminya. Jotaro bisa dibilang terlahir dengan fisik khusus yang membuatnya bisa melatih fisiknya ke tingkat yang mengerikan. Membiarkan ‘jenius’ seperti itu mengambil jalan sendiri mungkin adalah pilihan terbaik.
“Sore hari, aku akan melatihmu teknik kultivasi. Selama bisa memulainya, kamu bisa mempraktikkannya setiap hari sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Meski tidak begitu cepat, tetapi kita harus mementingkan kestabilan.
Jika kamu sudah bisa mempraktikkannya lebih lancar, kita akan masuk ke tahap latihan berikutnya.”
“Baik, Guru!”
Dengan demikian, pelatihan Nanami pun akhirnya dimulai. Meski Arthur sendiri tidak begitu ingin mengajar, tetapi dia masih melakukan yang terbaik karena itu menyangkut kehidupan orang lain. Arthur tidak ingin mengajar dengan asal-asalan dan akhirnya membuat Nanami menderita luka dalam yang menumpuk karena kesalahan mengajar.
Hal tersebut bisa membahayakan nyawa gadis itu beberapa tahun kemudian!
***
Tujuh hari berlalu begitu saja.
Di kamarnya, Arthur menutup buku harian. Sisa 93 hari untuk mengajar Nanami. Meski bukan sesuatu yang menyenangkan, tetapi dia juga tidak keberatan melakukan rutinitas seperti itu.
Bangun di pagi hari dan melakukan sedikit pemanasan, sarapan, mandi, lalu mengajar teknik pedang sampai siang hari. Makan siang, beristirahat sampai jam empat untuk melakukan beberapa kegiatan santai, lalu mulai mengajar Nanami sampai matahari terbenam. Untuk pelajaran di sore hari, Arthur mengaturnya menjadi teknik kultivasi, teknik gerakan kaki, teknik kultivasi, teknik palm (telapak tangan), lalu mengulangnya seperti itu sampai gadis tersebut terbiasa.
‘Tiga bulan ... seharusnya cukup untuk meletakkan dasar yang baik untuk gadis itu.’
Pikir Arthur ketika mengingat sosok Nanami. Pemuda itu kemudian menggeleng ringan. Meski Nanami memiliki cukup bakat, tetapi dibandingkan orang-orang yang ‘diangkut’ dari dunia lain, garis startnya terlalu jauh berbeda.
Setelah itu, Arthur kembali memulai harinya.
__ADS_1
Dia pergi ke halaman belakang setelah sarapan. Di sana, sosok Nanami dan Jotaro telah menunggunya. Mereka memiliki senyum di wajah mereka, tampaknya hari-hari yang dilalui beberapa hari ini cukup menyenangkan bagi mereka.
“Selamat pagi, Guru!”
“Tampaknya kamu terlihat bahagia. Apakah karena kemajuan yang kamu dapatkan semalam?”
“Eh? Guru mengetahuinya?”
Melihat remaja cantik tetapi agak bodoh itu, Arthur menggelengkan kepalanya. Jangankan pemula yang menembus level bronze bintang 2, dia bahkan bisa melihat beberapa ahli yang sengaja menyembunyikan kekuatan mereka. Jadi pertanyaan itu jelas agak konyol.
Meski kenaikan itu sama sekali tidak dianggap oleh orang-orang dengan kultivasi tinggi, tetapi itu menunjukkan kalau jalan Nanami di dunia kultivasi akhirnya benar-benar dimulai.
Mengabaikan ekspresi terkejut di wajah Nanami, Arthur berkata dengan santai.
“Apakah kamu telah mempelajari gerakan pertama dari Teknik Pedang Violet Raven?”
“Ugh!” Nanami langsung mengalihkan pandangannya.
“Hari ini akan menjadi hari ke-3 kamu mempelajarinya. Sesuai dengan jadwal, kamu harus menguasai gerakannya secara mendetail.”
Ada sepuluh gerakan dalam Teknik Pedang Violet Raven. Apa yang Arthur suruh Nanami pelajari hanyalah gerakannya. Ya, gerakan tanpa menggunakan qi. Meski itu tidak terlalu berguna, setidaknya masih memberi gadis itu dasar yang baik untuk melakukan teknik tersebut dengan qi. Hafalkan satu gerakan setiap tiga hari, berarti sepuluh gerakan harus selesai dalam satu bulan.
Alasan kenapa Arthur tidak langsung memintanya untuk menggunakan qi adalah kapasitas energi Nanami sendiri. Untuk Nanami, teknik ini hampir tidak bisa digunakan karena energi qi miliknya tidak mencukupi. Oleh karena itu, Arthur memintanya untuk menghafalkan gerakan. Setelah satu bulan dan energi qi gadis itu meningkat, barulah mereka melakukannya dengan qi.
Dengan pelatihan Arthur, meski energi qi milik Nanami berkembang perlahan, tetapi tubuhnya semakin baik dan terbiasa dengan setiap gerakan karena banyaknya latihan. Ditambah dengan makanan yang diberikan oleh Arthur kepada Nanami setiap hari, tubuh gadis itu semakin membaik.
Tampak semakin cantik jika dibandingkan sebelumnya!
“Apa yang kamu lamunkan? Segera bersiap di tempatmu. Kita mulai latihannya.”
“Baik, Guru!” balas Nanami.
Di halaman belakang, Arthur dan Nanami berdiri saling berhadapan dalam jarak lima meter. Setelah melakukan pemanasan, Arthur selalu meminta gadis itu mencoba menyerangnya agar bisa membiasakan diri dengan pertarungan nyata. Tentu saja, karena kurangnya teknik, dia hanya menggunakan teknik pedang dan gerakan kaki dasar.
“Saya mulai!”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Nanami langsung menghunus pedangnya dan menyerangnya dengan serius. Dia berlari ke arah Arthur lalu menebas, tetapi pemuda itu menghindarinya dengan mudah. Gadis tersebut kemudian bergerak ke samping lalu melakukan tebasan horizontal, tetapi Arthur mundur beberapa langkah dengan santai.
Pada saat melawan Nanami, tentu saja Arthur menahan kekuatannya dan hanya menggunakan teknik dasar, sama seperti gadis itu. Hal tersebut dilakukan agar Nanami bisa mengetahui kesalahannya.
Melihat Nanami mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, Arthur langsung mendekat dengan gesit lalu menyentuh tenggorokan gadis itu dengan jari telunjuknya sambil berkata datar.
“Mati.”
Menyadari kalau dirinya masih dikalahkan dengan mudah, Nanami menggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, dia kemudian berkata.
“Sekali lagi, Guru!”
Mendengar permintaan itu, Arthur hanya mengangguk ringan. Setelah itu mereka kembali memulai latihan tanding.
“Mati.”
Setiap beberapa menit, Arthur akan berkata dengan datar. Dia selalu mengenai tenggorokan gadis itu atau menyentil dahinya dengan ringan. Bisa dibilang, memenggal atau meledakkan kepala.
Setelah satu jam latihan tanding, Nanami kehabisan napas dan tidak lagi kuat berdiri.
“Bisakah anda tidak melakukan itu, Guru? Bagaimana jika saya menjadi bodoh? Selain itu, kenapa anda tidak menyerang tempat lain? Apakah anda benar-benar suka memenggal atau memecah tengkorak seseorang?”
Nanami terus mengeluh. Merasakan perlakuan gurunya, gadis itu merasa tidak puas. Bahkan ketika melawan murid yang berdedikasi seperti dirinya, Arthur benar-benar tidak mau mengalah satu kalipun. Benar-benar membuat gadis itu cemberut.
Sedangkan Athur sendiri menggeleng ringan. Selain kepala dan leher, dia bisa saja mengincar bagian jantung. Hanya saja, muridnya memiliki tubuh ‘sehat’ dengan tonjolan yang tampaknya agak terlalu menonjol untuk gadis berusia belasan tahun. Jika ketika mengincar jantung dia mengenai benda itu, Arthur yakin kalau dirinya akan dicap sebagai guru tanpa moral.
Untuk menghindari itu, tentu saja Arthur lebih suka menggunakan teknik pemenggalan!
Saat mereka beristirahat sebentar, seorang pelayan datang lalu menyapa Arthur dengan formal. Wanita itu kemudian memberi Arthur sebuah surat. Setelah membukanya, dia menyadari kalau itu adalah surat undangan yang ditulis oleh mantan Raja, lengkap dengan segel kerajaan yang resmi.
Membaca surat itu, Arthur bergumam.
“Ulang tahun Putri yang ke-17? Tiga hari kemudian?”
>> Bersambung.
__ADS_1