
“Apakah kamu terkejut karena melihat penampilanku yang mirip kakakku, Arthur?”
Mendengar pertanyaan itu, Arthur tertegun sejenak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemimpin organisasi ternyata adalah adik dari gurunya sendiri.
“Anda adalah adik Pak Tua- uhuk! Maksud saya, adik Guru saya? Pak Shigekuni?”
“Hahahaha! Tampaknya kamu cukup akrab dengannya.” Lelaki tua itu tertawa sambil mengelus jenggotnya. “Kamu bahkan lebih berani dari Arima yang sangat menghormatinya.”
“...” Arthur hanya diam di tempatnya.
“Omong-omong, seharusnya orang itu merasa sangat marah ketika kamu bergabung dengan Garden of Death. Lagipula, ini kedua kalinya aku mengambil murid jenius kesayangannya.”
Melihat lelaki tua yang tertawa puas, Arthur kehilangan kata-kata. Tampaknya, ketua dari Garden of Death ini memiliki hobi buruk, suka menggali sisi kakaknya sendiri. Namun, dia tidak bisa melihat kebencian di wajah lelaki tua itu.
Daripada dendam, tampaknya mereka berdua berselisih secara sportif? Atau setidaknya begitulah yang Arthur pikirkan.
“Omong-omong, kamu benar-benar kuat Nak! Aku sudah mengatur susunan agar gravitasi di sekitarmu lebih berat dan energimu cepat terkuras habis selama berada di dalam barrier (pelindung) sekitar markas.
Namun siapa sangka, kamu benar-benar bisa mendaki sampai puncak!”
‘JADI ITU ULAHMU!!’
Arthur berteriak dalam hati. Meski dia sendiri memang kurang berolahraga atau latihan selama liburan, pemuda itu merasa terkejut ketika kemampuan fisiknya menurun drastis. Namun, ternyata semua itu memang dilakukan secara sengaja.
Melihat Ketua yang tidak memiliki ekspresi bersalah di wajahnya, bahkan tampak santai seperti menyapa teman lama membuat Arthur kehilangan kata-kata. Dia ingin marah, tetapi tidak berani melakukannya.
Selain karena tidak akrab dengan lelaki tua di depannya, kekuatan orang itu juga sangat tinggi. Setidaknya hanya sedikit di bawah Pak Tua Shigekuni. Benar-benar membuat Arthur merasa tertekan karena sekali lagi ...
Hanya bisa menyerah tanpa melawan.
“Apakah ada yang salah?” tanya lelaki tua tersebut.
“Tidak ada.” Arthur menghela napas panjang. “Saya hanya berpikir kalau fisik saya memburuk karena liburan panjang.”
“Hahaha! Kamu tidak perlu menahan diri. Bicara saja padaku seperti saat kamu bicara pada kakakku.”
“Kita belum terlalu mengenal, Ketua. Tidak sepantasnya saya berpura-pura akrab dengan anda.”
“Benar.” Lelaki tua itu mengelus jenggotnya. “Kalau begitu seringlah berkunjung ke markas. Kita bisa bicara sambil minum teh.”
Mendengar ucapan lelaki tua itu, sudut bibir Arthur berkedut. Setelah yang terhadi sebelumnya, datang ke tempat ini lagi saja membuatnya enggan. Apalagi datang untuk bermain, jelas pemuda itu memilih untuk menolaknya.
__ADS_1
“Omong-omong, selamat karena telah lulus ujian, Arthur.”
“Ujian?” tanya pemuda itu dengan ekspresi bingung.
“Ya. Sebenarnya, sebelumnya banyak orang di organisasi menolak keputusanku untuk mendirikan divisi baru. Jadi kami membuat taruhan.
Jika kamu bisa menyelesaikan misi tahunan yang harus diselesaikan ketua divisi, kamu diizinkan bergabung menjadi ketua divisi. Jika tidak, kamu akan diundang sebagai anggota salah satu divisi lama.
Namun kami sama sekali tidak menyangka. Bukan hanya menyelesaikan misi dengan baik, kamu juga menyelesaikan misi tingkat tinggi dengan cara luar biasa. Ditambah dengan kecepatan kenaikan kekuatanmu, tampaknya memberimu jabatan sebagai ketua divisi baru memang cocok.”
Mendengar pujian dari lelaki tua itu, Arthur merasa sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sedang diuji. Mengingat sosok senior yang tidak bisa diandalkan, pemuda itu hanya bisa mengangkat bahu dengan senyum masam di wajahnya.
“Omong-omong, sebagai setengah guru bagimu, aku akan memberi nasihat.”
“Ya?” Arthur memiringkan kepalanya.
“Kamu tampaknya orang yang merindukan kebebasan. Jika aku benar, maka aku sarankan untuk tidak terlibat dengan divisi lain terlalu dalam.”
Melihat senyum ramah di wajah lelaki tua itu, ekspresi Arthur menjadi serius. Pemuda itu kemudian mengangguk.
“Terima kasih atas nasihatnya, Ketua.”
“Ya.” Lelaki tua itu kemudian menaruh tas dimensi kecil di atas meja lalu melanjutkan. “Ambil. Ini adalah hadiah penyelesaian misi yang kamu lakukan. Sudah dipotong biaya pajak dan ada juga beberapa hadiah tambahan dari pemberi tugas.”
“Karena kamu telah mendapatkan jatah milikmu, maka kamu bisa pergi. Pertemuan akan dilakukan tiga hari kemudian, jadi kamu bisa berkeliling di sekitar untuk membiasakan diri. Mungkin ada tempat yang membuatmu tertarik.”
Mendengar itu, Arthur mengangguk. Dia memberi hormat lalu berkata.
“Kalau begitu, saya permisi.”
Setelah mengatakan itu, Arthur pun pergi meninggalkan ruangan.
***
Baru saja keluar dari ruangan, Arthur langsung disambut oleh lelaki tua yang masih mabuk di bawah pohon plum.
“Tampaknya lelaki tua itu sangat menghargaimu Nak.”
Pemabuk itu mengguncang botol labu di tangannya, berkata pada Arthur dengan senyum di wajahnya.
“Tampaknya hubungan anda dengan Ketua juga tidak biasa, Senior.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Arthur, lelaki tua itu tertawa. Dia bangkit lalu berjalan ke kursi batu yang tidak jauh dari pepohonan plum. Menunjuk kursi di seberang meja, dia menatap Arthur.
“Duduklah.”
Arthur mengingat ucapan Ketua sebelumnya. Namun ketika melihat lelaki tua pemabuk, dia tidak bisa tidak merasa penasaran. Jadi akhirnya memilih untuk dan bicara dengannya.
“Ketua Divisi 4, Shishio.”
Mendengar perkenalan singkat lelaki tua itu, mata Ark menyempit. Jika dia mengingat dengan baik, Divisi 4 adalah spesialis dalam menangani hantu dan roh jahat. Tampaknya sengaja hanya mengambil misi semacam itu dan tidak tertarik dengan misi lainnya.
“Kamu sudah bertemu dengan hantu atau roh jahat, Nak?”
Mendengar pertanyaan itu, Arthur mengangguk dengan ekspresi serius.
“Pernah. Kebetulan melawan mereka ketika menyelamatkan salah satu anggotaku.”
“En.” Pak Shishio mengangguk. “Kamu masih jujur. Itu pasti gadis kecil yang tampak seperti boneka kan?”
“Namanya Lily.”
Pak Shishio menyesap anggurnya. Setelah beberapa saat, lelaki tua itu berkata dengan nada tenang tapi serius.
“Apa tujuanmu memburu makhluk-makhluk jahat itu Nak?”
“...”
Arthur terdiam di tempatnya. Bukan karena tidak ingin menjawab, tetapi karena dia sendiri juga bingung. Lagipula, sejak awal pemuda itu sama sekali tidak memiliki tujuan spesifik. Dia tampaknya lebih senang jalan-jalan sambil mengambil bahan makanan yang bisa diambil, termasuk daging demonic beast.
“Kedua bawahanmu memang memiliki bakat dan keberuntungan yang baik. Namun, sebagai senior, aku menyarankan agar kamu tidak membatasi jumlah anggota karena pilih-pilih bakat mereka.
Daripada itu, aku sarankan kamu memilih orang-orang yang memiliki tujuan sama denganmu. Dengan tekad yang sama, mereka akan lebih patuh, mudah dikendalikan, dan tidak tercerai-berai karena keuntungan.
Namun, jika apa yang kamu inginkan adalah uang, maka tidak perlu banyak berpikir karena mengumpulkan orang-orang rakus sama saja membuatmu menderita. Kebanyakan orang yang hanya memikirkan uang akan berbalik ketika kamu sudah tidak berguna bagi mereka. Pergi lebih cepat ketika kamu mendapatkan masalah.”
Pak Shishio menatap Arthur sejenak. Setelah mengambil seteguk anggur, dia menghela napas.
“Lupakan saja ocehan lelaki tua ini.”
“Aku hanya merasa agak kasihan karena orang berbakat sepertimu tampaknya tidak memiliki tujuan hidup. Hidup hanya sekali dan waktu tidak bisa kembali. Jadi aku hanya berharap kamu bisa lebih menghargainya.”
“Lagipula, tidak semua orang bisa hidup dan memilih dengan bebas di dunia ini.”
__ADS_1
>> Bersambung.