Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Berkemah di Musim Gugur


__ADS_3

“Terima kasih atas kebaikanmu, Tuan Arthur.”


Mendengar ucapan terima kasih dari tetua Treant, Arthur merasa sedikit malu. Dia buru-buru berkata.


“Tidak perlu menggunakan kata ‘Tuan’, Arthur saja sudah cukup.”


“Tidak. Kamu adalah dermawan bagi keluarga Treant kami, mana mungkin kami berbicara kepadamu dengan nada tidak sopan? Meski banyak manusia menganggap kami monster, tetapi kami masih punya rasa terima kasih.”


Mendengar ucapan tetua Treant, Arthur menjadi semakin malu. Belum lagi, dia mendengar suara tawa ceria Yin-Yang Koi dalam kepalanya. Meski Gluttony menyembunyikan pikirannya, Arthur bisa menebak kalau Gluttony sedang mencibir kebodohan tetua Treant yang benar-benar bahagia karena dijadikan stok kayu bakar.


“Lakukan sesukamu,” ucap Arthur dengan nada tak berdaya.


“Omong-omong, selain enam orang di luar, kami masih memiliki 3 generasi muda yang sekarang bersembunyi. Bisakah kami membawa mereka?”


“Tentu saja tidak apa-apa. Namun, apakah kalian tidak keberatan? Meski ruang ini cukup luas, kalian tidak terlalu leluasa karena tidak sebesar hutan alami, kan?”


“Bisa hidup dengan damai sudah patut disyukuri, Tuan Arthur. Kami sama sekali tidak masalah tinggal di sini.”


Mendengar itu, Arthur mengangguk ringan. Dengan senyum tipis di wajahnya, pemuda itu berkata.


“Kalau begitu kita sepakat.”


***


Setelah menyelesaikan urusan dengan para Treant, Arthur kembali ke desa untuk menjemput Jotaro dan Lily.


Sampai di sana, dia langsung disambut dengan antusias. Pemuda itu memasang ekspresi kasihan, mengembalikan beberapa potong pakaian kepada kepala desa dengan ekspresi tertekan. Berkata kalau dirinya menyesal telah terlambat menyelamatkan anak-anak.


Selain itu, Arthur juga berkata kalau dirinya telah selesai membalaskan dendam mereka. Semua treant di hutan itu benar-benar telah dia ‘hilangkan’. Namun pemuda itu tetap meminta warga desa untuk berhati-hati dan tidak melakukan perburuan berlebihan dengan alasan mungkin saja banyak kematian bisa menarik roh jahat. Dia juga mengajari cara berburu yang tepat dan kapan mereka bisa berburu.


Usai menjelaskan semuanya dan meninggalkan tangan kanan Treant sebagai bukti untuk para bangsawan, Arthur langsung mengajak Jotaro dan Lily pergi dari desa. Dia juga telah membuat laporan kalau misi telah selesai dan para Treant telah dihilangkan.


“Dengan begini, kita telah menyelesaikan tiga misi dalam waktu singkat. Jika terus berlanjut seperti ini, seharusnya kita bisa menyelesaikan enam misi sebelum musim gugur berakhir. Itu berarti ...


Kita bisa menikmati liburan musim dingin!”


Berjalan bersama dengan Jotaro dan Lily, Arthur berkata dengan nada penuh semangat. Keduanya tampaknya tidak begitu peduli dengan misi. Sebaliknya, mereka penasaran dengan apa yang terjadi pada para Treant. Namun mereka tidak bertanya karena Arthur tidak membicarakannya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan dengan santai. Pada akhirnya, mereka berhenti di suatu tempat keesokan paginya.


“Kita akan beristirahat di sini hari ini.”


Arthur menatap ke arah sungai dengan ekspresi puas. Tampak tempat datar dan kering dengan cukup banyak batu kecil di pinggir sungai. Dia berencana mendirikan tenda di sana. Karena di depan mereka, pemandangannya cukup luar biasa.


Sungai lebar, tidak terlalu dalam tetapi jernih. Banyak pohon di sisi lain sungai dengan daun yang telah menguning, berguguran di sungai dan mempercantik pemandangan. Selain itu, tempatnya sangat luas sehingga mereka bisa melihat langit luas di atas. Sama sekali tidak tertutup pepohonan, cocok untuk melihat bintang.


“Kenapa tiba-tiba?” tanya Jotaro dengan ekspresi aneh.


“Aku sedang dalam suasana hati yang baik. Sekali-kali liburan bukan masalah, bukan?”


Mendengar ucapan Arthur, Jotaro memutar matanya. Dia jelas melihat kalau bosnya lebih banyak bermain daripada bekerja. Kata liburan, benar-benar kurang cocok untuknya.


“Kenapa kamu memandangku dengan cara seperti itu?”


“Bukan apa-apa, Bos.”


Melihat Arthur memandanginya dengan mata tajam, Jotaro berkeringat dingin. Dia langsung menyeka keringat di dahinya. Benar-benar merasa penasaran apakah orang itu bisa membaca pikiran.


“Arthur, Arthur ... apa yang kita lakukan di tempat ini?” tanya Lily dengan nada polos.


“Bersenang-senang?”


“Ya! Pertama-tama, mari mendirikan tenda.”


Arthur mengajak Jotaro dan Lily mendirikan tenda. Mereka bertiga kemudian mendirikan tenda mereka masing-masing. Meski Lily berhasil mendirikan tendanya sendiri, tampaknya gadis itu tidak mau tinggal di dalamnya sendiri. Benar-benar memilih untuk tinggal bersama Arthur.


Melihat tatapan seperti anak kucing yang takut dibuang, Arthur akhirnya menggertakkan gigi dan menerimanya.


“Tenda sudah siap. Kayu bakar (biasa) sudah siap. Ubi manis yang dibeli sebelumnya juga sudah siap. Sekarang ... waktunya untuk memancing!”


Arthur langsung mengeluarkan tiga joran. Miliknya tentu joran dari bambu ungu khusus yang dia ambil (curi) dari kebun Pak Shigekuni ketika masih berada di Sekte Pilar Surgawi.


Membawa joran di tangan masing-masing, mereka bertiga pun pergi memancing.


‘Membawa peralatan tingkat tinggi untuk memancing hal-hal kecil. Hari ini ... aku pasti akan mendapatkan banyak tangkapan!’

__ADS_1


Ya. Begitulah yang dipikirkan Arthur sebelum dia ditampar oleh kenyataan.


Beberapa jam setelah memancing. Ekspresi Arthur benar-benar kusam. Dia sama sekali tidak pernah merasa begitu tidak beruntung. Di sebelahnya, ada ember yang seharusnya dia gunakan untuk menaruh ikan tangkapan. Namun siapa sangka, pemuda itu sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.


“Oh! Kamu mendapatkan ikan lagi, Lily!” ucap Jotaro dengan ekspresi terkejut.


Gadis kecil itu duduk dengan ekspresi kosong di wajahnya. Dia menarik joran, lalu ikan sebesar telapak tangan orang dewasa naik ke permukaan. Meski wajahnya masih datar, mata gadis itu berbinar. Jelas merasa senang bisa memancing bersama Arthur dan Jotaro.


Berhasil mengamankan ikan, Lily menoleh ke arah Arthur sambil berkata dengan nada polos.


“Arthur, Arthur ... bisakah aku meminjam ember? Punyaku penuh.”


Mendengar itu, Arthur merasa seperti ada pisau yang menikam tepat di jantungnya. Melihat ke arah ember Lily yang dipenuhi ikan, lalu embernya yang kosong, pemuda itu merasa agak mati rasa.


Saat itu juga, Arthur melihat Jotaro yang menahan tawa. Merasa tidak puas, dia berkata dengan nada penuh kebencian.


“Jangan tertawa! Hanya mendapatkan dua ikan seukuran jari ... kamu tidak pantas tertawa, Joe!”


“Setidaknya aku mendapatkan ikan untuk mengganjal gigi, Bos.”


“Ugh!”


Arthur merasa kalau dirinya sekali lagi ditikam. Saat itu, dia merasakan pakaiannya ditarik. Ketika menoleh ke bawah, pemuda itu melihat Lily membawa ember di penuhi ikan lalu meletakkannya di depan Arthur.


“Jangan sedih. Kamu bisa memilikinya, Arthur.”


Mendengar suara gadis kecil yang begitu monoton, Arthur merasa terharu. Dia langsung memegang Lily lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Pemuda itu kemudian berputar-putar sambil berkata.


“Kamu benar-benar gadis yang baik, Lily.”


***


Sementara Arthur dan rekan-rekannya sedang sibuk menikmati liburan, dua puluh orang datang ke desa tempat mereka menjalankan misi sebelumnya.


Orang-orang itu menanyakan keberadaan Arthur dan rekannya. Dari penampilan tertutup dan begitu mencurigakan, mereka jelas memiliki niat buruk. Di antara mereka, tampak lima orang yang tampil mencolok.


Ya ... mereka adalah orang-orang yang menginginkan Cursed Blood Umbrella

__ADS_1


Benar-benar datang melacak dan mengejar Arthur beserta rekan-rekannya!


>> Bersambung.


__ADS_2