Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Benar-benar Jelek!


__ADS_3

“Anu ... Bos? Bukankah kita terlalu mendalami peran?”


Joe bertanya dengan ekspresi bingung dan heran di wajahnya.


Setelah menyelesaikan urusan mereka di rumah tuan kota, Arthur langsung membawa Joe dan Lily menuju ke gunung untuk mencari target. Hanya saja, apa yang mereka lakukan agak berlebihan.


Bukannya langsung bergegas menuju ke lokasi dengan pedang terbang, Arthur pergi dengan kedua rekannya dengan jalan kaki. Selain itu, dia meminta kedua rekannya untuk menyembunyikan tingkat kultivasi mereka.


Bukan hanya menyembunyikan level, tetapi mereka juga memakai pakaian penduduk biasa.


Memakai pakaian sederhana, tempramen Arthur tidak banyak berubah. Sekarang dia tampak seperti dokter tradisional yang pergi memetik herbal.


Sedangkan Lily tampak seperti gadis desa yang begitu polos, sama seperti identitas sebelumnya. Seorang gadis kecil pemetik jamur.


Untuk Joe sendiri ...


Dia benar-benar tampak meragukan!


Bisa dibilang, penampilan Joe adalah gabungan dari penampilan biksu, pertapa, bandit, dan gelandangan. Benar-benar campur aduk dan tidak pada tempatnya.


“Jangan banyak bicara, Joe. Kita adalah pemetik jamur dan herbal. Ingat itu baik-baik, dan lakukan dengan cara profesional!” ucap Arthur dengan nada tegas.


Mengabaikan Arthur dan Joe yang berdebat, Lily berjalan menuju ke pohon besar. Menggunakan alat sederhana, gadis itu mengambil beberapa jamur lalu menaruhnya ke dalam keranjang yang dia bawa di punggungnya.


Meski wajahnya masih datar, agak kosong. Namun, mata Lily berbinar. Tampaknya melupakan misi mereka untuk mengalahkan demonic beast. Merasa datang ke hutan memang untuk memetik jamur dan herbal!


“...”


Melihat Lily yang begitu berdedikasi, Arthur dan Joe terdiam. Mereka benar-benar bingung harus merespon bagaimana.


Di satu sisi, mereka ingin memuji dedikasi Lily. Di sisi lain, mereka ingin mengingatkan Lily yang terlena dan melupakan tugas utama mereka.


“Omong-omong, apakah tujuan kita masih jauh, Bos?” tanya Jotaro.


“Menuju ke gunung, tidak terlalu jauh. Kita tidak akan begitu kelelahan dalam jarak sejauh itu. Masalahnya, kita tidak benar-benar tahu dimana letak sarang yang dibangun oleh makhluk itu.”


“Sarang?” tanya Joe dengan ekspresi bingung di wajahnya.


“Ya. Sarang. Memangnya, kamu pikir kenapa makhluk itu repot-repot datang ke pegunungan semacam ini? Piknik?


Memang, membuat masalah di kota adalah tujuan utama. Namun, makhluk itu tidak perlu langsung menyerang kota. Hanya perlu membuat orang-orang di kota takut masuk hutan atau naik gunung.


Seharusnya makhluk itu suka tinggal di tempat yang tinggi. Mungkin membuat sarang di tebing curam. Masalahnya ...”


“Masalahnya?” Joe mengangkat alis, ekspresinya menjadi penasaran.


“Terlalu banyak gunung di sekitar tempat terkutuk ini!” ucap Arthur kesal.

__ADS_1


Mengetahui marah tidak mengubah apapun, Arthur menghela napas panjang. Dia menenangkan diri, lalu mengambil sekop kecil sembari berjalan mengikuti Lily.


“Lebih baik kita berpura-pura menjadi pemetik jamur dan herbal. Bergerak ke depan sambil menunggu makhluk itu muncul.


Kita akan memusnahkan makhluk itu dan bawa kembali perdamaian di kota!”


Mendengar perintah itu, Joe mengangguk dengan ekspresi serius.


“Mengerti!”


***


Beberapa jam kemudian.


“Kamu lihat berry ini, Lily? Meski dimakan langsung rasanya enak, tetapi lebih enak lagi dibuat menjadi selai.


Dimasukkan ke dalam roti, bisa dipanggang atau dikukus, bahkan dioleskan pun juga tidak apa-apa.”


“Wow! Tampaknya itu enak, Arthur.”


Lily menjawab dengan nada datar. Merasakan satu buah berry yang manis dan masam, dia mengangguk dengan mata penuh bintang.


“Kalau begitu ambil banyak!” ucap Arthur.


Mereka berdua pun mulai memilah berry yang benar-benar sudah matang dan cocok untuk langsung dikonsumsi atau dibuat selai.


“Ada apa, Arthur?” Lily memiringkan kepalanya, tampak bingung.


“Kamu melihat jamur besar ini?” tanya Arthur sambil menunjuk jamur besar dan tebal berwarna putih kekuningan.


“Iya?” Lily memiringkan kepalanya ke arah lain.


“Jamur ini tidak beracun. Bahkan, ada banyak orang yang menyukainya. Khususnya, bagi mereka yang tidak memakan dan minum produk-produk hewani seperti daging, telur, dan susu.


Jamur ini bisa dipotong menjadi potongan agak tipis dan lebar. Setelah itu, diberi sedikit bumbu di luar lalu dipanggang.


Menurut banyak orang, jamur ini disebut-sebut sebagai ‘steak dari alam’. Bukankah itu luar biasa?”


“Pasti enak ...” ucap Lily sambil menyeka air liurnya.


“Kalau begitu ambil!” ucap Arthur dengan santai.


Melihat ke arah Arthur dan Lily yang mengambil jamur ini dan itu, lalu memetik buah ini dan itu ... Joe benar-benar tercengang.


‘Bukankah kita hanya berpura-pura? Aku salah melihat atau kalian benar-benar sangat menikmatinya?’


Sudut bibir Joe berkedut. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ketua divisi 10 benar-benar menjadi begitu tidak bisa diandalkan.

__ADS_1


‘Kita akan memusnahkan makhluk itu dan bawa kembali perdamaian di kota? Kepala bapak kau!’


Joe mengeluh dalam hati. Benar-benar merasa semakin lelah dengan sikap Arthur yang begitu berubah-ubah.


Pada saat itu, suara melengking terdengar dari langit. Melihat ke atas, ekspresi Joe menjadi serius. Di atas awan, tampak bayangan hitam, sosok besar yang terbang menuju ke arah mereka dengan ganas.


“Bos! Lily! Ada serangan musuh! Sebaiknya-“


Pada saat menoleh, Joe langsung tercengang.


Entah sejak kapan, Arthur dan Lily telah berdiri dengan senjata di tangan mereka. Keranjang berisi herbal dan jamur benar-benar menghilang. Walau masih memakai pakaian sederhana, mereka jelas sudah siap bertempur.


‘Sejak kapan? Memangnya itu bisa dilakukan dengan begitu cepat?’


Melihat dua orang itu, Joe merasa rumit.


“Apakah ada masalah, Joe?” tanya Arthur.


“...”


Joe hanya menggelengkan kepala, sama sekali tidak berniat berbicara dengan dua orang yang tidak masuk akal tersebut. Dia malah kembali fokus pada sosok yang datang.


Sosok burung raksasa dengan lebar lebih dari delapan meter ketika membentangkan sayapnya menembus awan, menampakkan diri pada Arthur dan kedua rekannya.


Hanya saja, penampilan ‘burung’ itu benar-benar membuat mereka bertiga tercengang.


“Apakah itu benar-benar demonic beast?” tanya Joe heran.


“Makhluk itu ...”


Arthur menatap ke arah sosok hitam yang menukik ke bawah dengan ekspresi rumit.


“Benar-benar jelek!” tambah Lily dengan ekspresi kosong di wajahnya.


Meski ucapan itu tidak sopan, Joe sama sekali tidak berniat memprotes karena begitulah kenyataannya.


Makhluk itu memiliki penampilan mirip dengan burung kondor. Dia memiliki tubuh kurus diselimuti dengan bulu hitam yang tampak berantakan di sekujur tubuhnya. Kakinya lebih panjang daripada burung kondor normal, dan penampilannya lebih mengerikan.


Belum lagi di bagian kepala. Di atas bulu putih sekitar leher, tampak kepala botak. Hanya saja, itu bukan kepala burung, tetapi kepala mirip manusia dengan leher panjang dan tampak aneh.


Makhluk itu memiliki kulit penuh kerutan seperti kayu kering. Benar-benar kurus, penuh luka yang membusuk di mana-mana.


Melihat penampilan semacam itu, Arthur benar-benar merasa marah. Dia ingin menangkap bahan unggas. Namun, siapa sangka, bukan hanya jelek ...


Makhluk itu juga tidak bisa dimakan!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2