Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
148 - Episode Kecil


__ADS_3

“Arthur, Arthur ... apakah mereka orang jahat? Haruskah aku membantu?”


Merasakan Lily menarik pakaiannya, Arthur tersadar dari lamunannya. Pemuda itu menggeleng ringan lalu menjelaskan dengan suara yang hanya bisa mereka dengar.


“Ini adalah drama menyelamatkan kecantikan, Lily.”


“Drama menyelamatkan kecantikan?” tanya Lily dengan ekspresi polos.


“Ya. Drama pahlawan menyelamatkan kecantikan.


Akan ada orang jahat yang mengganggu hubungan mereka. Antek jahat mulai mencoba menyerang, tetapi pemuda yang tampaknya biasa-biasa saja bisa menghancurkan mereka dengan mudah. Setelah itu, dia juga menghajar bos musuh.


Gadis yang awalnya hanya memiliki sikap baik akan merasa hatinya jatuh karena telah diselamatkan. Dia akan mulai tertarik pada remaja biasa itu.


Kira-kira singkatnya seperti itu.”


Selesai berbisik, Arthur tampaknya cukup puas. Rasanya telah melihat plot umum dalam cerita di depan nyata.


Saat itu, Lily kembali menarik pakaian pemuda itu.


“Arthur, Arthur ... kenapa pemuda yang berusaha melindungi gadis itu dipukuli? Apakah dia tidak kuat?”


Mendengar pertanyaan dengan nada polos dan penuh rasa ingin tahu itu membuat Arthur memasang senyum masam. Dia jelas menjelaskan situasi paling umum, tetapi tidak menyangka kalau ternyata si ‘pahlawan’ itu malah dipukuli hitam dan biru.


Seolah tidak menyerah, sekali lagi Arthur mulai menjelaskan.


“Jika dipukuli, maka ada dua jalur lain yang bisa ditempuh.


Pertama, pemuda itu akan mengamuk, mengeluarkan kekuatan terpendam atau semacamnya.


Kedua, pemuda itu akan ditolong oleh sosok ‘leluhur’ yang kemungkinan akan menjadi gurunya atau hal semacam itu.


Ada juga jalur lain dimana dia gagal melindungi gadis itu lalu akhirnya membalas dendam.”


“Jadi begitu ...” Lily mengangguk seperti ayam mematuk nasi.


Setelah beberapa saat, situasi yang tidak Arthur harapkan terjadi. Bukan nomor satu atau dua, tetapi ‘pahlawan’ itu malah gagal melindungi si gadis.


Walau banyak orang tidak jauh dari sana, tetapi tidak ada orang yang berusaha untuk membantunya. Tampaknya memang hanya berniat untuk menonton kesenangan, sama seperti Arthur dan Lily.


“Arthur, Arthur ... apakah kita hanya akan menonton?” tanya Lily.


Ketika melihat pemuda yang dipukuli oleh antek generasi dua kaya itu, sedikit perubahan tampak di wajah Lily. Membuat gadis itu lebih berekspresi dibandingkan biasanya.


“Oh?” Arthur sedikit terkejut, lalu bertanya, “Apakah kamu ingin membantu mereka?”

__ADS_1


“Boleh?” Lily memiringkan kepalanya.


Arthur sendiri sebenarnya tidak merekomendasikan hal semacam itu. Bukannya berhati dingin, tetapi pemuda itu tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Terlebih lagi, dia tidak tahu pokok dari masalahnya.


Bisa saja, alasan kenapa seseorang dipukuli adalah mencuri. Entah itu mencuri uang, barang, atau bahkan menggoda tunangan seseorang. Hal semacam itu bisa saja terjadi, jadi lebih baik tidak ikut campur selama pihak penyerang yang tidak tahu baik atau jahat itu tidak melakukannya secara berlebihan.


“Boleh, tapi jangan berlebihan.”


Arthur mengelus kepala Lily. Dia memiliki sedikit perlawanan terhadap gadis kecil itu. Karena menganggapnya sebagai keluarga, pemuda itu biasanya tidak menolak permintaan Lily asalkan tidak berlebihan.


“Ya.”


Lily mengangguk ringan. Setelah itu dia berjalan melewati kerumunan. Sampai di depan pemuda yang sedang dipukuli, gadis itu akhirnya membuka mulutnya.


“Itu sudah cukup. Jangan diteruskan jika kalian tidak ingin terluka.”


Suara kekanak-kanakan terdengar, membuat orang-orang itu tertegun.


Pada saat menoleh ke arah yang sama, mereka melihat gadis imut dengan ekspresi datar memakai yukata indah. Karena kurangnya ekspresi, gadis itu benar-benar tampak seperti boneka.


“Apakah kamu yang mengatakannya sebelumnya, Adik kecil?”


Seorang pemuda berpakaian seperti bangsawan berkata dengan ekspresi bingung di wajahnya.


Mendengar konfirmasi Lily, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Dia langsung berkata dengan nada tegas.


“Ini tidak mungkin dihentikan. Aku masih belum melampiaskan amarahku. Dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan.”


Mendengar ucapannya, para antek tidak berani melambat. Mereka kembali memukuli pemuda itu sementara gadis cantik yang bersama pemuda tersebut menangis sedih.


Melihat pemuda kaya yang tidak menghentikan tindakannya, Lily merasa agak marah. Tidak peduli bagaimana, dia hanyalah gadis kecil polos yang tidak suka melihat kekerasan semacam itu.


Pada akhirnya, Lily mengeluarkan beberapa kertas jimat lalu melemparkannya secara acak.


“Lesser fireball!”


Beberapa bola api kecil langsung melesat ke arah para antek, meledak dan membuat mereka terpukul mundur.


Melihat pemandangan itu, ekspresi orang-orang menjadi terkejut. Sama sekali tidak menyangkakalau gadis kecil yang tampak seperti boneka itu ternyata seorang kultivator.


Lily hendak mengambil sesuatu, tetapi sebuah tangan tiba-tiba menyentuh kepalanya dengan lembut.


Saat itu juga, semua orang melihat sosok pemuda tampan yang muncul entah dari mana. Ekspresinya tampak begitu santai, bahkan jejak kemalasan tampak di matanya yang sayu.


“Sudah cukup, Lily. Apakah kamu tidak melihat kalau orang-orang itu terluka cukup parah?”

__ADS_1


Mendengar ucapan Arthur, Lily yang ingin kembali menyerang akhirnya berhenti. Dia menatap para antek yang terluka dengan ekspresi bingung. Tampaknya tidak menyangka kalau mereka selemah itu.


Melihat Lily yang kebingungan, Arthur menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke arah tuan muda kaya itu lalu memberi saran ramah.


“Bagaimana kalau hentikan semua ini di sini? Meski tidak tahu alasan kenapa kamu menyerang mereka dan tidak ingin tahu alasannya, pemandangan semacam itu tidak sepantasnya terlihat di jalanan kota seperti ini.


Lebih baik ambil satu langkah mundur. Itu baik untuk kita semua, kan?”


Pada saat mengatakan itu, Arthur menatap ke arah kerumunan.


Saat itu juga, sosok lelaki tua dengan pakaian hitam keluar dari kerumunan. Dia menatap ke arah Arthur dengan takjub lalu berkata.


“Apa yang dikatakan tuan ini benar, Tuan Muda. Jika anda main hakim sendiri, itu tidak baik bagi reputasi Tuan Besar. Harap memikirkannya baik-baik.”


Mendengar itu, tuan muda itu menarik napas dalam-dalam. Melihat pengawal yang disiapkan oleh ayahnya tampak gugup, dia yakin kalau identitas pemuda dan gadis kecil itu tidak sederhana. Padahal, pengawal itu adalah salah satu yang terbaik diantara semua pengawal milik ayahnya.


“Kalau begitu maafkan saya karena telah mengganggu ketertiban dan kedamaian publik.”


Tuan muda itu memberi hormat pada Arthur sambil sedikit membungkuk. Dia menatap ke arah pemuda babak belur di tanah lalu mengalihkan pandangannya ke para anteknya.


“Kalau begitu kita pergi.”


Melihat tuan muda kaya dan anteknya pergi, kerumunan juga mulai bubar karena tontonan telah berakhir.


Arthur mengelus kepala Lily lalu berkata, “Kita juga pergi.”


“Ya.” Lily mengangguk ringan.


Arthur dan Lily berbalik. Baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara pemuda yang sebelumnya dipukuli.


“Tunggu sebentar!” teriak pemuda itu.


“Apa?” Arthur menoleh dengan ekspresi malas.


“Terima kasih karena telah membantuku! Namaku adalah Kyo dan aku akan mengingat kebaikan ini. Tolong sebutkan nama kalian agar aku bisa membalas kebaikan ini di kemudian hari.”


Mendengar itu, Arthur menggeleng ringan. Tampak tidak begitu peduli.


“Arthur dan Lily.”


Setelah mengatakan itu, Arthur pergi dari tempat itu. Dia sama sekali tidak begitu peduli dengan janji yang dikatakan pemuda sebelumnya. Lagipula, baginya ...


Apa yang terjadi kali ini hanyalah episode kecil dalam hidupnya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2