Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Seorang Senior


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu saja. Seharusnya, Arthur pergi empat hari yang lalu. Namun semua rencana berubah setelah ibu Nanami berkata kalau dirinya ingin menggunakan jasa mereka sebagai penjaga. Meski tidak memiliki kekayaan nyata karena ditekan oleh istana kerajaan, wanita itu masih menyimpan beberapa hal berharga seperti peta reruntuhan serta beberapa informasi yang dimilikinya sejak petualangannya belasan tahun lalu.


Meski kemungkinan besar beberapa barang yang wanita itu tandai sudah diambil oleh orang lain, tetapi masih ada kemungkinan kalau beberapa barang itu belum diambil. Oleh karena itu, wanita tersebut memberi Arthur informasi berdasarkan kuantitasnya, bukan kualitas.


Ada yang membuat ibu Nanami bingung. Entah kenapa, ketika Arthur bertanya, pemuda itu pasti akan mengarahkan pertanyaannya ke beberapa monster entah itu penampilan atau tempat tinggalnya.


Melihat ke arah pria tampan itu, ibu Nanami berpikir kalau Arthur bisa saja mengalami pengalaman buruk dengan para monster pada masa anak-anak. Seperti beberapa contoh desa yang dihancurkan dan diratakan oleh binatang buas ganas. Wanita itu berpikir kalau pemuda tersebut mungkin saja menyimpan dendam pada makhluk-makhluk itu. Jadi, dibandingkan memburu makhluk seperti roh jahat, dia lebih mengincar para monster!


Melihat ke arah pria itu, ibu Nanami menghela napas dengan ekspresi kasihan di wajahnya.


Sudut bibir Arthur berkedut. Dia sama sekali tidak tahu kenapa wanita itu menatapnya dengan ekspresi seperti itu. Satu hal pasti ... pemuda itu benar-benar merasa jengkel sampai ingin membongkar penyamarannya!


Arthur kemudian melirik ke arah Jotaro. Menarik napas dalam-dalam, dia kemudian bertanya.


“Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini, Jotaro?”


“Berpetualang denganmu?” jawab Jotaro asal-asalan sambil memiringkan kepalanya.


“...”


Mendengar itu, entah kenapa Arthur ingin mengutuk. Namun saat melihat ke arah Jotaro, dia tiba-tiba merasa membawa satu orang sebagai asisten sama sekali tidak masalah. Kekautan sudah dianggap kuat. Selama dilatih sedikit lagi ...


Arthur tiba-tiba membayangkan Jotaro yang sibuk berkeliling untuk membunuh makhluk ini atau mengambil benda itu, sedangkan dia bisa dengan santai memasak dan makan untuk memanjakan diri. Memikirkan kehidupan yang begitu santai, pemuda itu benar-benar hampir ngiler.


Siapa yang tidak ingin hidup santai tetapi serba berkecukupan? Jelas tidak ada!


“Jika boleh tahu, kemana anda akan pergi setelah mengantar kami, Tuan Ryuma?”


Pada saat itu, ibu Nanami ikut dalam pembicaraan. Mendengar pertanyaannya, putrinya menatap ke arah Arthur dengan ekspresi penasaran. Dia jelas juga ingin tahu kemana gurunya akan pergi.


“Tidak tahu. Mungkin hanya berkeliling untuk menikmati kehidupan bebas.”


Arthur membalas dengan nada santai. Mendengar jawabannya, wanita itu menggelengkan kepala. Tampaknya sama sekali tidak percaya dengan ucapannya. Tentu saja, Arthur sama sekali tidak peduli apakah wanita itu percaya atau tidak.

__ADS_1


“Kita akan membuat tenda di sini.”


Melihat ke arah langit berwarna jingga, Arthur berkata dengan santai. Sekarang mereka berada di tempat yang cocok untuk mendirikan kemah, jadi dia ingin mereka berhenti di sini.


Sebenarnya, dalam waktu ini Arthur mengambil rute paling cepat yaitu gabungan antara rute darat dan rute air. Tentu saja, mengambil rute cepat berarti mereka harus melewati beberapa tempat berbahaya. Hal tersebut juga membuat Nanami dan ibunya khawatir, tetapi masih memilih untuk mengikuti pengaturan yang dibuat olehnya.


Entah disebut beruntung atau tidak, Arthur dan tiga orang lainnya sama sekali tidak bertemu dengan makhluk berbahaya. Mereka sesekali bertemu gerombolan serigala biasa. Namun sama sekali tidak menyerang karena tahu perbedaan kekuatan.


“...”


Hal tersebut membuat Arthur tidak bisa berkata-kata. Selain cepat, alasan kenapa pemuda itu mengambil rute baru ini hanya untuk bertemu dengan para monster. Dia ingin memburu mereka dan menyimpannya dalam ‘rak dimensi’ dan mengoleksi berbagai bahan sesuai dengan jenisnya. Arthur juga berharap mendapatkan beberapa sayur, buah, atau tanaman obat yang berharga. Namun sama saja ...


Hasilnya tetap nihil!


“Biarkan aku yang memasak malam ini.”


Arthur berkata dengan ekspresi datar di wajahnya. Dalam beberapa hari ini, tiga orang lain sudah mencoba untuk memasak. Ibu Nanami masih baik-baik saja. Jotaro dan Nanami sendiri masih bisa membuat sesuatu seperti daging bakar. Melihat beberapa bahan yang berakhir hanya digarami lalu dibakar membuatnya agak tertekan.


Melihat mereka semua tampak tidak percaya, sudut bibir Arthur berkedut. Dia sama sekali tidak menyangka statusnya sebagai koki ‘asli’ dipertanyakan. Pemuda itu diam-diam bersumpah agar mereka semua terkejut dan kagum.


Arthur, Jotaro, dan Nanami kemudian mendirikan tenda. Sementara Nanami tidur bersama ibunya, Arthur dan Jotaro tidur di tenda mereka masing-masing.


Usai mendirikan tenda, Arthur kemudian membuat api unggun. Dia kemudian mengeluarkan beberapa alat masak yang tidak asing bagi tiga orang lainnya. Setelah itu, dia kemudian mulai memotong berbagai bahan yang telah dibersihkan. Namun ada yang membuatnya merasa agak kesal.


Dibandingkan dengan bagaimana dia memilih komposisi bahan, tiga orang lainnya benar-benar lebih fokus kepada teknik memotongnya. Bahkan mereka mengaitkan keterampilan memotong itu dengan keahliannya sebagai ahli pedang!


Malam ini, Arthur memasak hidangan rebusan daging yang dilengkapi dengan jamur, sayur, dan beberapa herbal. Olahannya terinspirasi dari masakan khas negeri tirai bambu di kehidupan sebelumnya. Tentu saja, dibuat ulang dengan resep berbeda karena bahan-bahan di kedua dunia juga memiliki beberapa perbedaan.


Mengendus aroma wangi herbal dan rempah, Arthur merasa puas. Dia sekarang cukup senang bisa datang ke dunia ini karena jenis bahan masakan lebih banyak, bahkan penuh dengan berbagai bahan ajaib!


Pada saat mereka semua mulai makan malam. Pada saat mencicipi sendok pertama, tiga orang menatap ke arah Arthur dengan ekspresi tidak percaya. Mereka benar-benar tidak menyangka, selain memiliki keterampilan luar biasa dalam menggunakan pedang, pemuda itu masih bisa memasak!


“Ini ... Ini benar-benar sangat mengagumkan, Bos.”

__ADS_1


Mendengar pujian Jotaro, Arthur ingin mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. Meski begitu, pada akhirnya dia masih menunjukkan penampilan yang begitu tenang.


Mereka semua makan bersama dengan lahap. Meski sering diberi ramuan dan beberapa makanan oleh Arthur, Nanami sama sekali tidak menyangka kalau skill gurunya dalam memasak lebih baik daripada saat membuat obat.


“Baunya benar-benar harum. Ya ... kebetulan aku juga lapar setelah terlalu lama berjalan.”


Suara malas terdengar. Ekspresi empat orang langsung berubah pucat. Arthur sendiri langsung menjatuhkan mangkuk di tangannya. Dia langsung menebas dengan kejam.


Set!


Ekspresi Arthur langsung berubah pucat ketika melihat pria malas yang entah sejak kapan muncul dan berjongkok di sebelahnya. Belum lagi, pria itu benar-benar mencubit bilah pedang di tangannya dengan dua jari.


Menyadari kalau dirinya sama sekali tidak bisa menarik kembali pedangnya, Arthur melepaskan pedangnya lalu melompat mundur sambil terus menatap orang itu dengan dingin.


“Siapa?” tanya Arthur dengan nada berat.


“Aduh! Kalian benar-benar menyia-nyiakan makanan!”


Pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia malah melihat rebusan yang jatuh ke tanah sambil menggelengkan kepalanya. Saat itu, tiga orang lain juga bereaksi. Mereka langsung mundur dan bersiap untuk melawan.


Pada saat itu, mereka berempat terkejut ketika melihat sosok gadis kecil yang melayang turun dari langit. Dia mendarat di sebelah pria tersebut lalu memukul kepalanya dengan ringan.


“Kamu benar-benar menakuti juniormu, Arima.”


Pada saat suara gadis itu terdengar, tampak sosok hitam keluar dari semak-semak. Makhluk itu adalah seekor akita inu yang gemuk. Dia berjalan dengan keempat kaki pendek mendekati dua orang aneh sekaligus misterius itu. Kemudian, akita itu menatap ke arah Arthur dan tiga orang lain dengan ekspresi konyol dan naif di wajahnya.


“...”


Melihat ke arah tiga sosok yang aneh, Arthur tersenyum masam. Meski agak aneh, tetapi dia merasakan bahaya bahaya dari ketiganya. Pemuda itu tidak bisa tidak mengutuk dalam hati.


‘Lelaki Tua Bau itu tidak akan repot-repot mengirim senior yang menganggur untuk memukuliku, kan?’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2