
Arthur langsung memasuki kedai kecil.
Pada saat melihat sekitar, pemuda itu sedikit terkejut ketika melihat tempat yang agak sempit, tetapi bersih, dan cukup ramai. Banyak orang-orang dari yang dewasa sampai paruh baya duduk sambil menikmati beberapa hidangan dan anggur.
Apa yang disediakan di kedai itu adalah beberapa makanan ringan seperti adonan tepung dan sayur goreng, rebusan telur puyuh yang ditusuk seperti sate, dan beberapa hal lain. Ada juga makanan berat seperti mi kuah, mi goreng, dan beberapa hidangan lain.
(Menurut KBBI, kata baku adalah mi, bukan mie. Namun, kok rasanya agak aneh pas dibaca. Mungkin nanti akan terbiasa.)
"Selamat datang."
Melihat pria paruh baya menyambut dengan ramah, Arthur mengangguk ringan. Dia memilih tempat duduk yang berada di sudut tidak mencolok lalu duduk santai. Pemuda itu kemudian berkata santai.
"Anggur beras (sake) dan makanan terbaik di kedai ini, Paman!"
"Segera datang!" ucap pria paruh baya itu dengan senyum di wajahnya.
Setelah menunggu beberapa saat, pria paruh baya itu datang dengan satu mangkuk di satu tangan dan satu botol keramik berserta cangkir keramik untuk anggur. Dia kemudian meletakkannya di meja Arthur sambil berkata.
"Dari pakaianmu, aku yakin kamu mampu membayar kan, anak muda?"
"Tentu saja. Hanya saja, kamu tidak bercanda denganku kan, Paman?"
"Tentu saja tidak." Pemilik kedai tersenyum. "Apakah kamu meremehkan kacang panggang?"
"..."
Arthur melihat semangkuk kacang panggang berisi empat jenis kacang dengan ekspresi aneh. Pada saat itu, ekspresinya berubah.
"Kamu benar-benar pintar, Paman."
"Oh? Apakah kamu mengerti sesuatu, anak muda?"
"Kacang memiliki kandungan magnesium cukup tinggi dan cukup cocok dikonsumsi saat mabuk. Konsumsi alkohol membuat magnesium dalam tubuh berkurang, jadi kacang melengkapinya. Bisa dibilang, ini mengurangi rasa mabuk dan membuat bisa menikmati anggur lebih baik. Ya ... khususnya kacang almond ini."
Arthur mengambil satu lalu melemparkannya ke dalam mulutnya.
"???"
Banyak tanda tanya muncul di atas kepala pria paruh baya itu. Dia benar-benar dibingungkan oleh ucapan pemuda di depannya. Beberapa kata benar-benar tidak bisa dia pahami.
"Aku tidak tahu magnet apa yang kamu maksud, tetapi kacang ini memang untuk mengurangi efek mabuk. Membiarkanmu bisa menikmati rasa anggur lebih lama.
__ADS_1
Tentu saja, karena belum dibuka, kamu bisa memilih anggur beras yang lebih mudah dikonsumsi karena yang satu ini sangat kuat."
"Taruh saja di sana, Paman. Kamu sama sekali tidak perlu khawatir." Arthur tersenyum hangat.
"Baiklah. Namun kamu harus mengerti aturannya, yaitu bayar terlebih dahulu. Akan sangat merepotkan untuk menagih bayaran setelah orang itu mabuk. Kamu tidak bisa membodohiku dengan cara seperti itu."
Mendengar ucapan pemilik kedai, Arthur mengangguk. Dia kemudian mengeluarkan kantong kecil lalu melemparkannya ke arah pemilik kedai lalu berkata dengan senyum di wajahnya.
"Satu botol lain ditambah dengan satu mangkuk kacang campur, tetapi dengan tujuh jenis kacang. Sisanya ditukar dengan anggur beras terbaik yang sama, aku akan membawanya pergi, jadi tolong dibungkus dengan baik."
Membuka isi tas kecil itu dan melihat beberapa keping koin emas dan perak membuat pemilik kedai terkejut. Dia kemudian menatap ke arah pemuda yang sedang makan kacang dengan santai. Ekspresi pria paruh baya itu benar-benar langsung berubah.
Sama sekali tidak menyangka kalau pemuda tampan dan agak sembrono itu adalah pelanggan besar!
Meski tindakannya sedikit ceroboh, tetapi pemuda itu masih cukup sopan. Belum lagi, dia juga selalu memasang senyum ramah dan hormat para lawan bicaranya.
"Segera siap, Anak Muda!"
Melihat pria paruh baya yang pergi dengan wajah bahagia, Arthur menggelengkan kepalanya. Dia membuka tutup botol, aroma anggur beras yang cukup wangi dan khas langsung tercium di udara. Pemuda itu kemudian menuangnya ke cangkir kecil.
Menggoyang cangkir kecil sebentar, pemuda itu kemudian langsung meneguk isinya dalam sekali tegukan. Rasa panas dan terbakar mengalir melewati tenggorokannya. Aroma anggur yang kuat ditambah dengan rasa pahit dan manis membuat mata pemuda itu berbinar.
"Ha-ha-ha! Pemuda ini benar-benar bisa minum!" ucap salah satu pelanggan tua.
"Tampaknya pendatang ini dikejutkan oleh kerajinan anggur beras Old Soga!"
"Hahaha! Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini!"
"..."
Banyak orang langsung berbicara dengan bahagia. Mendengar itu, Arthur sama sekali tidak marah. Sebaliknya, dia mengangkat cangkir ke arah orang-orang itu sambil tersenyum. Setelah selesai menyapa mereka, pemuda itu kembali disibukkan dengan urusannya sendiri.
Minum anggur beras, makan kacang panggang, menikmati pemandangan kota yang cukup ramai dari balik jendela ... pemuda itu benar-benar menikmati hari santainya.
Hanya saja, saat itu mood-nya tiba-tiba berubah.
Beberapa orang langsung menerobos masuk ke dalam kedai dengan ekspresi ganas di wajah mereka. Orang-orang itu berpakaian agak berantakan. Penampilan mereka sangat jauh dari para pekerja.
"Old Soga, kami datang untuk menagih hutangmu!" ucap mereka dengan wajah galak.
"Bisakah kalian menundanya beberapa hari?"
__ADS_1
Sosok Old Soga muncul dari dapur sambil membawa pesanan Arthur. Setelah meletakkan pesanan di meja pemuda itu, dia kemudian berjalan ke arah para orang-orang yang tampak kejam itu.
"Kamu harus segera membayarnya sebelum jatuh tempo, Old Soga!"
"Bagaimana aku bisa melunasinya jika bunga terus bertambah besar!" ucap Old Soga dengan ekspresi kesal, tetapi tidak berdaya.
"Kami tidak peduli! Jika kamu tidak mampu membayar, kamu harus menyita beberapa barang berharga. Jika tidak, kamu bisa memberikan putrimu itu kepada bos kami."
Mendengar ucapan mereka, Old Soga langsung menampilkan penampilan sedih dan marah. Dia jelas tertipu. Namun saat mengetahui kalau pihak lain mengincar putrinya, itu sudah terlambat.
"Hey. Lihat itu, sungguh pemuda tampan dengan pakaian yang bagus!"
Setelah salah satu anggotanya mengatakan itu, para pria kejam itu menatap ke arah Arthur dengan ekspresi ganas. Mereka langsung bergegas ke arah pemuda itu lalu duduk di kursi seberang meja. Memiliki ekspresi jahat sekaligus main-main di wajahnya, dia berkata dengan kejam.
"Anggur yang bagus, Nak? Serahkan barang-barang berharga milikmu jika ingin keluar dari tempat ini hidup-hidup."
Mendengar ucapan itu, gerakan Arthur terhenti. Dia menatap ke arah pria di depannya dengan ekspresi seolah-olah sedang menatap orang bodoh. Pemuda itu kemudian memiringkan kepalanya.
"Apakah kamu bodoh?"
"Hah?! Apa katamu, Nak?"
"Aku akan berpura-pura tidak mendengar apa-apa, tolong jangan ganggu aku minum anggur sambil menikmati hari."
Mendengar ucapan Arthur, pria itu menjadi semakin marah. Dia langsung berdiri dan meraih botol anggur di atas meja lalu menuangnya ke lantai.
"Jangan berlagak di tempat yang tidak kamu ketahui, Nak! Jika tidak—"
BRUAK!
Entah sejak kapan, Arthur telah bangkit dan memukul wajah pria itu dengan 'ringan'. Setelah itu, dia langsung memegang bagian atas kepala pria itu sambil berkata.
"Selain pengganggu, aku benar-benar tidak suka orang yang memiliki kebiasaan membuang-buang makanan dan minuman. Jadi ..."
BRUAK!
Arthur langsung membanting wajah pria itu ke lantai, menekannya dengan keras lalu berkata dingin.
"MINUM!"
>> Bersambung.
__ADS_1