
Satu minggu sejak Arthur dan Jotaro mengantarkan nanami dan ibunya ke kediaman Takahide.
Saat ini, Arthur pergi bersama dengan Jotaro. Untuk tujuan, merekja sendiri agak bingung karena tidak tahu kemana harus pergi. Sangat berbeda ketika sendiri. Lagipula, sekarang meraka bertanggung jawab atas Divisi 10 dari Garden of Death.
Ketua dan anggota kelompok biasa.
“Benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu harus pergi ke mana karena tidak mau nantinya diminta bolak-balik untuk melakukan berbagai misi tidak jelas.”
Dalam perjalanan, Arthur mengeluh dengan ekspresi tidak puas di wajahnya. Meski kekatan mereka bisa dianggap lumayan di anara berbagai kultivator biasa, arthur jela merasa kalau langit-langit kelompoknya terlalu tinggi. Ada setidaknya enam atau tujuh kultivator tingkat platinum, dan pasti ada lebih dari dua puluh oang tingkat gold yang sudah sangat berlebihan.
Satu divisi, satu tingkat gold dan satu tingkat silver ... Arthur merasa kalau mencoba menyelkesaikan misi sama saja dengan bunuh diri!
“Hey, Jotaro. Entah kenapa, aku merasa pria pemalas itu menipuku. Apanya yang tugas biasanya bisa diselesaikan dengan muah? Mereka jelas sau platinum dan dua gold!”
“Maaf karena aku kurang berguna, Bos!”
Mengingat dirinya diratakan oleh Chikuwa, Jotaro hanya bisa menunduk. Dia sama sekali tidak menyangka kalau makhluk kecil dan menggemaskan itu bisa menjadi begitu sangat berbahaya.
Melihat ekspresi tertekan di wajah Jotaro, Arthur buiru-buru menghibur.
“Tenang saja. Mereka tampak elit karena usia mereka sudah lebih dari tiga puluh tahun. Mereka sudah lama mendalami dunia kultivasi. Aku masih baru, dan kamu juga terlambat mendapatkan poelajaran soal kultivasi.
Kita bisa menjadi lebih kuat lagi dal;am beberapa tahun. Setalah itu, mari kita balas mereka!”
‘Ya .. kalau kita bisa bertahan selama beberapa tahun ini.’
Arthur menambahkan dalam hati. Dia tidak ingin mengatakannya karena siapa sangka, ternyata pria kekar yang sering bertingkah sok cool itu ternyata suka memikirkan segalanya dengan cara berlebihan. Jika dirinya menjelaskan lebih, bukannya bersemangat, orang itu mungkin akan terlalu tertekan dan memilih bunuh diri!
“Kamu benar-benar baik, Bos! Tenang saja, aku jhuga akan berlatih lebih keras!”
Melkihat ke arah Jotaro yang kembali bersemangat, Arthur menghela napas panjang. Dia merasa cukup lega setelah mengetahui kalau pikiran pria itu ternyata masih cukup sederhana.
“Omong-omong, aku sudah tahu kita harus pergi ke mana, Jotaro.”
“Hah?! Kemana, Bos?”
“Ke selatan! Kita akan pergi berburu Silver Duck! Jika bisa, aku juga menangkap beberapa agar bisa diternakkan.”
__ADS_1
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”
“Kamu mungkin sudah tahu kalau identitasku adalah mantan murid inti dari Sekte Pilar Surgawi. Namun kamu belum mengetahui identitasku yang sebenarnya. Aku, Arthur ...
Adalah seorang koki serius!”
“Koki?”
“Ya. Kamu tahu kalau aku bisa memasak berbagai hidangan lezat, bukan? Asal kamu tahu, bahan yang aku gunakan hanyalah bahan biasa. Namun, sebagai koki serius, bagaimana bisa aku hanya memasak hidangan seperti itu?
Coba bayangkan, Jotaro! Jika masakan dari bahan biasa saja bisa begitu nikmat, bagaimana dengan yang dibuat dari bahan spesial? Bukankah itu akan menjadi luar biasa?”
“YA!!!” jawab Jotaro tegas.
Sebagai mantan bandit gunung, bisa hidup nyaman dan makan enak sudah layak disyukuri. Memikirkan petualangan luar biasa yang akan dilalui mereka berdua, pria itu menjadi bersemangat. Dia merasa menjadi tokoh yang sedang dalam dongeng yang diceritakan oleh orang tua angkatnya.
“Bayangkan saja, Jotaro! Bebek panggang berkilauan dengan kulit bagian luar renyah dan lembut di dalam. Bagian luar manis, tetapi kaya rasa di dalam. Dimakan dengan sambal pedas selagi panas di musim gugur seperti ini ...”
“Glup!” Jotaro menelan ludah.
“Itu pasti sangat luar biasa!” ucap Arthur.
Melihat Jotaro yang merupakan seorang foodie, Arthur juga merasa puas. Setidaknya, pemikiran mereka tidak bertentangan. Selain itu, karena Jotaro sekarang bawahannya di divisi 10 ... tidak ada masalah jika menyuruhnya bekerja sedikit lebih keras, bukan?
Saat itu, Arthur tiba-tiba merasakan getaran dari dalam sakunya. Pemuda itu kemudian mengambil benda itu, yang ternyata adalah lencana pemberian Arima.
Melihat lencana yang hanya memberinya sambutan formal di awal dan diam sampai sekarang, Arthur merasa curiga. Setelah menatapnya sejenak, pemuda itu melkihat secercah cahaya yang melintas menganai keningnya dari lencana tersebut. melihat kemunculan misi beserta segala informasi yang harus dia ketahui termasuk bayarannya, sudut bibir Arthur berkedut keras.
Cara kerjanya seperti slip giok dalam cerita kultivasi pada umumnya yang digunakan untuk menyimpan informasi atau sebuah teknik. Namun fungsinya sedikit berbeda karena bisa menyampaikan informasi dari jauh, sedikit mirip dengan ponsel. Hanya saja, bukan itu yang membuat sudut bibir Arthur berkedut dan tertegun di tempatnya.
Masalahnya ...
“Kita tidak jadi pergi ke selatan, Jotaro.”
“Hah?!” Jotaro tampak bingung.
“Kita tidak jadi menangkap bebek karena kita mendapatkan misi. Ya, baru saja. Misi itu menyuruh kita ...” Arthur berkata dengan ekspresi kosong di wajahnya. “Pergi ke utara.”
__ADS_1
Arthur kemudian menyimpan kembali lencana. Setelah itu, dia berjalan menuju ke sebuah pohon di pinggir jalan. Beberapa detik kemudian, pemuda yang sebelumnya tampak cerah dan bersemangat itu mulai menendang pohon sambil menggerutu.
“Yang benar saja! Apa yang orang-orang itu pikirkan! Ini sudah mendekati pertengahan musim gugur, dan musim dingin akan tiba tidak lama lagi. Siapa yang tidak tahu kalau uara lebih dingin dan selatan lebih hangat?
Apakah mereka bodoh? Jangan bercanda denganku! Siapa yang ingin bertarung melawan monster atau roh jahat di bawah badai salju!
Bodoh! Kikir! Para lelaki tua terkutuk!”
Melihat ke arah Arthur yang mulai menggerutu, Jotaro tertegun sejenak. Setelah itu, senyum muncul di wajahnya. Melihat pemuda itu tidak lagi menahan diri, dia merasa lega.
Saat itu, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat jatuh dari atas pohon. Arthur secara refleks menangkapnya. Melihat kalau ternyata yang diam tangkap adalah ular setebal lengan orang dewasa dengan panjang sekitar dua meter yang mendesis ke arahnya, suasana menjadi agak hening.
Arthur memegang ular itu tepat di lehernya. Melihat ular yang berpura-pura ganas di depannya, pemuda itu memiringkan kepalanya.
“Makan malam diantar ke depan pintu?”
Mendengar ucapan Arthur, Jotaro tahu nasib ular itu. Karena jatuh ke orang yang salah ... tampaknya dia benar-benar hanya bisa berakhir menjadi makan malam mereka.
***
Beberapa jam kemudian, di depan api unggun yang hangat.
“Wow! Aku benar-benar tidak menyangka kalau sup ular masih begitu enak, Bos!”
Jotaro melahap makanan di mangkuk besar dengan ekspresi rakus. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ular acak yang mereka tangkap bisa disulap menjadi makanan yang enak.
“Untung saja ini bukan ular dengan bau yang begitu menyengat. Masih baik-baik saja untuk dimakan. Hanya saja, ukurannya masih terlalu kecil dan banyak tulang. Dagingnya masih kurang tebal. Mungkin itu karena ketebalan sisiknya?
Ya, lupakan saja. Ini agak mendingan, setidaknya membuat kita cukup kenyang dan merasa puas. Bukankah itu luar biasa? Maksudku, satu mangkuk makanan bisa membuat suasana hati cerah kembali.”
“Ya, BOS!”
Selesai makan, Arthur meletakkan mangkuk lalu menyeka mulutnya. Melihat ke arah Jotaro, pemuda itu mengangkat dagu lalu berkata.
“Bahkan jika tidak bisa menangkap bebek di selatan, kita akan mencoba berburu beruang di utara! Waktunya berangkat ...”
Dengan senyum di wajahnya, Arthur melanjutkan.
__ADS_1
“Segera selesaikan misi, lalu nikmati waktu santai kita lagi!”
>> Bersambung.