
Selesai melihat kuda, Satoru dan teman-temannya pergi ke klinik hewan di arena pacuan kuda. Di sana, biasanya kuda-kuda yang sakit atau mengalami cedera dirawat. Karena berbeda dengan klinik hewan pada umumnya, Satoru juga merasa tertarik dan ingin mengunjunginya.
Saat itu juga, mereka terkejut ketika bertemu dengan dua orang yang bisa dianggap sebagai kenalan.
“A-Aku akan pergi dari sini! Lepaskan aku, Daiki-kun! Lepaskan aku!”
Melihat sosok Daiki yang memegangi pergelangan Yui, Satoru langsung mengangkat alisnya. Sebelum dia mengatakan apa-apa, pihak lain juga mengetahui keberadaannya.
“Yo! Yui!” Natsumi mengangkat tangan sambil menyapa.
Pada saat pegangan Daiki sedikit renggang, Yui langsung meloloskan diri. Dia kemudian berlari ke arah Natsumi, memeluk gadis itu dengan ekspresi bahagia tanpa memandang sekitarnya.
“Yui, kamu-“
Melihat Yui yang melarikan diri, Daiki tampak agak jengkel. Namun, Natsumi langsung menyela sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.
“Ada apa ini? Apakah kamu memaksanya untuk masuk ke sana (klinik hewan)?”
“Ini bukan urusanmu, Natsumi. Aku melakukan ini demi kebaikan Yui.”
“Ini memang bukan urusanku, tetapi kamu juga harus tahu kalau Yui tidak cocok untuk hal semacam itu.” Natsumi melipat tangannya, menatap Daiki dengan ekspresi dingin.
“Lalu lebih baik dia menyerah!” ucap Daiki dengan ekspresi tegas.
Melihat teman dan sepupunya akan bertarung kapan saja, Yui mengangkat tangannya.
“Anu ... aku rasa aku tidak akan menyerah karena itu-“
“Diam!” ucap Daiki dan Natsumi bersamaan.
Melihat ekspresi garang keduanya, Yui merasa tertekan dan agak takut. Saat itu, barulah dia menyadari keberadaan Satoru, Ono, Miyuki, dan orang-orang di sekitar. Gadis itu kemudian bersembunyi di belakang Natsumi dengan ekspresi malu di wajahnya.
“Sudah aku bilang, mimpi Yui menjadi dokter hewan itu mustahil. Lebih baik gadis konyol sepertinya menjadi ibu rumah tangga!” ucap Natsumi dengan nada tidak puas.
“Itu yang dipikirkan semua orang, tetapi dia tidak mau menyerah. Selain itu, pihak keluarga juga mendukung karirnya. Jadi, agar dia bisa membiasakan diri, aku membawanya ke sini!” balas Daiki dengan wajah tertekan.
“Dokter hewan? Gadis yang ketakutan ketika melihat darah dan hampir pingsan masih tidak mau menyerah dengan impian itu?” tanya Natsumi sambil melirik Yui.
“Tentu saja aku tidak akan menyerah semudah itu!” balas Yui.
“Kalau begitu berhenti keras kepala dan masuk!” ucap Daiki dengan wajah jengkel.
__ADS_1
“Tidak! Tempat itu agak mengerikan dan membuatku trauma. Bagaimana kalau ditunda lain kali saja? Tunggu sampai aku siap!” ucap Yui dengan ekspresi polos.
“Menunggumu sampai siap sama saja menunggu selamanya!” Daiki mendengus dingin.
“Itu tidak sopan, Daiki-kun! Aku adalah kakakmu dan kamu harus lebih sopan!”
Yui menggembungkan pipinya. Alih-alih tampak garang, gadis itu malah terlihat semakin imut.
“Bah! Kamu sama sekali tidak cocok sebagai kakak!”
“Hmph!” Yui memelototi Daiki dengan ekspresi marah.
Melihat keduanya yang tidak akur seperti kucing dan anjing, Natsumi memegangi kening dengan ekspresi muram.
“Kalian berdua diam sebentar!”
Saat teriakan Natsumi terdengar, keduanya langsung diam. Mereka tampaknya tidak berani bertarung di depan Natsumi karena suatu alasan.
Melihat pemandangan seperti itu, Satoru dan beberapa orang lainnya tampak tertarik. Sementara itu, Natsumi yang tidak begitu suka menjadi pusat perhatian langsung mengerutkan kening.
Saat itu juga, suara tepukan tangan terdengar.
Sosok lelaki tua yang tampak ramah muncul. Dia mengenakan pakaian dokter dan membawa seekor kucing calico dalam pelukannya.
Semua orang yang sebelumnya menonton kesenangan akhirnya bubar. Lelaki tua itu kemudian memberi isyarat pada Natsumi dan teman-temannya untuk datang. Mereka saling memandang lalu masuk ke dalam klinik.
Saat masuk ke dalam klinik, Satoru melihat sekeliling dengan tatapan agak penasaran. Lagipula, klinik ini sangat berbeda dengan klinik hewan pada umumnya. Bukan hanya dari segi ukuran, tetapi alat-alatnya juga berbeda. Bahkan ada beberapa alat yang tidak dia ketahui kegunaannya.
Klinik hewan biasanya lebih kecil, sedangkan di sini lebih besar. Itu jelas berbeda karena tempat ini khusus untuk merawat kuda, sedangkan klinik hewan biasanya merawat, kucing, anjing, dan berbagai hewan peliharaan yang tidak terlalu besar lainnya.
Menurut Satoru, tempat itu lebih mirip bengkel daripada klinik hewan.
“Aku mendengar sedikit apa yang kalian bicarakan sebelumnya. Aku dengar gadis kecil itu ingin menjadi dokter hewan? Itu membuatku merasa bahagia.
Sebenarnya, dokter hewan sendiri juga memiliki perbedaan. Ada yang lebih mengkhususkan diri untuk merawat hewan kecil dan besar. Namun, di sini dokter hewan biasanya merawat hewan besar seperti kuda dan sapi. Lagipula, di wilayah ini kebanyakan memiliki bisnis sapi perah.
Mumpung kalian ada di sini, biarkan aku membawa kalian berkeliling dan memperkenalkan tempat ini.”
Setelah mengatakan itu, lelaki tua tersebut melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk mengikutinya.
Mereka pun diajak berkeliling. Ketika berkeliling di sekitar, lelaki tua itu memperkenalkan berbagai alat. Mendengar penjelasannya, Satoru dan Ono merasa kalau beberapa alat malah mirip alat penyiksaan daripada pengobatan.
__ADS_1
“Kuda itu agak merepotkan karena kesehatan mereka bisa berpengaruh hanya karena gigi melenceng sedikit. Merawat gigi kuda itu membosankan, tetapi juga merupakan hal penting,” ucap lelaki tua itu ketika membicarakan alat perawatan gigi.
“Ada orang yang bilang kalau kuda itu hewan sensitif dan lembut? Apakah itu benar?” tanya Ono dengan ekspresi penasaran.
“Ya, itu benar. Mereka sering terkena sakit perut dan mati seketika, jadi kuda sering dibandingkan dengan sapi.” Lelaki tua itu tersenyum ramah.
Saat itu, Satoru melirik Yui. Pemuda itu kemudian menatap lelaki tua tersebut lalu bertanya, “Dokter, untuk jadi dokter hewan itu perlu apa saja?”
Mendengar pertanyaan itu, lelaki tua tersebut mengelus dagu.
“Hmmm ... pintar di sekolah dan biaya kuliah itu pasti. Selain itu, perlu ketahanan fisik yang bagus. Sisanya, hanya pandangan pribadiku tapi ...
Kamu harus siap untuk membunuh.”
Mendengar itu, pupil mata Satoru langsung menyusut. Dia benar-benar merasa terkejut.
“Dokter yang menangani hewan besar biasanya menangani hewan ternak. Saat situasi benar-benar sulit, mereka akan diminta untuk memutuskan antara pilihan hidup dan mati.
Ada banyak orang yang masuk universitas peternakan untuk menjadi dokter hewan, tetapi mereka sadar tidak bisa tahan setelah menghadapi pilihan itu.
Meski begitu, ada juga banyak nyawa hewan yang terselamatkan karena usaha keras dan pilihan para dokter hewan itu. Jadi, aku rasa pekerjaan ini juga cukup mulia kan?
Jadi, pada akhirnya, memiliki impian itu berarti juga harus memiliki tekad untuk menghadapi kenyataan.”
‘Tekad ...’
Mendengarkan penjelasan dari lelaki tua itu, bukan hanya Yui, tetapi Ono juga merasa kalau dirinya belum memiliki hal semacam itu. Pemuda itu bahkan berpikir apakah selama ini dia egois, berpikir apakah orang-orang di Akademi Greenfield memiliki tekad mereka masing-masing.
Setelah berbicara beberapa waktu dengan lelaki tua itu, mereka membungkuk hormat lalu pamit.
Dikarenakan liburan hampir selesai, mereka semua kembali ke sekolah bersama. Sesampainya di sekolah, mereka semua berpisah.
Dalam perjalanan menuju kamar, Ono tiba-tiba berhenti dan memandang Satoru.
“Maaf, aku sudah bilang kalau menjadi pewaris itu mudah.”
Mendengar itu, Satoru juga berhenti. Tanpa menoleh ke belakang, dia membalas, “Tidak juga. Aku sendiri terlalu keras, padahal tidak tahu apa-apa tentangmu. Maaf.”
Jawaban itu membuat Ono tertegun. Melihat Satoru yang kembali berjalan, pemuda itu langsung mengikutinya dengan senyum di wajahnya.
>> Bersambung.
__ADS_1