
“Koki kecil biasa?”
Mengatakan itu, Tetsuo jelas tidak percaya. Jika hanya koki kecil, keterampilannya jelas tidak akan sebaik ini.
“Lebih baik selesaikan makanan kalian terlebih dahulu sebelum dingin. Lagipula, rasanya akan sedikit berubah setelah dingin.” Arthur berkata malas.
“Baik.”
Tetsuo mengangguk lalu mulai kembali menyantap makanannya. Meski merasa penasaran, dia tidak berhenti makan. Hanya terus memikirkannya dalam diam.
Pemuda itu kemudian melirik Mei yang juga tampak penasaran dengan bos toko. Namun ketika melihat Arthur yang tidak peduli dengannya dan malah bermain dengan Lily. Pemandanga tersebut membuat Tetsuo merasa lega.
‘Apakah itu adik bos? Menjadi kepala keluarga di usia muda sehingga mengasah keterampilannya dengan begitu serius? Membuat pencapaian yang luar biasa?’
Memikirkan berbagai back-story menyedihkan yang mungkin Arthur alami, Tetsuo yang awalnya agak marah merasa lebih tenang. Dia tidak lagi membenci pemuda itu karena tidak memberinya wajah. Sebaliknya, pemuda itu merasa agak iba pada Arthur.
“Aku tarik kembali kata-kataku Bos. Masakanmu memang sesuai dengan harganya!”
Saat itu, Gumi yang meletakkan mangkuk kosong berkata dengan ekspresi senang di wajahnya. Gadis itu kemudian menatap Arthur dengan sisa nasi yang masih menempel di sudut bibirnya.
“Aku pesan satu lagi nasi goreng Bos!” ucapnya dengan nada senang.
“Maaf. Satu hari satu orang hanya bisa membeli satu hidangan yang sama.”
Mendengar jawaban Arthur yang begitu tidak masuk akal, Gumi benar-benar kehilangan ketenangannya.
Gadis itu jelas tidak mengerti kenapa Arthur menolak uang yang datang. Bukan hanya cara menerima dan melayani tamu, bahkan cara menjual masakannya pun tidak masuk akal.
Pada saat Gumi hendak marah, Mei yang berada di sisinya menepuk pundaknya lalu berkata lembut.
“Bos berkata kamu tidak bisa membeli nasi goreng lagi. Namun bukan berarti tidak bisa membeli menu lain.”
Ucapan Mei membuat mata Gumi berbinar. Dia kemudian menatap Arthur dengan senyum licik di wajahnya.
“Apakah kamu memiliki rekomendasi Bos?” tanya Gumi.
“Setelah makan hidangan utama, aku sarankan makan hidangan penutup. Jika tidak makan camilan pun tidak apa-apa. Dari penampilanmu, tampaknya kamu suka sesuatu yang dimasak dengan minyak.
Kalau begitu, bagaimana kalau ini? Kulit yang digoreng kering, terasa gurih dan renyah. Cocok dimakan dengan berbagai jenis saus.”
“Camilan setelah makan! Tentu saja bukan ide buruk!”
Gumi berkata dengan ekspresi senang di wajahnya. Dia kemudian menatap ke arah Arthur dengan mata berbinar.
“Kalau begitu dua porsi Bos! Ini uangnya!”
Melihat Gumi yang awalnya pelit berperilaku murah hati, Arthur mengangkat alisnya. Dia sama sekali tidak menyangka bertemu putri kecil dari keluarga kaya. Benar-benar tidak peduli dengan pengeluarannya asal merasa terpuaskan.
__ADS_1
“Bagaimana kalau datang untuk berkerja denganku Bos? Semua bahan dariku dan kita bisa membicarakan upahnya.”
Mendengar ucapan Gumi, Arthur yang berjalan ke dapur menggelengkan kepala sambil membalas dengan senyum ramah.
“Terima kasih untuk penawarannya. Namun, sayang sekali aku tidak berniat untuk bekerja di bawah orang lain. Khususnya pada pekerjaan memasak.”
Pada saat Arthur mulai memasak, aromanya membuat orang-orang kembali lapar dan ingin makan. Namun, Tetsuo akhirnya menahan diri karena tidak ingin terlalu boros. Terlebih lagi, dia harus membayar uang makan ketiga anteknya.
Benar-benar sesuatu yang merugikan!
Setelah beberapa waktu, Gumi dan Mei yang selesai makan camilan merasa sangat puas.
Usai makan dan duduk sejenak, mereka berenam pun pergi meninggalkan restoran dengan ekspresi puas di wajahnya. Bahkan ekspresi Mei tampak lebih lembut dan tidak sedingin biasanya.
“Tampaknya kamu merasa senang, Junior.” Tetsuo berkata pada Mei.
“Memang. Saya benar-benar tidak menyangka kalau bisa menemukan toko ajaib seperti itu. Setelah kembali, saya akan melapor pada guru.”
Mendengar ucapan Mei, salah satu antek tidak bisa tidak berkata dengan nada bingung.
“Memang masakan Bos sangat enak. Namun tidak perlu menganggapnya ajaib juga kan? Maksudku, itu adalah makanan.”
“Justur itu yang membuatnya lebih ajaib.” Mei tersenyum misterius. “Jika kalian memperhatikannya baik-baik. Kalian pasti bisa menyadari kalau kekuatan kalian sedikit meningkat.”
Perkataan Mei membuat lima orang lain terkejut termasuk Tetsuo. Saat mereka merasakan energi dalam tubuh mereka masing-masing, kelima orang itu kembali terkejut.
“Jika makan seperti itu setiap hari, bukankah kita akan naik level bahkan tanpa berlatih?”
“Ya! Benar-benar luar biasa!”
“...”
Pada saat ketiga antek saling bicara dengan ekspresi bersemangat, perkataan Tetsuo langsung memadamkan api harapan mereka.
“Makan setiap hari? Bahkan jika menjual organ, kalian tidak bisa melakukannya karena harganya terlalu tinggi.”
Mendengar itu, orang-orang pun menghela napas panjang dengan ekspresi kecewa. Mei menggelengkan kepalanya sementara Gumi tampaknya memikirkan sesuatu dalam diam.
Setelah itu, keenam orang itu pun pergi melanjutkan perjalanan.
***
Sekitar satu jam kemudian, Arthur yang selesai makan siang lalu mencuci piring sekarang duduk santai bersama Lily.
“Benar-benar membosankan.”
Lily menopang dagu dengan kedua tangannya. Dia melihat ke arah Arthur yang sibuk membaca buku lalu menggembungkan pipinya. Cemberut sambil merasa tidak puas.
__ADS_1
“Kenapa Joe tidak segera kembali Arthur?”
“Hm? Apakah kamu merindukannya? Tumben sekali kamu mencari Joe.”
“Bukan karena rindu, tapi bosan. Arthur, Arthur ... ayo memainkan sesuatu yang menyenangkan?”
Mendengar ucapan Lily yang manja seperti adik kecil yang mengajak bermain kakaknya, Arthur menutup bukunya. Dia kemudian menatap ke arah gadis kecil itu sambil bertanya.
“Apa yang ingin kamu mainkan? Catur? Kartu?”
“Arthur, Arthur ... ayo bermain di luar!”
Menyadari kalau sudah agak sore dan tidak ada tamu, Arthur akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan Lily. Karena menyimpan bahan-bahan berharga dalam ruang dimensi miliknya, pemuda itu pergi setelah merapikan serta menutup toko.
Melihat Lily yang tampak bersemangat, Arthur bertanya, “Mau pergi kemana?”
“Jalan-jalan di sekitar kota!” ucap Lily.
“Apakah kamu ingin membeli sesuatu? Jika mau, katakan saja dan aku akan membelikannya. Tidak perlu malu.”
Melihat Arthur yang tersenyum lembut ke arahnya, Lily merasa sangat senang. Dia memeluk tangan pemuda itu lalu berkata.
“Arthur, Arthur ... apakah aku boleh memelihara hewan peliharaan?”
“Pet?” Arthur mengangkat alisnya. “Tetapi itu agak sulit dirawat. Jika ceroboh, mungkin bisa mati dan kamu akan sedih.”
“Aku janji akan merawatnya dengan baik!” ucap Lily dengan tatapan memohon.
Melihat gadis yang penuh dengan tekad, Arthur menghela napas panjang. Pada akhirnya dia mengangguk.
“Kalau begitu kita akan pergi ke toko hewan peliharaan setelah jalan-jalan.”
“Yay! Terima kasih banyak Arthur!”
Arthur mengelus kepala gadis kecil sambil berkata, “Sama-sama.”
Mereka berdua pun mulai jalan-jalan di sekitar kota. Hanya saja, semua tidak berjalan sesuai dengan ide mereka.
Baru saja sampai di pasar untuk melihat-lihat barang, Arthur dan Lily langsung disuguhi tontonan cukup menarik.
Sepasang remaja yang tampaknya kultivator yang membeli barang dihentikan oleh tuan muda tertentu dan para anteknya.
Melihat pemandangan semacam itu, Arthur tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
‘Protagonis tertentu menyelamatkan kecantikan yang diganggu oleh generasi kedua kaya. Benar-benar plot klise yang sudah lama tidak aku lihat!’
>> Bersambung.
__ADS_1