Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Desa Tanpa Nama


__ADS_3

Menyusul Arthur, Jotaro langsung berkata dengan nada bersemangat.


“Kapan kita akan memakannya, Bos?”


Mendengar itu, Arthur langsung menatap ke arah rekannya dengan ekspresi kosong. Setelah beberapa saat, dia berkata.


“Tampaknya kamu salah tentang sesuatu, Joe.”


“Eh? Apanya yang salah, Bos?”


“Untuk bahan dengan tingkat kelangkaan sangat tinggi, tentu saja aku tidak akan memasaknya dengan mudah kecuali memiliki ukuran yang sangat besar. Benda-benda yang unik dan langka harus dimasak pada momen-momen terbaik.


Jamur ini sangat langka dan tidak banyak, jadi aku akan menyimpannya.”


“Kita tidak memakannya?” tanya Jotaro dengan ekspresi menyesal.


“Kita memang tidak memakannya. Namun karena kerja kerasmu dalam menemukan jamur ini, kamu layak mendapatkan hadiah.


Kamu tahu kalau aku pernah berburu Ground Dragon, kan? Makhluk yang aku buru sudah langka, belum lagi jenis bermutasi yang lebih langka. Meski begitu, daging yang aku dapatkan sangat banyak.


Awalnya aku berpikir untuk terus menyimpannya. Namun aku rasa tidak akan jadi masalah jika kita makan sedikit, bukan? Jadi ...”


Arthur menyeringai.


“Menu makan malam hari ini adalah hotpot!”


Mendengar ucapan Arthur, Jotaro juga menjadi lebih bersemangat. Dia benar-benar tidak sabar memakan hidangan spesial yang dibuat oleh bosnya!


***


Malam harinya.


Setelah puas makan hotpot bersama, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka benar-benar merasa sangat nyaman. Tubuh mereka terasa hangat dan penuh dengan energi.


“Apakah tadi itu benar-benar daging Ground Dragon, Bos?”


“Apakah kamu meragukanku?”


“Bukannya meragukanmu, Bos. Hanya saja, dagingnya sangat lembut. Aku benar-benar tidak menyangka kalau daging Ground Dragon ternyata seperti itu.”


“Bayangkan Ground Dragon itu kepiting, Joe.”

__ADS_1


“Eh? Bukan ular atau kadal?” tanya Jotaro bingung.


“Maksudku bukan dalam segi penampilan!” Arthur memutar bola matanya. “Groun Dragon itu memiliki cangkang yang sangat keras dan kuat di luar. Namun bagian dalamnya begitu lembut dan empuk. Benar-benar nikmat.”


“Jadi begitu!” ucap Jotaro seolah mendapatkan pencerahan.


Keduanya kemudian terus melanjutkan perlananan. Mereka memilih untuk berjalan karena merasa tidak begitu terburu-buru. Lagipula, menurut informasi, lokasi yang mereka tuju sama tidak begitu jauh. Mungkin mereka bisa sampai di lokasi pada pagi harinya.


Ya ... mereka berpikir seperti itu, tetapi akhirnya malah tiba lebih awal dari jadwal.


Sekitar pukul setengah tiga, mereka sampai di tempat yang tidak begitu jauh dari desa yang menjadi tujuan mereka. Di depan mereka ada sebuah jembatan kayu yang agak lebar dan panjang, tetapi tampak sangat tua. Di bawahnya, tampak sungai dengan aliran tenang. Jelas cukup dalam.


Menurut dugaan Arthur, hantu air sebelumnya kemungkinan berasal dari sungai itu. Melihat ke kejauhan, mata pemuda itu menyempit. Dia merasa aneh karena penglihatannya biasanya sangat baik, tetapi sama sekali tidak bisa melihat ke desa karena ada kabut samar yang menghalangi pandangannya.


Kabut itu sendiri jelas tidak alami. Penglihatannya yang biasa seharusnya bisa menembus kabut alami. Jadi pemuda itu yakin kalau kabut tersebut tidak alami.


“Apakah kita akan pergi ke sana secara langsung, Bos?” tanya Jotaro.


“Kita akan memeriksanya di siang hari,” ucap Arthur sambil mengelus dagu.


“Kenapa tidak langsung memeriksanya, Bos?”


Selain itu, lebih baik kita mencari desa terdekat. Alasan kenapa kita datang ke sini adalah mencari informasi. Jadi kita bisa mencari informasi di desa tersebut dan memilah yang sekiranya berguna. Baru kemudian datang kembali ke sini untuk memastikan mana yang valid dan tidak.


Jika tidak melebihi batas, kita bisa memberishkannya kemudian.”


Arthur berkata dengan nada santai. Jotaro yang mendengar pendapatnya terus mengangguk. Dia sama sekali tidak mengerti berbagai hal rumit, jadi memutuskan untuk ikut apa yang dikatakan ketua divisi. Sederhana, tetapi jelas tidak akan disalahkan jika ada suatu hal salah yang terjadi.


“Kalau begitu, mari lanjutkan perjalanan.”


“Baik, Bos!”


Berjalan menjauh dari lokasi tersebut, Arthur merasa kalau perasaan sedang ditatap mulai menghilang.


Pada saat berada di depan jembatan, Arthur merasakan bahaya dari desa aneh tersebut. Meski tidak tahu seberapa kuat roh jahat yang ada di sana, tetapi dia sangat yakin kalau makhluk-makhluk itu lebih merepotkan dibandingkan Ground Dragon atau siluman belut yang dia lawan sebelumnya.


Setelah benar-benar menjauh dari tempat itu, Arthur merasa kalau dirinya menjadi lebih nyaman dan tenang. Berjalan beberapa jam, dia dan Jotaro akhirnya melihat sebuah desa di kejauhan.


“Ada desa, Bos!”


“Jangan berisik. Aku juga bisa melihatnya.” Arthur memutar matanya.

__ADS_1


“Omong-omong, kenapa aku merasa tidak mengantuk padahal telah berjalan semalaman, Bos? Mungkinkah karena daging Ground Dragon?”


“Ya. Seharusnya karena energi yang terkandung dalam daging Ground Dragon.”


Berjalan sambil berbincang, mereka akhirnya sampai di depan pintu masuk desa. Berbeda dengan desa yang ditutupi kabut sebelumnya. Tampak banyak rumah yang diterangi lentera atau obor di desa ini. Tempatnya juga lebih bersih. Jelas, ini adalah desa berpenghuni.


“Siapa?”


Pada saat itu, beberapa pria paruh baya dan pemuda yang berpatroli tampaknya waspada ketika dua siluet berjalan ke desa dari kejauhan.


Berjaga sepanjang malam bergiliran antar warga memang biasa di tempat-tempat seperti ini. Selain mencegah serangan bandit, mereka juga berjaga dari serangan binatang buas seperti serigala yang bisa membahayakan warga.


“Kami adalah kultivator yang melakukan perjalanan. Jika diperbolehkan, kami ingin singgah dan beristirahat di desa sejenak.”


Jotaro berkata dengan nada lugas. Tak lupa, dia memberi hormat kepada orang-orang desa sebelum berbicara. Hal tersebut jelas membuat mereka agak terkejut karena jarang melihat, atau bahkan belum pernah bertemu kultivator yang bepergian melewati desa terpencil seperti itu.


“K-Kalau begitu tolong ikuti kami, Tuan-tuan.”


Melihat perubahan ekspresi di wajah orang-orang, Arthur tidak bisa tidak menghela napas panjang. Dia merasa masih meremehkan betapa istimewanya identitas para kultivator di dunia ini. Berjalan bersama Jotaro, pemuda itu memasuki desa dikawal oleh orang-orang berpatroli.


Mereka langsung diantar menuju ke rumah kepala desa sesuai dengan prosedur biasa. Sampai di sana, mereka langsung bertemu dengan lelaki paruh baya yang masih tampak begitu bugar. Orang itu memiliki senyum ramah dan sederhana di wajahnya.


“Halo, Tuan-tuan. Senang menyambut kalian di desa kami yang sederhana ini. Jika boleh tahu, apakah tuan-tuan memiliki alasan khusus datang ke desa kami?”


“Kami datang untuk mampir karena lelah.”


“Jadi begitu.” Pria paruh baya itu mengangguk ramah.


“Omong-omong, sebelumnya kami melewati sebuah desa lain yang tampaknya ditinggalkan. Padahal kami ingin mampir di desa itu, tetapi tidak jadi karena tidak berpenghuni.”


Arthur menghela napas panjang. Membuat gerakan seolah benar-benar menyesal karena tidak bisa mampir dan malah berjalan jauh sampai di sini.


“Kalau begitu saya rasa tuan-tuan beruntung. Lagipula, biasanya tidak ada orang yang selamat jika mampir ke desa tersebut. Desa yang tuan-tuan maksud pasti Desa Tanpa Nama yang berada di seberang sungai besar.”


Mendengar ucapan Arthur, kepala desa terkejut dan membalas dengan ekspresi serius di wajahnya. Tampaknya terkejut telah melihat orang yang beruntung karena selamat dari desa tersebut.


Sementara itu, Arthur diam-diam tersenyum. Melihat orang-orang mulai membicarakan desa tanpa nama itu ...


Berarti orang-orang telah mengigit umpannya!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2