
Di dalam rumah, Reyna tampak canggung ketika melihat Murasaki dan Aoi yang menatapnya dengan ekspresi penasaran.
"Apakah Kak Arthur adalah pacar anda, Nona Reyna?" tanya Murasaki.
"Tentu saja tidak!" balas Reyna dengan nada kesal. "Aku belum lama mengenalnya dan sudah dibuat sakit kepala karena kesal!"
"Bukankah Kak Arthur baik? Dia memasak untuk Aoi. Mata Kak Arthur juga terlihat indah!" Aoi, gadis kecil itu langsung membela Arthur.
"Entah kenapa, dia sangat baik kepada anak kecil dan berperilaku sabar. Sedangkan dengan orang dewasa, baji ... uhuk! Orang itu benar-benar seenaknya dan keterlaluan!"
Reyna merasa malu. Dia hampir menggunakan kata-kata tidak baik depan gadis kecil yang polos dan tidak bersalah. Namun, tiba-tiba gadis itu menyadari sesuatu.
'Arthur ... jangan bilang kalau dia adalah lolicon?! Paman jahat yang suka menipu anak kecil?'
Memikirkan hal masuk akal itu, Reyna benar-benar terkesima.
...***...
Sementara itu, Arthur yang baru saja jalan-jalan di sekitar desa tiba-tiba bersin.
"Hey, apakah mereka membicarakan aku di belakang? Bukankah hal semacam itu buruk?" gumam Arthur dengan ekspresi tidak berdaya.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di tanah cukup luas di luar desa. Lebih dekat, bahkan tersembunyi dalam hutan.
Melihat banyak nisan berjejer rapi, Arthur tidak bisa tidak terkejut. Saat itu juga, suara tua terdengar di telinganya.
"Mungkin kamu penasaran kenapa jarak setiap nisan terlalu dekat. Jika kamu ingin tahu ...
Itu karena batu tersebut hanya sebagai penanda. Sementara tubuh mereka sama sekali tidak ada di sana."
Mendengar itu, Arthur langsung menoleh.
Di kejauhan, tampak sosok kepala desa, lelaki tua dan bungkuk yang berjalan ke arahnya dengan wajah sedih.
"Saya tidak menyangka anda begitu berani berkeliling seorang diri, Tuan Muda Arthur. Sama sekali tidak cocok dengan tempramen seorang koki." Kepala desa tersenyum.
"Kamu tidak bisa menilai orang hanya dari penampilannya, Pak Kepala Desa! Ada berbagai jenis koki di luar sana.
Aku hanyalah koki pengembara, jadi hal semacam ini wajar. Untuk mencari berbagai jenis bahan makanan, tentu saja aku harus berkeliling untuk memeriksa. Lagipula, terkadang jamur yang enak bersembunyi di balik tumpukan daun mati."
Arthur tersenyum ke arah kepala desa. Lelaki tua itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Melihat anda sedih. Apakah anda memiliki kerabat yang dimakamkan di sini, Pak Kepala Desa?" Seolah menyadari sesuatu, Arthur kembali berkata. "Maaf! Anda tidak perlu membahasnya jika itu menyakitkan. Aku hanya keceplosan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Kepala desa menggelengkan kepalanya. "Saudari dan cucuku dimakamkan di sini. Lebih tepatnya, nisannya diletakkan di sini. Lagipula, setelah pergi, tidak akan ada sisa tulang untuk dibawa kembali."
Setelah mengatakan itu, kepala desa menghela napas panjang. Dia kemudian menatap ke arah Arthur lalu balik bertanya.
"Normalnya, orang akan menjauhi tempat seperti makam. Namun sebaliknya, kamu malah datang dengan santai dan tampak senang.
Kamu benar-benar orang aneh, Tuan Muda Arthur."
"Hahaha. Itu tidak lucu, Pak Kepala Desa.
Bagiku, tempat seperti ini seharusnya tidak dibenci atau ditakuti. Sebaliknya, tempat seperti ini layak untuk dikunjungi.
Dengan berkunjung ke tempat seperti ini, khususnya makam keluarga ... kita bisa mengingat mereka.
Mungkin bukan kenangan indah, bahkan menyakitkan. Namun, hal tersebut pantas dikenang. Lagipula, sulit untuk melupakan orang-orang yang telah pergi.
Itulah kenapa, kita tidak perlu melupakan mereka. Namun, kita harus mengikhlaskan mereka pergi karena ..."
Melihat jejeran batu nisan dengan banyak tulisan, senyum ceria di wajah Arthur digantikan dengan senyum lembut.
"Mereka yang telah pergi tidak akan kembali."
__ADS_1