
Selesai menyusun rencana, semua orang kembali untuk beristirahat.
Saat itu, Daiki terkejut ketika tiba-tiba dihentikan oleh seseorang. Melihat pria itu, dia menjadi agak curiga. Lagipula, sosok yang menghentikannya adalah pria yang merupakan bawahan Arthur.
‘Apakah penyamaranku ketahuan? Apakah aktingku menjadi lebih buruk?’
Menenangkan diri, Daiki kemudian bertanya.
“Apakah ada masalah? Aku rasa, kamu adalah bawahan Arthur, kan? Apakah dia memintamu menemuiku?”
“Tidak, Tuan Daiki. Pertama-tama, perkenalkan, nama saya Jotaro. Saya adalah anggota Divisi 10 di bawah Bos Arthur.
Sebenarnya, di antara anggota, saya adalah yang paling lemah. Saya tidak memiliki petunjuk ingin bergerak ke arah mana. Baru tadi siang, saya melihat bagaimana anda bertarung. Kekuatan luar biasa, tidak bergitu cepat, tetapi memiliki pertahanan yang sangat menakjubkan. Meski saya tidak menggunakan kapak. Saya berpikir kalau gaya bertarung seperti itu cocok untuk saya.
Mengatakan seperti ini mungkin kurang ajar dan tidak sopan. Namun, tolong bimbingan anda, Tuan Daiki!”
Jotaro membungkuk sopan. Kedua tangannya mengepal erat ketika dia berkata dengan suara gemetar.
“Saya ingin menjadi kuat! Saya muak merasa lemah dan menjadi beban! Saya ingin melindungi dan bukan hanya dilindungi!”
“...”
Mendengar itu, Daiki tertegun. Dia tidak menyangka kalau pemuda di depannya begitu tulus dan bertekad. Muda dan memiliki impian mulia, benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Meski Daiki tampak berusia di akhir dua puluhan, sekitar tiga puluh tahun. Pada kenyataannya, usianya hampir mencapai empat puluh lima tahun. Oleh karena itu, dia merasa sangat tertekan ketika melihat dua ketua divisi lain.
Lagipula, kebanyakan orang yang dianggap benar-benar jenius akan menembus tingkat platinum sebelum usia 50 tahun. Jika tidak, sangat sulit menembus tingkat itu kecuali beruntung menemukan penemuan tertentu yang membantunya memecah batasa.
“Angkat kepalamu! Jotaro, kan? Aku tidak tahu seni bela diri macam apa yang kamu latih. Anggap saja mirip dengan seni bela diri milikku. Itu sendiri sudah menjadi bekal yang bagus.
Apa yang kamu perlukan sekarang adalah tekad! Jika kamu hanya terus menganggap dirimu sebagai sampah yang tidak pernah menyusul rekan-rekanmu, maka kamu memang tidak akan bisa menyusul mereka. Oleh karena itu, berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Jika bisa, gunakan waktu untuk mempercayai dirimu sendiri dan usahamu!
Yakinlah! Usahamu pasti akan terbayar! Jangan terlena dengan pencapaian kecil jika tujuanmu besar. Jangan bimbang atau ragu terlalu lama, berjalanlah karena tujuanmu jauh dan kamu tidak bisa mencapainya jika hanya diam di tempat.”
Mengatakan itu, Daiki berjalan melewati Jotaro sambil menepuk bahu pemuda itu.
“Aku percaya padamu, Nak!”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Daiki pun pergi. Jotaro tertegun di tempatnuya sejenak. Namun tatapan penuh tekad akhirnya muncul di matanya. Saat itu, Daiki tidak pernah menyangka ...
Ternyata dia berperan besar dalam perubahan Arthur dan Jotaro!
***
Keesokan paginya.
“Arthur, Arthur ... lihat! Aku berhasil melakukannya!”
Setelah sarapan, Lily melakukan latihan di halaman belakang. Membuat bola api, mengecilkannya, membesarkannya, membaginya menjadi beberapa bagian, menyatukannya kembali, dan membuatnya kembali normal.
Sementara itu, Jotaro terus berlatih mengggunakan samsak besi yang tebal dan berat. Tubunya dipenuhi memar dan keringat, tetapi dia sama sekali tidak mengeluh atau berhenti berlatih.
Arthur sendiri duduk di halaman belakang sambil menulis sesuatu di sebuah gulungan menggunakan kuas dan tinta. Sejak bertarung dengan Daiki, pemuda itu agak suka membuat tulisan dan mencoba mengotak-atik skill agar bisa cocok dengannya. Rasanya seperti mengembangkan resep masakan sehingga cocok dengan lidahnya. Perasaan semacam itu ...
Arthur sama sekali tidak membencinya.
Selesai menulis sedikit, Arthur langsung menyuruh Lily mendekat. Dia memberi gadis tersebut Cursed Blood Umbrella. Pemuda itu kemudian menyuruh Lily untuk mengendalikan api menggunakan payung tersebut. Dengan senjata itu, targetnya adalah memunculkan tiga bola api secara langsung, mengecilkan, membesarkan, membaginya menjadi dua belas, dan menyatukannya menjadi satu bola api besar.
Saat itu, suara langkah kaki terdengar. Ketika menoleh, Arthur melihat Daiki berjalan ke arah mereka.
“Apakah ada masalah, Senior Daiki?” tanya Arthur.
“Aku datang untuk memberimu peta. Di sini, rute yang kita ambil tertulis secara terperinci. Kamu harus menghafalnya karena hal tersebut juga penting.
Selain itu, aku juga akan menginformasikan kalau persiapan hampir selesai. Kita bisa berangkat lusa, jaga kondisi kalian baik-baik. Berlatih tidak apa-apa, tetapi jangan memaksakan diri apalagi sampai terluka.
Oh? Apa yang sedang kamu kerjakan, Arthur? Buku tebal macam apa itu?”
“Aku sedang mempelajari struktur tubuh, anatomi manusia, Senior. Meski sudah memiliki beberapa pengetahuan, tetapi pengetahuan ini lebih lengkap.”
Arthur sendiri sebenarnya telah mempelajari banyak hal. Namun, kali ini dia berencana mendalami beberapa hal lain. Pemuda itu sama sekali tidak merasa sedang memaksakan diri. Lagipula, selain memasak, hobi lainnya adalah membaca buku.
“Eh?”
Daiki tertegun. Melihat banyak coretan di gulungan yang tampak rumit, sudut bibir pria itu berkedut. Dia benar-benar tidak menyangka kalau hal semacam itu masih bisa dilakukan oleh manusia. Semakin mengenal Arthur, Daiki semakin yakin kalau cara otak juniornya itu bekerja benar-benar berbeda dengan orang normal atau kultivator biasa.
__ADS_1
‘Kamu benar-benar masih sempat membaca buku semacam itu? Sungguh. Aku semakin penasaran, selain melahirkan, apa yang tidak bisa kamu lakukan?’
Menggelengkan kepalanya, Daiki akhirnya memberikan gulungan kepada Arthur. Setelah menyuruh pemuda itu menghafalnya, dia segera pergi. Pria itu benar-benar merasa tidak nyaman berada di sana.
Ada satu orang yang meninju balok besi besar seperti binatang buas mengamuk. Ada juga gadis yang tampak seperti boneka tanpa ekspresi bermain dengan api seperti roh jahat. Selain itu, pemimpinnya sendiri tampaknya suka membaca dan meneliti sesuatu seperti ilmuwan gila. Tempat semacam itu ...
Benar-benar tidak cocok untuk orang normal seperti dirinya!
***
Hampir satu minggu kembali berlalu.
Sudah empat hari sejak Divisi 9 dan Divisi 10 melakukan perjalanan untuk menyelesaikan misi bersama. Untuk Divisi 10, hanya ada 3 orang termasuk ketua. Sedangkan Divisi 9, Daiki hanya membawa 50 orang bawahan, totalnya 52 orang termasuk dirinya dan ketua cabang.
Dalam empat hari ini, mereka semua sama sekali tidak menemui masalah. Sekarang, mereka akhirnya sampai di kaki gunung tempat Frost Wyvern itu tinggal.
Di kaki gunung, tampak hutan pinus yang luas. Untuk mencapai lokasi, mereka harus melewatinya. Pada awalnya, semuanya berjalan baik-baik saja. Namun setelah Lily bergerak untuk menggali sebuah jamur dan memberikannya kepada Arthur, barisan menjadi berantakan.
Orang-orang langsung mulai mencari jamur dengan panik. Lagipula, setelah mencicipi masakan Arthur sekali, mereka merindukannya. Melihat pemuda itu tampaknya ingin memasak jamur, mereka pun langsung bersemangat untuk mencari bahan untuknya.
Benar-benar langsung menjadi pekerja gratis!
“Kamu mengacaukan semuanya, Arthur.”
Daiki berkata dengan ekspresi tak berdaya. Namun pria itu sama sekali tidak memarahi Arthur. Meski tidak senang perjalanan mereka tertunda, dia juga agak menantikan masakan pemuda tersebut.
“Maaf, Senior Daiki. Seharusnya kamu menghentikan mereka.”
“Tidak perlu. Lihat mereka semua, benar-benar bertingkah seperti anak kecil pemetik jamur. Sama sekali tidak bisa diandalkan.”
Setelah mengatakan itu, Daiki kembali memberi perintah.
“Dirikan tenda. Malam ini, kita akan tinggal di sini. Kalian bisa sedikit lebih santai karena setelah ini perjalanan kita akan menjadi lebih berat.”
Menyetujui saran Daiki, mereka pun akhirnya berkemah di hutan pinus untuk malam ini.
>> Bersambung.
__ADS_1