Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Cerita Lama


__ADS_3

Pada saat mereka semua berjalan bersama, para warga desa mulai bercerita.


“Apakah kamu tahu, Tuan? Di desa itu, ada banyak sekali roh jahat. Namun, yang paling mengerikan bukanlah roh jahat tersebut. Di sana, ada penyihir terkutuk!”


“Ya! Penyihir itu sangat jahat. Bukan hanya mampu menjinakkan roh jahat, tetapi dia juga suka makan daging manusia.”


“Aku dengar, penyihir itu suka makan daging bayi. Daging bayi membuat mereka awet muda. Karena penyihir itu tidak merubah penampilannya setelah puluhan tahun, tampaknya itu benar.”


“EH? Itu bukan hanya rumor untuk menakut-nakuti anak di desa?”


“Kamu saja yang tidak tahu. Penyihir jahat yang suka memakan bayi itu benar!”


“...”


Mendengar itu, Arthur hanya tersenyum ramah. Dia sama sekali tidak membenarkan atau menyalahkan mereka. Sebaliknya, pemuda itu mencoba mengingat setiap cerita. Mungkin saja, ada sedikit informasi yang nyata dari sepenggal cerita dari mulut mereka.


Setelah berbincang sejenak, mereka pun tinggal di rumah kepala desa sebentar untuk beristirahat. Meski sebenarnya tidak begitu lelah, tetapi Arthur dan Jotaro masih melakukannya untuk menyempurnakan penyamaran mereka.


***


Siang harinya, di rumah kepala desa.


“Terima kasih atas makanannya.”


Selesai makan siang, Arthur dan Jotaro bangkit lalu keluar dari rumah kepala desa. Lelaki paruh baya dan keluarganya tersebut merasa senang Arthur tinggal di sana karena sebagai sopan-santun, pemuda itu masih memberi mereka beberapa keping koin perak. Bagi orang di desa dengan penghasilan sedikit. Itu sudah bernilai banyak.


Arthur dan Jotaro berjalan menuju ke rumah yang tidak jauh dari miliki kepala desa, hanya memiliki jarak tiga rumah. Rumah tersebut milik tetua desa, lelaki paling tua dan memiliki banyak pengalaman di desa. Menurut kepala desa, jika ingin mendengar cerita tentang Desa Tanpa Nama, mereka bisa bertanya kepada beliau.


Bukan hanya suka mendongeng, lelaki tua itu terkenal menyukai uang dan pelit. Beberapa keping koin tembaga bisa saja membuatnya menceritakan banyak dongeng.


Mendengar itu, Arthur mengangguk puas. Jangankan beberapa keping tembaga, perak atau emas pun dia mau. Lagipula, informasi yang diterima mungkin saja sangat berharga dan berguna. Bisa menyelamatkan nyawa mereka ketika krisis.


Arthur rasa, koin emas sama sekali tidak cukup untuk membeli nyawanya.


Sampai di depan rumah, Arthur melirik ke arah Jotaro. Pria itu mengangguk lalu mengetuk pintu.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


“Siapa?”


Suara wanita terdengar. Ketika pintu terbuka, sosok wanita paruh baya muncul di depan Arthur dan Jotaro. Melihat wanita itu, Arthur langsung berkata.


“Apakah Tetua ada, Nyonya?


Kami berdua adalah kultivator pengelana. Saya memiliki hobi menulis cerita. Saya dengar tetua memiliki banyak cerita semasa hidupnya, jadi saya cukup tertarik. Tentu saja, jika itu benar-benar menarik dan layak, beberapa keping perak dan tembaga sama sekali bukan masalah.”


Mendengar kata ‘koin tembaga dan perak’, mata wanita paruh baya itu berbinar. Dia langsung memasang ekspresi ramah lalu berkata.


“Silahkan masuk, tetua ada di dalam. Jika mencari pendongeng yang baik, anda telah datang ke tempat yang tepat, Tuan-tuan.”


Ucapan wanita itu membuat Jotaro merasa agak kesal. Arthur menepuk pundaknya lalu menggelengkan kepala. Mereka berdua masuk ke dalam rumah lalu menunggu di ruang tamu.


Setelah beberapa saat, sosok lelaki tua kurus dengan kulit seperti kayu mati dan rambut penuh uban muncul. Dia membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Lelaki tua itu tersenyum ketika melihat dua orang yang datang untuk mengantarkan uang.


Tetua duduk di kursinya lalu menyapa.


“Kami juga merasa senang bertemu dengan anda, Tetua.”


Arthur mengangguk ringan. Setelah itu, wanita paruh baya sebelumnya datang membawa teh panas dan kacang rebus. Usai wanita itu pergi, tetua kembali berkata.


“Aku dengar kalian ingin mendengar cerita? Jadi cerita macam apa yang kalian ingin dengar?


Ya. Meski sekarang sudah seperti ini, dulunya aku juga pejuang pemberani dari desa ini. Ada masa dimana kami menghadapi serangan binatang buas ganas. Itu benar-benar sangat mengerikan.”


“Meski cerita tentang masa lalu anda terdengar menarik, kami lebih tertarik dengan cerita misteri, Tetua.


Aku dengar, ada sebuah desa tanpa nama nama yang begitu misterius tidak terlalu jauh dari sini. Sejak kapan itu terjadi? Apakah anda tahu apa yang sebenarnya terjadi pada desa itu, Tetua?”


Mendengar itu, ekspresi lelaki tua tersebut langsung berubah. Dia menatap ke arah Arthur dan Jotaro dengan wajah serius.


“Apakah kalian berniat untuk pergi ke desa itu?”

__ADS_1


“Kami hanya penasaran.”


Arthur berkata dengan senyum di wajahnya. Namun, tetua jelas tidak mempercayai ucapan pemuda itu. Setelah hening beberapa saat, tetua akhirnya kembali bicara.


“Jangan bilang aku tidak mengingatkan kalian, Tuan-tuan. Jujur saja, ada beberapa orang yang telah bertanya kepada saya sejak saya masih cukup muda. Ada orang biasa, bahkan kultivator seperti tuan-tuan yang tertarik kepada desa penuh misteri tersebut.


Namun, seperti yang anda lihat sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang kembali. Meski demikian, apakah kalian masih ingin bertanya?”


Melihat ekspresi serius di wajah tetua, Arthur akhirnya berhenti menyembunyikan niatnya.


“Kami datang ke sini untuk itu, Tetua. Jadi tolong ceritakan saja. Soal biaya-“


“Jangan bicarakan uang, karena itu tidak begitu penting. Sungguh, setelah hampir tiga puluh tahun, kenapa masih ada orang yang tidak menghargai hidup mereka.”


“Tentu saja kami menghargai hidup kami sendiri, Tetua. Kami datang menggali informasi, memastikan apakah bisa selamat atau tidak jika pergi ke sana.”


“Itu bunuh diri, Tuan-tuan. Bunuh diri.”


Lelaki tua itu menghela napas panjang. Menatap ke arah Arthur dan Jotaro, dia akhirnya memulai ceritanya.


“Kejadian itu terjadi sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Saat itu, usiaku masih tiga puluhan, masih dalam kondisi paling jaya.


Pada saat itu, sebuah kemalangan terjadi di desa itu. Aku tidak akan menyebutkan namanya karena ada rumor bisa dikutuk. Yang pasti, hari itu adalah hari paling berdarah yang aku ketahui dalam hidupku.


Seluruh orang di desa itu ... mati.


Mereka semua mati dan darah membuat sungai berubah warna menjadi merah. Warga desa kami datang untuk mencoba melakukan evakuasi dan mengubur mayat, tetapi akhirnya terhenti karena kabut beracun yang tiba-tiba muncul di sana. Ada beberapa orang dari desa kami yang juga mati karena kabut itu.


Anehnya, mayat-mayat di desa tersebut menghilang dalam semalam. Itu benar-benar janggal, bukan? Banyak warga yang percaya kalau mayat mereka dibawa oleh hantu air. Namun ada juga beberapa kepercayaan lain. Sampai suatu hari, orang-orang desa akhirnya melihatnya.


Aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia ... si gadis terkutuk.


Di desa tersebut, ada seorang gadis kecil yang membawa sebuah payung merah. Dahulu, gadis itu sering muncul dan berdiri di seberang jembatan. Dia bisa berkomunikasi dengan roh-roh jahat yang muncul setelah kasus pembantaian itu.


Gadis itu ... adalah penyebab bencana yang menimpa desa tersebut 30 tahun lalu!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2