Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Hantu Air


__ADS_3

Duduk di atas tatami, Arthur dan Jotaro melihat beberapa hidangan sederhana yang ada di atas meja. Ada satu yang cukup mencolok, yaitu hidangan utama ...


Unagi Don.


Penampilan Unagi Don sendiri sebenarnya sederhana, tetapi memang cukup menggugah selera. Ini adalah jenis hidangan yang disajikan dalam mangkuk. Di bagian bawah, ada cukup banyak nasi hangat lalu diberi potongan unagi panggang yang menutupi bagian atas nasi. Setelah itu, barulah disiram dengan saus unagi. Hidangan ini biasanya disajikan dengan acar dan biji wijen untuk melengkapinya.


Unagi atau sidat berbeda dengan belut. Meski bentuknya mirip dengan belut yang memanjang, tetapi makhluk ini tinggal di tempat berbeda. Jika belut tinggal di dalam lumpur, makhluk ini tinggal di air jernih. Unagi sendiri memiliki karakteristik khusus dengan pola hidup katadromus yaitu hidup mendiami beberapa kondisi perairan termasuk perairan tawar, estuari, dan laut.


Melihat Unagi Don yang mengepul dengan aroma gurih yang menggelitik indera penciuman, tangan Arthur mengepal erat.


Pada saat melihat penampilan tertekan bosnya, Jotaro tampak bingung. Dia tidak bisa tidak bertanya.


“Ada apa, Bos?”


“Seharusnya aku datang ke tempat ini di musim panas!” bisik Arthur dengan ekspresi tertekan.


“...”


Jotaro langsung memiliki ekspresi menyesal telah bertanya di wajahnya. Dia pikir ada sesuatu yang penting. Siapa sangka, ternyata bosnya memikirkan beberapa hal tidak penting ... lagi.


Di dunia sebelumnya, Unagi Don adalah hidangan khas Jepang yang biasanya disajikan di musim panas. Oleh karena itu, Arthur merasa kalau kondisi paling baik dalam menikmati Unagi Don tentu saja di musim panas. Itulah kenapa pemuda tersebut merasa cukup menyesal.


Ya. Menyesal karena tidak bisa makan sesuatu dalam kondisi terbaiknya.


“Bagaimana kalau kita memakannya saja selagi hangat, Bos?”


“Oh! Kamu benar juga, Joe. Mari makan!”


Setelah mengatakan itu, mereka berdua pun makan bersama.

__ADS_1


Pada saat menggigit unagi panggang, Arthur langsung merasakan bagian cukup renyah di bagian kulit luar, tetapi dagingnya masih lembut di dalam. Memakannya dengan nasi hangat dan saus khusus beserta taburan biji wijen, pemuda itu benar-benar merasa sangat puas.


Sekitar setengah jam kemudian, mereka pun selesai makan dan beristirahat sejenak.


Selesai makan, tuan kota pun kembali muncul setelah peralatan makan dikemas dan dibawa pergi. Orang itu tampak senang ketika melihat Arthur dan Jotaro yang terlihat puas. Dia merasa kalau semua orang pasti lebih mudah diajak berbicara ketika kenyang dan dalam kondisi santai.


“Pertama-tama, terima kasih sudah sudi datang ke kota kami yang begitu terpencil, Tuan-tuan.”


“Tidak perlu begitu sopan, Pak Shigechi. Meski kami datang, kami melakukan tugas dengan bayaran. Bagi kami, itu adalah situasi win-win. Anda yang mempekerjakan kami, jadi tidak perlu terlalu sopan.”


Pria paruh baya botak gemuk dengan mata sipit itu bernama Shigechi. Sebelumnya, orang itu sempat memperkenalkan diri ketika membawa mereka masuk. Jadi Arthur langsung menyebut namanya agar orang itu merasa tidak begitu dibatasi.


“Saya benar-benar merasa senang karena keduanya begitu ramah kepada orang biasa seperti saya,” ucap Pak Shigechi dengan senyum di wajahnya.


Memang, di dunia dimana kekuatan adalah yang utama, biasanya para kultivator sama sekali tidak menghargai keberadaan manusia biasa. Mereka merasa lebih superior, atau mungkin diajari oleh leluhur cara berpikir seperti itu sehingga mereka memikir pemikiran semacam itu.


Jadi Arthur sama sekali tidak terkejut ketika melihat pemandangan semacam itu di dunia kultivasi.


“Katakan, ada masalah apa sehingga kalian memanggil kami.


Sebenarnya sudah dijelaskan dalam tugas kalau musuh kami adalah roh jahat tingkat puncak silver atau awal gold. Meski begitu, aku masih cukup penasaran.


Kamu pasti tahu, Pak Shigechi. Meski tanahnya cukup subur dan dikelilingi oleh hutan, tempat ini memiliki energi alam yang terbilang gersang. Seharusnya tidak ada makhluk kuat di tempat seperti ini, kan? Bahkan jika ada monster atau roh jahat, paling-paling di tingkat bronze atau awal silver.


Jadi ... apakah kalian melakukan beberapa percobaan yang tidak seharusnya dilakukan?”


Mata Arthur langsung menyempit. Meski tidak muncul secara normal, ada juga beberapa alasan kenapa makhluk semacam itu muncul di tempat dengan energi alam gersang seperti ini. Contohnya, ritual pengorbanan.


“Tidak, Tuan. Tidak ada hal semacam itu. Saya bahkan berani bersumpah atas langit dan bumi!”

__ADS_1


Pak Shigechi langsung melambaikan tangannya dengan ekspresi panik di wajahnya. Dia merasa panik karena takut kedua orang itu salah paham. Lagipula, memang wajar bagi keduanya jika curiga karena makhluk yang muncul adalah roh jahat. Jika itu monster atau iblis, mungkin ada beberapa alasan lain. Namun dalam lingkup hantu atau roh jahat, kasus yang terjadi memang biasanya ada sangkut pautnya dengan ritual pengorbanan atau semacamnya.


“Lalu tolong katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Tolong ceritakan awal dari masalah ini agar kami bisa menentukan apa yang harus dilakukan.” Arthur berkata dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Sebenarnya ini dimulai pada bulan terakhir di musim panas, kira-kira dua sampai dua setengah bulan yang lalu.


Sebelumnya, semua masih aman dan setiap warga hidup dengan damai seperti biasa. Namun pada suatu malam, salah satu orang berkata telah melihat penampakan aneh di danau pada saat bulan purnama. Pada awalnya, semua orang berpikir lelaki tua itu mabuk. Namun hal aneh mulai terjadi beberapa hari kemudian.”


“Orang hilang, kah?” tanya Arthur.


“Ya.” Pak Shigechi mengangguk dengan ekspresi serius. “Kejadian itu tidak hanya terjadi satu kali. Setiap beberapa hari, satu orang yang bekerja di perikanan akan menghilang di malam hari. Mereka hilang ketika berada di danau, jadi semua warga yakin kalau danau telah dikutuk. Banyak dari mereka mulai takut untuk bekerja.”


“Bagaimana dengan orang yang pertama kali melihatnya? Apa yang orang itu lihat? Apakah orang itu masih hidup?”


“Dia masih hidup. Lelaki tua itu berkata kalau dirinya melihat sosok wanita dengan pakaian putih yang berdiri di atas air. Rambutnya tergerai, sangat panjang sampai masuk ke dalam air. Penampilannya tidak begitu jelas karena dia melihat makhluk itu di malam hari dan dari kejauhan.”


“Mungkinkah itu hantu air?” gumam Arthur sambil memegangi dagu.


“Apakah ada masalah, Tuan?”


“Tidak apa-apa, Pak Shigechi. Namun, apakah kita boleh menemui lelaki tua itu? Mungkin saja ada petunjuk penting yang bisa didapatkan darinya.”


“Tentu saja tidak ada masalah, Tuan. Omong-omong, kapan anda ingin menemuinya?”


Mendengar pertanyaan itu, Arthur dan Jotaro saling memandang. Mereka berdua tersenyum lalu mengangguk. Mengalihkan pandangannya kepada Pak Shigechi, keduanya berkata serempak.


“Tentu saja sekarang.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2