Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Menjadi Penyelamat?


__ADS_3

Keesokan paginya.


Bukan hanya Divisi 10, tetapi Divisi 9 juga telah berkemas. Meski misi sama sekali tidak wajib, tetapi sangat berpengaruh dalam perkembangan mereka ke depannya karena misi tersebut dikeluarkan oleh pemimpin besar.


Jika tidak berusaha membantu, pemimpin besar itu pasti akan mengingat mereka. Hubungan mereka ke depannya pasti menjadi canggung.


“Apakah kamu kalian tidak tertarik pergi bersama kami, Kak Daiki? Dengan kekuatan Divisi 9, kalian pasti langsung dianggap sebagai pahlawan jika datang.”


“Tolong jangan bercanda denganku, Arthur. Kamu sendiri pasti mengetahui alasan kenapa aku memilih pergi ke timur.”


Mendengar ajakan Arthur, Daiki langsung menggelengkan kepalanya. Pria itu jelas tahu kalau Arthur tidak bodoh, dan mengerti alasan kenapa dirinya tidak ingin pergi ke selatan.


“Tidak berniat membuang nyawa untuk orang tidak dikenal. Tidak ingin bertempur dengan musuh yang belum pasti bisa dikalahkan.” Arthur mengangkat bahu. “Aku tahu itu, Kak Daiki. Pada akhirnya, alasan kenapa bergabung dengan Garden of Death juga untuk diri kita sendiri.”


Daiki tertegun sejenak. Memandang ke arah kapten Divisi 10 itu, dia mengeluh dalam hati.


‘Kenapa tidak langsung menyebutku sebagai pengecut saja? Tidak perlu bermain dengan kata-kata semacam itu.’


Melihat ekspresi rumit di wajah Daiki, Arthur hanya mengangkat bahu. Jika tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu, dia pasti berkata kalau orang itu salah paham. Dari awal, pemuda itu sama sekali tidak berniat membicarakannya. Dia hanya mengungkapkan secara samar kalau dirinya pun tidak ingin pergi ke selatan jika bukan karena keuntungan besar yang sepadan dengan usahanya.


“Aku harap kamu bisa menyelesaikan masalah di timur sesegera mungkin, Kak Daiki. Dengan demikian, aku akan sangat terbantu ketika Divisi 7 dan Divisi 9 datang ke selatan.”


“Kalau begitu kamu juga tidak boleh ceroboh, Arthur. Sedikit bersabar dan tahan mereka.” Daiki menepuk bahu Arthur. “Aku harap kamu baik-baik saja, Sobat.”


Melihat ekspresi kasihan di wajah Daiki, Arthur sama sekali tidak banyak berpikir. Dia hanya tersenyum lalu membalas santai.


“Tenang saja. Aku tidak akan mati semudah itu.”


“Kalau begitu kita berpisah di sini.”


“Ya.” Arthur mengangguk ringan. Dia mengeluarkan pedang terbangnya, lalu naik bersama Lily dan Jotaro. Melihat ke arah orang-orang di Divisi 9, pemuda itu berkata. “Sampai jumpa lain kesempatan, Kawan-kawan.”


Mendengar ucapan Arthur, mereka semua memberi hormat. Sementara itu, Daiki yang melihat kepergian Arthur hanya bisa berkata.


“Semoga ada lain kesempatan.”


***


Empat hari berlalu, waktu mengalir begitu saja.


Bergerak dengan kecepatan penuh, Arthur akhirnya tiba di ibukota kerajaan. Melihat banyak orang tampak panik meski iblis dan tiga monster masih berada di area pinggir kerajaan, dia tidak bisa tidak mengerutkan kening.


Dari penampilan saja, Arthur merasa kalau berita baru menyebar di ibukota. Alih-alih segera mengirimkan bala bantuan, banyak dari mereka malah tampak panik untuk menyelamatkan harta benda. Tampaknya ingin mengungsi dan menjauh dari masalah.


“Bahkan tidak peduli orang-orang di kerajaannya sendiri, apalagi orang luar. Ya ... begitulah ego manusia. Siapapun memilikinya.”

__ADS_1


Arthur bergumam pelan. Dia sama sekali tidak mengejek mereka karena mungkin dirinya sendiri akan melakukan hal sama jika di posisi mereka. Apa yang dikatakan olehnya hanyalah fakta. Tidak kurang, tidak lebih.


Misalnya, ada seseorang yang bisa menyelamatkan nyawa ratusan orang dengan mengorbankan diri sendiri. Namun, tidak semua orang mau melakukannya. Lagipula, siapa ingin membuang nyawanya untuk orang tidak dikenal yang mungkin tidak berterima kasih apalagi mengingat pengorbanannya? Ya, begitulah mayoritas manusia.


Tidak perlu munafik, karena kebanyakan orang akan memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan nasib ratusan orang yang tidak dikenalnya.


Tentu saja, tidak semua orang seperti itu. Ada minoritas yang memiliki jiwa pahlawan. Orang-orang memiliki rasa simpati dan empati tinggi kepada sesama manusia. Seperti tentara yang rela berkorban demi keluarga dan negerinya.


Apakah hanya tentara? Tentu saja tidak.


Ada juga pengusaha, atau bahkan olahragawan yang bersedia mengorbankan sebagian keuntungan atau bahkan hampir semua keuntungan untuk mensejahterakan negerinya.


Membangun sekolah agar anak-anak bisa memiliki pendidikan. Menyumbangkan banyak makanan agar orang-orang yang kelaparan bisa diselamatkan. Bahkan menciptakan lapangan kerja bagi mereka.


Mereka adalah orang-orang luar biasa, tapi ...


Sangat disayangkan karena hanya ada minoritas orang semacam itu di dunia. Mungkin kurang dari 0,0001% orang di dunia mau melakukannya!


Pada saat Arthur mengendalikan pedang terbang agar turun perlahan, banyak orang mulai melihat ke arah mereka. Saat itu juga, warga kota mulai berteriak-teriak dengan ekspresi bahagia di wajah mereka.


“Lihat ke atas!”


“Kultivator? Apakah akhirnya bala bantuan datang?”


“Kenapa hanya tiga orang?”


“Jadi kita selamat?!”


“Ya! Kita selamat!”


“...”


Orang-orang mulai melambaikan tangan. Sebagian besar dari mereka tampaknya menjadi tenang dan puas karena saat penyelamat tiba, berarti harta mereka aman. Bahkan ada beberapa orang yang bersikap terlalu dramatis, berlutut di tanah sambil menangis.


Dari atas, Arthur menatap orang-orang yang berteriak dengan ekspresi datar di wajahnya.


“Tolong selamatkan kami, Tuan!”


“Tolong jaga kota ini!”


“Tolong habisi iblis jahat itu, Tuan!”


“Bunuh iblis dan para monster itu demi kedamaian dunia!”


“...”

__ADS_1


Melihat ekspresi di wajah orang-orang, ekspresi Arthur menjadi lebih dingin. Lily yang tidak mengerti banyak hal merasa bingung. Sedangkan Jotaro merasa ragu.


Daripada meminta tolong atau memohon, ekspresi memerintah jelas tampak di wajah mereka. Saat itu, senyum penuh ejekan muncul di wajah Arthur.


“Bodoh. Apakah mereka pikir kita datang untuk menyelamatkan mereka?”


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arthur langsung membuat banyak orang-orang berdiskusi dengan tidak puas.


“Apa yang kamu katakan? Bukankah kamu datang untuk menyelamatkan kami?”


“Ya! Itu adalah tugasmu! Lakukan tugasmu!”


“Kami telah membayarmu!”


Arthur melirik ke arah sosok pengusaha gemuk yang banyak bicara. Pemuda itu kemudian melompat dan mendarat tidak jauh darinya. Dia berjalan menuju ke arah orang itu dengan ekspresi santai di wajahnya.


“A-Apa yang ingin kamu lakukan?”


Bruak!


Tanpa perlu menjawab, Arthur langsung memukul wajah pria gemuk tersebut sampai tulang hidungnya patah dan berguling-guling di tanah.


“Ada sesuatu yang perlu kalian ingat. Kalian tidak membayarku, dan tidak memiliki hak memerintahku. Selain itu, misi yang dikeluarkan kerajaan hanya untuk menghentikan iblis dan tiga monster level gold dan menghentikan kehancuran kerajaan ini.


Tidak ada permintaan untuk membunuh lawan (meski jika dihabisi ada tambahan), dan tidak ada permintaan untuk menyelamatkan semua orang. Bisa dibilang ...


Tidak akan ada yang peduli jika beberapa, bahkan sebagian besar dari kalian mati asalkan kerajaan ini masih berdiri. Itulah tugasku. Jadi lebih baik tutup mulut kalian atau aku akan membunuh kalian karena menghalangi jalan dan membuang-buang waktu.


Bukankah aku harus ‘menyelamatkan’ orang-orang yang menderita di perbatasan? Pendosa yang membuang waktu sehingga lebih banyak korban pantas dihukum mati, bukan?”


Melihat senyum mengejek di wajah Arthur, semua orang langsung menutup mulut mereka.


Mengabaikan orang-orang yang diam dan menatapnya dengan penuh kebencian, Arthur berkata dengan santai.


“Kalian pikir aku adalah pahlawan? Orang yang datang sebagai penyelamat? Lucu sekali~


Garden of Death adalah organisasi yang mirip dengan tentara bayaran. Kami tidak berniat bermain dengan hati nurani atau hal-hal semacamnya. Jadi, jangan pernah samakan aku dengan orang-orang naif yang mudah kalian tipu dengan air mata palsu atau ucapan konyol dari mulut kalian.


Jangan kira bisa menipuku hanya karena aku terlihat muda, Bodoh. Sekarang hidup terserah diri kalian sendiri. Pergi atau tinggal, hidup atau mati ... tergantung pilihan kalian.”


Setelah mengatakan itu, Arthur langsung pergi menuju ke istana kerajaan.


Berjalan beberapa saat, pemuda itu sampai di depan gerbang istana. Melihat ke arah para penjaga yang tampak gugup, dia langsung berkata.


“Aku ingin bertemu dengan Raja.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2