Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Desa Yang Ditinggalkan


__ADS_3

Di dalam sebuah kereta kuda.


“Hey, orang yang ingin memburu Cockatrice ini adalah aku. Kamu sama sekali tidak perlu ikut. Aku sama sekali tidak melakukan ini karena terpaksa, okay?”


Arthur menatap ke arah Kiba yang sekarang memakai armor dan memegang pedang. Ekspresinya terlihat begitu serius, tampaknya tidak main-main dengan misi yang ingin mereka jalankan. Lagipula, melawan makhluk semacam Cockatrice memanglah bukan lelucon. Makhluk itu cukup terkenal dengan kekuatannya.


Bisa dibilang, kita tidak boleh menilai hanya dari penampilannya.


“Omong-omong, apakah makhluk itu tidak memiliki tatapan kematian yang membuat orang menjadi batu atau semacamnya?” tanya Arthur.


“Saya tidak tahu makhluk apa yang anda maksud. Namun, Cockatrice yang kami ketahui memang tidak memiliki kemampuan semacam itu.” Kiba menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana dengan bentuknya?”


“Maaf, saya sendiri belum melihatnya secara langsung. Selain itu, ibunda yang pernah bertemu juga tidak melihatnya dengan jelas karena tempat itu begitu berkabut.” Sekali lagi Kiba menggelengkan kepala.


Melihat ke arah pemuda itu, Arthur kehilangan kata-kata. Selain mengetahui kalau musuhnya adalah Cockatrice dan kultivator jahat yang ahli dalam racun, informasi lainnya benar-benar minim. Itu berarti, informasi itu sendiri tidak begitu berguna karena mereka bahkan tidak mengetahui skill yang lawan miliki dan tingkatan mereka.


Sedangakan untuk level, Kiba sendiri dianggap yang paling berbakat di antara generasi muda keluarganya. Sekarang dia berada di tingkat silver bintang 1. Ibu Kiba, Nyonya Fuji sendiri berada di tingkat silver bintang enam. Sedangkan ayah Kiba, beliau sekarang berada di level silver bintang 8. Meski tidak bisa dianggap sangat kuat, tetapi sudah cukup berkualitas untuk bangsawan seperti mereka.


Lagipula, tidak seperti orang yang dipanggil dari dunia lain, mereka benar-benar lebih berusaha keras dalam melakukan kultivasi.


Selain mereka, ada juga Tarou, pengawal Kiba sekaligus penjaga terkuat dalam rumah bangsawan ini. Dia berada di tingkat silver bintang 6. Kekuatannya sendiri sedikit lebih baik dibandingkan dengan Nyonya Fuji.


“Apakah semua bangsawan itu kultivator?” tanya Arthur.


“Tidak semua. Namun, sebagian besar dari mereka mencoba untuk menjadi kultivator, tetapi sangat sedikit keluarga bangsawan yang memiliki kultivator. Lagipula, di dunia yang dipenuhi makhluk jahat seperti ini, kekuatan sangat penting. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sekte-sekte karena mereka juga sangat sibuk dalam melawan makhluk-makhluk jahat yang lebih berbahaya.

__ADS_1


Untuk kekuatan sendiri, meski kecil, keluarga kami dianggap kuat karena memiliki kultivator. Ya … meski pada generasi kakek dan sebelumnya belum ada kultivator.


Ayah saya cukup beruntung untuk membangkitkan bakat kultivasi. Dia pergi ke salah satu sekte yang dianggap tingkat menengah. Meski begitu, anggota mereka juga sudah banyak dihormati oleh orang-orang. Di sana, ayah dan ibu saya bertemu.


Sedangkan Paman Tarou dulunya adalah pengembara. Namun karena suatu kejadian, dia terluka dan diselamatkan oleh ayah. Mungkin untuk membalas budi, beliau mau tinggal di kediaman kami dan menjadi penjaga.”


“Anda terlalu memuji saya, Tuan Muda.”


Pria paruh baya bernama Tarou yang duduk di samping Kiba menggelengkan kepala. Dia mengelus jenggot, menatap ke arah Arthur dengan ekspresi penasaran. Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya bertanya.


“Jikalau boleh tahu, apakah anda murid dari Sekte Pilar Surgawi yang terkenal itu, Tuan Muda Arthur?”


“Errr … bisa dibilang, mantan murid karena aku tidak ingin tinggal di sana.”


Tarou menatap Arthur dengan heran. Dia tidak menyangka akan mendengar jawaban semacam itu. Lagipula, kebanyakan orang akan berusaha untuk bergabung dengan sekte kuat seperti itu. Alih-alih keluar, kebanyakan orang berusaha bertahan di sana agar tidak dikeluarkan.


Meski ragu apakah Arthur memang keluar sendiri atau dikeluarkan, Tarou tidak terus bertanya. Lagipula, setiap orang memiliki rahasia mereka sendiri. Jadi dia tidak ingin mengungkit sesuatu yang bisa menjadi bekas luka lama pemuda itu.


“Begitulah. Ada dua belas istana yang sama dengan nama shio.”


Arthur mengangguk ringan. Karena bukan suatu rahasia, dia sama sekali tidak keberatan membagikannya. Lagipula, pemuda itu juga tidak berniat kembali ke tempat itu.


“Kalau boleh tahu, anda dari istana mana, Tuan?” tanya Kiba yang penasaran dengan dunia kultivasi.


Meski memiliki bakat kultivasi, Kiba sendiri bukanlah murid sekte tertentu. Karena beberapa alasan, orang tuanya tidak mengizinkan dirinya untuk bergabung dengan suatu sekte. Sebaliknya, mereka berdua melatih sendiri Kiba sejak kecil.


“Aku? Aku dari Dojo Naga.”

__ADS_1


Mendengar itu, Kiba mengangguk. Sementara itu, Tarou tampak terkejut. Meski setiap pilar memiliki kekuatan hampir sama, tetapi dia jelas mendengar desas-desus kalau sosok Pilar Naga adalah salah satu yang terkuat dari 12 pemilik Istana.


“Hey. Kenapa kamu begitu bersemangat? Kehidupan di dojo sama sekali tidak semenyenangkan yang kamu duga, tahu? Belum lagi Pak Tua itu, cih … dia selalu menghukumku karena melakukan hal-hal sepele.


Pernahkah kamu direndam semalaman penuh di sungai membeku pada musim dingin? Pernahkan kamu dipukuli dengan berbagai jurus ganas dan tidak diperlakukan secara manusiawi? Pak Tua Shigekuni adalah orang semacam itu!


Bahkan sampai kapanpun, aku tidak akan melupakan kenangan itu!”


Ucapan Arthur jelas membuat Kiba dan Tarou terkejut. Bagi mereka, sebuah jurus tidak akan dikeluarkan jika tidak dalam pertarungan nyata. Bahkan jika melakukan latih tanding, mereka tidak akan mengeluarkannya secara penuh. Namun melihat ekspresi Arthur, mereka tahu kalau dia dipukuli oleh Pak Shigekuni dengan kekuatan penuh. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat mereka terkejut.


Bagaimana bisa Arthur bertahan setelah melalui hal semacam itu adalah sebuah misteri. Mereka ingin tahu, tetapi tidak berani bertanya.


Hanya saja, mereka tidak memikirkan apakah apakah yang dikatakan oleh Arthur itu sudah lengkap atau tidak. Jika Pak Shigekuni mendengarnya, dia pasti sudah muntah darah karena marah. Jelas dia memiliki alasan kuat untuk memukuli bocah kurang ajar itu.


Membolos latihan, mencuri beberapa tanaman di Dojo Naga, dan bahkan sempat menguji beberapa ramuan beracun para seniornya sendiri.


Hal tersebut sudah membuat banyak orang merasa kalau Arthur pantas dipukuli. Pak Shigekuni jelas sering memukulinya dengan keras, hanya saja, pemuda itu sama sekali tidak pernah menyerah untuk melakukan hal-hal semacam itu. Jadi pada akhirnya dia memukuli Arthur dengan berbagai jurus agar jera. Hanya saja …


Pemuda itu benar-benar lebih sulit dibunuh daripada kecoa!


Setelah melakukan perjalanan panjang, kereta kuda hampir tiba di tujuan. Kereta kuda melaju di jalan menanjak menuju bukit. Di sekitar bukit, ada hutan rimbun. Sedangkan di atas bukit, ada sebuah desa yang cukup besar dengan puluhan rumah.


Akan tetapi, desa itu sangat sepi karena tidak ada satu orang pun yang tinggal di sana. Tempatnya juga berjauhan dari desa lain, jadi jarang dikunjungi. Ditambah aura suram di sekitar desa dan lokasi yang sering berkabut, tempat itu benar-benar sudah menjadi desa mati.


Desa itu sendiri sekarang tampak lebih ramai karena ada puluhan orang yang berada di sana. Mereka semua adalah para pengawal dari rumah tuan kota. Di sana juga tempat sekarang ayah Kiba berada.


Setelah kereta melaju untuk beberapa waktu, mereka semua akhirnya tiba …

__ADS_1


Tiba di desa yang ditinggalkan.


>> Bersambung.


__ADS_2