Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Desa Batu Putih


__ADS_3

Di depan pintu masuk sebuah desa.


"Ini ... tampak agak buruk, bukan?"


Reyna bergumam pelan. Dia melirik ke arah Arthur yang tampaknya sedang melamun.


Di depan mereka, tampak sebuah gerbang desa yang terbuat dari batu hitam. Bebatuan yang ditumpuk tampak sedikit reyot, tampak penuh dengan lumut.


Tidak jauh di depan mereka, tampak sebuah desa yang keseluruhan rumah warga terbuat dari kayu. Bukan jenis kerajinan indah, tetapi sebuah rumah sederhana tanpa ukiran indah. Rumah-rumah juga tampak tua.


Selain itu, desa berada di tempat yang begitu terpencil. Hutan rimbun tampak di sekitar desa. Pohon-pohon tinggi membuat tempatnya agak redup. Juga, tempatnya berkabut dan agak dingin.


"Kita tidak bisa menilainya dari luar. Ya ... meski memang terlihat cukup suram."


Arthur berkata dengan ekspresi kosong. Setelah beberapa saat diam di depan gerbang masuk desa, dia kembali berkata.


"Bagaimana kalau kita masuk sekarang?"


Pertanyaan Arthur membuat Reyna merasa tidak nyaman. Meski sekarang dia adalah seorang kultivator tingkat silver bintang 6 yang dianggap jenius dibandingkan rekan-rekannya, gadis itu masih merasa agak takut ketika melihat pemandangan desa suram di depannya.


Rasanya ... desa itu berhantu!


"Tempat ini tidak berhantu, kan?" gumam Reyna.


Arthur tertegun sejenak. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba tertawa.


"Pffftt! Seorang kultivator dengan berbagai keahlian benar-benar takut dengan hantu."


Pemuda itu menggelengkan kepalanya sebelum berjalan memasuki desa.


Melihat Arthur langsung masuk desa, Reyna akhirnya memutuskan untuk mengikutinya. Namun saat dia melewati gerbang desa, gadis itu tiba-tiba merinding. Dia merasa ada yang mengawasinya. Merasa takut, Reyna buru-buru menyusul Arthur.


Mereka berdua langsung pergi ke rumah kepala desa. Saat mereka berjalan di jalan desa, keduanya merasakan banyak tatapan yang diarahkan kepada mereka berdua. Tatapan tersebut berasal dari rumah-rumah di sekitar.


Sampai di depan rumah kepala desa, Arthur langsung mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Setelah menunggu beberapa saat, pintu akhirnya terbuka.


Sosok lelaki tua bungkuk dengan pakaian tradisional menatap ke arah dua orang yang berdiri di depan rumah. Melihat Arthur yang tersenyum ramah, lelaki tua itu sedikit terkejut.


"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?" tanya lelaki tua tersebut.


Melihat pakaian mahal Arthur, dia jelas tidak berani berbicara tidak sopan dengan pemuda di depannya. Kepala desa tidak ingin desanya terlibat masalah karena hal-hal sepele tertentu. Lagipula, mereka sudah terlibat terlalu banyak masalah.

__ADS_1


"Selamat siang, Kepala Desa! Perkenalkan, saya Arthur, seorang koki pengembara.


Sedangkan ini adalah rekan saya, Reyna. Dia adalah murid inti dari Sekte Pilar Surgawi. Gadis ini bilang, dia memiliki teman yang berasal dari desa ini bernama ..."


"Momo," ucap Reyna singkat.


"Sebagai demon hunter, Reyna datang ke sini atas permintaan temannya. Saya dengar, desa ini mendapatkan masalah dan perlu bantuan."


Kepala desa terkejut. Melihat pemuda tampan dengan senyum ramah dan gadis cantik dengan ekspresi dingin di depannya, dia merasa agak bingung.


Pada awalnya, kepala sekolah merasa cukup senang. Namun dia menjadi waspada akibat pengenalan Arthur. Melihat ke arah pemuda tampan, berkulit cerah, dan mengenakan pakaian mewah membuat lelaki tua tersebut mengangkat alisnya.


'Apakah mereka berdua penipu? Meski cukup meyakinkan, tetapi ... apakah seorang koki bisa menjadi begitu kaya? Apakah dia benar-benar seorang koki?'


Arthur jelas melihat ekspresi tidak percaya di wajah lelaki tua tersebut. Dia langsung menyikut Reyna, menyuruh gadis itu untuk mengeluarkan bukti.


Pada awalnya Reyna bingung dengan gerakan Arthur. Melihat bagaimana pemuda itu menatapnya seolah sedang melihat gadis bodoh yang belum melihat dunia, dia merasa kesal. Setelah berpikir cukup lama, Reyna akhirnya mengerti.


Reyna mengeluarkan jepit rambut giok milik temannya dan tanda dari Pilar of Snake sebagai bukti.


Melihat kedua hal tersebut, kepala desa tampak terkejut. Dia kemudian menjadi bahagia, sebelum kembali murung.


Kepala desa menatap dua orang di depannya dengan ekspresi tidak berdaya.


"Maaf saya, Nona. Meski kami memerlukan bantuan, tetapi Desa Batu Putih ... tidak bisa membayarnya kembali.


Melihat ekspresi pahit kepala desa, Reyna tertegun. Sementara itu, Arthur tersenyum sambil mengelus dagu.


"Ho-ho-ho ... Ini benar-benar menarik."


"Apanya yang menarik? Katakan padaku dan berhentilah berbelit-belit!" ucap Reyna kesal.


"Tampaknya para demon hunter tidak bekerja secara gratis. Hal tersebut memang wajar. Namun, jika seperti itu ...


Kata pahlawan yang menyelamatkan rakyat benar-benar kurang cocok."


"Apa maksudmu?" Reyna mengangkat alisnya.


"Bisa dibilang seperti polisi. Ya, sedikit lebih buruk.


Kita tidak digaji karena sekte tidak berafiliasi dengan kerajaan manapun. Namun kita bisa mendapatkan uang dengan menjual uang dan jasa.


Ya ... daripada polisi yang sudah digaji oleh negara tetapi perlu uang tambahan jika harus turun untuk menangani kasus, kita lebih mirip dengan tentara bayaran."


"Berhenti berbelit-belit, Arthur!"

__ADS_1


"Intinya, jika suatu tempat ingin menyelesaikan masalah, mereka perlu membayar kita! Bayarannya tergantung betapa sulitnya kasus.


Dilihat dari kondisi desa yang terbilang cukup miskin karena tidak memiliki spesialis tertentu, mereka tidak mampu membayar. Belum lagi, kasus ini pasti cukup sulit karena telah menyangkut pengorbanan yang terjadi selama bertahun-tahun.


Apakah aku benar, Kepala Desa?"


"Tuan Muda memang benar." Kepala desa mengangguk dengan ekspresi sedih.


"Aku tidak peduli dengan bayaran! Aku datang ke sini untuk membantu Momo dalam mengurus masalah desa. Sejak awal, aku tidak memiliki keinginan untuk dibayar!"


"..."


Kepala desa terkejut ketika mendengar ucapan dingin dan tegas Reyna. Dia menatap ke arah gadis itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Arthur.


Arthur mengangkat bahu. Pemuda itu kemudian berkata dengan senyum di wajahnya.


"Seperti yang dia bilang, Kepala Desa. Dia datang untuk menolong, dan aku ...


Bisa dibilang aku disewa olehnya untuk melakukan pekerjaan ini. Jadi anda bisa tenang.


Ah! Tentu saja akomodasi dari kalian. Lagipula, kami berdua memerlukan tempat tinggal sementara dan makanan."


"..."


Tanpa disadari, mata kepala desa mulai berkabut. Dia merasa terharu. Meski belum tentu masalah bisa diselesaikan, tetapi lelaki tua tersebut sangat menghargai bantuan kedua orang tersebut.


Kepala desa mencondongkan tubuhnya ke depan. Namun sebelum dia sempat berlutut, dua tangan menahan bahunya.


"Akan memalukan melihat seorang penatua berlutut untuk junior seperti kami. Tidak perlu berlutut karena kita belum tentu bisa menyelesaikan masalah kalian.


Tentu saja, kami berdua akan melakukan sebaik mungkin."


"Tapi—"


"Tidak ada kata tapi, Pak Tua."


Arthur langsung menyela. Dia menatap ke arah kepala desa dengan ekspresi tatapan tegas. Namun langsung berubah menjadi senyum ramah dan santai.


"Daripada kita berdebat di sini, bagaimana kalau kita masuk dan bicara?"


>> Bersambung.


---


Bantu Author Kei dengan vote, like, dan komentar. Kalian juga bisa memberikan gift agar author lebih semangat.

__ADS_1


Terima kasih!


__ADS_2