
Siang harinya.
Arthur mengganti pakaiannya di pemandian umum lalu pergi menuju ke pusat perdagangan kota, tempat pasar besar berada. Sekarang dia memakai pakaian tradisional (mirip hanfu) berwarna putih dengan gambar bambu hitam, agak sederhana tetapi terlihat elegan. Sebenarnya ada yang warna hijau, tetapi dia memilih gambar warna hitam. Rambutnya diikat ke belakang, dan juga memakai penutup mata hitam.
Setelah menggunakan teknik mengubah bentuk tulang ditambah riasan, Arthur benar-benar menjadi berbeda. Mengenakan topi anyaman bambu berukuran besar serta mengubah sedikit gaya berjalannya, dia benar-benar sepenuhnya berubah menjadi orang lain.
Sampai di pusat perdagangan kota, Arthur langsung menjadi pusat perhatian karena penampilannya cukup mencolok. Sama sekali tidak menghiraukan mereka, dia langsung pergi menuju ke tempat biasanya karavan berada.
Tiba di depan sebuah karavan yang sedang singgah di kota, Arthur langsung menghampiri pir acak. Dia kemudian menyatukan kedua tangannya dan berkata dengan lembut.
“Permisi, apakah benar kalau ini adalah karavan yang akan pergi menuju ke ibukota?”
“Eh? Oh! Benar. Apakah ada yang bisa aku bantu?”
“Perkenalkan, nama saya Ryuma. Saya ingin menemui pemimpin karavan ini. Jika bisa, saya ingin ikut dengan karavan sampai ibukota. Tentu saja, saya akan membayar.”
Melihat sikap sopan pemuda di depannya, pria itu merasa agak malu. Dia buru-buru berkata dengan sopan.
“Aku tidak tahu apakah ketua mau menerima orang, tetapi aku akan mengantarmu menemuinya.”
“Terima kasih,” ucap Arthur.
“Tidak. Ini sama sekali bukan masalah.”
Arthur langsung mengikuti pria itu. Dia berjalan mengikuti suara langkahnya, tidak cepat atau lambat. Tampak begitu tenang dan memberi kesan elegan.
“Ketua!”
Setelah berjalan beberapa waktu, pria itu langsung berteriak dan menghampiri seorang pria paruh baya yang sedang berbicara dengan enam orang dengan perlengkapan bertarung. Tampaknya mereka adalah tentara bayaran yang dipekerjakan oleh karavan untuk mengawal sampai ibukota.
“Ada apa?” tanya pria paruh baya itu dengan nada tidak sabar.
“Ketua, ada orang yang mencari anda. Tampaknya dia ingin ikut karavan sampai ke ibukota.”
Setelah diperkenalkan, Arthur langsung memberi hormat sederhana dengan menyatukan kedua tangannya sambil berkata.
__ADS_1
“Nama saya Ryuma. Senang berjumpa dengan anda.”
“Oh?” Pria paruh baya itu memiringkan kepalanya. Melihat penampilan Arthur, dia bertanya, “Apakah anda seorang pendekar pedang, Tuan Ryuma?”
“Yang satu ini hanya pengelana kecil, sama sekali tidak pantas disebut.” Arthur berkata dengan sopan.
“Namaku Morris. Kamu bisa memanggilku Kapten Morris, Paman Morris, atau apapun itu. Jika kamu ingin ikut, sebenarnya tidak masalah. Ada beberapa orang yang juga ingin menumpang karavan kami. Namun ada dua syarat.
Pertama adalah membayar, dan terakhir adalah mau ditempatkan di mana saja.”
“Kalau begitu saya berterima kasih atas kebaikan anda, Mr Morris.”
Setelah mengatakan itu, Arthur mengambil sebuah kantong kecil dari balik pakaiannya. Dia kemudian mengeluarkan beberapa koin emas lalu memberikannya kepada Morris.
“Apakah ini cukup, Mr Morris?”
“Cukup! Lebih dari cukup!” ucap Morris penuh dengan semangat.
Setelah menerima uang dari Arthur, senyum penuh muncul di wajah Morris. Dia kemudian buru-buru berkata.
“Karavan akan berangkat besok pagi, pada jam tujuh tepat. Jika anda tidak keberatan, anda bisa tidur di salah satu kereta malam ini. Anda juga bisa tidur di penginapan. Tenang saja, kami tidak akan meninggalkan anda.”
Setelah mengatakan itu, Arthur memberi hormat lalu pergi dengan tenang. Melihat kepergiannya, banyak orang saling memandang, khususnya beberapa orang dalam kelompok tentara bayaran.
“Ketua!” ucap salah satu pria kurus yang tampak seperti pencuri.
“Jangan bodoh.” Pria paruh baya dengan tubuh tegap seperti prajurit veteran cemberut. “Pemuda itu sama sekali bukan jenis orang yang mampu kita provokasi. Itulah yang dikatakan oleh naluriku. Meski terdengar bodoh, tetapi ini menyelamatkanku berkali-kali sehingga bisa berdiri di sini sekarang.”
Anggota lain saling memandang. Meski merasa serakah, tetapi mereka juga tidak bodoh. Sebanyak apapun uang, tidak ada gunanya jika tidak bisa digunakan (mati dan tidak bisa menggunakannya).
Sementara semua orang membicarakannya, Arthur yang sampai penginapan dan beristirahat di kamar langsung berbaring di ranjang. Dia benar-benar merasa kalau akting yang dilakukan terasa melelahkan. Menghela napas panjang, pemuda itu hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan semuanya.
Arthur berencana menggunakan perjalanan ini untuk mengasah aktingnya sehingga lebih sempurna ketika sampai di ibukota!
***
__ADS_1
Keesokan paginya.
Arthur duduk dalam sebuah kereta pengangkut buah-buahan lokal dan beberapa tanaman ajaib. Meski tidak mewah, tetapi itu lebih baik daripada duduk di barisan paling belakang dimana kereta pengangkut pupuk berada.
Duduk di sampingnya adalah seorang gadis berusia belasan tahun yang tampaknya anak salah satu anggota karavan. Tugasnya adalah menghitung dan menjaga barang dalam kereta ini. Meski mengenakan pakaian lengkap seperti prajurit, tetapi dia bisa dianggap lemah. Bukannya Arthur membeda-bedakan, tetapi di dunia dengan kultivator, sekuat apapun orang biasa tidak akan bisa mengalahkan mereka.
“Hey, Kak? Apakah kamu seorang kultivator?”
“Dari mana dan ke mana kamu pergi?”
“Kenapa kamu menutup matamu?”
“Apakah kamu tidak bisa melihat sejak kecil atau karena bertarung dengan musuh kuat?”
Berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu membuat sudut bibir Arthur berkedut keras. Dia ingin marah dan memukul kepala gadis cerewet itu, tetapi sekarang pemuda itu sedang berakting agar tampak setenang mungkin. Tempramen lembut, halus, dan sopan ... yang sangat tidak cocok dengan dirinya sekarang!
“Bisakah kamu lebih tenang, Gadis Kecil? Duduklah di sini, aku akan menceritakan beberapa kisah.”
Arthur menepuk lantai di sebelahnya. Gadis itu benar-benar langsung duduk dan menatap ke arah pemuda tersebut dengan ekspresi penasaran.
“Namaku Ryuma, seorang pendekar pedang biasa. Dulu, mungkin aku terlalu sombong karena dianggap sebagai sosok jenius dalam pedang. Namun aku melakukan kesalahan sehingga kehilangan beberapa orang yang aku sayang. Sebenarnya aku masih bisa melihat, tetapi memilih menutup mata dan menggunakan penutup mata karena tidak ingin melihat dunia yang penuh ilusi dan kebohongan ini.
Dulu ...”
Arthur mulai bercerita lembut. Mengisahkan petualangan pada masa kanan-kanak sampai sekarang dewasa. Melakukan berbagai petualangan di alam liar, bertemu beberapa orang, melakukan pengembangan diri, merasakan pahit dan manis. Situasi yang terkadang membuat gadis kecil itu tegang, marah, dan sedih.
Arthur bercerita dengan sangat baik. Ya ... tentu saja semua itu bohong. Entah kerajaan, kota, dan beberapa tempat yang dia sebutkan hanya dipelajari dari buku di perpustakaan Dojo Naga. Dia mengarang cerita hidup yang dramatis dan membual. Namun membuat gadis kecil itu sangat percaya padanya.
“Jadi anda dalam perjalan untuk mencari pembunuh sahabat-sahabat anda, Tuan Ryuma? Namun sekarang datang ke ibukota kerajaan ini untuk menemukan putri seorang dermawan yang sempat memberi bantuan kepada anda?”
Gadis kecil itu bertanya dengan mata merah, mengusap air mata yang terus tumpah.
Tentu saja, yang pertama adalah kebohongan besar. Sedangkan yang terakhir mengandung sedikit kebenaran. Dia ingin menemukan putri dermawannya (Takahide), orang yang sempat memberi bantuan (memberi banyak tanaman dan binatang langka yang mahal) kepadanya. Ya .. itu sama sekali tidak sepenuhnya salah.
“Layaknya bajak laut yang pergi berlayar, mencari emas di dalam peti. Hutang emas mungkin bisa dibayar, tetapi hutang budi dibawa mati.”
__ADS_1
Melihat gadis kecil itu, Arthur membual dan tidak terlalu banyak berpikir. Namun dia pasti tidak akan pernah menyangka kalau kisah pendekar pedang Ryuma akan segera menggema di seluruh Kerajaan Fuji karena gadis kecil di karavan ini.
>> Bersambung.