Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Sampai Di Ibukota


__ADS_3

Hampir dua minggu kemudian, karavan akhirnya tiba di ibukota Kerajaan Fuji.


Karena mereka melakukan perjalan melewati satu kota besar dan singgah beberapa hari, perjalanan mereka agak tertunda. Arthur yang telah sampai di ibukota langsung memilih untuk berpamitan. Hanya saja, penyamarannya benar-benar hampir terbongkar karena seseorang.


“Apakah kamu masih belum menyerah, Jotaro?!” ucap Arthur sambil menggertakkan gigi.


“Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kami semua (para bandit) harus menentukan apa yang kami inginkan? Aku akan berkelana bersamamu, Ryuma. Menjadi rekan yang akan menemanimu dan menjadi mata bagimu untuk melihat luasnya dunia ini!”


Jotaro kemudian mengelus dagu. Dengan ekspresi cool di wajahnya, pria itu menambahkan.


“Benar-benar bukan pilihan yang buruk, bukan?”


“Maaf, aku sudah bilang kalau aku tidak tertarik dengan laki-laki. Selain itu ...”


‘Aku pernah menolak rekan satu tim gadis cantik, kenapa aku harus berjalan dengan pria besar yang tampak mencolok seperti seekor panda di kebun binatang sepertimu?’


Arthur tidak bisa tidak mengeluh dalam hati. Dia hanya ingin menjelajahi dunia dan mengumpulkan berbagai bahan makanan dengan tenang. Namun ada makhluk yang menganggunya untuk melakukan perjalanan dengan tenang. Hal tersebut membuat pemuda itu benar-benar sakit kepala.


“Wanita hanya akan mengganggu kecepatan kita dalam berkultivasi, Ryuma.” Jotaro sedikit menurunkan topinya lalu melanjutkan dengan nada serius. “Itulah yang dikatakan oleh guruku.”


‘Itu karena gurumu melajang sampai dia masuk ke tanah! Jangan samakan semua orang seperti gurumu!’


Arthur mengeluh dalam hati. Dia benar-benar ingin mengutuk, tetapi harus menjaga tempramen elegannya ketika berada di luar. Entah kenapa, pemuda itu merasa sedang diuji. Diuji dengan cobaan yang begitu berat.


“Jika kamu ingin mengikutiku, kamu harus merubah penampilan dan identitasmu. Jika tidak, aku sama sekali tidak bisa menerimamu.”


“BENARKAH?”


Melihat senyum di wajah Jotaro, Arthur merasa kalau dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah. Dia ingin mengatakan hal lain, tetapi ...


Tampaknya semuanya telah terlambat!


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Arthur yang sedang menggunakan identitas palsu berjalan dengan tenang. Di belakangnya, ada sosok yang tampak begitu mencolok. Seorang berpenampilan seperti taois, tetapi dengan kepala botak dan tubuh seperti beruang.


Seorang swordsman buta dan petarung seperti beruang. Pemandangan itu terlalu mencolok!


‘Tidak seperti penampilan cool yang dipaksakan, ternyata orang ini begitu sembrono! Dia bahkan benar-benar memotong rambutnya sampai habis!’


Arthur sebenarnya berencana untuk menakuti Jotaro dan membuatnya pargi. Namun siapa sangka kalau pria itu benar-benar memilih untuk terus mengikutinya. Pada akhirnya, pemuda tersebut hanya bisa menggertakkan gigi dan menerimanya.


“Sekarang kita akan pergi kemana, Tuan?”


“Berhenti memanggilku Tuan. Pria besar sepertimu memanggil dengan nada lembut seperti itu malah membuatku merinding. Jadi jangan terlalu sopan dan panggil aku dengan nama atau Bos.”


Arthur bergumam dengan ekspresi kesal. Suaranya tentu saja hanya bisa didengar oleh Jotaro yang memiliki kultivasi cukup tinggi dan berada di belakangnya seperti seorang bodyguard.


“Bos? Sebutan aneh, tetapi itu lebih baik daripada langsung nama, kan?” gumam Jotaro.


“...”


Meski tampak cool, Jotaro sendiri berpikiran cukup sederhana. Sedangkan alasan kenapa dia bisa bertindak sepeti itu jelas karena didikan guru dan ayah angkatnya yang sembrono. Membuat seseorang dengan bakat layaknya protagonis yang memperjuangkan hegemoni malah menjadi seperti sekarang ini.


“Jadi kita akan pergi kemana, Bos?”


“Istana.”


“...”


Jotaro menatap ke arah Arthur dengan ekspresi heran. Dia ingin bertanya apakah pemuda itu bercanda, tetapi tidak jadi ketika melihat ekspresi datar di wajahnya.


“Seperti dugaanku, tampaknya kamu seorang bangsawan, Bos.”


Mendengar ucapan Jotaro, banyak orang menatap ke arah Arthur dengan wajah penasaran. Sebagai tanggapan, pemuda itu menahan diri untuk tidak mengutuk dan berkata dengan tenang.


“Yang satu ini sama sekali bukan bangsawan. Saya hanya pejalan kaki biasa.”


Orang-orang jelas lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jotaro. Bukan hanya karena tempramen Arthur, tetapi penampilan Jotaro sendiri terlalu mencolok. Pria berbakat di tingkat silver bintang 6 sudah sangat jarang, tetapi sekarang menjadi penjaga. Hal semacam itu hanya dinikmati para bangsawan.

__ADS_1


Jika tidak, mereka menduga kalau Arthur adalah tuan muda dari keluarga besar tertentu yang memiliki latar belakang dalam di dunia kultivasi.


Selain Jotaro, jelas ada cukup banyak orang di ibukota yang berada di tingkat silver bintang 6 atau lebih. Namun usia mereka terlalu jauh dibandingkan dengan Jotaro. Jadi tindakan Jotaro yang menunjukkan tingkat kultivasi ditambah dengan kepala plontos yang berkilau ketika terkena sinar matahari benar-benar terlalu mencolok.


Mereka berdua kemudian terus berjalan sampai istana.


Sampai di depan gerbang istana, keduanya langsung dihentikan oleh penjaga. Meski mereka berpenampilan cukup sederhana, tetapi kekuatan mereka yang dianggap masih muda membuat para penjaga tidak berani meremehkan mereka.


“Apa yang diinginkan oleh kedua tuan ini datang ke istana? Apakah ada yang bisa kami bantu?”


Banyak perjaga berpikir kalau keduanya adalah tokoh yang dikirim oleh sekte tertentu untuk menghadiri pesta ulang tahun putri. Namun siapa sangka, jawaban keduanya langsung membuat para panjaga merubah ekspresi wajah mereka.


“Kami ingin bertemu dengan Nona Nanami.”


Setelah melakukan perjalanan, tentu saja Arthur mempelajari informasi yang penting. Nanami sendiri sekarang tidak dianggap sebagai bangsawan, meski keponakan dari raja saat ini, tetapi dia sama sekali tidak memiliki status. Selain itu, gadis itu tampaknya juga sangat dibenci.


Sebagai pendekar pedang yang ramah, tentu saja Arthur masih harus menunjukkan sopan santun. Hanya saja, tidak semua kesopanan dibalas dengan kesopanan.


“Tidak ada yang namanya Nona Nanami di sini. Jika tidak ada hal lain, Tuan-tuan bisa pergi!”


Mendengar ucapan sengit dari penjaga itu, Jotaro merasa kesal dan hendak majut. Namun Arthur langsung menghentikannya. Dia hanya mengangguk ringan sambil berkata.


“Kalau begitu terima kasi atas informasinya, Penjaga.”


Setelah mengatakan itu, Arthur mengajak Jotaro pergi. Dia tidak menyangka kalau situasinya begitu parah sampai penjaga kecil saja tidak memberi wajah kepada keponakan raja. Tidak ingin membuat keributan berlebihan, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk mencari informasi di kota.


Setelah berkeliling seharian penuh, Arthur dan Jotaro akhirnya mengetahui seperti apa kira-kira Nanami itu dan kebiasaannya sehari-hari.


“Ini sudah sore. Itu berarti gadis itu akan berlatih di bagian belakang istana. Kalau begitu kita akan pergi ke sana, Jotaro.”


Melihat matahari sudah berada di barat, Arthur berkata dengan santai.


“Baik, Bos!”


Jotaro mengikuti Arthur pergi. Sedikit penasaran dengan gadis yang membuat bosnya itu tertarik.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2