Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
189


__ADS_3

“Itu benar-benar mengejutkan.”


Pada saat berjalan menuju ke kandang kuda, Ono menatap Satoru dengan ekspresi terkejut sekaligus takjub. Dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda kota itu berinisiatif untuk merawat babi kecil itu.


“Apakah kamu menyukai babi, Satoru-san?”


Mendengar pertanyaan itu, Satoru langsung mengangkat alisanya. Dia balik bertanya, “Apa maksud pertanyaanmu? Ejekan?”


“Tidak!” Ono menggelengkan kepalanya. “Aku hanya tidak menyangka kamu mengambil inisiatif semacam itu. Aku penasaran apakah kamu menyukai babi sehingga mencoba merawatnya. Ya ... atau semacam itu.”


“Aku sendiri juga tidak tahu.”


“Eh?” Ono tampak bingung.


“Aku hanya ingin mencoba. Tidak kurang, tidak lebih.”


Satoru berjalan dengan santai sambil melihat langit luas. Pandangannya tampak kosong, sepertinya sedang melihat kejauhan padahal pikirannya terbang entah kemana.


“Enaknya.”


“Maksudmu?”


“Maksudku, aku merasa iri padamu Satoru-san. Tidak peduli apa yang terjadi, kamu berani untuk mencoba sesuatu yang baru. Berbeda denganku, pengecut yang selalu terjebak dalam zona nyaman.”


Satoru tidak langsung menjawab. Dia terus berjalan sambil menatap langit. Setelah beberapa saat, pemuda itu berbicara dengan nada penuh keraguan.


“Kamu tahu, Ono? Aku sama sekali tidak sesempurna yang kamu pikirkan. Aku juga tidak begitu berani.


Sebenarnya, aku juga merasa agak takut ketika berada di sini. Takut semua ini adalah akhir bagiku. Takut tidak memiliki jalan kembali. Takut melakukan kesalahan lebih buruk lagi. Banyak hal menakutkan yang membuatku goyah. Namun ...


Kita tidak akan bisa mengetahuinya jika hanya berdiri di tempat, kan?”


Semilir angin sore menerpa wajah mereka berdua. Membuat rambut mereka menari oleh embusan angin.


Saat itu Ono melihat Satoru menoleh ke arahnya. Tidak ada ekspresi dingin, apalagi ekspresi ramah yang hanya topeng semata. Pemuda itu menatapnya dengan serius sambil mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.


“Entah itu baik atau buruk, berhasil atau gagal ... kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya kan?”


“Itulah yang membuatmu harus menghancurkan belenggu, tetap maju meski takut dan malu. Karena jika kamu tidak maju, kamu tidak akan tahu apa yang ada di balik kabut itu.”


***


Sesampainya di kandang kuda, Satoru dan Ono bertemu lima orang lainnya.


Mereka semua juga bertemu dengan para kakak kelas. Namun, berbeda dengan kakak kelas yang pergi ke lapangan latihan untuk berlatih berkuda, mereka pergi mengambil alat untuk mulai bersih-bersih.


“Aku benar-benar ingin naik kuda! Apakah kita harus menunggu sampai kelas 2?”


Pada saat memindahkan kotoran ke tempat pengumpulan, seorang pemuda berambut cepak dengan wajah khas bernama Nagi mengeluh.


Sedangkan beberapa orang lain juga tidak tampak baik, khususnya kedua gadis yang merasa enggan dengan pekerjaan semacam itu. Memang, mereka terbiasa bekerja di ladang orang tua mereka. Namun mereka juga enggan bekerja keras semacam itu tanpa tahu kapan diperbolehkan naik kuda.

__ADS_1


Selesai melakukan pekerjaan mereka, hari telah semakin sore.


Para anggota kelas 1 duduk di luar pagar pembatas sambil melihat para senior yang sedang berlatih menunggang kuda. Tentu saja, dengan ekspresi iri di wajah mereka.


“Anak-anak kelas 1, datang ke sini!”


Ucapan Pak Sengoku langsung membuat mata orang-orang itu berbinar. Mereka segera datang ke tempat itu dengan penuh semangat.


Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh senyuman Pak Sengoku.


“Selamat karena sudah bertahan menghadapi cobaan awal! Sebagai hadiah, kalian boleh naik kuda hari ini. Tentu saja, hanya naik dan tidak berkeliling. Meski begitu, pengalaman tersebut akan membantu latihan kalian ke depannya.”


Mendengar itu, semua orang langsung membalasa serempak.


“Ya, Pak!”


“Kalau begitu kalian bisa pergi untuk mencobanya.”


Setelah Pak Sengoku selesai berbicara, para murid kelas 1 segera berjalan memasuki lapangan latihan. Mereka melihat para kakak kelas yang berdiri tidak jauh dari kuda, tampaknya sengaja menunggu dan diminta membantu mereka.


Tatapan Satoru menyapu para kuda. Namun matanya tertuju ke arah tertentu lalu bergumam dengan heran.


“Kuda yang bagus!”


Berbeda dengan kuda lain yang dijaga oleh para senior, ada beberapa kuda yang tidak dijaga. Salah satunya adalah seekor kuda dengan bulu hitam legam. Tubuhnya sedikit lebih besar, dipenuhi otot, dan tampak ganas jika dibandingkan kuda lainnya.


Karena di punggungnya ada pelana, Satoru langsung mendekatinya tanpa banyak berpikir.


“Hentikan!”


Pada saat mendengar teriakan Pak Sengoku, Satoru sudah menirukan gerakan para senior yang dia lihat sebelumnya. Dia langsung menginjak pijakan lalu naik ke atas punggung kuda tersebut. Meski agak canggung, gerakannya masih terlihat cukup baik.


Hanya saja, semua berbeda dengan apa yang Satoru pikirkan.


Tepat ketika dia duduk di atas pelana, kuda itu tiba-tiba bereaksi begitu kuat. Kuda hitam itu membuat suara meringik lalu mulai berlari, hampir membuatnya jatuh dari atas kuda.


Pada saat kritis, Satoru langsung meraih dan menarik tali kekang. Namun, alih-alih berhenti, kuda itu malah melaju lebih kencang, bahkan tak terkendali.


Melihat pemandangan itu, ekspresi ketakutan tampak di wajah para murid. Pak Sengoku terus menggumamkan kata-kata kasar sebelum menaiki salah satu kuda, lalu melesat ke arah Satoru pergi.


Sementara itu, Satoru yang pertama kali naik kuda sangat terkejut. Dia merasakan guncangan kuat di pahanya. Tubuhnya hampir terhempas karena kuda hitam berlari liar, bahkan tampak gila.


‘Kuda terkutuk ini!’


Merasa marah, Satoru menarik tali kekang lebih kuat sambil menginjak pijakan kakinya dengan keras.


Tindakan kasar pemuda itu membuat kuda hitam semakin gila, terus berlari bahkan menjadi semakin cepat.


“Jangan terlalu kuat! Lakukan lebih pelan, Nak! Jangan membuat kuda itu semakin marah.”


Saat itu, Pak Sengoku mengejar dari belakang. Hanya saja, otak Satoru tidak fokus dan merasa agak bingung karena panik.

__ADS_1


Pada saat mendengar untuk melakukannya tidak terlalu kasar, tanpa sadar pemuda itu malah memegang tali kekang lebih ringan, kurang kuat sehingga terlepas dari tangannya.


Di depan tatapan penuh kejutan dan takut Pak Sengoku, tubuh Satoru terhempas ke samping.


BRUAK!


Tubuh pemuda itu langsung jatuh ke tanah dengan keras. Saking cepatnya, langsung berguling-guling sebelum terhenti beberapa saat kemudian.


Meski sangat berbahaya, Pak Sengoku tampak sedikit lega karena Satoru tidak jatuh di bawah kuda. Jika sampai itu terjadi, pemuda itu akan terinjak kuda dan berakhir dengan sangat fatal.


Pak Sengoku segera mendekati Satoru, menghentikan kudanya lalu turun untuk membantu pemuda itu. Dia benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada pemuda itu.


“Bocah! Katakan sesuatu! Apakah kamu-“


“Ugh! Sial! Kenapa kuda itu bereaksi begitu ganas, berbeda dengan yang aku lihat sebelumnya.”


Di depan mata terkejut Pak Sengoku, Satoru bangkit tanpa bantuannya. Memiliki beberapa luka ringan, debu, dan kotoran yang menutupi sekujur tubuhnya, pemuda itu masih bisa bangkit. Benar-benar terlihat tidak normal.


“Ugh! Sepertinya tulang bahuku sedikit bergeser.”


Melihat Satoru yang meringis kesakitan, Pak Sengoku tidak bisa tidak menghela napas lega sambil mengutuk dalam hati.


‘Monster kecil ini ...’


Pak Sengoku ingin memarahinya, tetapi akhirnya menahan diri karena tidak ingin pemuda itu semakin emosi. Namun, sebelum pria paruh baya itu mengatakan apa-apa, Satoru tiba-tiba bertanya kepadanya.


“Kenapa itu bisa terjadi, Pak Sengoku? Bukankah aku melakukannya dengan benar?”


Mendengar pertanyaan itu, Pak Sengoku mengetuk ringan kepala Satoru sambil mulai memarahi.


“Memang kamu melakukan gerakan dengan benar, tetapi itu sama sekali tidak cukup.


Dari apa yang aku lihat, kamu sama sekali tidak menganggap kuda itu sebagai makhluk hidup. Mungkin dalam pikiranmu, itu hanya kendaraan yang baik. Kamu terlihat seperti bocah yang menginginkan mainan baru yang bagus.


Jika seseorang mendekatimu hanya karena kamu tampan dan kaya lalu ingin memanfaatkanmu, apakah kamu tidak merasa marah?”


“Aku ... Tentu saja aku juga merasa marah,” gumam Satoru dengan kepala tertunduk.


“Hal yang sama juga dirasakan oleh kuda itu! Jadi jangan menganggap remeh orang lain jika tidak ingin diremehkan!


Kali ini kamu beruntung tidak jatuh di bawahnya. Jika sampai jatuh dan terinjak, paling ringan kamu akan mematahkan beberapa tulang! Ingat pelajaran ini baik-baik.”


Dimarahi orang lain selain kakeknya, Satoru merasa agak tidak berdaya. Namun dia tidak bodoh dan langsung mengerti kesalahannya.


“Baik,” balas pemuda itu ringan.


Melihat Satoru yang menyesali tindakan cerobohnya, Pak Sengoku akhirnya menghela napas panjang. Tidak lagi memarahinya. Pria itu kemudian berkata dengan ekspresi kasihan.


“Kalau begitu pergi ke UKS, biarkan tubuhmu diperiksa dengan baik. Jangan sampai ada luka atau bahaya tersembunyi yang mempengaruhi masa depanmu.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2