Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
180


__ADS_3

“Kelas 2?”


Satoru menatap ke arah Yui dengan ekspresi ragu. Meski memiliki tubuh layaknya wanita dewasa, tetapi gadis itu pendek dan memiliki wajah bayi. Benar-benar tampak jauh lebih muda darinya.


“A-Ada apa? Apakah kamu tidak percaya?” tanya Yui.


“Aku hanya berpikir kalau kamu murid tahun pertama sepertiku. Kalau begitu, aku akan memanggilmu Yui-senpai mulai sekarang,” ucap Satoru dengan senyum di wajahnya.


“S-Senpai?”


Mendengar Satoru memanggilnya dengan cara seperti itu, mata Yui berbinar. Selalu diperlakukan seperti anak kecil, dia tiba-tiba merasakan jejak kepuasan dalam hatinya.


“Apakah ada masalah?” tanya Satoru.


“T-Tidak!” Yui menggelengkan kepalanya.


“YUI!”


Saat itu, suara terdengar dari kejauhan. Sosok gadis ramping dengan tubuh atletis berjalan mendekat.


Kulit kecoklatan, mata hitam, dan rambut sebahu yang diikat ekor kuda. Melihat penampilannya, Satoru agak terkejut karena tidak menyangka langsung bertemu dua gadis cantik setelah datang ke sini.


Gadis itu juga melihat Satoru yang berbicara dengan Yui. Melihat pemuda itu, dia mengangkat alisnya.


“Yui! Pantas saja kamu tidak segera kembali. Siapa ini? Kenapa aku tidak tahu sekarang kamu memiliki pacar?”


“P-Pacar???”


Mendengar ucapan gadis itu, Yui tampak panik. Namun ekspresinya berubah ketika melihat senyum-main di wajah temannya.


“Kamu menjahili aku lagi, Natsumi!” ucap Yui sambil menggembungkan pipinya.


Gadis bernama Natsumi itu menyeringai. Dia mendekat lalu menatap Satoru dari atas sampai bawah tanpa sedikitpun rasa malu.


“Tinggi, tampan, tempramen dingin, tubuh terlatih dengan baik, sayangnya kulitnya terlalu putih. Jika sedikit gelap, kamu akan menjadi pria idamanku.”


“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apakah murid baru? Kelas 1?”


“Ya.” Satoru mengangguk. “Namaku Satoru, Kelas 1 dari jurusan Teknik Peternakan. Senang bertemu denganmu, Natsumi-senpai.”


“Ho Ho~ Tampaknya kamu benar-benar memiliki selera yang baik, Kouhai-kun. Benar-benar mencoba mengejar wanita yang lebih tua?” Natsumi berkata dengan seringai di wajahnya.


“NATSUMI!” teriak Yui dengan ekspresi malu.


Gadis itu jelas merasa sangat malu karena ejekan dari Natsumi. Bergegas ke arah temannya untuk melawan tetapi ditahan oleh lawannya dengan mudah.


Melihat penampilan bodoh dan imut Yui, mata Satoru berkedip. Dia merasa agak bingung. Orang yang menyelamatkannya sebelumnya adalah Yui. Gadis itu seharusnya kuat, tetapi benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa pada Natsumi.


Memikirkan betapa kuatnya gadis berkulit cokelat gandum itu, Satoru diam-diam menghirup napas dingin.

__ADS_1


‘Apakah gadis-gadis Hokkaido memang sekuat ini? Mungkinkah bocah-bocah itu (teman asrama) menipuku karena ingin aku dipermalukan?’


Memikirkan ide masuk akal itu, Satoru diam-diam mengangguk. Saat itu, suara Natsumi kembali terdengar di telinganya.


“Jika bukan siapa-siapa, kenapa dia menyelinap untuk menemuimu di pagi seperti ini?”


Mendengar pertanyaan Natsumi, Yui juga menatap Satoru dengan ekspresi bingung.


“Aku sedang joging, berolahraga sambil membiasakan diri dengan lingkungan. Aku tidak sengaja melihat Yui-senpai, jadi datang untuk menyapa dan berterima kasih. Lagipula, dia sudah repot-repot membawaku ke UKS. Itu pasti melelahkan baginya.”


“...” Yui dan Natsumi saling memandang dalam diam.


“Apakah ada yang salah?” tanya Satoru.


Bukannya menjawab pertanyaan Satoru, Natsumi malah bertanya kepada Yui. “Apakah kamu menolongnya? Benar-benar menggendongnya sampai UKS?”


“EH?” Yui tampak bingung. “Aku memang membantu Satoru-kun. Namun yang membawanya kembali ke UKS adalah Moriri.”


“Moriri?” ucap Satoru dan Natsumi bersamaan.


Sekitar lima belas menit kemudian, Satoru berdiri di depan kandang dengan ekspresi rumit di wajahnya.


Di sana, tampak seekor sapi perah dengan tubuh besar. Makhluk itu mengunyah jerami sambil menatap Satoru dengan ekspresi kosong. Benar-benar tidak mempedulikan pemuda yang berdiri di depannya.


Ya. Dia adalah Moriri yang disebut oleh Yui sebelumnya.


Meski lebih kuat dari gadis biasanya, Yui tidak bisa membawa Satoru dan kopernya. Jadi dia hanya mengangkat pemuda itu sekuat tenaga, menaikkannya ke punggung Moriri sementara dirinya sendiri menarik tali sapi dan menyeret koper.


‘Apakah itu alasan punggungku sedkit sakit ketika bangun? Benar-benar diangkut di punggung sapi?”


Bayangan dimana seekor gadis mengajak sapi jalan-jalan sambil membawa seorang pemuda di punggung sapi muncul dalam bayangan Satoru. Langsung merusak bayangan dimana ada gadis cantik yang kelelahan menggendong dirinya di punggung menuju ke UKS.


‘Inikah yang disebut mimpi itu manis dan kenyataan itu pahit?’


Hal tersebut jelas membuat Satoru merasa agak tertekan. Pemuda tersebut sama sekali tidak menyangka ‘pertemuan ditakdirkan’ yang dia bayangkan malah menjadi seperti itu.


Saat itu, suara tidak senang Natsumi membangunkan Satoru dari lamunannya.


“Sudah aku bilang untuk tidak memberi nama pada hewan ternak seperti itu kan, Yui?”


“Tapi-“


“Tidak ada kata tapi. Tindakan semacam itu terlalu berlebihan.”


Natsumi menggelengkan kepalanya. Menghela napas dengan ekspresi menyesal.


“Memangnya ada masalah? Bukankah hal semacam itu biasa saja? Seperti menamai hewan peliharaan?”


Satoru tidak bisa tidak bertanya. Saat itu Yui juga mengangguk seperti ayam mematuk nasi. Meski mengetahui alasannya, gadis itu berpikir menganggap para ternak itu sebagai hewan peliharaan (pet).

__ADS_1


Melihat ekspresi polos Satoru, Natsumi menggelengkan kepalanya.


“Jika aku menebaknya, kamu seharusnya tidak memiliki pengalaman dalam berternak kan, Kouhai-kun?”


“Eh?” Satoru bingung, tetapi masih mengangguk. “Memang.”


“Itulah kenapa kamu memiliki pemikiran menamai mereka seperti hewan peliharaan tidak masalah,” ucap Natsumi.


“Memangnya ada masalah?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Memang ada masalah tentang itu.” Natsumi mengangkat bahu. “Memberi nama tidak membahayakan ternak, tetapi pemiliknya.”


“Membahayakan?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Ya. Lebih tepatnya, ke kualitas mental pemiliknya. Berbeda debgan pet yang bisa mengikuti pemiliknya, sedangkan hewan ternak lebih rentan.”


Melihat Satoru tampak bingung, Natsumi kembali menjelaskan.


“Jika memberi nama, hubungan kalian dengan hewan ternak akan membaik. Hal tersebut merugikan karena ternak rentan mengalami kecelakaan. Mati, usia pendek, kaki patah, produksi susu atau telur berkurang. Alasan semacam cukup untuk membuat binatang ternak digantikan.”


“EH?”


Melihat ekspresi Satoru yang bingung, Natsumi tidak langsung menjelaskan. Sebaliknya, gadis itu langsung mengusir Satoru.


“Sudah, sudah. Kami sibuk, berhenti mengganggu! Kamu akan tahu setelah belajar beberapa saat.”


Setelah itu, Saotu pun diusir dari kandang. Diminta untuk kembali ke asrama sambil merasa agak kebingungan.


Jelas merasa tidak puas karena penjelasan setengah-setengah dari Natsumi.


***


Satu hari adalah waktu yang cepat. Menghabiskan waktu untuk lebih mengenal rekan-rekannya, satu hari berlalu begitu saja.


Pagi di keesokan harinya, semua orang berkumpul di halaman depan sekolah yang sangat luas.


Saat itu juga, Satoru akhirnya melihat orang-orang dari kelas lain. Tidak hanya Manabu di jurusan teknik pertanian atau Takeo di jurusan mekanisasi pertanian, tetapi juga Yui dan Natsumi dari jurusan teknik peternakan.


Mendengar pidato kepala sekolah, Satoru menatap seragamnya lalu menghela napas panjang.


‘Pada akhirnya aku benar-benar bersekolah di tempat ini.’


Memikirkan itu sambil memejamkan matanya, pemuda itu merasakan embusan angin musim semi menerpa wajahnya.


Kehidupan sekolahnya ...


Dimulai dari sekarang!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2