Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Lebih Serius


__ADS_3

Melihat kobaran api hitam, ketiga lelaki tua itu menelan ludah.


Mereka sama sekali tidak menyangka kalau serangan Arthur bisa sekuat itu. Jelas, meski levelnya lebih rendah dibandingkan mereka, tetapi kualitas energi qi lebih murni dan padat dibandingkan milik mereka. Belum lagi, jenis api hitam tidaklah normal.


Walaupun terdengar agak aneh, tetapi energi qi yang memiliki warna berbeda dengan jenis atribut biasanya lebih spesial. Meski tidak semuanya lebih kuat, tetapi mereka memiliki atribut tambahan. Contohnya energi qi angin yang seharusnya berwarna hijau malah berwarna ungu. Jenis yang membawa tambahan atribut racun di dalamnya. Ada juga petir emas yang memiliki tambahan atribut suci dimana bisa memberi dampak lebih kuat jika melawan hantu, roh jahat, atau iblis.


Meski ketiga lelaki tua itu memiliki level tinggi, jenis energi qi mereka bisa dibilang normal. Tentu saja, jenis energi itu tidak seratus persen menentukan kekuatan karena teknik yang mereka miliki juga sangat penting. Selain tingkat teknik itu sendiri, level penguasaan mereka juga sangat berpengaruh.


Merasakan getaran gua, ketiga lelaki tua tahu seberapa destruktif serangan Arthur. Tentu saja, mereka tidak akan tahu kalau selain destruktif, api miliki Arthur bisa terus tumbuh selama dia terus memurnikan jiwa untuk menaikkan levelnya.


“Dibandingkan dengan para jenius, kita memang bukan apa-apa.”


Kijimura berkata dengan senyum masam di wajahnya.


“Untuk apa cemburu. Meski jenius itu hebat, sering kali kesombongan mereka membawa menuju kematian.”


Masanobu berkata dengan nada cemburu. Dibandingkan dengan para jenius nyata, mereka memang tidak seberapa. Namun mereka cukup bangga karena bisa bertahan sampai sekarang. Beberapa rekan ‘jenius’ mereka dulu telah mati karena terlalu berani. Sedangkan mereka yang pengecut malah bisa hidup lebih lama, mencapai tingkat yang bisa dibilang tinggi.


Meski tidak dianggap sebagai jenius nyata atau bakat tingkat monster, ketiga lelaki tua itu juga memiliki reputasi tersendiri. Bakat mereka juga cukup baik. Jika tidak, mereka tidak akan pernah bisa menembus tingkat gold.


“ROOAARR!!!”


Mendengar suara itu, ekspresi ketiganya langsung berubah. Mereka menatap sosok Arthur yang mendarat dengan tenang. Pada saat asap tebal di depan pemuda itu memudar, tampak sosok Ground Dragon yang menatap ke arah mereka dengan wajah ganas.


Meski sempat dijatuhkan dan berguling, sama sekali tidak ada bekas luka di tubuh makhluk itu. Para lelaki tua itu memandang ke arah makhluk itu dengan ekspresi lebih serius.


Normalnya, serangan Arthur harus bisa melukai Ground Dragon. Hanya saja, apa yang mereka lawan sekarang tampaknya memiliki pertahanan lebih kuat. Hal tersebut membuat ketiga lelaki tua merasa kalau pilihan pemuda itu tampaknya menguntungkan karena sisik makhluk itu benar-benar lebih tebal dan kokoh, sangat cocok untuk dijadikan armor.


Tentu saja, Arthur akan lebih marah jika mendengar ketiga lelaki tua itu mengatakan hal semacam itu kepadanya. Lebih tebal dan kokoh, sama sekali tidak terlihat ada daging. Itu saja membuat kepala pemuda itu terasa pusing karena marah.

__ADS_1


“Keras ... lebih keras dibandingkan paduan logam normal.”


Merasakan pergelangan tangannya mati rasa, Arthur bergumam dengan wajah muram. Pemuda itu kemudian menyarungkan kembali pedangnya dan melompat mundur untuk menjaga jarak.


‘Jika tidak bisa menembus pertahanannya dengan ledakan keras, maka ...’


Arthur langsung memegang sarung pedang dengan tangan kiri dan gagang pedang dengan tangan kanan lalu berkata.


“Beri aku waktu!”


“Kamu benar-benar tidak sopan kepada yang lebih tua, Ryuma!”


Mitsusaru berkata tidak puas, tetapi langsung melompat tinggi dan mendarat sekitar sepuluh meter di depan Arthur. Dia langsung memasang kuda-kuda saat melihat sosok Ground Dragon yang bergegas ke arahnya. Lelaki tua itu menghentakkan kakinya, energi biru langsung mengembun di sekitar tangan kanannya.


“Kamu tidak bisa lagi maju!”


SWOOSH!


Saat itu sosok Masanobu melintas. Kedua tinjunya dilapisi dengan kobaran api. Memutar tubuhnya di udara, dia langsung memukul kepala Ground Dragon dengan sekuat tenaga.


BANG!


Gua kembali bergetar. Sebelum guncangan berhenti, cahaya berwarna hijau melintas dengan cepat. Sosok Kijimura menebas titik-titik lemah dari makhluk itu dengan kecepatan luar biasa. Hanya dalam waktu beberapa detik, belasan serangan telah mendarat pada tubuh monster itu.


“Cih! Bahkan hanya meninggalkan sedikit goresan.”


Menghadapi pertahanan yang begitu kuat, Kijimura merasa tertekan. Musuh semacam itu sama sekali tidak cocok dengan dia yang mengutamakan kecepatan dibandingkan kekuatan serangan.


“Mundur!”

__ADS_1


Mendengar teriakan Arthur, ketiga lelaki tua itu terkejut, tetapi langsung mundur. Saat itu juga, mereka melirik ke arah pemuda itu dengan ekspresi terkejut.


Pemuda itu masih dalam posisi kuda-kuda sambil memegang sarung dan gagang pedangnya. Namun, saat ini api hitam berputar dengan kecepatan tinggi di sekitarnya. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu langsung menghunus pedangnya dengan sangat cepat.


“Black Hermit Style ... Black Half-moon!”


Energi pedang hitam pekat seperti bulan sabit hitam muncul saat Arthur menebas secara horizontal. Energi pedang yang dipadatkan dari api hitam itu melesat dengan cepat. Dalam waktu kurang dari tiga napas, langsung menabrak Ground Dragon dengan keras.


CRACK!


Mendengar suara retakan, ketiga lelaki tua terkejut. Saat itu, tampak sebuah luka cukup dalam di bagian bawah leher Ground Dragon. Meski tampak mengerikan, tetapi makhluk itu sama sekali tidak tampak kesakitan. Sebaliknya, makhluk itu meraung marah.


Energi berwarna kuning pucat melapisi seluruh tubuh Ground Dragon. Melihat pemandangan itu, ekspresi semua orang menjadi lebih berat.


“Berhenti main-main jika tidak ingin mati di tempat ini, Pak Tua!” teriak Arthur.


Bersamaan dengan teriakan pemuda itu, empat energi langsung meledak dari tubuh keempat orang itu. Seluruh tubuh mereka langsung dilapisi energi qi.


Kijimura langsung mengeluarkan rantai yang kemudian melilit tangan kirinya. Masanobu langsung mengeluarkan sepasang gauntlet besar dan memakainya. Kuda-kura lelaki tua itu langsung berubah. Sedangkan Mitsusaru merubah kuda-kuda dengan tangan kiri di depan dada, banyak jimat melayang di belakang tubuhnya.


Arthur tidak mengeluarkan benda lain, tetapi hanya merubah kuda-kudanya. Namun saat itu, momentumnya langsung naik lebih tinggi. Bahkan membuat ketiga lelaki tua itu sedikit terkejut dan merasakan ancaman kuat dari pemuda itu.


Di mata Ground Dragon, sosok hitam mengembun di belakang Arthur. Meski tidak terlihat jelas, tetapi makhluk itu samar-samar melihat seekor ular hitam besar yang mentapanya dengan dingin seolah sedang mengincar mangsangnya.


Melirik ke arah Ground Dragon dengan senyum ganas di wajahnya, pemuda itu berkata.


“Kalau begitu ... bagaimana jika kita mulai ronde ke dua?”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2