
Pada suatu pagi buta dimana kabut masih menutupi desa dan hutan di sekitarnya.
Sosok Arthur berjalan di jalan setapak luar desa yang mengarah kembali ke kota sebelumnya. Dia berjalan begitu tenang dengan langkah ringan meninggalkan desa. Namun sebelum dia semakin menjauh, ada suara yang menghentikannya.
“Apakah anda akan pergi tanpa berpamitan?”
Mendengar pertanyaan tersebut, langkah Arthur terhenti. Dia kemudian menoleh ke belakang, memandang sosok Murasaki dengan senyum ramah di wajahnya.
“Sudah tidak ada alasan bagiku untuk tinggal.” Arthur berkata lembut.
“Namun bukan berarti anda harus pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, bukan?”
“Reyna telah menepati janjinya, Midorima telah menjadi lebih dewasa dan menghilangkan keegoisannya, kepala desa mengakui dosanya. Semua telah berjalan dengan baik, jadi sudah waktunya untuk pergi.”
“Kami semua bahkan belum sempat berterima kasih kepada anda.”
“Jika kamu ingin berterima kasih, sebaiknya kamu mengatakannya kepada Reyna. Lagipula, dibandingan denganku, gadis itu lebih banyak berjuang. Juga, aku datang ke sini atas permintaannya dan aku dibayar karenanya, jadi … Kalian tidak perlu berterima kasih kepadaku.
__ADS_1
Jika gadis itu sudah bangun, katakan kalau Arthur pergi terlebih dahulu. Tugasnya selesai dan bayaran diberikan. Itu saja, selamat tinggal.”
Setelah mengatakan itu, Arthur kembali berjalan tanpa menoleh ke belakang.
“Terima kasih banyak, Tuan Muda Arthur!”
Murasaki langsung berkata dengan tulus sambil membungkuk. Saat kembali meluruskan punggungnya, dia melihat Arthur melambai ringan tanpa menoleh ke belakang. Sosoknya perlahan-lahan menghilangan dalam kabut.
Mengingat sosok yang selalu berbicara santai dan mengaku sebagai koki penuh waktu, tetapi begitu kuat sampai-sampai bisa memotong sosok pelindung desa yang telah ada bertahun-tahun lamanya menjadi dua, Murasaki tersenyum lembut.
‘Meski dia adalah pembohong … tetapi dia pembohong yang baik.’
Sementara itu, Arthur yang berjalan di jalan setapak menoleh ke arah hutan dimana ada sosok hitam yang berdiri dalam kabut di kejauhan. Melihat itu, dia menyeringai ramah sambil berkata.
“Kamu harus mengingat janjimu.”
Setelah mengatakan itu, Arthur kemudian benar-benar pergi meninggalkan daerah tersebut. Memulai perjalanannya kembali untuk menjadi koki.
__ADS_1
***
Empat hari kemudian.
“Jika anda benar-benar seorang koki, kenapa tidak bekerja di kapal kami saja, Tuan Muda?”
Turun dari kapal, Arthur langsung ditawari oleh kapten untuk menjadi koki kapal. Jelas, penampilan pemuda itu saat berada di kapal sangat mencolok sampai-sampai membuat mereka terpana. Bukan hanya sekali, tetapi mereka melihatnya dua kali memancing seekor buaya besar. Belum lagi, kata ‘kenapa lagi-lagi buaya biasa’ membuat mereka benar-benar terpana.
Jelas, alih-alih buaya biasa, pemuda itu ingin menangkap makhluk berbahaya yang dipanggil buaya punggung tembaga. Sosok yang lebih ingin mereka hindari.
“Dunia ini begitu luas dan indah, akan sia-sia jika aku tidak berkeliling untuk melihatnya, bukan?”
Melihat ke arah pemuda yang menolak dengan sopan dengan senyum ramah itu membuat kapten hanya bisa menghela napas panjang. Pada akhirnya, dia hanya bisa merelakan orang berbakat itu pergi.
Setelah meninggalkan pelabuhan, Arthur langsung pergi berkeliling kota baru ini untuk melihat-lihat. Pada awalnya, dia tidak berharap banyak, tetapi ekspresinya berubah saat mencium aroma harum dan sedikit memabukkan dari sebuah kedai kecil di pinggir kota.
Mata pemuda itu menyala saat dia berkata.
__ADS_1
“Benar-benar aroma sake yang menggugah selera.”
>> Bersambung.