
“Tampaknya kita perlu mencari anggota yang ahli dalam rune dan membuat jimat, Joe.”
Duduk di atas pedang terbang, ekspresi kosong tampak di wajah Arthur. Merasakan embusan angin musim gugur yang dingin menyapu wajahnya, pemuda itu merasa kalau perjalanan menggunakan pedang terbang benar-benar tidak menyenangkan. Dia langsung mengatakan kalimat tersebut karena tidak ingin kedinginan di musim dingin.
Bahkan jika angin dingin tidak membunuh kultivator setingkat dirinya, Arthur masih tidak menyukai perasaan tidak nyaman seperti itu. Dia merasa, selagi bisa mendapatkan sesuatu yang lebih mudah dan nyaman, kenapa harus selalu mempersulit diri sendiri. Menurutnya, mempersulit diri sendiri adalah keputusan bodoh.
“Bukankah ini menyegarkan, Bos?” tanya Jotaro dengan ekspresi bingung.
“Apakah kamu tidak merasakannya? Semakin hari rasanya menjadi semakin dingin. Jika terus begini, kita akan kesulitan di musim dingin.
Aku harus menemukan ahli dalam membuat rune dan jimat. Buat kereta kuda dengan ruang yang bisa diatur suhunya. Perjalanan pasti akan lebih mudah!”
“Bukankah itu terlalu lama, Bos?”
“Memang lama. Namun apa salahnya menggunakan waktu senggang untuk bersantai? Memangnya kelompok itu akan terus mengirimi misi tanpa istirahat? Jelas tidak, kan?
Eh? Tunggu sebentar.”
Memikirkan beberapa senior yang sibuk berkeliling untuk menyelesaikan tugas, ekspresi Arthur berubah menjadi lebih buruk. Dia baru sadar kalau jadwal kerja mereka tidak hanya padat, tetapi sangat padat!
“Mereka tidak akan menyuruh kita berkeliling di musim dingin kan, Joe?”
“Errr ... mungkin?” Jotaro menggaruk pipinya sambil memasang ekspresi berpikir.
“Bukankah aku ketua divisi 10, Joe?”
Arthur bertanya dengan ekspresi termenung.
“Benar, Bos.”
“Menjadi pimpinan, bukankah itu berarti hidup nikmat? Maksudku, kebanyakan pimpinan menyuruh para bawahannya bekerja sementara dia mengambil uang rakyat dan membesarkan perutnya sendiri kan?
Lihat aku! Kurus kering dan bisa runtuh diterpa angin, tetapi masih disuruh berkeliling berburu makhluk-makhluk jahat. Gelar kosong macam apa ini!”
Arthur menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan di wajahnya.
__ADS_1
“Bukankah Tuan Arima juga sering berkeliling, Bos?”
“Diam! Jangan bandingkan aku dengan lelaki gila kerja itu!”
“...”
Jotaro benar-benar terdiam. Dia merasa serba salah. Diam disalahkan, menjawab pun juga disalahkan. Melihat ketua divisi yang tampak tidak berguna ketika tidak dibutuhkan, pria itu hanya bisa menghela napas panjang.
“Lihat itu, Joe! Sungguh danau yang sangat besar!”
Setelah pemandangan hutan luas penuh dengan daun berguguran, tampak sebuah pemandangan danau yang luas. Di dekat danau, tampak sebuah kota yang tidak terlalu besar dengan bangunan tradisional.
Nama kota tersebut adalah Kota Danau Giok, tempat mereka akan menjalankan misi.
Hampir semua warga di Kota Danau Giok adalah seorang yang menggantungkan hidup mereka dengan melakukan budidaya ikan air tawar di danau. Mereka menjualnya ke kota-kota lain. Meski jumlah yang mereka keluarkan setiap bulan sangat banyak, semuanya tetap laku karena ikan-ikan di danau ini cukup khas. Meski bukan monster atau binatang khusus, ikan-ikan itu masih memiliki rasa enak, gurih, agak manis, dan tidak terlalu amis.
“Eh? Kenapa kamu mengeluarkan joran, Bos?”
“Meski kebanyakan warga kota menggunakan danau sebagai tempat budidaya ikan air tawar, tetapi tidak seluruh danau digunakan. Pada kenyataannya, kurang dari 1/3 dari danau yang mereka gunakan sebagai tempat budidaya, dan itu sudah dianggap perikanan terbesar di kerajaan ini.
“...”
Entah kenapa, Jotaro merasa kalau Arthur tiba-tiba melupakan alasan mereka repot-repot datang ke tempat ini. Hanya saja, ketika melihat ekspresi penuh semangat pemuda itu, dia sama sekali tidak berani menyela. Pria tersebut merasa kalau dirinya mungkin akan dijatuhkan dari atas pedang terbang jika bicara macam-macam sekarang.
“Tunggu sebentar! Alasan kita datang ke sini jelas bukan untuk memancing. Kenapa kamu tidak mengingatkanku, Joe?!”
“Tarik napas dalam-dalam, Joe. Tenangkan dirimu.” Jotaro bergumam pelan sambil menenangkan dirinya sendiri.
“Kita akan turun lalu bertanya kepada tuan kota.”
Menyimpan kembali joran miliknya, Arthur langsung mengarahkan pedang terbang untuk pergi menuju ke rumah terbesar di kota.
Pada saat mereka turun, tampak banyak orang yang memandang mereka dengan ekspresi kagum. Melihat pemandangan seperti itu, Jotaro menghela napas panjang. Tidak seperti beberapa kota yang memiliki beberapa kultivator karena mudah diakses sehingga mereka bisa saling bertemu, pada kenyataannya, lebih banyak kota yang tidak memiliki kultivator. Khususnya bagi kota-kota di perbatasan atau lokasi terpencil yang jauh dari pusat ibukota kerajaan.
Tentu saja, tempat dimana ada tambang atau beberapa lokasi yang memiliki cukup manfaat bagi kultivator adalah pengecualian.
__ADS_1
Contohnya Kota Danau Giok ini. Meski cukup makmur, tetapi tidak ada kultivator yang tinggal di sini. Paling-paling hanya ada beberapa dari mereka yang mampir ketika berkelana. Meski dekat dengan danau dan hutan yang luas, sama sekali tidak ada tumbuhan atau jenis batu berharga di sini. Bukan hanya lokasinya terpencil, jelas tidak ada monster yang mau tinggal di tempat dengan energi qi yang begitu gersang seperti ini.
Oleh karena itu, Arthur sendiri merasa bingung kenapa tuan kota repot-repot menyewa jasa Garden of Death yang meski bagus, tetapi terkenal mahal. Dalam sekilas, sama sekali tidak ada keanehan di kota tersebut.
Arthur menggelengkan kepala. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya karena bisa meminta penjelasan dari tuan kota.
Mereka berdua melompat dari atas pedang terbang, mendarat tepat di depan gerbang rumah tuan kota. Arthur langsung menyimpan pedang terbangnya. Menghela napas, pemuda itu langsung berkata kepada penjaga.
“Tolong panggilkan Tuan Kota. Kami adalah perwakilan dari Garden of Death yang datang untuk menjalankan misi.”
“Mohon tunggu sebentar, Pak. Kami telah melapor dan Tuan akan segera keluar.”
Penjaga yang memakai pakaian tempur dan membawa senjata di pinggang mereka memberi hormat kepada Arthur.
“Baik.” Arthur mengangguk ringan.
Setelah menunggu beberapa saat, mereka mendengar langkah kaki yang begitu berat. Pintu gerbang dibuka, lalu sosok tuan kota pun muncul di hadapan Arthur dan Jotaro.
‘Bulat.’
Itulah hal pertama yang Arthur dan Jotaro pikirkan ketika melihat pria paruh baya gempal dengan kepala pelontos dan mata sipit. Orang itu langsung menghampiri Arthur lalu memegang tangannya dengan ekspresi penuh syukur.
“Syukurlah anda telah tiba, Tuan. Jika anda tidak muncul, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ah! Bodohnya saya! Maafkan saya karena terlalu antusias, Tuan-tuan.”
Pria itu langsung mundur. Memiliki ekspresi malu di wajahnya, pria paruh baya tersebut kembali berkata.
“Anda pasti lelah setelah melakukan perjalanan. Jika berkenan, silahkan masuk untuk menghangatkan diri. Meski tidak mahal, kami juga memiliki produk andalan yang mungkin anda suka.
Masakan unagi khas Kota Danau Giok!”
Mendengar betapa antusiasnya tuan kota, Arthur dan Jotaro saling memandang lalu mengangkat bahu. Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam rumah tuan kota.
>> Bersambung.
__ADS_1