Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Naik-Naik Ke Puncak Gunung


__ADS_3

Keesokan paginya.


“Apakah kalian baik-baik saja?”


Melihat semua orang yang telah ‘sadar’ dan tidak lagi kerasukan, Arthur menghela napas lega. Setelah semua orang makan, mereka langsung tidur karena kelelahan. Bahkan Lily dan Jotaro juga tampak mengantuk, jadi dia menyuruh mereka untuk pergi tidur.


Saat itu juga, Arthur yang memilih untuk menjaga mereka. Namun, dia juga menggunakan kesempatan tersebut untuk melepaskan Gluttony. Karena para serigala berakhir tragis dan tidak layak diurus, dia membiarkan Gluttony untuk membersihkan lokasi kejadian.


Gluttony tampaknya sangat puas karena bisa makan cukup penuh. Dia bahkan menyarankan membawa orang-orang gila itu (Divisi 9) untuk terus berburu bersama karena jika hasilnya terus seperti ini, mereka pasti bisa memberinya banyak makanan karena kegilaan yang terjadi saat bertarung jelas membuat bahan tidak bisa diambil atau dijual, akhirnya masuk ke dalam mulut Gluttony.


Mendengar itu, Arthur memutar matanya. Dia merasa kalau Gluttony menjadi agak serakah setelah beberapa kali muncul. Hal tersebut membuatnya merasa ingin mengurung Gluttony beberapa waktu. Memaksa makhluk itu untuk puasa cukup lama sambil merenungkan kesalahannya.


Lagipula, bahan-bahan yang dia dapatkan tidak akan pernah rusak ketika disimpan oleh Koi Hitam. Jadi pemuda itu sama sekali tidak khawatir apakah bahan akan menjadi sia-sia atau tidak jika tidak ditelan Gluttony.


“Terima kasih atas perhatianmu, Arthur. Maafkan kami karena bersikap kenakan-kanakan kemarin malam.” Daiki menggaruk belakang kepalanya.


“Tidak apa-apa. Namun, kemarin aku memeriksa. Karena tidak ada bahan yang bisa diambil, aku memutuskan untuk membakarnya agar tidak menarik perhatian makhluk lain. Apakah itu tidak masalah?”


“Tentu saja bukan masalah! Terima kasih banyak, Arthur.”


Daiki benar-benar merasa malu. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau dirinya dan Divisi 9 akhirnya diurus oleh Arthur. Dia kemudian melirik ke arah Lily dan Jotaro. Tampaknya mereka juga diurus oleh pemuda itu.


‘Benar-benar seorang lelaki yang serba bisa.’


Daiki tidak bisa tidak menghela napas panjang karena kagum. Orang-orang dari Divisi 9 yang mulai bangun juga berterima kasih kepada Arthur dan minta maaf karena telah merepotkan pemuda itu semalam.


Arthur sama sekali tidak peduli. Sebaliknya, dia malah menanggapi dengan ramah. Lagipula, apa yang pemuda itu lakukan juga bukan tanpa bayaran. Hanya saja, di mata orang lain, dia telah dianggap sebagai lelaki yang baik hati dan peduli sesama.


Status Arthur di hati mereka sekali lagi naik satu tingkat, menjadi orang yang layak untuk dihormati dan dicontoh!


Setelah sarapan bersama, mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan.


***


Fajar, dua hari kemudian.


Arthur, Daiki, dan rekan-rekannya akhirnya mulai mendaki gunung. Pegunungan yang mereka disebut Frostpeak Mountain. Benar-benar cukup tinggi dan merepotkan untuk didaki. Menurut informasi, Frost Wyvern itu tinggal di puncak gunung ini.

__ADS_1


Arthur sempat bertanya apakah makhluk itu hidup dalam kelompok karena begitulah yang tertulis di buku. Namun Daiki menjawab kalau makhluk yang mereka buru itu sendirian. Tampaknya terpisah dari kelompok karena suatu alasan.


Hal semacam itu memang sering terjadi. Bukan hanya di dunia binatang, tetapi juga dunia manusia. Dijauhi karena berbeda, dianggap tidak ada, dan semacamnya. Alasannya bermacam-macam. Entah itu kasta, penampilan, dan semacamnya.


Arthur mengangguk ringan. Melihat ke arah kejauhan, pemuda itu berkata.


“Tampaknya ini akan merepotkan bagi anggota lain. Haruskah kita membawa mereka bolak-balik bergiliran?”


Jauh di depan Arthur, Daiki, dan rombongan, tampak sebuah tebing. Jika ingin melanjutkan perjalanan, mereka perlu melewati jalan kecil di tepi tebing curam. Hal tersebut jelas sangat berbahaya untuk dilalui. Bukan hanya pijakannya tidak begitu kokoh, tetapi tiupan angin dingin juga cukup kencang.


Jika sampai jatuh ratusan meter ke bawah, mereka benar-benar akan diubah menjadi pasta. Sama sekali tidak ada kesempatan untuk selamat!


“Tidak, Bos! Bahkan jika anggota Divisi 9 ingin diangkut, aku tidak ingin melakukannya.


Aku ingin melewati jalan ini sendiri. Meski berbahaya, ini juga dianggap sebagai latihan. Jika sampai jatuh lalu mati, itu artinya aku tidak pantas menjadi anggota Divisi 10. Hanya itu!”


Melihat ekspresi tegas Jotaro, banyak orang terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pria itu begitu sembrono. Namun, hal tersebut juga bisa membuktikan kepada mereka kalau tekad Jotaro lebih kuat dibandingkan orang-orang biasa seperti mereka.


Pada saat itu, satu per satu orang akhirnya memutuskan untuk mengikuti Jotaro. Ingin mengasah diri untuk menghadapi rasa takut. Berusaha menjadi lebih berhati-hati dan fokus!


Arthur tiba-tiba berkata dengan nada serius.


“Aku tahu kalau kamu ingin menjadi kuat, Jotaro. Meski begitu, sebagai ketua, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Kamu boleh mencobanya, dan aku akan mengawasimu. Jika kamu memang jatuh. Aku akan mengulurkan tanganku.


Jangan memikirkan sesuatu yang bodoh. Semuanya butuh proses. Tidak peduli berapa lama, yakinlah ... kamu juga akan menggapai tujuanmu. Kalian juga sama! Coba saja jika ingin, tetapi jangan putus asa jika gagal!


Pasti akan ada kesempatan lain untuk memperbaiki diri.”


Mendengar ucapan Arthur, banyak orang merasa terharu. Mereka tidak menyangka kalau ada ketua yang begitu mempedulikan seorang ‘pekerja’ seperti mereka. Saat itu, Lily menghampiri Jotaro lalu menarik pakaiannya.


“Joi, Joi ... kamu harus semangat! Kamu bisa melakukannya!”


Melihat gadis kecil mengepalkan tangan dan bersorak untuknya, Jotaro merasa matanya agak basah. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dua rekannya akan begitu mendukungnya. Melihat ke arah mereka, dia berkata dengan ekspresi tegas.


“Aku pasti akan berhasil!”


***

__ADS_1


Sore harinya, di sisi lain tebing.


Tampak banyak orang yang duduk di tanah dengan ekspresi lelah di wajah mereka. Sebagian dari mereka jelas terlihat kecewa karena gagal. Meski ditolong sehingga bisa sampai tempat itu, tetapi mereka tidak puas dengan pencapaian mereka sendiri.


Sebagian kecil dari mereka tampak sangat lelah, tetapi juga puas karena berhasil sampai tempat itu dengan kaki mereka sendiri. Jotaro adalah salah satu bagian dari kelompok kecil ini. Meski napasnya naik-turun, dia masih menatap ke arah Arthur dan Lily sambil tersenyum.


Sebagai tanggapan, Arthur mengacungkan jempol. Puas dengan pejuangan Jotaro. Sementara itu, Lily sendiri digendong di belakang punggung Arthur. Tampaknya gadis itu merasa mengantuk karena bosan menunggu.


Melihat ke atas mereka tahu kalau puncak tidak jauh lagi. Meski begitu, mereka masih perlu mendaki daerah yang dianggap cukup berbahaya karena harus melewati kabut asap tebal yang sebenarnya awan jika dilihat dari kejauhan.


Bukan hanya dingin, tempat itu sulit dilewati karena jarak pandang mereka yang begitu terbatas. Jika hilang arah dan asal menginjak, apa yang mereka pijak bisa hancur. Akhirnya menggelinding ke bawah lalu terlempar ke jurang. Hasilnya tentu saja sama, menjadi pasta daging.


Ya ... mungkin bedanya lebih lembut.


“Beristirahat saja di tempat ini untuk satu malam. Kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi. Terlalu berbahaya bergerak di sore, apalagi malam hari.”


Mendengar ucapan Arthur, semua orang mengangguk setuju. Saat itu, Daiki mendekati Arthur lalu bertanya.


“Apakah kamu memiliki ide, Arthur?”


“Ikat semua orang dengan tali. Aku akan memimpin jalan, penglihatanku lebih baik daripada kebanyakan orang.”


“Dengan tali? Apakah kamu gila?”


Meski menggunakan tali agar yang berada di belakang bisa mengikuti dengan mudah itu baik, tetapi resikonya terlalu tinggi. Bayangkan saja, jika salah satu tergenlincir ke bawah, orang itu bisa menarik sisa orang lainnya. Jadi, bukan hanya satu orang, tapi banyak orang akan langsung dikirim menjadi pasta daging.


Memikirkan itu saja membuat Daiki menggelengkan kepalanya. Saat itu juga, suara Arthur kembali terdengar.


“Setelah menguji keberanian, menurutmu apa yang perlu diuji?”


“Maksudmu?”


Daiki mengankat alisnya, menatap ke arah Arthur dengan ekspresi tidak percaya. Saat itu, pemuda tersebut tiba-tiba mengangguk dan berkata.


“Melatih kepercayaan sesama anggota. Saling bergantung satu sama lain tanpa meninggalkan seorangpun di belakang.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2