
Sore hari setelah jam pelajaran selesai.
Tampak empat murid di toilet sekolah dengan perlengkapan kebersihan di tangan mereka.
“Sekolah ini benar-benar keterlaluan.”
Memiliki ekspresi kosong di wajahnya, Satoru benar-benar merasa agak tertekan. Saat itu, suara ramah terdengar di telinganya.
“Jangan terlalu dipikirkan, Sobat! Don’t mind! Lakukan saja dengan santai!”
Mendengar itu, Satoru menatap ke arah Takeo dengan wajah suram. Sementara itu, Manabu sibuk bersih-bersih dan Ono juga membersihkan toilet dengan ekspresi malu.
“Kalian yang menyebarkan berita itu! Kenapa juga aku ikut dihukum?” tanya Satoru dengan ekspresi tak berdaya.
Mengikuti perintah kepala sekolah, Satoru dan ketiga teman asramanya dihukum membersihkan toilet sekolah selama satu minggu penuh. Itu dilakukan setelah jam pelajaran biasa selesai, dan jam untuk ekskul akan dipotong.
Mereka harus bersih-bersih toilet terlebih dahulu sebelum mengikuti ekskul. Setelah mereka lelah bersih-bersih, mereka masih harus mengikuti kegiatan melelahkan itu!
“Bukankah kepala sekolah sudah mengatakannya, Sobat. Itu yang disebut persatuan, semua untuk satu dan satu untuk semua.”
Takeo berkata dengan ekspresi serius meski tidak terlalu memahami maksud kepala sekolah. Itu membuat Manabu dan Ono hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Benar-benar merasa malu karena semua menjadi seperti ini.
‘Bukankah itu artinya jika aku terbang, kalian bisa terbang. Jika kalian terseret air, aku yang akan tenggelam? Itukah yang disebut keadilan? Siapa yang mau percaya omong kosong itu!’
Satoru menghela napas panjang. Dia juga merasa agak kesal karena Natsumi tidak dihukum karena statusnya sebagai korban.
‘Kamu hampir menghancurkan masa depan gadis tidak bersalah, kamu tidak akan tega melihatnya dihukum karenamu, kan?’
Pernyataan dari Bu Tashigi yang setajam pedang membuat Satoru merasa tak berdaya. Dia benar-benar merasa ditargetkan. Membuatnya merasa tertekan setengah mati!
***
Selesai membersihkan toilet, Satoru pergi ke kandang kuda dengan Ono.
Dalam perjalanan, Satoru menatap ke arah teman satu asrama itu dengan ekspresi serius. Saat itu, dia berbicara dengan nada tegas.
“Kamu tidak berusaha menjebakku karena hubunganku dengan Natsumi-senpai agak baik kan?”
Mendengar pertanyaan itu, Ono tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Satoru akan berpikir seperti itu. Namun pemuda itu mengerti kenapa teman satu asramanya memikirkan itu.
__ADS_1
“Maafkan aku Satoru-san. Mungkin kamu tidak percaya perkataanku, tetapi aku sama sekali tidak menyebarkan berita itu. Manabu dan Takeo bertanya, aku hanya berpikir kamu jalan-jalan dengan Natsumi-senpai.
Ketika ditanya, mereka berdua berkata kalau kamu adalah pemuda yang patut dicontoh karena bisa mendekati salah satu gadis paling cantik di sekolah, dan hanya itu. Jadi ... kami benar-benar tidak tahu kalau semuanya mengarah pada hal semacam itu.
Menduga kalau kamu melakukan perzinahan dan hampir dikeluarkan karena kami. Ya, kami tahu kalau kamu pasti merasa kesal dan membenci kami karena itu.”
“Lihat aku, Ono.”
Mendengar itu, Ono menoleh. Satoru menatapnya dengan ekspresi serius. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.
BRUAK!
Satoru langsung memukul perut Ono sampai pemuda itu jatuh ke tanah. Setelah itu, pemuda tersebut berkata, “Sekarang impas. Kamu tidak perlu lagi merasa tidak enak kepadaku.”
Satoru melihat ekspresi bersalah Ono. Mungkin ekspresi bisa diubah, tetapi mata yang menunjukkan penyesalan itu tidak mudah diubah. Justru karena tahu Ono tidak melakukannya dengans sengaja, dia memukulnya agar mereka impas.
Tidak berniat melakukannya bukan berarti Ono tidak bersalah.
Selain itu, jika pemuda itu memang sengaja melakukan hal keji semacam itu, Satoru tidak hanya akan memukul perutnya. Bisa saja, dia memperhitungkan sesuatu dan membalasnya dengan cara lebih keji.
Saat itu, Satoru mengulurkan tangannya sambil berkata, “Tidak bisakah kamu berhenti berlebihan? Itu hanya pukulan ringan.”
Ono bingung apakah harus menangis atau tertawa. Melihat ke arah Satoru yang mengulurkan tangannya, dia meraihnya sambil memasang senyum masam. Merasa agak tidak berdaya sekaligus senang karena tampaknya pemuda itu tidak memendam dendam pada mereka.
Ketika bangkit, Ono mendengar ucapan Satoru.
“Tenang saja, kedua orang itu juga akan mendapatkan jatah. Manabu, lemaknya lebih tebal jadi akan memukulnya sedikit lebih keras. Sedangkan Takeo ... mulut ember itu perlu dipukul dua kali!”
Mendengar itu, Ono langsung bingung harus menangis atau tertawa. Dia jelas dianggap paling lemah di antara rekan satu asrama, tetapi itu juga bisa dianggap sebagai keuntungan. Memikirkan kedua temannya yang akan diberi balasan lebih keras, khususnya Takeo yang akan dipukul dua kali, Ono hanya bisa berdoa dalam hatinya.
‘Tahan saja dan semua akan segera berakhir, Manabu! Takeo!’
Kembali berjalan menuju kandang kuda, suara Satoru kembali terdengar di telinga Ono.
“Lain kali kalian harus hati-hati. Terkadang ucapan lebih berbahaya daripada pedang tajam. Mungkin kalian hanya menyebarkan fakta atau yang kalian pikir berita bahagia, tetapi tentu saja ada orang yang tidak bisa menerimanya.
Entah di kota, di desa, atau bahkan di tempat terkecil sekalipun, selama itu manusia, kita tidak bisa membuat mereka semua menyukai kita. Selagi ada yang suka, pasti ada juga yang membenci. Kita tidak bisa mengubah ini.
Itulah kenapa kita harus berjaga-jaga untuk melindungi diri. Lagipula, sesuatu yang dilakukan orang-orang seperti itu terkadang hanya menyebarkan kebencian, tetapi juga bisa berakibat fatal.
__ADS_1
Mereka mungkin berpikir kalau berita itu hanya membuat namaku kotor dan dibenci para gadis. Namun, hasilnya bisa lebih buruk dari itu.
Aku dan Natsumi bisa dikeluarkan. Sekolah lain mungkin tidak menerima kami. Kami akan dibenci orang-orang sekitar karena gosip itu. Bahkan sulit mencari pekerjaan dan berakhir dengan tragis, kehilangan masa depan.”
Satoru menatap langit sore lalu menghela napas panjang.
“Sekarang kamu mengerti kenapa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan kan?”
Mendengar itu, Ono mengangguk berat. Pemuda itu kemudian berkata dengan nada tulus, penuh rasa terima kasih dan minta maaf.
“Terima kasih karena tidak membenci kami karena ini, Satoru-san.”
“Itu karena kalian tidak melakukannya dengan sengaja. Jika tidak ...”
Satoru menoleh dengan senyum ‘ramah’ di wajahnya.
“Tentu saja kalian harus mendapatkan ‘pembayaran’ yang sesuai!’
***
Setelah sampai di kandang kuda, Satoru dan Ono membantu para murid kelas satu lainnya.
Usai pekerjaan mereka selesai, mereka semua beristirahat sejenak. Saat itu, lima orang lainnya bertanya pada Satoru dengan ekspresi penasaran di wajah mereka. Untuk para remaja yang suka bergosip ini, pemuda benar-benar merasa agak tidak berdaya.
“Sebenarnya ini yang terjadi ...” ucap Satoru sambil menjelaskan.
Mendengarkan penjelasannya, mereka semua akhirnya paham apa yang telah terjadi. Murid-murid kelas 1 itu tampaknya mendukung Satoru dengan kata-kata dan diam-diam mengeluh pada Pak Sengoku karena tidak segera datang untuk membela.
Tentu saja, Satoru tahu kalau orang-orang seperti itu lebih mirip dengan air di atas daun talas. Ketika mendengari ini, mereka akan ke sini. Ketika mendengar itu, mereka akan ke situ. Jadi lebih baik tidak bergitu memikirkannya.
“Semua murid kelas satu, segera berkumpul di lapangan.” Pak Sengoku berkata dengan ekspresi tegas.
Selesai istirahat, Pak Sengoku mengizinkan mereka menaiki kuda. Jika kemarin hanya naik, sekarang mereka boleh mencoba jalan-jalan sebentar. Hal tersebut membuat para murid kelas 1 senang sementara kelas 2 dan kelas 3 bingung.
Lagipula, tidak biasanya Pak Sengoku bisa sebaik itu!
Mereka hanya tidak sadar, tampaknya pria paruh baya itu sedang dalam suasana hati yang baik sore ini. Tidak hanya tidak dihukum, dia mendapatkan pujian dari kepala sekolah. Yang paling penting ...
Gajinya tidak jadi dipotong! Tentu saja itu membuatnya bahagia!
__ADS_1
>> Bersambung.