
Beberapa hari berlalu begitu saja.
Dalam beberapa hari ini, Satoru mengerjakan tugas harian seperti biasa. Dia bangun pagi, membersihkan kandang, memberi makan para kuda, dan melakukan aktivitas lebih banyak daripada biasanya. Lagipula, teman-teman di klub yang sama sekarang kembali ke rumah masing-masing saat Golden Week.
Walau demikian, Satoru masih mendapatkan cukup banyak waktu senggang karena tidak ada jam pelajaran. Jadi, selain mengurus kuda dan babi, dia benar-benar santai. Bahkan merasa cukup bingung harus melakukan apa.
Pada akhirnya, Satoru menggunakan waktunya untuk mengunjungi klub lain, mempelajari buku pelajaran kelas 1, dan bermeditasi di malam hari. Lagipula, dia tidak membawa peralatan elektronik apapun.
Hari ini, Satoru berencana pergi bersama Natsumi.
Berjalan menuju ke gerbang sekolah, pemuda itu tidak bisa tidak merasa gugup. Walau selalu menjadi ‘pangeran’ di sekolah sebelumnya, pemuda itu sama sekali tidak pernah berkencan. Dia menjauhi para gadis dan menolak mereka karena tahu apa yang para gadis itu pikirkan.
Sedangkan sekarang, Satoru merasa gugup karena tanpa sadar akan mengalami kencan pertamanya.
‘Di Hokkaido yang masih agak dingin meski di musim semi, penampilanku tidak berlebihan, kan?’
Pemuda itu kemudian melihat ke arah pakaiannya. Celana panjang hitam, kaos turtle-neck lengan panjang warna hitam, sepatu putih, jam tangan, dan kalung perak. Satoru sudah mencoba gaya yang dia anggap minimalis, tetapi agak takut dianggap berlebihan.
Sampai di lokasi, Satoru melihat sosok Natsumi. Gadis itu memakai celana levis berwarna biru tua, kemeja kotak-kotak warna merah-hitam dengan kancing atas dibuka dan bagian lengan panjang dilipat, menampilkan kaos hitam di dalamnya. Rambut panjangnya juga diikat ekor kuda, tampak agak tomboy tetapi juga menonjolkan sosoknya yang luar biasa.
Saat itu, Satoru dan Natsumi saling memandang dengan ekspresi heran di wajah mereka.
Beberapa saat kemudian, Satoru yang sadar terlebih dahulu menggaruk belakang kepalanya sambil bertanya, “Apakah aku membuatmu menunggu lama?”
Natsumi langsung tersadar dari lamunannya. Memiliki sedikit rona merah yang tidak begitu terlihat di kulit coklatnya, gadis itu memasang senyum ceria seperti biasa.
“Seharusnya kamu datang lebih awal, Kouhai-kun! Meski tidak terlambat, tetapi kamu datang terlalu tepat waktu. Itu membuat orang lain menunggu terlalu lama!”
Mendengar itu, Satoru merasa agak bingung. Pemuda itu diam-diam bertanya dalam hatinya.
‘Bukankah itu karena kamu tidak bisa mengatur waktu? Melakukan semuanya terlalu cepat atau malah terlambat?’
Natsumi melihat ekspresi tidak setuju di wajah Satoru dengan wajah cemberut. Dia merasa agak marah karena pemuda yang ada di depannya benar-benar terlalu lurus, sama sekali tidak memiliki pemikiran lain. Namun, gadis itu juga merasa agak senang karena Satoru berbeda dengan para pemuda yang biasanya hanya suka melihat paras dan memiliki pemikiran buruk.
Hanya saja, Satoru benar-benar begitu tidak peka dalam hal-hal tertentu dan itu membuatnya merasa frustrasi!
__ADS_1
Melihat Natsumi yang cemberut, Satoru benar-benar merasa bingung karena tidak merasa melakukan kesalahan. Pemuda itu merasa kalau perempuan itu benar-benar makhluk yang sangat rumit.
Dia kemudian memperhatikan Natsumi dari atas ke bawah. Sambil menggaruk pipinya, pemuda itu berkata, “Itu cocok untukmu.”
Duk!
“Aduh!”
Melihat Natsumi yang tiba-tiba menendang tulang keringnya, pemuda itu benar-benar tercengang. Sebelum memprotes, Satoru melihat gadis itu memelototinya dengan wajah merah.
“Berhenti membicarakan sesuatu yang memalukan!”
Satoru benar-benar tidak tahu apa yang membuat gadis itu marah. Melihat Natsumi berjalan menuju ke arah jalan raya di kejauhan terlebih dahulu, dia hanya bisa mengikuti dengan senyum masam di wajahnya.
***
Sekitar jam sepuluh di hari yang sama.
Satoru yang melihat pemandangan di depannya merasa agak bingung.
Meski Satoru tidak ikut kursus berkuda ketika masih ada di Tokyo, pemuda itu masih sedikit mengerti. Di kota, sebenarnya ada olahraga semacam itu, hanya saja dia kurang menyukainya karena terkesan kurang bebas.
Menurut pengetahuannya, balap kuda hanyalah balap kuda dan dia tidak terlalu suka menontonnya.
“Jika kamu ingin tahu, ada jenis tiga balap kuda.” Natsumi berkata dengan nada bangga. “Balap kuda tersebut disebut balap datar, balap lompat, dan terakhir seperti yang kita kunjungi sekarang ... Ban’ei kyoso.”
“Ban’ei kyoso?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.
“Seperti namanya, Ban’ei kyoso adalah bentuk pacuan kuda di mana kuda penarik akan menarik kereta luncur berat ke atas landai pasir, didorong oleh joki yang menyeimbangkan kereta luncur. Jika sulit membayangkannya, maka lebih baik melihatnya secara langsung.
Omong-omong ... hey! Kamu juga datang ke sini, Miyuki!”
Natsumi tiba-tiba melambaikan tangannya. Saat Satoru menoleh, dia melihat Miyuki, anggota klub berkuda kelas 1 sama sepertinya. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkejut.
Selain Miyuki, ada juga orang lain dan dia sama sekali tidak asing. Orang itu adalah teman satu asrama dengannya ... Ono.
__ADS_1
Sama seperti teman sekamarnya itu, tampaknya Ono juga terkejut ketika melihat Satoru dan Natsumi.
‘Kenapa dia ada di sini? Omong-omong, pantas saja dia menghilang begitu awal pagi ini.’
Mengingat bagaimana Ono yang gugup dan tampak terburu-buru, Satoru menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata temannya telah mendapatkan kemajuan yang begitu signifikan. Tiba-tiba berkencan dengan murid kelas 1 yang dianggap cantik oleh teman sebaya mereka!
“Karena kalian berdua juga ada di sini, bagaimana kalau menonton balapan bersama?”
Natsumi langsung berbicara ramah sambil menyapa Miyuki dan Ono. Tidak memiliki alasan menolak, mereka berdua mengangguk setuju. Dengan begitu, mereka berempat pergi untuk membeli tiket.
Hanya saja, ketika mereka membeli tiket, sekali lagi sesuatu yang di luar dugaan terjadi.
“Ternyata itu benar-benar kamu Paman!”
Mendengar teriakan Natsumi, sosok yang sedang mengantre di lobi tiba-tiba menoleh. Melihat orang itu, Satoru, Ono, dan Miyuki tampak terkejut.
Jelas, orang itu adalah Pak Sengoku. Namun yang membuat mereka terkejut bukan kehadirannya, tetapi alasan kenapa orang itu datang.
Dalam balapan kuda ... tentu saja ada judi!
“Apakah kamu tidak mendengar perkataan Nenek! Kebiasaan burukmu berjudi itu benar-benar harus disingkirkan! Dasar paman busuk, bisa-bisanya aku bertemu denganmu di sini!”
Merasakan tatapan orang di sekitar, Pak Sengoku langsung melesat ke arah Natsumi yang berjalan ke arahnya lalu menutup mulut gadis itu. Memiliki ekspresi bijaksana di wajahnya, pria itu mulai menjelaskan.
“Ini sama sekali tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku di sini bukan hanya berjudi, tetapi sebagai pecinta kuda yang sesungguhnya sekaligus guru pembimbing klub berkda, tentu saja aku harus mengetahui segala hal tentang berkuda.
Misalnya, bagaimana cara merawat kuda yang baik, membesarkan kuda, membedakan ciri-ciri kuda berkualitas, tentu saja yang paling penting ... cara menggunakan kuda! Karena sekarang tidak ada perang seperti dahulu, jadi hanya tersisa perlombaan semacam ini.
Aku harus mendalami perlombaan semacam ini! Itu berarti mengikuti segala sesuatu yang bersangkutan dengannya.
Tentu saja, itu termasuk judi!”
Mendengar bagaimana Pak Sengoku yang memuntahkan omong kosong dengan ekspresi lurus dan benar, Satoru dan teman-temannya langsung kehilangan kata-kata. Mereka sama sekali tidak menyangka ...
Ternyata ada orang yang begitu tidak tahu malu semacam itu!
__ADS_1
>> Bersambung.