Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
184


__ADS_3

Sore harinya, setelah jam praktik selesai.


“Kenapa kita harus tetap mengikuti pelajaran ekskul meski sudah lelah seperti ini?” ucap Ono yang berjalan di sebelah Satoru.


“Seperti kata Chiaki, mungkin ini dibuat agar kita bisa lebih santai tidak terlalu stres?”


Satoru berkata dengan nada agak kurang yakin. Bahkan jika itu cukup masuk akal, tetapi hari-hari yang pemuda itu alami sekarang memang cukup berat. Belum lagi, di sini dia hanya mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas.


Rasanya ... seperti menghabiskan waktu dengan sia-sia.


Berjalan menuju ke tempat klub berkuda berada, Satoru dan Ono tampak agak bingung. Merasa agak ragu, tetapi juga tidak tahu harus memilih ekskul apa lagi.


Apa yang membuat Satoru merasa agak aneh adalah ...


Kenapa Ono ingin bergabung dengan klub berkuda padahal dia sebenarnya tidak menyukai hal semacam itu.


“Ono?” panggil Satoru.


“Ada apa, Satoru-san?”


“Apakah kamu memiliki alasan datang ke tempat ini? Selain itu, tampaknya kamu mengenalku. Apakah aku benar?”


Mendengar pertanyaan dari Satoru, Ono tidak langsung menjawab. Dia berjalan sambil menatap langit dengan ekspresi kosong. Beberapa saat kemudian, barulah pemuda itu membuka mulutnya.


“Aku sebenarnya tidak begitu mengenalmu, Satoru-san. Hanya pernah melihatmu di majalah. Juara perlombaan junior kendo (pedang) dan kyudo (panahan) tingkat nasional. Menurutku, agak aneh melihat orang-orang tidak mengenalimu.”


Jawaban Ono membuat ekspresi Satoru berubah. Mengingat kalau dirinya memang pernah difoto untuk sampul majalah, pemuda itu merasa agak tertekan sekaligus lega.


Dia merasa agak tertekan karena kemungkinan besar banyak yang mengenalnya, tetapi juga lega karena hanya identitas juara yang diketahui.Bukan identitasnya sebagai penerus Fujiwara Group.


“Aduh! Sepertinya identitasku ketahuan,” ucap Satoru sambil menggaruk pipi dengan wajah agak canggung.


“Sebagai seorang juara dalam dua bidang olahraga, seharusnya kehidupanmu tak seburuk itu, Satoru-san. Kenapa kamu datang ke tempat terpencil seperti ini?” tanya Ono.


“Bukankah lebih baik menjawab pertanyaan seseorang sebelum balik bertanya?” ucap Satoru dengan senyum di wajahnya.


Sekali lagi Ono terdiam. Menatap langit sore yang dipenuhi awan, pemuda itu bergumam pelan.


“Berbeda denganmu yang datang ke tempat ini dengan tujuan jelas, alasan kenapa aku datang ke sini karena akademi ini memiliki asrama. Itu berarti aku tidak harus pulang.”


“Kenapa kamu tidak ingin pulang?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Karena aku adalah pecundang yang dikalahkan. Aku berusaha keras untuk masuk ke SMA favorit di Sapporo, tetapi nilaiku kurang. Padahal aku sudah berjuang, padahal aku sudah belajar giat, padahal aku memberikan semua yang aku miliki.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ono menatap ke arah Satoru dengan ekspresi lelah. Senyum masam terlihat di wajah pemuda itu.


Pada saat itu, senyum palsu di wajah Satoru menghilang. Dia tampak bingung. Pemuda itu merasa agak kasihan terhadap Ono, tetapi dia tiak mengetahui keseluruhan ceritan dan tidak mengerti apa yang pemuda itu rasakan.


“Maaf.”


Pada akhirnya, hanya kata itu yang terucap dari mulut Satoru.


“EH? Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf, Satoru-san?” tanya Ono dengan ekspresi bingung.


“Aku benar-benar tidak mengerti masalah apa yang kamu alami. Bahkan jika aku mengerti, mungkin aku tidak bisa membantumu.”


“Pfft!” Ono menutup mulutnya untuk menahan tawa. “Tentu saja itu tidak masalah. Semua orang memiliki masalah mereka sendiri. Jadi kamu tidak perlu terlalu mempedulikan itu, Satoru-san.”


‘Setiap orang memiliki masalahnya sendiri ... kah?’


Memikirkan itu, Satoru tersenyum pahit. Dia tahu kalau masalahnya mungkin tidak begitu besar jika dibandingkan maslah orang-orang. Jadi, pemuda itu merasa agak kewalahan ketika melihat orang yang memiliki masalah lebih berat berjuang sementara dia malah mengeluh dan menyimpan dendam.


Pada akhirny, mereka berdua pun sampai di tempat klub berkuda.


Baru saja berjalan mendekat, suara indah terdengar di telinga mereka berdua.


“Hey! Apa yang kamu lakukan di sini, Kouhai-kun?”


“Dari sekian banyak klub, aku tidak menyangka kalau kamu akan tertarik pada klub berkuda. Itu tidak masalah sih, toh masih ada waktu beberapa hari untuk memilih.”


“Beberapa hari?” tanya Satoru.


“Iya. Kalian bisa mulai aktif mengikuti klub setelah minggu pertama praktikum selesai. Apakah kamu tidak tahu itu?”


“Bukankah itu dilakukan terus-menerus?” tanya Satoru dengan ekspresi bingung.


“Kamu benar-benar lucu, Kouhai-kun. Jika melakukannya terus-menerus, bukankah itu malah membuat para siswa-siswi kelelahan?”


Natsumi menghampiri Satoru lalu menampar bahunya sambil terkikik. Melihat ekspresi bingung di wajah kedua murid kelas satu itu, dia mulai menjelaskan.


“Pelajaran praktikum biasanya dilakukan satu minggu di awal. Ada jarak beberapa waktu. Setidaknya, tidak akan ada praktikum di pagi hari seperti itu sampai april.”


“Tidak bisakah sekolah ini membuat jadwal pengajaran yang lebih bisa diandalkan?” gumam Satoru dengan nada tidak puas.


“Jadi kami tidak perlu bangun jam setengah lima pagi untuk sementara ini?” tanya Ono dengan ekspresi penuh harap.


“Itu benar.” Natsumi membalas dengan senyum ramah di wajahnya.

__ADS_1


“Syukurlah!” ucap Ono dengan ekspresi lega.


Sementara Satoru hanya diam, tetapi dia juga bersyukur karena memiliki waktu lain untuk joging pagi. Diam-diam juga memikirkan apakah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan senior imut dan ramah yang bisa membantunya.


‘Mungkin dia tidak akan muncul karena tidak memiliki tugas di pagi hari kan?’


Memikirkan itu, Satoru menggelengkan kepalanya.


“Karena sudah ada di sini, aku akan memperkenalkan kalian berdua pada instruktur.”


Mendengar ucapan Natsumi, Satoru dan Ono saling memandang lalu mengangguk.


Hanya saja, setelah mengikuti Natsumi, mereka berdua merasa agak menyesal. Khususnya ketika melihat penampilan instruktur klub berkuda.


“Aku adalah instruktur klub berkuda, Sengoku. Kalian berdua bisa memanggilku Sengoku-sensei.”


“...”


Satoru berkedip. Melihat penampilan Pak Sengoku yang garang seperti jenderal perang, pemuda itu merasa ada yang salah. Daripada masuk ke dalam akademi pertanian, entah kenapa dia merasa telah masuk sarang bandit gunung.


Isinya benar-benar orang berpenampilan kasar dan garang!


“Apakah ada masalah?”


“Tidak ada, Sengoku-sensei!” jawab Satoru dan Ono serempak.


“Kalau tidak ada. Kalian berdua bisa berkeliling untuk melihat-lihat. Namun aku harus mengingatkan, jangan membuat kekacauan atau aku akan menendang kalian keluar.”


“Baik!” jawab keduanya bersamaan.


Melihat itu, Natsumi tersenyum. Gadis itu kemudian berkata, “Ikuti aku.”


Mengikuti Natsumi, Satoru dan Ono dibawa ke kandang kuda. Di sana, tampak banyak kuda dengan penampilan luar biasa. Bahkan jika tidak mengerti soal kuda, orang-orang tahu kalau para kuda di tempat ini dirawat dengan baik.


“Mungkin mereka semua tampak besar dan garang, tetapi pada kenyataannya kuda adalah makhluk yang lembut dan sensitif. Mereka adalah herbivora dan sangat peduli pada kawanannya. Menurutku, mereka adalah makhluk yang sangat lucu.”


Melihat ke arah kuda yang tinggi, penuh otot, dan memiliki ekspresi garang membuat Satoru tidak tahu dari mana kata ‘lucu’ itu berasal.


Natsumi mengelus kepala salah satu kuda. Dengan senyum lembut di wajahnya, dia menoleh sambil bertanya dengan nada ramah.


“Apakah kalian tertarik untuk menungganginya?”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2