
Sekitar setengah bulan kemudian.
“Arthur, Arthur ... apakah masih lama?”
Duduk di atas pedang terbang, Lily bertanya pada Arthur. Sudah hampir setengah bulan mereka pergi menuju ke tempat yang disepakati, tetapi masih belum sampai hingga sekarang. Gadis itu merasa penasaran apakah mereka menuju ke arah benar atau salah.
“Sabarlah sedikit, Lily. Kita akan segera tiba di lokasi. Kamu tidak pernu panik, kita sama sekali tidak salah arah.”
Mendengar jawaban Arthur, Lily mengangguk patuh. Sedangkan Jotaro juga ikut dengan mereka, tetapi lebih tenang dan pendiam dibandingkan biasanya. Selain berlatih ketika sempat, pria itu selalu menghabiskan sisa waktunya untuk bermeditasi. Benar-benar mencoba mengejar rekannya habis-habisnya.
Sama sekali tidak membuang waktu untuk melakukan hal lain.
Beberapa jam kemudian, mereka pun melihat sebuah kota besar yang tampak makmur. Dari penampilannya saja, sama sekali tidak terlihat lebih buruk dibandingkan dengan ibukota kerajaan yang pernah Arthur datangi. Bukan hanya luas, tetapi banyak bangunan indah.
Kota tersebut berada di dekat sungai besar. Dari atas, Arthur bisa melihat pemandangan indah kota dan sungai dengan latar hutan hijau serta pegunungan yang tidak terlalu jauh dari sana.
Ketika semakin mendekat, mereka langsung melihat ke tempat yang begitu mencolok. Tempat tersebut adalah sebuah bangunan besar seperti sebuah tempat keluar besar tinggal. Ada rumah utama, dan beberapa rumah lain.
Apa yang membuatnya mencolok bukanlah kediaman yang luas itu, tetapi banyak bendera dengan lambang tertentu yang ada di sana. Sedikit mirip dengan lambang klan, tetapi aslinya berbeda. Lambang yang Ark lihat adalah pohon, atau lebih tepatnya ... pohon olive (zaitun) dengan kaligrafi indah angka 9 di sana.
Jelas, itu adalah tempat dimana seniornya, ketua Divisi 9 yang mengundangnya berada.
Arthur langsung mengendalikan pedang terbang lalu turun di jalan utama, depan pintu gerbang dimana beberapa orang menjaga. Meski halaman depan rumah utama luas, tetapi langsung masuk seperti pencuri bukanlah sesuatu yang baik. Setidaknya, seseorang harus memiliki tata krama.
Setelah turun, Arthur langsung menyimpan pedang terbangnya. Dia berjalan mendekati para penjaga diikuti Lily dan Jotaro.
“Apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu penjaga dengan sopan.
“Tolong sampaikan kepada Senior Daiki, Arthur dari Divisi 10 telah tiba.”
Mendengar ucapan Arthur, penjaga itu langsung tampak hormat. Dia langsung berkata.
__ADS_1
“Tuan Daiki telah menunggu anda, Tuan Arthur. Biarkan saya mengantar anda untuk menemui beliau secara langsung. Tentu saja, anggota Divisi 10 lain juga bisa langsung masuk.”
“Baik.”
Arthur mengangguk ringan. Dia kemudian berjalan mengikuti prajurit tersebut. Ketika melewati gerbang dan berjalan di jalan utama, Arthur dan rekan-rekannya langsung disambut dengan pemandangan bangunan megah dan bendera kuning dengan lambang Divisi 9 berkibar di mana-mana.
“Apakah ini markas utama, tempat Divisi 9 berpusat?”
“Tentu saja tidak, Tuan Arthur. Ini adalah markas cabang nomor tiga Divisi 9. Kami memiliki empat markas dengan jumlah anggota cukup besar. Setiap orang kepercayaan ketua akan memimpin cabang dan mengurus masalah di wilayah sekitarnya sambil mengembangkan kekuatan.
Kali ini ketua datang langsung ke cabang ini untuk melakukan misi penting. Misi yang harus dia lakukan sendiri karena tidak yakin cabang bisa menyelesaikannya.”
Mendengar itu, Arthur sedikit terkejut. Berbeda dengan Divisi 6 yang bepergian secara acak tanpa ada tempat tetap untuk mencarinya, Divisi 9 ini tampaknya bertindak sebagai tentara bayaran yang profesional. Tampak cukup bisa diandalkan.
Sampai di depan rumah utama, penjaga tadi berjalan ke depan beberapa langkah dan berhenti di depan anak tangga. Setelah memberi hormat, dia berteriak lantang.
“Lapor! Saya telah membawa Tuan Arthur dari Divisi 10 yang datang berkunjung, Ketua!”
Setelah beberapa saat keheningan, pintu utama terbuka. Saat itu juga, sosok Ketua Divisi 9 dan beberapa bawahannya muncul. Melihat penampilan mereka, kata ‘besar’ adalah yang pertama kali muncul dalam benak Arthur.
Pria itu menatap ke arah Arthur dengan ekspresi terkejut. Setelah itu dia berkata.
“Siapa sangka, pria yang begitu muda, berpenampilan hangat, dan seperti seorang sarjana berpendidikan sepertimu membuat Klan Kitajima kacau. Benar-benar bibit yang bagus.
Senang bertemu denganmu, Ketua Divisi 10.”
“Kamu bisa memanggilku Arthur, Senior Daiki. Tidak perlu begitu kaku.”
Arthur berkata dengan nada santai, tidak sombong atau rendah hati. Tampak biasa saja. Mendengar itu, Daiki langsung tersenyum.
“Bagus! Aku benar-benar menyukainya. Masuklah, Arthur! Anggap rumah sendiri. Aku benar-benar malah membuat pengaturan formal seperti yang perlu dilakukan ketika menyambut para lelaki tua menyebalkan itu.”
__ADS_1
Melihat Daiki yang langsung berbalik dan mengajaknya masuk, Arthur mengangguk. Karena mereka menyambutnya dengan terbuka, dia sama sekali tidak berniat berpura-pura sopan dan melakukan hal-hal yang tidak perlu.
Ketika masuk ke dalam kediaman lalu melirik Daiki, Arthur mengetahui orang macam apa dia. Ketua Divisi 9, Daiki adalah jenis orang yang sangat mencintai uang dan kekayaan lebih dari dirinya.
“Apakah itu bagus?” tanya Daiki.
“Memang bagus. Tampak megah dan mewah.” Arthur mengangguk.
“Mungkin dalam beberapa tahun kamu akan membangun tempat yang lebih baik dari ini, Arthur. Lagipula, kita orang yang sama.” Daiki menyeringai.
Mendengar itu, Arthur akhirnya mengerti maksud dari Daiki. Bagi pria itu, dia adalah jenis yang sama-sama mencintai uang serta kekayaan sepertinya. Kemungkinan, pria itu mendapatkan informasi dari markas pusat kalau dirinya telah menipu 50% aset dari Klan Kitajima.
“Klan Kitajima, mereka pernah membuatku beberapa kali kerepotan. Meski tidak membuat masalah besar, aku masih menganggap mereka menyebalkan. Selain itu, beberapa tahun yang lalu Divisi 9 masih belum sebaik sekarang.
Bahkan sekarang, melawan Klan Kitajima itu merepotkan. Pasti ada cukup banyak korban dan kerugian besar. Buang-buang uang! Untung saja, kamu bisa dibilang telah membantuku membalas keluhan kecilku.”
Setelah mengatakan itu, Daiki mempersilahkan Arthur dan rekan-rekannya duduk. Dia juga menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan makanan dan anggur. Duduk di tempatnya, pria tersebut kemudian berkata.
“Kamu tahu alasan kenapa aku mengundangmu kan, Arthur?”
Mendengar itu, ekspresi serius muncul di wajah Arthur. Dia mengangguk berat dengan ekspresi serius.
“Untuk membantu kalian memburu seekor Frost Wyvern dewasa di tingkat gold bintang 9, kan?”
“Ya.”
Daiki mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Pria itu sendiri sekarang berada di level gold bintang 7. Selain itu, ada juga kepala cabang ini yang merupakan kultivator tingkat gold bintang 3. Bahkan jika ditambah banyak pasukan tingkat silver, masih tidak akan berhasil dalam mengadapi makhluk semacam itu.
“Meski kita memang memburu seekor Frost Wyvern dewasa, tetapi ada alasan lain untuk melakukan misi ini.”
Mengatakan itu, mata Daiki menyempit. Dengan seringai di wajahnya, pria itu berkata.
__ADS_1
“Yaitu untuk berburu harta karun.”
>> Bersambung.