
Keesokan paginya.
Pada saat melihat Satoru yang ikut kegiatan pagi, para anggota klub berkuda tampak lega. Mereka langsung berpikir kalau ucapan Pak Sengoku itu bukanlah kebohongan. Lagipula, siapa yang akan bersekolah seperti biasa setelah terluka parah.
Sementara itu, Satoru memasang ekspresi seperti biasa. Hanya saja dia merasa tidak nyaman ketika ada seseorang yang menatapnya dengan ekspresi penuh kebencian.
‘Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Kenapa gadis-gadis itu mudah tersinggung dan marah padaku?'
Satoru menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti pengertian perempuan. Mungkin seperti beberapa buku yang ditulis oleh orang-orang barat, kalau laki-laki sama sekali tidak bisa mengerti pemikiran para perempuan.
Ono yang berdiri tepat di sebelah Satoru sama sekali tidak tampak canggung. Sebaliknya, dia tampaknya lebih bersemangat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jika ditanya alasannya ...
Maka jawabannya ada di malam sebelumnya.
***
Duduk di atas ranjang, Satoru menatap ketiga orang di bawahnya.
“Kenapa kalian pikir aku memiliki kemampuan hebat dalam menjemput para gadis?”
Mendengar pertanyaan dari mulut satoru, Manabu langsung menjawab, “Yang kami lihat adalah bukti, bukan janji.”
Satoru langsung tertegun. Pada saat mendengar ucapan pemuda gemuk dan ramah itu, dia langsung memikirkan para politisi. Mereka menabur janji manis dengan mudahnya tetapi tidak pernah mewujudkannya.
Anehnya, mereka masih memiliki wajah untuk pamer. Bahkan tidak malu untuk hidup.
Menurut Satoru sendiri, sebuah dongeng tidak harus dimulai dengan kalimat ‘Pada suatu hari ...’, tetapi juga bisa dimulai dari ‘Jika saya terpilih nanti ...’.
Mungkin terdengar aneh, tetapi pada kenyataannya hampir semuanya memang seperti itu. Jadi, daripada terbujuk dengan ucapan semanis madu tetapi lebih berbahaya dari sianida, lebih baik melihat langsung seperti apa orangnya dan apa yang telah dia lakukan dalam hidupnya.
Jangan memilih yang hanya menebar janji manis, jangan memilih orang yang haus akan kekuasaan, dan jangan memilih orang yang tidak memiliki kemampuan (hanya mengandalkan dukungan kelompok di belakangnya atau orang lain).
Itu adalah tips yang diberikan oleh kakek Satoru. Bukan hanya untuk memlilih politisi, tetapi juga orang kepercayaan.
Pertama, orang yang hanya bisa berjanji adalah pembohong besar. Janjinya sendiri saja tidak bisa ditepati, apalagi mengemban amanah untuk orang lain.
Kedua, orang yang haus akan kekuasaan terkenal akan sisi egonya, egois besar yang hanya mau menang sendiri. Jenis orang yang lebih memikirkan dirinya sendiri, tidak cocok untuk membimbing banyak orang.
Terakhir adalah yang paling mudah, jika mengandalkan orang lain dan tidak bisa melakukan sesuatu yang nyata dengan tangannya sendiri ...
__ADS_1
Apakah orang semacam itu masih berguna? Setiap orang jelas tahu jawabannya!
Memikirkan banyak hal dalam kepalanya, Satoru tiba-tiba tersadar. Mengelus dagunya, pemuda itu langsung berpikir keras.
‘Mungkin kakek juga ingin aku mencari orang yang bisa kupercaya di sini? Menghilangkan latar belakangku untuk menemukan orang-orang layak? Itu benar-benar masuk akal!’
Menyadari kalau dirinya telah masuk dalam skema kakeknya, Satoru menjadi lebih serius. Dia berpikir kalau dirinya terlalu ceroboh dan mudah diperalat orang lain.
Ya ... setidaknya itu yang dipikirkan Satoru.
Jika sang kakek mengetahui pikiran cucunya, lelaki tua itu pasti berkata kalau Satoru terlalu banyak berpikir. Dia hanya ingin cucunya menjadi manusia, hidup normal dan peduli dengan sesama. Benar-benar tidak memikirkan banyak trik semacam itu.
Satoru menatap ketiga temannya lalu membuka mulutnya.
“Aku tidak begitu mengerti. Namun, kalau kalian memiliki pertanyaan, mungkin aku bisa memberi saran.
Hanya saja aku memiliki satu pertanyaan. Takeo dan Manabu memang melakukannya karena ingin populer dan belum menemukan target untuk dikejar. Sedangkan kamu, Ono, bukankah kamu menyukai Natsumi-senpai? Kenapa tiba-tiba menyerah begitu saja?
Ini bahkan belum sampai satu bulan!”
Penjelasan Satoru membuat Takeo dan Manabu menatap ke arah Ono dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Memikirkannya baik-baik, mereka merasa kalau ucapan Satoru ada benarnya. Bisa dibilang, pemuda itu terlalu mudah menyerah.
Merasakan tatapan ketiga teman sekamarnya, Ono mendorong kacamatanya. Berpura-pura misterius, pemuda itu mulai menjelaskan.
Menyukai perempuan dan memperjuangkannya memang wajar. Namun, agar tidak menyesal dan tidak dimanfaatkan, kita harus memastikan hal penting. Yaitu apakah gadis itu memiliki sedikit ketertarikan pada kita atau tidak.
Jika tidak, sebelum jatuh terlalu dalam dan tersakiti, maka lebih baik berhenti. Jika hanya tertarik karena dia cantik tetapi tidak memiliki ketertarikan pada kita, maka gadis itu bisa jadi iblis jahat.
Tidak membalas perasaan mendalam memang menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan jika bukan hanya tidak dibalas, tetapi kita hanya diperlakukan sebagai manusia alat.
Dijadikan tempat pelampiasan, tempat mencari hiburan, bahkan dijadikan ATM keliling! Itu yang aku sebut sebagai iblis jahat!”
Mendengar ucapan Ono yang berkata ‘berjuang boleh saja, tapi jangan bodoh’ membuat ketiga teman lainnya tersadar. Mereka merasa kalau ucapan pemuda itu masuk akal. Bahkan bisa menjadi solusi agar tidak terlalu sakit hati.
Memikirkan itu, Satoru tiba-tiba berseru dalam hatinya.
‘Dasar kampret! Jika kamu lebih mengerti hal semacam itu, kenapa masih bertanya padaku!’
Satoru tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya. Dia jelas memiliki nol poin dalam pengalaman hubungan cinta atau semacamnya. Namun sekarang dirinya malah diminta mengajari orang yang lebih profesional dibandingkan dirinya.
__ADS_1
Rasanya agak keterlaluan! Terlebih lagi ... itu sangat menyebalkan!
Meski begitu, Satoru masih memilih untuk diam. Hanya berbicara atau memberi pendapat jika memang dibutuhkan. Jika tidak, maka lupakan saja.
Lagipula, pemuda itu sama sekali tidak merasa kalau dirinya lebih baik dari mereka dalam hal cinta!
***
Kembali ke masa sekarang.
Selain mengetahui kalau Ono cukup mendalami hal-hal semacam itu, Satoru juga tahu kalau Ono memiliki target lain. Ya, setelah menyerah pada Natsumi, dia mengalihkan pandangannya pada gadis bernama Momo dari klub berkuda. Kelas satu sama seperti mereka.
Saat itu, Satoru semakin yakin kalau dirinya tidak ingin terlibat pada cinta monyet yang berubah-ubah dan membuang banyak waktunya.
Setelah itu, Satoru mulai melakukan pekerjaan paginya seperti biasa. Tidak terlalu memikirkan luka di bahunya yang sekarang tidak lagi begitu sakit.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Satoru melihat Natsumi yang datang dengan ekspresi suram di wajahnya.
“Apakah ada masalah?” tanya Satoru dengan ekspresi ragu.
“Aku ...”
Ingin marah karena Satoru begitu tidak peka, Natsumi akhirnya menahan diri. Gadis itu langsung memikirkan alasan lain.
“Aku datang untuk mengajarimu cara merawat kuda dengan baik.”
“Cara merawat kuda? Bukankah itu-“
“Ini bukan masalah membersihkan kandang atau semacamnya, tetapi menanam kepercayaan. Apakah kamu mengerti?”
Melihat mata Natsumi yang agak merah, tampaknya benar-benar marah dan bisa menelan orang secara utuh kapan saja membuat Satoru merasa tidak nyaman. Pada akhirnya, pemuda itu mengangguk.
“Kalau begitu ikuti aku!”
Saat itu, Natsumi menarik tangan Satoru. Menyuruh pemuda itu mengikutinya ke kandang kuda.
Merasakan tangan kecil dan lembut yang menariknya, Satoru tiba-tiba merasa linglung. Sebagai pewaris yang selalu dihormati tetapi juga ditakuti, dia tidak merasakan kontak sedekat ini.
Pada saat itu, sebuah pemikiran yang tidak pernah Satoru pikirkan muncul dalam kepalanya.
__ADS_1
‘Ternyata tangan gadis itu sekecil ... dan sehangat ini?’
>> Bersambung.