
Pada jalan sepi dalam hutan yang dipenuhi daun-daun berguguran, Arthur dan rekan-rekannya terhenti.
Mereka hanya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke kota berikutnya. Hanya saja, mereka tidak menyangka akan mengalami kecelakaan di tempat seperti ini. Atau lebih tepatnya, mengalami pengepungan di sini.
Arthur melihat ke sekitar dengan ekspresi penasaran. Ada dua puluh orang yang mengelilingi mereka bertiga. Mereka jelas bukan bandit karena penampilan mereka cukup mencolok. Selain itu, tidak mungkin bandit berisi anggota penuh dengan kultivator.
Selain itu, tampaknya lima dari dua puluh orang itu cukup kuat.
“Apakah ada yang salah, Teman-teman? Aku rasa, aku tidak mengenal kalian, kan?”
Salah satu orang, sosok paling muda dari lima orang berpakaian mencolok maju sambil berkata.
“Kamu mungkin tidak mengenal kami. Namun kami mengenalmu, Mr Arthur.”
Mendengar itu, ekspresi Arthur menjadi lebih serius. Dia jelas datang dari dunia lain. Selain Sekte Pilar Surgawi, hanya Garden of Death yang mengetahui identitasnya. Jadi menurutnya, hanya dua kelompok itu yang mengenalinya.
‘Mungkinkah senior lain dari Garden of Death? Tidak. Jika senior, mereka seharusnya tidak begitu lemah, kan? Ah ... mungkin saja bawahannya?’
Otak Arthur berjalan cukup cepat. Namun setelah mencoba mencari petunjuk, jawabannya masih nihil. Pada akhirnya, dia memilih untuk menyerah.
“Sepertinya aku mengenal mereka, Bos.” Jotaro berbisik.
“Hah?! Apakah mereka adalah keluarga orang yang pernah kamu rampok atau semacamnya? Datang untuk membalas dendam?” bisik Arthur.
“Tidak. Jelas ada beberapa kultivator tingkat gold, mana mungkin bandit kecil akan membuat masalah dengan mereka.” Jotaro menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa maksudmu?” bisik Arthur.
“Maksudku, aku mengetahui identitas mereka. Bukan saling kenal atau semacamnya.”
“Katakan lebih jelas di awal,” bisik Arthur tidak puas.
Melihat dua orang saling berbisik, pria itu hanya menggelengkan kepala. Tatapannya kemudian jatuh pada Lily dan payung di tangannya. Melihat itu, matanya langsung berbinar.
__ADS_1
“Kami adalah Klan Kitajima yang menyewa saja Garden of Death untuk membersihkan desa terkutuk yang menjadi masalah di wilayah kami puluhan tahun lamanya.
Alasan kami datang ke sini adalah ... untuk membicarakan persoalan senjata sihir yang anda dapatkan. Kami benar-benar tidak menyangka, ternyata cursed girl yang terkenal tidak dihapuskan dan malah mengikuti anda. Apakah anda tertarik mengoleksi roh jahat dengan bentuk seperti itu?”
“...”
Arthur terdiam. Mendengar mereka adalah penyewa jasa, dia merasa tidak puas karena kedatangan mereka. Hanya saja, mendengar orang itu berbicara seolah-olah tahu segalanya, padahal memodohi dirinya sendiri karena Lily adalah manusia yang hidup, Arthur kehilangan kata-kata.
Pemuda itu tidak menyangka kalau ada orang yang sok, padahal tidak begitu pintar di dunia ini. Hanya ahli dalam membual!
“Tentu saja, apa yang kami inginkan hanyalah senjata sihir itu. Sedangkan cursed girl, kami tidak akan menyentuhnya.
Alasan kenapa kami menginginkan benda itu karena senjata sihir tersebut sangat berguna bagi keluarga kami. Jadi, jika bisa, kami ingin mendapatkan senjata sihir tersebut. Ya ... walau menggunakan segala cara.”
Pria itu berkata dengan nada penuh ancaman. Saat itu, tekanan energi qi muncul dari dua puluh orang yang mengelilingi Arthur dan dua rekannya.
Tekanan cukup kuat muncul dari lima orang dengan pakaian paling mencolok. Saat bingung dengan identitas mereka, Arthur mendengar Jotaro berbisik kepadanya.
“Oh?” Arthur mengangkat alisnya.
“Mereka adalah Yusuke, Murai, Shogo, Tetsuji, dan Hidetoshi. Mereka sangat terkenal di wilayah ini. Lagipula, Klan Kitajima sendiri adalah sebuah keluarga yang memiliki banyak kultivator.
Mereka mengaku sebagai bangsawan dan memiliki wilayah, tetapi menolak untuk tunduk kepada kerajaan.”
Mendengar itu, Arthur menyeringai.
“Sungguh egois, ya?” ucapnya dengan nada setengah bercanda.
Mendengar ucapan Arthur, mereka mendengus dingin. Menatap ke arahnya dengan ekspresi sengit di wajah mereka.
Yusuke Kitajima, sosok pria di awal tiga puluhan. Sosok paling muda di antara lima orang yang muncul. Dia membawa pedang panjang, memakai pakaian bangsawan berwarna hijau gelap dengan motif bunga putih. Penampilannya cukup tampan, tetapi juga tampak licik. Kekuatannya berada di tingkat silver bintang 9.
Murai Kitajima, sosok pria paruh baya gemuk dengan penampilan paling mencolok karena membawa banyak perhiasan seperti gelang, kalung, dan cincin emas. Dia membawa sebuah kapak besar berwarna emas. Memakai pakaian bangsawan berwarna ungu dengan gambar bunga-bunga kuning. Kekuatannya berada di tingkat silver bintang 9.
__ADS_1
Shogo Kitajima, sosok pria paruh baya sangat kurus dengan tubuh tinggi dan rambut panjang. Dia membawa sebuah tombak, memakai pakaian berwarna merah gelam dengan gambar bunga-bunga putih. Kekuatannya berada di tingkat gold bintang 1.
Tetsuji Kitajima, sosok pria paruh baya kekar dengan kumis dan jenggot yang dipotong rapi. Dia membawa pedang, memakai pakaian bangsawan berwarna bitu tua dengan gambar bunga-bunga kuning. Dia adalah kepala Klan Kitajima saat ini. Kekuatannya berada di tingkat gold bintang 1.
Hidetoshi Kitajima, sosok lelaki paling tua di antara kelima orang, sekaligus paling kuat. Dia adalah pria tua dengan pakaian abu-abu sederhana. Namun, dia berasal dari generasi lama, paman dari empat orang sebelumnya. Kekuatannya berada di tingkat gold bintang 3.
Melihat mereka semua, Arthur tertegun sejenak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau satu keluarga akan mendatanginya karena sebuah payung. Selain itu, pemuda tersebut merasa kalau mereka kurang percaya diri karena muncul bersama dan mencoba main keroyokan.
“Bagaimana menurutmu, Mr Arthur? Bukan hanya mendapatkan uang, anda akan mendapatkan rasa terima kasih dari kami. Anda akan menjadi dermawan sekaligus rekan dari Klan Kitajima kami.”
Yusuke berkata dengan senyum di wajahnya. Pandangannya terus mengarah ke payung yang dibawa oleh Lily. Jelas, mereka sangat menginginkan payung itu karena suatu alasan.
Arthur tidak langsung menjawab. Pemuda itu melirik Lily yang tampak cukup gugup ketika dikelilingi orang tidak dikenal. Selain itu, gadis kecil tersebut terus memegang payungnya dengan erat. Tampaknya takut kehilangan satu-satunya benda yang merupakan kenang-kenangan dari orang tua dan warga desanya.
Melihat penampilan gadis kecil itu, Arthur melirik ke arah Jotaro. Melihat pria itu mengangguk berat, dia menyeringai.
“Tawaran kalian benar-benar menarik.”
“Oh? Aku tahu kalau kamu pasti berpikirkan terbuka, Mr Arthur. Kita bisa-“
“Jotaro. Karena sering berlatih tanpa lawan nyata, kamu terlalu lama berkembang. Hadapi 15 keroco itu sebagai batu asah.”
“Dimengerti!” ucap Jotaro tegas.
“Apa maksud dari semua ini, Mr Arthur?” tanya Yusuke dengan ekspresi buruk di wajahnya.
“Kenapa kalian masih menanyakan sesuatu yang begitu pasti? Bukankah itu sudah jelas?”
Arthur menarik pedangnya. Melihat ke arah lima orang paling kuat di sekitar, matanya berkilat tajam. Aura hitam mulai menyelimuti tubuhnya, dan suhu di sekitarnya mulai menjadi lebih panas. Dengan seringai di wajahnya, pemuda itu berkata.
“AKU MENOLAK!”
>> Bersambung.
__ADS_1