
Sementara itu, di Sekte Pilar Surgawi.
Tiga sosok berjalan dengan tenang melewati jalan setapak. Setelah berjalan beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di depan Dojo Naga, tempat Pilar Naga, Shigekuni dan murid-muridnya berada. Keduanya hanya diam di depan gerbang sejenak, tetapi banyak orang segera muncul. Bahkan Shigekuni juga muncul secara langsung.
Melihat ke arah tiga sosok yang berdiri di depan pintu gerbang, ekspresi Shigekuni menjadi lebih serius.
“Kenapa kamu berada di sini?” tanya lelaki tua itu.
“Apakah kamu begitu tidak senang melihatku, Pak Tua?”
Suara pria yang malas terdengar. Shigekuni melihat ke arah pria itu dengan ekspresi rumit di wajahnya.
Di depan gerbang, ada dua orang. Salah satunya adalah seorang gadis pendek dengan yukata berwarna hitam dengan gambar Suzaku berwarna merah darah. Gadis itu begitu pendek, seperti anak sd. Namun dia tampak sangat cantik dengan rambut putih dan mata merah. Saking cantiknya, gadis itu malah mirip dengan boneka. Ditambah dengan kulit putih pucat, gadis tersebut terlihat agak aneh dan terlalu mencolok.
Selain gadis itu, ada seorang pria yang tampak berusia pertengahan dua puluhan. Dia memiliki rambut hitam sebahu berantakan. Wajahnya tampan, tetapi kurus dan pucat. Pria itu memiliki mata hitam dengan kelopak mata yang terlalu hitam, sepertinya sangat mengantuk. Dia memakai jinbei, pakaian mirip yukata tetapi dengan celana pendek berwarna biru tua. Pria itu menyembunyikan tangannya dibalik lengan panjang yang cukup besar dan memakai sandal jepit terbuat dari kayu.
Selain mereka berdua, ada juga sosok mencolok, tetapi bukan manusia. Makhluk itu adalah seekor akita inu yang tampak gemuk dan konyol. Dia memakai syal, dan jika diperhatikan ... matanya menunjukkan kecerdasan.
Shigekuni tidak memperhatikan gadis kecil atau akita inu. Dia terus fokus kepada pria yang tampak lesu dan bisa tumbang kapan saja. Meski terlihat canggung dan rentan, sama sekali tidak ada yang berani menganggapnya sepele karena ...
Pria itu telah berada di tingkat platinum!
“Kenapa kamu datang kemari, Arima? Bukankah kamu bilang tidak akan pernah datang lagi?”
__ADS_1
“Apakah itu yang harus dikatakan seorang guru kepada muridnya, Pak Tua?”
“Sejak kamu pergi sepuluh tahun yang lalu. Kamu bukan lagi murid dari Dojo Naga kami!”
Ya. Meski penampilannya berada di pertengahan dua puluh tahun, pria bernama Arima sebenarnya hampir berusia empat puluh tahun. Meski tampaknya agak tua, tetapi memiliki kultivasi begitu tinggi di usia kurang dari empat puluh tahun sudah dianggap keterlaluan.
“Ya, ya, ya ... aku hanya datang karena terpaksa. Jika tidak, aku benar-benar tidak ingin berurusan dengan lelaki tua pemarah sepertimu.” Arima berkata dengan suara serak, monoton, dan pelan.
“Lalu kenapa kamu datang ke sini?” Mata Shigekuni menyempit.
“Aku diminta untuk mengundang juniorku untuk bergabung dengan guild kami. Dia tidak terikat dengan Sekte Pilar Surgawi dan memiliki banyak potensi. Tampaknya bocah itu menarik perhatian lelaki tua itu, dan ya ... sepertinya cocok dengan kami?”
Arima berkata dengan nada agak ragu, sebelum kembali melanjutkan.
“Namanya adalah ...”
“Arthur.”
“Ya. Itu dia. Terima kasih, Tsubaki.” Arima mengorek telinga dengan jari kelingkingnya. “Omong-omong, dia memiliki prestasi bagus padahal baru saja muncul, tetapi tiba-tiba menghilang. Jadi kami ingin tahu keberadaannya darimu.”
“Memangnya aku tahu kemana bocah itu pergi?!” seru Shigekuni dengan ekspresi tidak puas.
“Haah ...” Arima menguap. “Meski aku lebih lemah, bukan berarti aku tidak berani melawanmu, Pak Tua. Apakah kamu benar-benar ingin melindunginya?”
__ADS_1
“Dia tidak berbohong, Arima.”
Gadis kecil bernama Tsubaki memegang kertas jimat yang terbakar di tangannya. Melihat kertas yang berubah menjadi abu, Arima mendecakkan lidahnya. Dia kemudian mengeluh.
“Jadi kita datang ke sini tanpa hasil? Padahal ini melelahkan. Aku benar-benar ingin libur kerja, tetapi kapitalis busuk itu tidak membiarkanku melakukannya.”
Melihat Arima yang bertingkah seperti pekerja yang disuruh melakukan banyak pekerjaan dengan upah sangat sedikit, banyak murid bertanya-tanya apakah orang itu benar-benar sosok senior terkenal dan dianggap sangat berbahaya itu.
“Jika kamu tidak memiliki urusan, kamu bisa pergi. Seharusnya kamu tahu, jika bukan karena kontribusi dalam perburuan makhluk jahat, kamu tidak akan dibiarkan masuk ke tempat ini.”
“Kalau begitu kami akan pergi. Maaf mengganggu.”
Gadis kecil bernama Tsubaki membungkuk sopan lalu berbalik pergi diikuti oleh akita inu gemuk. Setelah berjalan beberapa langkah, dia kembali berkata.
“Kamu juga ikut.”
“Aku tahu, aku tahu ... bukan dia, bukan kamu, bukan mereka, kenapa kalian begitu berisik?”
Arima berbalik lalu berjalan pergi tanpa berpamitan. Dia menyusul Tsubaki, kemudian mereka menghilang di kejauhan.
Melihat itu semua, Shigekuni menghela napas panjang. Memikirkan sosok Arthur, dia msekali menghela napas.
‘Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka inginkan dari bocah itu, tapi ...’
__ADS_1
‘Aku harap semuanya baik-baik saja.’
>> Bersambung.