Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
177


__ADS_3

“Sekolah ini benar-benar terlalu luas!”


Berjalan cukup lama tapi belum melihat gedung kantor, Satoru tidak bisa tidak mengeluh. Belum lagi ketika mendengar suara perutnya yang keroncongan. Dia langsung mengutuk kakeknya dalam hati.


‘Setidaknya beri aku bekal! Aku bahkan tidak makan malam kemarin!’


Tidak makan malam, sarapan, dan makan siang membuat Satoru merasa lemas. Ditambah mengonsumsi obat tidur membuat kepalanya masih agak pusing. Melihat ke arah kejauhan, pupil remaja itu menyusut.


“Sekarang apa lagi? Jenis ilusi? Apakah aku benar-benar suka yang besar sehingga membayangkannya.”


Di kejauhan, Satoru melihat gadis berambut coklat. Wajahnya tidak begitu terlihat, tetapi dia bisa melihat tubuhnya yang benar-benar tidak mirip seorang gadis. Melengkung seperti violin dengan ‘muatan’ yang sangat besar, bahkan lebih besar dibandingkan model majalah dewasa yang pernah dipinjam dari anak buahnya.


Anehnya, Satoru merasa kalau gadis itu sedang membawa tali. Namun, alih-alih menarik kucing atau anjing untuk diajak jalan-jalan, apa yang di belakang gadis itu adalah seekor sapi yang sangat besar.


‘Astaga! Berapa banyak obat yang diberikan oleh Pak Tua busuk itu sampai aku mengalami halusinasi random semacam ini?’


‘Sekali! Bahkan jika akan disebut cucu durhaka, aku akan menempeleng kepala Pak Tua itu setidaknya sekali ketika kembali!’


Satoru merasa lututnya lemas. Berjongkok sebentar, pemuda itu bergumam dengan nada tidak senang.


“Bahkan jika tidak memberi makan, setidaknya siapkan sebotol air. Tidak perlu jus atau minuman berenergi, cukup sebotol air mineral!”


Setelah itu, Satoru mencoba berdiri tetapi pandangannya kabur. Dia merasa tubuhnya jatuh ke tanah lalu kesadarannya mulai menghilang. Sebelum benar-benar menghilang, remaja itu mendengarkan suara gadis yang panik di kejauhan. Namun dia tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


Hanya menyisakan kegelapan.


♦♦♦


Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, Satoru akhirnya sadar.


Pada saat membuka matanya, Satoru melihat wajah lelaki tua dengan rambut, kumis, dan jenggot panjang seperti kakeknya. Namun sosok itu memiliki wajah lebih tegas dan tampak penuh dengan kekuatan.


Melihat wajah yang muncul tiba-tiba di depan matanya, Satoru tanpa sadar mengayunkan tinjunya dengan keras sambil mengutuk.


“Persetan! Apa-apaan itu?!”


Satoru yang kehilangan keseimbangan langsung jatuh dari ranjang. Membenturkan keningnya ke lantai, pemuda itu langsung tersadar. Dia duduk di lantai sambil memegangi keningnya. Melirik ke arah tertentu, Satoru melihat sosok lelaki tua yang tinggi dan kekar.


Sosoknya masih tampak luar biasa meski memakai pakaian tradisional, tampaknya mirip yukata, hanfu, atau hanbook tetapi juga agak berbeda. Tampaknya sengaja dia desain sendiri.


“Siapa?” Satoru tanpa sadar bertanya. “Ini dimana?”

__ADS_1


“Aku adalah kepala sekolah Akademi Greenfield, kamu bisa memanggilku kepala sekolah atau Kakek Eizen! Lagipula, aku masih cukup akrab dengan kakekmu. Sekarang kamu berada di UKS.”


Mendengar itu, Satoru tertegun. Dia memiringkan kepalanya lalu bertanya dengan ekspresi curiga.


“Bagaimana aku bisa sampai di tempat ini?”


“Kamu pingsan di jalan dengan cara memalukan. Namun kamu beruntung ada murid yang datang lebih awal sebelum semester baru dimulai. Dialah yang membawamu ke sini. Omong-omong ...”


Kepala sekolah membuka lebar kedua tangannya. Memiliki senyum di wajahnya, lelaki tua itu berkata.


“Selamat datang di Akademi Greenfield! Senang melihatmu Nak Satoru!”


Mengabaikan keramahan kepala sekolah, Satoru malah mengingat sosok gadis yang dia temui sebelumnya. Sambil meyakinkan diri kalau apa yang dia lihat terpengaruh imajinasi, pemuda itu diam-diam berpikir.


‘Apakah gadis-gadis di sini memang begitu kuat? Membawaku sampai ke UKS tanpa mengeluh?’


Menarik napas dalam-dalam, Satoru berubah menjadi lebih tenang. Dia menatap ke arah kepala sekolah sebelum berkata.


“Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih atas sambutannya, Kepala Sekolah. Namun sayangnya semua tidak seperti yang anda bayangkan. Saya sama sekali tidak berniat bersekolah di sini. Ini hanyalah kesalahan yang tanpa sengaja dilakukan oleh Kakek.”


Melihat senyum di wajah kepala sekolah belum memudar, Satoru mengangkat alisnya.


“Apakah ada yang lucu?”


“Maksud anda?” Satoru merasakan firasat buruk.


“Baca surat yang kakekmu tinggalkan. Itulah yang dia sampaikan kepadaku.”


Mendengar itu, Satoru mulai membongkar kopernya. Dia mengambil surat lalu membacanya.


Semakin lama membaca, semakin gemetar tubuh remaja itu. Ekspresinya tampak semakin suram, benar-benar tidak bisa menahan perasaan marah.


Seolah percaya kalau itu hanya lelucon dari kakeknya, Satoru mulai menggeledah barang bawaannya. Namun, pada akhirnya dia duduk di lantai UKS dengan ekspresi kosong di wajahnya.


“Benar-benar tidak ada.”


Laptop, kamera, bahkan ponsel dan kartu ATM yang biasanya dia bawa benar-benar tidak ada. Belum lagi, hanya ada beberapa lembar uang di dompet yang hanya cukup untuk dia gunakan untuk makan satu minggu. Itupun yang dia makan sangat terbatas, tidak ada hidangan enak dan mahal seperti sebelumnya.


“Tenang saja. Selain asrama, kalian juga mendapatkan tiga kali makan secara gratis. Uang yang diberikan oleh kakekmu mungkin hanya untuk berjaga-jaga jika ingin membeli sesuatu yang kamu inginkan?”


“...”

__ADS_1


“Omong-omong, apakah kamu ingin aku menunjukkan asramanya sekarang?”


Satoru menarik napas dalam-dalam, memastikan dia tidak emosi. Setelah tenang, pemuda itu menatap ke arah kepala sekolah dengan ekspresi penuh kebencian.


‘AKU AKAN MENULISKAN KEBENCIAN INI!’


‘TIDAK LAMBAT BAGI SEORANG PRIA MEMBALAS DENDAM MESKI MENUNGGU SEPULUH TAHUN LAMANYA!’


Dengan tidak adanya uang atau satu pun barang berharga, akhirnya Satoru terpaksa tinggal dan bersekolah di sini.


Sedangkan untuk meminjam uang kepada kepala sekolah atau guru?


Tidak mungkin! Mereka pasti telah berkomplot dengan kakeknya sehingga dia tidak bisa kembali ke Tokyo bahkan jika menginginkannya.


♦♦♦


Setelah mengemas barang lalu makan di kantin, Satoru berkeliling sekitar akademi dengan kepala sekolah.


Selesai mendapatkan informasi dasar tentang sekolah entah itu jurusan dan bangunan-bangunan di sekitarnya, Satoru akhirnya diantar menuju ke asramanya.


Sesampainya di sana, pemuda itu langsung masuk untuk melihat. Ruangan itu sendiri cukup luas dengan empat ranjang, dua di atas dan dua di bawah. Ada juga meja belajar dan lemari kecil untuk menyimpan barang-barang pribadi.


Pada saat Satoru masuk ke dalam ruangan, dia merasa canggung karena tidak menyangka bertemu dua remaja yang sudah tinggal di asrama. Awalnya pemuda itu berpikir kalau asramanya hanya untuk satu orang, jadi benar-benar lengah dan masuk begitu saja.


Kedua remaja itu memiliki penampilan cukup mencolok. Satu adalah pemuda gemuk dengan mata sipit dengan potongan rambut pendek. Sedangkan satu lainnya adalah remaja kurus agak tinggi, penampilannya sedikit mirip anak nakal yang rambutnya diwarnai.


Melihat keduanya tampak akrab meski baru bertemu dan membaca majalah sambil tertawa, otak Satoru langsung bekerja dengan cepat.


Pemuda itu ingin menyapa untuk memperkenalkan diri lalu mencoba mengakrabkan diri dengan mereka lewat majalah yang mereka berdua baca. Untuk para remaja pubertas, Satoru merasa kalau menangani mereka akan mudah.


Namun ekspresinya berubah ketika melihat majalah yang mereka berdua baca. Ternyata apa yang mereka lihat bukan majalah berisi artis cantik dengan pakaian renang, tetapi berbagai foto ayam.


Ya ... ayam yang bahkan Satoru merasa sulit untuk membedakannya.


‘Sussex? Plymouth Rock? Buff Orpington? Hamburg? Apa-apaan itu? Jenis makanan?’


‘Tunggu! Bukan itu masalahnya! Yang lebih penting, apakah itu benar-benar sesuatu yang dibicarakan anak-anak SMA? Dimana omong kosong tentang cinta dan pembicaraan normal tentang gadis cantik itu berada?’


Berdiri di tempatnya, Satoru benar-benar tercengang. Benar-benar tampak linglung karena tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya!


Rasanya dunia telah menjadi tempat yang sama sekali tidak dia kenal!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2