Story of Demon Hunter

Story of Demon Hunter
Melawan ... Naga?


__ADS_3

Melihat ke arah lubang gelap, Arthur merasa bersemangat. Meski begitu, dia masih menahan diri karena mengerti kalau ada faktor bahaya. Jika tidak berhati-hati, kecelakaan bisa saja terjadi.


“Mulai dari sini, biarkan aku dan Tuan Masanobu memimpin. Dibandingkan dengan kalian, kami lebih baik dalam pertarungan tangan kosong dan keterampilan bertahan.”


Mitsusaru berkata dengan ekspresi serius di wajahnya. Mendengarkan saran lelaki tua tersebut, tiga orang lainnya sama sekali tidak keberatan. Mereka merasa ucapan Mitsusaru masuk akal, jadi mereka memilih untuk mengikuti.


Keempat orang itu kamudian turun sesuai dengan urutan. Setelah menuruni lubang yang begitu dalam, mereka akhirnya menemukan tempat datar di dasar. Di sana, tampak sebuah gua alami yang sangat luas. Melihat sekeliling, tatapan ketiga lelaki tua itu menjadi bersemangat.


“Bukan hanya di bagian atas. Siapa sangka ternyata kepadatan bijih besi dingin di sini lebih tinggi. Ini jelas keuntungan yang luar biasa.”


Mendengar ucapan Masanobu, dua lelaki tua lain melirik ke arah Arthur. Melihat tidak ada perubahan ekspresi pada wajah pemuda itu, mereka merasa lega. Mereka berpikir kalau Arthur menyesal menukar persentase pembagian hasil dengan tubuh Ground Dragon. Namun siapa sangka pemuda itu masih begitu tenang, malah menoleh ke sana-sini seolah mencari sesuatu.


“Kekayaan ini memang besar, tetapi harta berharga jika bisa digunakan. Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengurus Ground Dragon sambil terus mempertahankan nyawa kita.”


Kijimura berkata dengan serius. Meski biasanya dia ramah, setiap orang tetap akan berubah ketika bersentuhan dengan bahaya. Jadi perubahan sikapnya memanglah wajar,


“Tetap dalam posisi siaga. Jangan sampai lengah.”


Masanobu mengingatkan. Arthur dan Kijimura langsung menarik pedang mereka. Mereka berempat kembali menelusuri gua. Berjalan, mereka terus berjalan sampai ke area lebih dalam. Saat itu, ekspresi mereka langsung berubah ketika merasakan tanah dan dinding bergetar.


Setelah beberapa saat tetap maju perlahan ... mereka akhirnya menemukan penyebab semua gerakan itu.


Melihat makhluk besar di kejauhan, ekspresi semua orang langsung berubah menjadi pucat. Tidak terkecuali Arthur. Pemuda itu tampak sangat pucat, bahkan tubuhnya langsung gemetar.


Klang!


Pedang di tangan pemuda itu jatuh ke tanah dan dia jatuh berlutut sambil bergumam.


“Apa-apaan ini ...”


Melihat penampilan pemuda itu, tiga lelaki tua lainnya langsung mengerutkan kening. Mereka tahu kalau penampilan Ground Dragon berbeda dari seharusnya, tampaknya bermutasi. Namun mereka sama sekali tidak menyangka Arthur bisa ketakutan sampai seperti itu. Menurut mereka, Arthur hanyalah bunga di rumah kaca yang rapuh karena tidak memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi musuh.


“Kalian bilang ini Ground Dragon? Naga?”


Mendengar pertanyaan Arthur, ketiga lelaki itu merasa agak bingung.

__ADS_1


“Bukankah itu sudah jelas, Tuan Ryuma? Bahkan jika bermutasi, makhluk ini masih tetap Ground Dragon.” Kijimura berkata dengan ramah.


“TIDAK MUNGKIN!”


Teriakan Arthur menggema dalam gua. Karena suaranya yang begitu keras, sosok makhluk yang sedang menggali dan memakan bijih besi dingin itu menyadari keberadaan mereka. Sementara ekspresi para lelaki tua itu berubah menjadi buruk, Arthur merobek penutup matanya. Dia mengambil pedang dan berjalan ke depan.


Menunjuk ke arah makhluk sebesar tank di kejauhan, pemuda itu berteriak.


“Buka mata kalian lebar-lebar, Pak Tua! Bagaimana makhluk bodoh seperti itu bisa disebut sebagai naga!”


“...”


Mendengar teriakan Arthur, entah kenapa suasana langsung menjadi sunyi. Bukan hanya tiga lelaki tua, bahkan Ground Dragon juga tercengang. Sebagai makhluk tingkat gold, dia jelas masih memiliki sedikit kecerdasan.


Ground Dragon baru saja menggali bijih untuk makan siang, tetapi sosok manusia tiba-tiba muncul. Bukan hanya mengganggunya, bahkan salah satu dari mereka mengejek penampilannya. Makhluk itu tiba-tiba merasakan perasaan lain selain marah karena diganggu. Dia merasa kalau makhluk kecil yang menunjuk ke arahnya itu benar-benar menjengkelkan!


“ROOAARR!”


“DIAM, KADAL!” teriak Arthur kesal.


Selain itu, apa-apaan dengan penulis buku itu? Bukankah di buku tertulis sosok naga ganas tetapi tanpa sayap? Sosok yang bersembunyi dalam kegelapan karena tidak bisa terbang di langit terang? Bualan macam apa itu! Penipu! Penulis itu hanya seorang penipu!


PERHATIKAN! INI HANYA KADAL AIR DENGAN UKURAN BESAR! SELAIN BENTUK SISIK DAN TANDUK ANEH DI KEPALANYA, TIDAK ADA YANG SPESIAL!


DIA BAHKAN TERLIHAT BODOH! BURUK! TUBUHNYA LEBIH BULAT-“


BLARRR!!!


Sebuah ekor besar langsung menabrak dan menghempaskan Arthur sampai menghilang di kejauhan. Kepulan asap langsung menyebar. Melihat pemandangan itu, tiga lelaki tua saling memandang. Jangankan Ground Dragon, bahkan mereka bertiga merasa kalau kata-kata pemuda itu penuh dengan racun.


Mereka belum pernah melihat orang yang begitu toxic dan tidak tahu malu!


“ROOAARR!!!”


Ground Dragon meraung marah dengan mata merah. Meski tidak mirip dengan Naga, sebenarnya penampilan makhluk itu tidak seburuk yang Arthur katakan. Penampilannya lebih mirip dengan biawak besar dengan leher cukup panjang dan tanduk melengkung di atas kepalanya. Seluruh tubuhnya berwarna abu-abu penuh dengan garis biru yang memancarkan kilau samar. Bukan hanya tampak ganas, tetapi bentuk tubuhnya juga terlihat kokoh.

__ADS_1


“Sepertinya Tuan Ryuma benar-benar sangat handal dalam memancing emosi lawan,” ucap Kijimura dengan senyum masam di wajahnya.


Mendengar ucapan lelaki tua itu, sudut bibir Masanobu berkedut. Dia merasa kalau ejekan Arthur kepadanya memang lebih baik daripada yang dilontarkan kepada makhluk ini. Untung saja Ground Dragon hanya memiliki sedikit kecerdasan. Jika itu makhluk yang sangat cerdas dan bisa berbicara dengan bahasa manusia, dia takut makhluk itu sudah muntah darah karena marah.


Bukan hanya mengejek rasnya, tetapi pemuda itu bahkan mempertanyaan keberadaan Ground Dragon. Itu ... agak tak tertahankan.


“Makhluk itu akan kembali menyerang! Bersiap untuk bertarung!” teriak Masanobu.


Mendengar ucapan Masanobu, dua orang lain langsung memasang sikap untuk bertarung. Namun sebelum mereka menyerang, ketiga orang itu tiba-tiba merasa suhu dalam gua naik. Mereka tanpa sadar menoleh ke arah Arthur.


Di sana, sosok Arthur berdiri dengan baju tertutup debu. Meski begitu, pemuda tersebut sama sekali tidak terluka. Sebaliknya, dia malah tertawa seperti orang gila.


“HAHAHAHA!”


Arthur melangkah ke depan langkah demi langkah sambil bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.


“Aku tidak peduli jika itu kadal normal. Kadal batu? Apakah kamu menyuruhku merebus dan memakan batu? Hampir satu minggu ... hampir satu minggu aku memikirkannya setiap malam.”


Tangan Arthur mencengkeram erat pedangnya. Ekspresinya menjadi semakin suram.


“Haruskah aku membuat steak? Atau diasap? Membuat rebusan juga bagus? Bahkan jika digoreng sederhana lalu diiris tipis dan diletakkan di atas mie panas pasti enak? Sarapan steak gaya barat dengan dua telur mata sapi juga pasti luar biasa?”


“Aku memikirkan banyak hal, bahkan banyak resep luar biasanya. Namun ...”


Arthur mengangkat pedangnya dan memegang erat dengan kedua tangannya. Api hitam muncul dan berkobar, tampak ganas ... membawa perasaan mengerikan seolah akan membakar segalanya.


Sosok Arthur melesat. Dia langsung muncul di udara belasan meter dari Ground Dragon. Pemuda itu mengayunkan pedangnya sambil berteriak lantang.


“BERANI-BERANINYA KAMU MEMBERIKU SETUMPUK BATU SEBAGAI HADIAH HIBURAN!!!”


BLARRR!!!


Asap langsung mengepul. Gua bergetar keras seolah akan runtuh kapan saja. Meski ketiga lelaki tua itu tidak mengerti apa yang Arthur maksud, mereka menganggap pemuda itu sudah gila.


Benar-benar membuat gerakan terlalu besar dan acak seolah-olah ingin mengubur mereka bersama-sama di tempat ini!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2